Terlahir kembali di dunia yang dipenuhi Iblis dan Malaikat Jatuh bukanlah rencana Saiba Ren. Sebagai mantan Raja Dewa yang pernah mengguncang Alam Ilahi, ia kini harus memulai segalanya dari nol di Akademi Kuoh dengan identitas baru.
Namun, Ren tidak datang sendirian. Di balik penutup matanya yang misterius, tersimpan kekuatan Six Eyes yang mampu menembus struktur semesta, dan di dalam jiwanya, istri-istri tercintanya masih tertidur dalam dimensi rahasia yang menunggu untuk dibangkitkan. Di dunia di mana Sacred Gear dan garis keturunan adalah segalanya, Ren hadir sebagai anomali yang tidak bisa diukur oleh logika sistem mana pun.
Saat faksi-faksi besar mulai mengincar kekuatannya, Ren hanya memiliki satu prinsip: "Dunia ini boleh punya aturannya sendiri, tapi akulah yang menentukan kapan aturan itu berlaku bagiku." Bisakah ia membangun kembali kejayaannya sambil menjaga kedamaian haremnya yang perlahan terbangun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19.Terbangunnya Hal Yang Tidak Diinginkan
Bel istirahat berbunyi dengan dentang yang panjang, seolah memberikan napas lega bagi seluruh penghuni kelas 2-B yang sejak tadi tertahan dalam tekanan udara yang kaku. Begitu guru sejarah melangkah keluar, atmosfer ruangan yang tadinya hening seketika pecah oleh bisikan-bisikan tertahan. Namun, tidak ada satu pun siswa laki-laki yang berani mendekat. Mereka hanya bergerombol di pojok kelas, memandang ke arah meja belakang dengan tatapan pemujaan yang bercampur ngeri.
Sebaliknya, beberapa siswi yang didorong oleh rasa penasaran yang luar biasa—dan mungkin sedikit keberanian yang dipaksakan—mulai mengelilingi meja Bibi Dong. Mereka bergerak perlahan, seolah sedang mendekati seekor harimau putih yang sedang beristirahat.
"E-anu... Bibi Dong-san?" salah satu siswi berambut pendek memberanikan diri bicara. Tangannya sedikit gemetar saat memegang kotak bekalnya. "Aku... aku baru pertama kali melihat seragam yang dimodifikasi seindah itu. Apakah itu tren dari sekolah asalmu?"
Bibi Dong tidak segera menjawab. Ia perlahan menutup buku sejarahnya, gerakannya begitu anggun hingga membuat para siswi di sekitarnya merasa sangat canggung dengan gerakan tubuh mereka sendiri. Ia mendongak, matanya yang tajam namun indah menatap siswi itu tanpa ekspresi yang jelas.
"Tren?" Bibi Dong mengulang kata itu dengan nada datar. "Bukan. Suamiku yang menyesuaikannya agar aku merasa nyaman. Di tempat asalku, pakaian adalah simbol kedudukan, bukan sekadar kain untuk mengikuti kerumunan."
Para siswi itu tersentak, bukan karena kata-katanya yang pedas, tapi karena sebutan "Suamiku" yang meluncur begitu alami dari bibir Bibi Dong. Mereka serentak menoleh ke arah Ren yang sedang duduk menyamping, menopang dagu sambil menatap keluar jendela melalui kacamata hitamnya.
"S-suami?! Jadi Saiba-kun dan kau... kalian sudah menikah?" tanya siswi lain dengan wajah memerah karena terkejut.
Ren terkekeh pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari pemandangan di luar. "Di hadapan hukum yang lebih tinggi dari dunia ini, ya. Kenapa? Apakah itu sesuatu yang aneh bagi anak-anak seusia kalian?"
"T-tentu saja! Maksudku, kalian masih SMA!" seru mereka hampir bersamaan.
Bibi Dong menyandarkan punggungnya, satu tangannya diletakkan di atas meja dengan jari-jari yang mengetuk permukaan kayu secara ritmis. "Usia hanyalah angka bagi mereka yang telah melampaui waktu. Kalian terlalu terpaku pada aturan kecil yang dibuat oleh manusia lemah untuk menenangkan diri mereka sendiri."
