NovelToon NovelToon
Berhenti Mengejar Tuan Dingin

Berhenti Mengejar Tuan Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: GABRIELA POSENTIA NAHAK

Selama tiga tahun, Kinara mengabdikan seluruh hidupnya hanya untuk mengejar cinta Arlan—seorang CEO dingin yang tak pernah menganggapnya ada. Bagi Arlan, Kinara hanyalah gangguan yang tidak berarti dan bayangan yang membosankan.
​Hingga suatu hari, sebuah rahasia menyakitkan membuat Kinara sadar bahwa cintanya telah mati. 'Cukup, Arlan. Mulai hari ini, aku berhenti mengejarmu. Anggap saja kita tidak pernah saling mengenal.'
​Kinara pergi, menghilang tanpa jejak. Namun, saat Kinara muncul kembali sebagai wanita sukses yang mandiri dan tak lagi meliriknya, Arlan justru mulai kehilangan akal. Arlan yang dulu dingin, kini justru berlutut memohon maaf di bawah hujan.
​'Kenapa kau tidak menatapku lagi, Kinara? Aku mohon... kembali mengejarku.'
​Sayangnya, bagi Kinara, pintu itu sudah tertutup rapat. Penyesalan Arlan hanyalah angin lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GABRIELA POSENTIA NAHAK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 : Pamit Yang Paling Luka

Pagi itu, mentari Jakarta muncul dengan cahaya yang begitu angkuh, seolah tidak peduli bahwa di dalam bangunan megah di kawasan elit ini, dua jiwa sedang berada di ambang kehancuran total.

Cahaya keemasan itu menembus jendela-jendela besar mansion Arlan, menerangi debu-debu yang menari di udara, namun tidak mampu menghangatkan atmosfer dingin yang menyelimuti ruang tamu utama.

​Di tengah ruangan yang biasanya hanya diisi oleh suara rengekan manja Arlan atau tawa kecil Kinara, kini hanya ada keheningan yang menyesakkan.

Pak Baskoro, pengacara kepercayaan keluarga Arlan, duduk dengan posisi kaku.

Di atas meja kaca di depannya, dua lembar kertas putih bersih tergeletak dengan angkuh.

Surat Gugatan Cerai.

​Arlan duduk di seberangnya.

Penampilannya sangat jauh dari sosok CEO yang biasanya tampil sempurna.

Kemejanya tidak terkancing rapi di bagian atas, matanya merah dan bengkak, menunjukkan bahwa ia benar-benar tidak memejamkan mata sedetik pun sejak malam pengakuan yang berdarah itu.

Ia tidak menatap Pak Baskoro. Ia hanya menatap kosong ke arah surat itu, seolah benda mati tersebut adalah vonis mati bagi hatinya.

​Terdengar suara langkah kaki dari arah tangga.

Suaranya pelan, namun setiap ketukannya terasa seperti hantaman godam di dada Arlan.

Kinara turun. Ia tidak lagi mengenakan gaun sutra atau perhiasan mahal pemberian Arlan.

Ia hanya mengenakan kemeja putih polos yang sudah agak kusam dan celana jeans lamanya—pakaian yang ia gunakan sebelum ia masuk ke dalam "penjara emas" ini.

Di tangan kanannya, ia menyeret sebuah koper kecil yang isinya tidak seberapa.

​"Ibu Kinara, silakan duduk," ucap Pak Baskoro dengan suara yang sangat rendah, hampir seperti berbisik karena takut memecahkan suasana yang begitu rapuh.

"Bapak Arlan sudah memberikan instruksi. Semua aset, rumah di pinggiran kota, dan dana kompensasi yang sangat besar sudah disiapkan atas nama Ibu. Ibu hanya perlu menandatangani dokumen ini agar kita bisa menyelesaikannya secara kekeluargaan."

​Kinara menatap kertas itu.

Senyum pahit tersungging di bibirnya yang pucat.

Ia menatap Arlan, namun pria itu tetap mematung, menolak untuk memberikan kontak mata sekecil apa pun. Arlan seolah sedang membangun tembok es yang sangat tinggi di antara mereka.

​"Aku tidak akan tanda tangan," ucap Kinara.

Suaranya tenang, namun ada getaran pilu di setiap katanya.

​Pak Baskoro tertegun, tangannya yang memegang pena sempat tertahan di udara.

Sementara itu, Arlan sedikit menggerakkan jemarinya di atas paha, namun ia tetap bungkam.

​"Aku tidak butuh surat ini untuk pergi dari hidupmu, Arlan," lanjut Kinara.

Ia melepaskan pegangan kopernya dan berjalan mendekat ke arah suaminya. Ia berhenti tepat di depan Arlan, menghalangi pandangan kosong pria itu.

