Tara dan Devan sudah menikah selama tiga tahun. Hanya Tara yang jatuh cinta di sini. Selama tiga tahun, Tara berusaha membuat Devan jatuh cinta. Apakah Tara berhasil saat ia tahu persis pernikahannya dengan Devan berbeda dengan pernikahan normal lainnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yesstory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Tara sedang bersiap di kamarnya. Setelah memastikan penampilannya rapi dan wajahnya terpoles make up tipis, dia keluar kamar dan turun ke lantai bawah.
Tara mendekati Devan yang tengah duduk di meja makan sambil menikmati tehnya.
“Kok rapi banget. Mau kemana?” tanya Devan menoleh, mengamati penampilan Tara dari atas hingga bawah.
“Mamah ngajak aku ke pusat grosir pakaian. Jadi, sekarang aku mau ke rumah Mamah dulu,” jawab Tara lalu duduk dan mengambil gorengan yang ada di atas meja. Devan yang membelinya tadi pagi saat Tara mandi.
“Kok Mamah nggak bilang aku?” tanya Devan.
Tara mengedikkan bahu. “Mamah chat aku semalam, dan aku langsung iyain. Lagipula aku bosan di rumah terus. Boleh kan?”
Devan mengangguk. “Ya udah kalau gitu.”
Tara tersenyum dan menghabiskan gorengannya. Setelah itu dia berpamitan, mencium punggung tangan suaminya dan melangkah ke luar rumah. Tara membawa motornya agar lebih cepat sampai di rumah mertuanya.
Setelah suara motor Tara menjauh, Devan tersenyum. Dia jadi punya rencana dadakan yang akan sangat menyenangkan nantinya saat Tara pergi. Tara tak akan kembali hingga sore karena dia tahu kebiasaan belanja Ibunya yang memakan waktu sangat lama.
Devan mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. Berbincang sesaat, telepon pun dimatikan. Untunglah Tara tak mengajaknya ikut serta sehingga dia punya kesempatan untuk mewujudkan apa yang ada dalam pikirannya.
Tara sampai di rumah mertuanya setelah menghabiskan waktu satu jam di perjalanan. Tara langsung disambut hangat oleh Ibu mertuanya.
“Kamu cantik banget, Nak,” puji Mia.
“Terima kasih, Mah. Oh iya, kita langsung berangkat sekarang, Mah?”
“Nanti. Sekarang masih tutup Tokonya. Kamu udah sarapan belum?” tanya Mia mengajak Tara menuju ruang makan.
“Belum, Mah. Tadi ngemil aja, karena takutnya Mamah udah nungguin.”
“Ini masih terlalu pagi, Nak. Ya udah ayo sarapan dulu. Tadi Mamah masak makanan kesukaan Devan. Mamah kira kamu kesini sama Devan.”
“Aku nggak ngajak Devan karena takutnya dia ada urusan di sekolah, Mah. Ini kan lagi musim penerimaan murid baru. Jadi takutnya dia ke sekolah.”
Mia mengangguk mengerti. Keduanya pun duduk di meja makan dan memulai sarapan. Ponsel Mia berdering. Mia langsung mengangkatnya dan mengobrol singkat.
“Pak Yana nggak bisa nganter kita, Nak. Istrinya sakit jadi dia harus mengurus anak-anaknya. Gimana ya?” tanya Mia setelah meletakkan kembali ponselnya di atas meja.
“Ehm… Ya udah aku aja yang nyetir, Mah,” usul Tara.
Mia menggeleng cepat. “Jangan. Tempatnya jauh. Mamah nggak mau kamu kecapekan. Mamah minta kamu nemenin Mamah, bukan nyopirin Mamah.”
“Nggak papa kok, Mah. Aku nggak capek.”
“Kalau Mamah batalin aja gimana?”
“Batalin gimana maksudnya, Mah?”
“Kapan-kapan aja kita belanjanya. Nanti biar Mamah minta karyawan aja buat ke sana.”
“Mamah yakin?”
“Iya. Tapi Mamah jadi nggak enak sama kamu. Kamu udah sampai sini pagi-pagi, eh malah nggak jadi.”
Tara tersenyum. “Namanya lagi halangan, Mah. Nggak papa kok.”
“Gimana kalau kita masak-masak aja? Mamah bakal ngasih tahu resep makanan kesukaan Devan. Nanti kamu bisa praktek sendiri di rumah. Gimana?” usul Mia.
Tara mengangguk senang. “Boleh, Mah.”