[SISTEM: Deteksi upaya pendekatan dari Issei Hyodo. Ia bersembunyi di balik punggung Matsuda, mencoba mendengarkan percakapan.]
[REN: Biarkan saja naga kecil itu bermimpi. Dong'er, jangan terlalu menakuti mereka. Mereka hanya penasaran.]
[BIBI DONG (Lewat tautan batin): Aku tidak menakuti mereka, Ren. Aku hanya memberikan kebenaran. Mereka terlalu berisik untuk ukuran mahluk yang hanya hidup beberapa dekade.]
Di kejauhan, Issei berbisik pada Matsuda. "Lihat itu... auranya benar-benar berbeda. Dia cantik, tapi kenapa aku merasa jika aku salah bicara, kepalaku akan hilang dalam sekejap?"
"Kau hanya pengecut, Issei!" balas Matsuda, meski ia sendiri tidak berani melangkah lebih dekat dari tiga meter. "Tapi serius, bagaimana si rambut putih itu bisa mendapatkan istri selevel dewi? Ini adalah ketidakadilan kosmik!"
Tiba-tiba, aroma bunga lili yang sangat pekat merembes masuk ke dalam kelas. Di ambang pintu, Akeno Himejima berdiri dengan nampan berisi beberapa cangkir teh porselen. Senyumnya yang biasanya menenangkan kini terlihat seperti topeng yang menutupi kecemasan yang mendalam.
"Ara, ara... sepertinya kelas ini sedang merayakan kedatangan tamu agung," ucap Akeno sambil melangkah masuk. Kerumunan siswi secara otomatis memberikan jalan, merasakan aura "kakak kelas" yang berwibawa dari wakil ketua klub itu.
Akeno meletakkan nampan tehnya di meja kosong di depan Bibi Dong. "Aku membawakan teh spesial dari Klub Ilmu Gaib. Sebagai sambutan untuk siswi pindahan baru yang... sangat istimewa."
Bibi Dong menatap cangkir teh itu, lalu beralih menatap Akeno. Matanya menyipit, membedah energi iblis yang mengalir di dalam tubuh Akeno. "Teh yang mengandung sedikit jejak sihir penenang? Kau cukup berani mencoba merayu inderaku dengan cara seperti ini, Iblis."
Akeno tetap tersenyum, meski secercah keringat dingin muncul di pelipisnya. "Hanya keramahtamahan, Bibi Dong-san. Kami ingin memastikan Anda merasa 'betah' di sini."
Ren akhirnya memutar kursinya, menatap Akeno dengan senyum nakal. "Simpan tehmu, Himejima-san. Istriku hanya meminum apa yang aku sediakan. Tapi terima kasih atas usahanya. Katakan pada Rias, umpan kecil seperti ini tidak akan berhasil."
Akeno membungkuk sedikit, matanya berkilat sejenak. "Pesan diterima, Saiba-kun. Tapi Ketua OSIS sepertinya ingin mendiskusikan jadwal kegiatan ekstrakurikuler untuk Bibi Dong-san nanti sore. Pastikan kalian datang."
Akeno berbalik dan pergi, meninggalkan aroma lili yang perlahan memudar. Bibi Dong mengambil cangkir teh itu dan hanya menatap pantulan wajahnya di sana sebelum meletakkannya kembali dengan kasar.
"Mereka terus mencoba menguji batas kesabaranku," gumam Bibi Dong.
Ren memegang tangan Bibi Dong di atas meja, mengabaikan semua mata yang menonton kemesraan mereka. "Biarkan saja. Selama mereka hanya menari di permukaan, kita biarkan mereka bersenang-senang. Tapi jika mereka berani menyentuh garis merah..."
"Maka aku akan memastikan mereka tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk menyesal," sambung Bibi Dong dengan senyuman dingin yang sangat cantik.
Suasana kelas kembali menegang. Para siswi yang tadi mengelilingi mereka perlahan mundur, menyadari bahwa mereka baru saja mencoba berteman dengan entitas yang berada di luar jangkauan imajinasi mereka.