​Kinara perlahan menjatuhkan dirinya di atas lantai marmer yang dingin.

Ia berlutut di antara kedua kaki Arlan, sebuah posisi yang dulu sering ia lakukan saat Arlan sedang bermanja-manja padanya setelah pulang kantor.

​"Ini yang kamu mau, kan? Kamu mau aku pergi dari hidup kamu? Kamu mau kita benar-benar berakhir? Iya, kan?" tanya Kinara.

Suaranya mulai pecah.

"Kamu mau cerain aku karena aku sudah terlalu jahat buat kamu? Karena aku hampir menghancurkan suamiku sendiri?"

​Arlan masih diam.

Rahangnya mengeras hingga otot-otot di lehernya tampak menonjol.

Ia sedang berjuang sekuat tenaga untuk tidak meledak di depan pengacaranya.

​Kinara tertawa kecil, sebuah tawa hancur yang lebih menyedihkan daripada suara tangisan.

"Tenang saja, Arlan. Aku bakal pergi sendiri kok tanpa perlu surat cerai ini. Aku tidak butuh selembar kertas untuk tahu kalau aku sudah kehilangan tempat di hatimu. Dan oh ya... kamu tenang saja. Data perusahaan kamu aman. Aku sudah menghapus semuanya sebelum aku turun tadi. Aku tidak akan pernah menyentuh duniamu lagi."

kirana berjalan mendekat ke arah arlan..dan menunduk..

​Kinara meraih tangan Arlan yang terkepal kuat di atas lututnya.

Perlahan, ia membuka kepalan tangan itu.

Tangan yang dulu selalu mendekapnya dengan posesif itu kini terasa sedingin mayat.

Kinara membawa telapak tangan Arlan ke pipinya, mengelusnya dengan sangat lembut, seolah ingin merekam tekstur kulit Arlan untuk terakhir kalinya.

​"Aku pergi yah..." bisik Kinara.

Air mata akhirnya jatuh membasahi telapak tangan Arlan.

​Arlan sedikit gemetar saat merasakan air mata Kinara, namun ia tetap tidak bersuara.

​"Setelah hatimu membaik... setelah kamu merasa bisa memaafkan wanita bodoh ini... tolong cari aku," Kinara mendongak, menatap mata Arlan yang kini mulai berkaca-kaca meskipun pria itu berusaha keras menahannya.

"Temui aku... peluk aku yang erat, yah? Peluk aku seperti saat pertama kali kita menikah, saat kamu bilang kalau kamu tidak bisa bernapas tanpaku."

​Kinara mengulurkan tangannya yang mungil, mengelus pipi Arlan yang kini terasa kasar karena jambang yang tidak dicukur.

Ia tersenyum di tengah isak tangisnya yang mulai tak terbendung.

​"Nggak boleh nangis... Nggak boleh marah-marah lagi sama orang-orang di kantor," ucap Kinara dengan nada lembut, nada yang biasa ia gunakan untuk menenangkan 'bayi gede'-nya.

"Dan yang paling penting... jangan jadi Arlan yang monster, yah? Jangan jadi monster yang menakutkan buat semua orang."

​Kinara mendekatkan wajahnya, mengecup kening Arlan dengan sangat lama. Kecupan yang penuh dengan doa, penyesalan, dan cinta yang kini terasa terlambat.

​"Jadilah Arlannya Kinara... Arlan yang manja, Arlan yang lucu, Arlan yang selalu butuh aku di sisinya. Aku pamit... jaga dirimu baik-baik, Suamiku."

​Kinara melepaskan sentuhannya.

Ia berdiri dengan kaki yang terasa sangat lemas, meraih gagang kopernya, dan berbalik tanpa menunggu jawaban.

Ia berjalan menuju pintu besar mansion itu dengan punggung yang bergetar hebat.

Isak tangisnya akhirnya pecah sepenuhnya saat ia melangkah keluar dari ambang pintu.

​Pak Baskoro hanya bisa menunduk, tidak berani berkata apa-apa.

Begitu pintu depan tertutup dengan suara dentuman pelan, Arlan baru saja melepaskan napasnya yang sejak tadi tertahan di tenggorokan.

​Pria itu menatap dokumen di atas meja.

Air matanya jatuh satu per satu, membasahi kolom tanda tangan yang masih kosong.

Ia meremas kertas itu hingga hancur, lalu menelungkupkan wajahnya di atas meja, menangis dalam keheningan yang luar biasa menyakitkan.

​Kinara benar-benar pergi.

Dan untuk pertama kalinya, Arlan merasakan bahwa kemegahan mansionnya hanyalah sebuah kuburan besar tanpa kehadiran wanita itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!