Mia tersenyum lega. Setidaknya Tara tak langsung pulang saat rencana mereka gagal untuk belanja. Mia hanya ingin menghabiskan waktu dengan menantunya karena dia kesepian. Sayang sekali, Devan dan Tara tak ingin tinggal di rumahnya karena tempat kerja Devan yang jauh dari rumah kedua orang tuanya.
Setelah sarapan, keduanya pun pergi menuju pasar terdekat untuk membeli bahan-bahan dan bumbu masakan. Tara terus tersenyum karena senang bisa melakukan kegiatan dengan ibu mertuanya. Jujur Tara sangat merindukan orang tuanya yang telah tiada, dan dia beruntung karena memiliki mertua yang sangat baik padanya.
***
Pukul dua siang, Tara sampai di rumahnya. Setelah mematikan motor dan membawa kotak makanan hasil masakannya bersama ibu mertuanya tadi, Tara melangkah masuk. Namun dahinya mengernyit saat melihat ada sepatu pria yang bukan milik Devan.
Tara membuka pintu depan rumah yang tertutup. Syukurlah tak dikunci. Tara mengedarkan pandangan, namun sepi tak ada orang. Padahal jelas-jelas ada sepatu pria di luar. Di ruang tamu, tak ada orang. Tara melangkah ke ruang makan dan dapur, tapi tetap tak ada orang. Tara ke halaman belakang, tetap saja tak ada satu orang pun.
Tara kembali ke dalam rumah dan melirik lantai atas. Meletakkan kotak makanan di meja sebelah tangga, Tara berjalan perlahan menaiki tangga menuju lantai dua.
Sampai di lantai atas, Tara berjalan perlahan menuju kamarnya. Samar-samar Tara mendengar sebuah suara yang sedikit menggelikan di telinganya.
Tara sampai di depan pintu kamarnya. Memegang handle pintu, jantung Tara berdebar. Dia sudah berpikir buruk saat melihat ada sepatu pria entah siapa di teras dan semakin diperburuk dengan suara yang terdengar samar dan Tara tahu itu suara apa.
Menyiapkan diri dan mentalnya, Tara membuka pintu. Tara mematung melihat pemandangan di depannya. Kedua orang yang sedang berada di atas ranjang juga tak kalah terkejut dengan kedatangan Tara yang tiba-tiba. Keduanya sontak menutup diri dengan berbagi selimut untuk menutupi tubuh mereka yang polos.
Tara menatap Devan dengan tatapan hancur dan tak percaya. Air mata meluncur begitu saja di pipi tanpa permisi. Devan juga menatap Tara, terkejut sekaligus bingung.
“K-ka…kamu udah pulang, Ra?” Suara Devan terbata sembari mengeratkan selimutnya.
Tara tersenyum hancur dan menatap pria yang ada di samping Devan yang juga tengah menatapnya diam.
“Kamu yang bernama Alan?” tanya Tara datar pada pria yang cukup kekar namun belok itu.
Pria itu mengangguk kaku. Tara tersenyum sinis dan kembali menatap Devan. “Dia pacar barumu, Dev?”
Devan terdiam.
“Ada begitu banyak tempat, tapi kenapa kalian memilih dikamar kita, Dev? KENAPA, DEV!” Tara berteriak marah.
Devan menatap Tara sedih. Dia bersalah. Dan kini dia pasrah. Tara mendekati ranjang dan menatap tajam Devan. “Puas, Dev? Ini yang kamu inginkan?” tanya Tara.
Devan masih terdiam begitupun Alan. Alan ingin pergi dari kamar ini, namun dia tak memakai apapun di balik selimut sementara baju dan celananya ada di kursi meja rias di samping Tara. Mau tak mau Alan harus menyaksikan pertengkaran sepasang suami istri itu.
Tara berjalan menuju nakas dan membanting lampu hias di atasnya hingga berserakan. Devan dan Alan memejamkan mata. Tara dikuasai amarah. Tak sampai disitu, Tara menuju meja rias dan membuang semuanya di atas meja ke lantai dengan keras.
“BRENGSEK! SIALAN, KAMU DEV!”
“KALIAN BEJAT! NGGAK TAHU MALU!”
Tara terus mengumpat. Tak peduli jika ada Alan disana. Biarlah dia tahu semuanya. Hatinya hancur bersamaan harapannya yang musnah. Semuanya telah hancur. Pernikahan yang diimpikannya telah ternoda begitu sangat oleh kelakuan suaminya sendiri. Pernikahan yang coba dia pertahankan dengan harapan bisa merubah Devan tapi nyatanya semua sia-sia belaka. Pernikahan hancur begitupun Devan yang tak berubah atau mungkin tak kan pernah berubah.
