Arumi tidak pernah menyangka hidupnya akan berakhir sebagai "jaminan" utang. Dipaksa menikah dengan seorang rentenir tua yang kejam demi melunasi hutang keluarganya, Arumi nekat melakukan aksi gila .
Dalam keputusasaan di tengah taman kota matanya tertuju pada sosok pria tampan yang sedang sibuk mengipasi tusukan bakso. Tanpa pikir panjang, Arumi menarik tangan Elang, sang penjual bakso bakar, dan mengakuinya sebagai calon suami di hadapan Ayahnya
Siapa sangka, Elang yang terlihat sederhana dengan apron hitamnya itu menyanggupi tantangan Arumi. Namun, di balik aroma asap arang dan bumbu kacang, ada rahasia besar yang disimpan Elang. Apakah pernikahan Dadakan ini akan membawa kebahagian ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tentangga baru
"Mas, kenapa uang di dompet Mas banyak sekali? Apa tidak takut jatuh atau hilang di jalan?" tanya Arumi,ia tidak bisa menahan rasa penasarannya,Arumi teringat tumpukan uang merah yang masih tebal meski Elang sudah memberinya satu juta rupiah tadi
Elang terkekeh pelan sambil memasukkan dompetnya ke saku celana jeans hitamnya. "Oh, itu. Kemarin aku baru saja gajian, Arumi. Aku belum sempat menyetorkannya ke bank, jadi masih kusimpan di dompet. Masuk akal, kan?"
Arumi mengangguk-angguk kecil, meski rasa heran masih menyelinap di dada. "Uang ini benar-benar untukku, Mas? Aku tidak perlu mengembalikannya?" tanyanya sekali lagi untuk memastikan. Satu juta rupiah bukan jumlah yang kecil baginya saat ini, apalagi setelah kejadian kemarin yang membuatnya kehilangan segalanya.
"Arumi,dengarkan," katanya dengan nada yang sangat serius, memanggil namanya sendiri untuk menekankan. "Itu adalah nafkah pertama dariku untukmu. Sebagai suami, sudah kewajibanku menjamin kebutuhan lahiriahmu. Suka atau tidak, sekarang kamu adalah tanggung jawabku."
Arumi tertegun mendengar kalimatnya. Begitu dewasa dan penuh penghormatan. "Tapi, aku minta maaf karena baru bisa memberikan nafkah lahir. Untuk nafkah batinv... kurasa kita butuh waktu. Kita belum saling mengenal, dan aku ingin kita menjalaninya tanpa paksaan."
"Iya, Mas. Aku mengerti. Terima kasih banyak," jawab Arumi pelan, suaranya hampir hilang di antara detak jantung yang masih gelisah.
"Ya sudah, ayo berangkat sebelum pasar semakin siang. Kita pakai motor,aja pasarnya jaraknya lumayan jauh .
### Pertemuan dengan Mbak Sari
Begitu Arumi melangkah keluar dari pintu kontrakan yang bercat hijau kusam itu, sinar matahari pagi menyapa wajahnya yang masih agak pucat. Arumi melihat Elang sedang disapa oleh seorang wanita paruh baya yang sedang menjemur pakaian di selasar sempit di antara deretan kontrakan.
"Wah, Elang sudah rapi sekali! Tumben, memangnya mau ke mana?" tanya wanita itu dengan nada akrab, tangannya sibuk mengibas-ngibaskan kain sarung yang basah.
"Mau ke pasar, Mbak," jawab Elang ramah, suaranya tenang seperti biasa.
"Tumben! Biasanya Elang paling malas ke pasar. Biasanya ada teman Elang yang datang membawakan bahan-bahan dagangan," goda wanita itu lagi. Namanya Mbak Sari , salah satu tetangga senior di deretan kontrakan ini yang selalu tahu kabar setiap penghuni.
Elang hanya tersenyum simpul, tidak menjawab lebih jauh. Tepat saat itu, Arumi keluar dan mengunci pintu dengan suara klik yang pelan. Mbak Sari seketika menghentikan aktivitasnya. Matanya membulat lebar, menatap Arumi dari ujung rambut hingga ujung sepatu dengan dahi berkerut dalam.
"Lho, Elang ... itu siapa? Kok sepertinya Mbak baru pertama kali melihatnya keluar dari kamarmu?" tanya Mbak Sari penuh selidik, suaranya naik satu oktaf karena penasaran.
Elang menoleh pada Arumi, lalu memberi isyarat agar ia mendekat. "Oh, ini adik saya, Mbak. Baru datang semalam."
"Adik?" Mbak Sari tampak belum puas dengan jawaban itu. "Cantik sekali adiknya, Elang. Saya kira tadi Elang diam-diam bawa pacar pulang!"
Arumi tersenyum kikuk mendengar ucapannya, pipinya terasa hangat. Elang segera memperkenalkan Arumi dengan suara yang tenang. "Namanya Arumi, Mbak. Arumi, kenalkan, ini Mbak Sari tetangga sebelah kita."
Arumi menyambut uluran tangan Mbak Sari dengan sopan, lalu mencium punggung tangannya sebagai tanda hormat. "Arumi, Mbak," ucapnya lembut.
"Wah, kamu cantik banget, Arumi! Kapan datangnya? Kok Mbak tidak dengar suara motor semalam?" tanya Mbak Sari antusias, kini tangannya memegang lengan Arumi seolah sudah kenal lama.
