Violet Aolani, mahasiswi tengil yang tak kenal kata mundur, nekat mengejar Arden Elio Bayu, CEO kaku yang hidupnya sedingin es. Di mata Arden, Violet hanyalah anak kecil yang mengganggu; namun bagi Violet, Arden adalah takhta yang harus ia taklukkan. Ini adalah kisah tentang "badai" muda yang meruntuhkan tembok beku sang penguasa korporat dengan keberanian yang nyaris lancang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benteng yang kembali mengeras
Pesawat pribadi yang membawa mereka kembali ke Jakarta terasa jauh lebih dingin daripada biasanya. Bukan karena AC, tapi karena Arden kembali membangun tembok tinggi di sekelilingnya. Ia duduk di kursi seberang Violet tanpa sekalipun mengalihkan pandangan dari dokumen di tabletnya.
"Tuan Bos, marah ya?" tanya Violet sambil mencoba menusuk lengan Arden dengan ujung pulpennya. "Gara-gara berita itu?"
Arden menjauhkan lengannya, wajahnya kaku. "Violet, dengar. Apa yang terjadi di Bali adalah kesalahan teknis. Saya menyebut kamu 'calon istri' hanya untuk membungkam Arjuna, bukan karena saya ingin itu menjadi kenyataan."
Violet mengerucutkan bibirnya. "Tapi saham perusahaan Tuan naik, kan? Berarti aku ini pembawa keberuntungan."
"Saya tidak butuh keberuntungan yang datang dari drama remaja," suara Arden meninggi, membuat pramugari di sudut pesawat sedikit tersentak. "Kamu itu masih terlalu muda. Sembilan belas tahun. Dunia kamu itu soal nongkrong sama teman-temanmu, kuliah, dan bersenang-senang. Saya dua puluh tujuh tahun, Violet. Saya punya tanggung jawab ribuan karyawan. Saya butuh ketenangan, bukan kegaduhan yang kamu bawa setiap hari."
Violet terdiam. Untuk pertama kalinya, ia tidak membalas dengan kata-kata tengil. Ia menatap Arden dengan pandangan yang sedikit redup. "Jadi, bagi Tuan, aku ini cuma... gangguan?"
"Iya," jawab Arden tanpa ragu, meski hatinya sedikit berdenyut melihat binar mata Violet yang biasanya cerah kini meredup. "Setelah sampai di Jakarta, saya akan bicara pada Papa dan ayahmu. Saya akan batalkan semua rencana perjodohan ini. Kamu bisa kembali jadi mahasiswi biasa, dan tolong... berhenti mengejar saya."
Jakarta - Apartemen Mewah Violet
Sesampainya di rumah, Violet tidak langsung tertawa atau menelepon geng cegilnya. Ia melempar tasnya ke atas sofa beludru dan duduk diam.
Evara, Avyanna, dan Lavanya yang sudah menunggu dengan pizza dan perlengkapan pesta untuk merayakan "status baru" Violet langsung terdiam melihat wajah sahabat mereka.
"Vi? Kok mukanya kayak ditekuk gitu? Bukannya harusnya lo lagi happy?" tanya Evara ragu-ragu.
"Dia bilang gue cuma gangguan," bisik Violet. "Dia bilang gue anak kecil yang nggak tahu apa-apa soal tanggung jawab."
"Wah, parah sih si Kulkas," geram Avyanna. "Dia nggak tahu aja kalau lo itu pinter, cuma emang agak gesrek dikit kalau soal cinta."
Lavanya mendekat, ia duduk di samping Violet. "Vi, mungkin cara kita salah. Selama ini lo ngejar dia kayak anak kecil yang minta permen. Arden itu tipe pria yang butuh bukti, bukan cuma janji atau rayuan tengil."
Violet mendongak. "Maksud lo?"
"Berhenti jadi 'Violet si Cegil' buat sementara," saran Lavanya. "Tunjukin ke dia kalau lo itu pewaris Aolani yang sesungguhnya. Kalau lo bisa berdiri sejajar sama dia di dunia bisnis, dia nggak akan punya alasan buat manggil lo 'anak kemarin sore' lagi."
Violet menghapus air matanya yang hampir jatuh. Matanya kembali berapi-api. "Bener. Kalau dia mau wanita yang serius, gue bakal kasih dia wanita paling serius yang pernah dia temuin. Sampai dia sendiri yang mohon-mohon minta 'Gadis Berisik'-nya balik."
Kantor Bayu Group - Dua Hari Kemudian
Arden merasa ada yang aneh. Sudah dua hari kantornya terasa sangat... sepi. Tidak ada suara tawa yang nyaring di koridor, tidak ada kopi dengan aroma melati yang tiba-tiba ada di mejanya, dan tidak ada gadis yang masuk tanpa izin.
Ia keluar dari ruangannya dan melihat meja asisten di depan. Violet ada di sana, tapi dia tampak berbeda.
Violet memakai setelan power suit berwarna biru navy yang sangat profesional. Rambutnya disanggul rapi. Tidak ada bando mutiara, tidak ada permen karet. Ia sedang fokus menatap layar komputer sambil mengetik dengan sangat cepat.
"Violet," panggil Arden.
Violet mendongak, matanya datar, profesional, dan dingin. Sama seperti tatapan Arden biasanya. "Ya, Pak Arden? Ada yang bisa saya bantu terkait jadwal pertemuan siang ini?"
Arden terdiam sejenak. "Kamu... tidak ingin mengucapkan sesuatu yang aneh?"
"Maaf Pak, saya sedang menyelesaikan laporan analisis pasar untuk proyek Bali kemarin. Jika tidak ada hal penting lainnya, saya harus menyelesaikan ini sebelum jam makan siang," ucap Violet sopan, lalu kembali fokus pada layarnya.
Arden berdiri mematung di tengah ruangan. Harusnya ia senang karena keinginannya terkabul—ketenangan yang ia idamkan. Tapi kenapa hatinya justru merasa ada sesuatu yang hilang?
Di kejauhan, di balik tembok, Evara dan Avyanna sedang mengintip sambil menahan tawa.
"Operasi: Wanita Karir Dingin dimulai!" bisik Evara bangga.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...