Devan masih menatap Tara yang histeris. Dia juga tak memakai pakaian sehingga tak bisa turun dari ranjang untuk menenangkan istrinya. Tara melangkah mendekati ranjang dengan air mata yang terus mengalir. Tatapannya menajam pada Alan.
“Kamu.. Alan… selamat… kamu berhasil nyentuh dia disaat aku, istrinya tak mendapatkan hak itu,” ucap Tara dengan napas terengah dan menunjuk Devan. Dadanya sesak sekali melihat kedua orang yang hanya bisa diam menatapnya.
“Tara?”
Tara menatap Devan yang memanggilnya dengan suara pelan. “Apa, Dev? Mau nyangkal lagi?”
Devan menggeleng lirih. Dia ingin meminta maaf, tapi kata-katanya tercekat di tenggorokannya. Tara mendengus kasar dan melangkah keluar kamar. Tanpa menoleh lagi, Tara pergi meninggalkan kedua orang yang masih terdiam membisu.
Tak lama kemudian, suara deru mobil meninggalkan garasi terdengar. Devan memejamkan matanya sesaat. Tara pergi membawa mobilnya dan dia tak yakin bahwa Tara akan kembali nanti setelah melihat perbuatannya ini.
“Dev, lo nggak kejar bini lo?” tanya Alan setelah beberapa saat melihat Devan masih duduk terdiam. Tatapan matanya mengarah pada pintu yang kini terbuka lebar setelah Tara keluar dari sana.
Devan menggeleng pelan. Air matanya jatuh. Alan melihatnya dengan jelas dan mengangguk. Sekarang dia paham, jauh di lubuk hati Devan, dia mulai mencintai istrinya.
“Bini lo pergi disaat lagi emosi, Dev. Dia nyetir mobil dengan keadaan yang nggak baik-baik aja. Itu bisa membahayakan dia,” ujar Alan mencoba untuk membuat Devan sadar bahwa istrinya harus segera dikejar sebelum Devan menyesal.
“Lo bisa pergi sekarang, Lan. Sorry, gue nggak bisa lanjutin lagi. Tolong jangan hubungi gue sementara waktu,” ucap Devan tanpa menoleh. Tatapannya masih datar memandangi pintu kamarnya.
Alan tak bisa berbuat apa-apa lagi. Dia turun dari ranjang, mengambil pakaiannya dan memakainya lalu pergi meninggalkan Devan. Tak sedikitpun Devan menoleh pada Alan yang hendak keluar kamar.
Setelah Alan pergi, Devan terdiam. Pikirannya kosong. Semuanya terjadi begitu cepat, tanpa dia duga sebelumnya. Tara tiba-tiba pulang dan memergokinya dalam keadaan yang tidak pantas bahkan menjijikkan. Devan mengepalkan tangannya dan berteriak kencang.
“ARRGGHHHHH!”
***
Tara mengemudikan mobilnya dengan pikiran yang berkelana kemana-mana. Hatinya telah hancur. Dadanya sangat sesak hingga dia kesulitan bernapas. Sepanjang jalan, air mata tak henti untuk keluar. Tara menangis sesenggukan sambil terus menyetir mobilnya.
Entah dia akan kemana. Dia hanya ingin pergi. Pergi jauh dari semua hal yang menyakitkan ini. Semuanya telah selesai. Hatinya sudah sangat terluka dan dia tak ingin kembali. Dia tak ingin kembali ke rumah itu. Ke kamar itu. Kesabarannya sudah diujung batas. Tara tak bisa melihat Devan lagi. Apa yang dilihatnya tadi sudah berada di batas toleransi kewajaran.
Devan selingkuh. Devan berhubungan intim dengan seorang pria di kamar mereka. Apalagi yang lebih menyakitkan? Bahkan saat Devan menolak menyentuhnya, dia tak sesakit ini.
Tara tak bisa menjambak ataupun mencakar Alan, karena Alan bukan seorang wanita. Tara tak bisa melawan seorang pria yang telah merebut Devan darinya. Merebut perhatian dan tubuh Devan darinya. Tara benci dengan kedua orang itu. Tara benci.
Tara menatap kosong jalanan di depannya. Air mata terus luruh membasahi pipi. Tara tak ingin menyekanya. Dia tak peduli lagi dengan semuanya.
“Bu, Pak, aku ingin ikut kalian ke dunia sana. Aku udah nggak kuat lagi. Aku capek. Dadaku sesak, Bu, Pak. Aku nggak bisa napas.”
Dan semuanya terasa buram di mata Tara. Samar Tara mendengar suara klakson bersahutan. Tapi jiwa dan batinnya sedang sangat lelah. Maka, Tara melepas kemudinya. Lalu…
Brakkk!!!!
Bersambung …