"Tadi malam sekali, Mbak. Mungkin Mbak sudah istirahat, jadi tidak dengar," jawab Arumi seadanya, berusaha menjaga nada suara tetap tenang meski jantungnya berdegup kencang.
"Iya, Mbak. Semalam kami sampainya sudah larut. Saya juga sudah lapor ke Pak Haji dan Bu Haji kalau Arumi akan menginap dan tinggal di sini bersamaku mulai sekarang," tambah Elang, menguatkan sandiwara mereka dengan sangat meyakinkan.
Mbak Sari tampak sangat senang mendengarnya. "Baguslah kalau begitu! Mbak senang sekali ada teman perempuan di deretan ini. Biasanya isinya cuma bujangan-bujangan yang berisik malam-malam. Jadi, Arumi mau tinggal di sini selamanya?"
"Iya, Mbak. Mohon bimbingannya, ya," sahut Arumi lembut, senyumnya mulai lebih tulus.
"Tenang saja, Arumi. Di sini orangnya enak-enak, asal kita sopan dan saling menjaga. Eh, ngomong-ngomong, Arumi ini masih kuliah atau sudah kerja?"
"Sudah kerja, Mbak Sari"
"Wah, hebat! Kerja di mana kalau boleh tahu?"
"Di Dirgantara Group, Mbak."
Mendengar nama perusahaan besar itu, Mbak Sari sampai menepuk pundak Arumi pelan dengan antusias. "Dirgantara Group? Luar biasa! Suamiku saja sudah tiga kali daftar di sana tidak pernah tembus. Katanya seleksinya sangat ketat. Berarti kamu pintar sekali ya, Arumi."
Arumi tertawa kecil, merasa sedikit lega karena pujian itu. "Alhamdulillah, Mbak. Tapi saya di sana cuma pegawai rendahan, kok. Bagian marketing biasa."
"Mau tinggi atau rendah, yang penting kerjanya halal, Arumi! Daripada jadi pejabat tinggi tapi korupsi, lebih baik jadi pegawai jujur seperti kamu dan Elang ini," ujar Mbak Sari bijak. Arumi pun semakin merasa nyaman berbincang dengannya. Suasana pagi yang cerah, angin sepoi-sepoi yang membawa aroma tanah basah setelah hujan semalam, membuat percakapan ini terasa hangat.
### Titipan untuk Si Kecil Dino
"O ya, Elang. Sore nanti jualan tidak? Si Dino, anakku, sudah merengek minta bakso bakar buatanmu sejak kemarin," tanya Mbak Sari beralih ke Elang, suaranya penuh harap.
Elang menggeleng menyesal. "Sepertinya hari ini saya libur dulu, Mbak. Saya mau bantu Arumi beres-beres kamar dan belanja kebutuhan rumah. Mungkin besok baru jualan lagi."
"Yah, sayang sekali. Dino itu susahnya minta ampun kalau makan. Dia cuma mau kalau lauknya bakso bakar buatan Elang. Dia bisa membedakan mana buatan Elang dan mana buatan orang lain," keluh Mbak Sari sambil menghela napas panjang.
Melihat raut kecewa di wajah Mbak Sari, Arumi merasa tidak enak hati. Arumi melirik Elang, dan sepertinya ia mengerti maksud tatapannya. "Kalau tidak keberatan, begini saja Mbak Sari. Arumi dan aku kan mau ke pasar. Bagaimana kalau Mbak titip belanjaan saja? Nanti Arumi bisa membelikan daging ayam atau jajanan pasar untuk Dino," usul Elang dengan ramah.
Mata Mbak Sari langsung berbinar cerah. "Boleh? Tidak merepotkan, Arumi?"
"Tentu saja tidak, Mbak. Sekalian kami juga mau ke pasar. Mbak mau titip apa saja?" tanyaku dengan tulus, senyum Arumi melebar.
"Kalau begitu, Mbak titip daging ayam dua kilo ya. Satu kilo bagian dada, satu kilo bagian paha. Sama jajanan pasar buat Dino dan ayahnya, dua puluh ribu saja terserah isinya apa. Ini uangnya, seratus ribu. Maaf ya, merepotkan sekali."
Arumi menerima uang itu dengan kedua tangan. "Tidak apa-apa, Mbak. Nanti saya carikan yang paling segar dan enak."
"Terima kasih banyak ya, Arumi. Elang, jaga adiknya baik-baik, jangan sampai hilang di pasar!" canda Mbak Sari yang membuat mereka semua tertawa kecil.
Setelah berpamitan dengan ramah, Arumi dan Elang menuju parkiran motor di ujung gang kontrakan yang sempit. Arumi menyerahkan kunci motor matic-nya pada Elang. Elang naik ke atas motor dengan gerakan yang santai, sementara Arumi duduk di belakangnya. Ada perasaan aneh yang menggelitik di perut Arumi saat motor mulai melaju pelan keluar dari gang kontrakan. Bau asap knalpot bercampur aroma masakan dari kontrakan tetangga membuat pagi ini terasa begitu nyata.
Malam tadi Arumi masih menangis sendirian dan kehilangan segalanya dalam sekejap. Namun pagi ini, Arumi sudah punya identitas baru sebagai "adik" dari seorang pria asing yang sangat baik hati. Arumi baru saja memiliki teman bicara seperti Mbak Sari yang hangat dan cerewet. Ternyata, hidup tidak selamanya memberikan pahit yang tak berujung. Terkadang, di balik kehancuran yang mendadak, Tuhan menyiapkan kejutan-kejutan kecil yang manis melalui orang-orang yang tak terduga.