Di abad 21 aku Anna Chandrawathi, wanita karir yang dihormati.
> Satu kedipan, aku terbangun di tahun 1980 sebagai "si jelek"—istri yang dibenci Jendral Chandra, dikurung 5 tahun di gudang tua, dinyatakan mati terbakar.
> Tapi aku nggak mati. Aku melahirkan.
> Putraku cerdas, ayahnya Jendral yang membenciku.
> Aku bisa saja pergi. Tapi pemilik tubuh ini menitipkan satu pesan: "Bersihkan namaku."
> Maka aku akan keluar. Menghadapi selir-selir haus kuasa, ibu tiri licik, dan suami yang menganggapku sampah.
> Sebab kali ini, yang terbakar bukan aku. Tapi mereka.
> *Yuk ikuti kisahku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon supyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
malam pertama di gerbang maut
*Bab 1: Malam Pertama di Gerbang Maut*
"Jendral, hentikan!"
Jeritan Anna membelah keheningan kamar pengantin. Tubuhnya terbujur kaku, terperangkap dalam dekapan baja seorang pria yang tiga jam lalu resmi menyandang status sebagai suaminya. Bukan dekapan cinta. Ini kurungan predator.
"Apa yang kau inginkan dariku, hah?" Suara Chandra, sang Jendral, setajam belati. Rahangnya mengeras, sorot matanya memancarkan amarah yang bisa membakar satu batalion. "Menggunakan koneksi militer ayahmu, lalu mengancam bunuh diri agar aku menikahimu?"
Tangan kasar berurat itu kini melingkar di leher jenjang Anna. Cengkeramannya tidak main-main. Mencekik. Udara di paru-paru Anna dirampas paksa. Ia menggeliat, mencakar, tapi tubuh pria itu seperti tembok beton.
"Ti... tidak... aku... ingin... cerai..." Kalimat itu lolos terbata di antara sisa napasnya. Jari-jari Anna mencengkeram pergelangan tangan Chandra, kuku-kukunya patah sia-sia.
Chandra tertawa. Tawa yang dingin, tanpa sedikit pun humor. "Setelah semua drama murahanmu itu? Ancaman bunuh diri, memaksa membatalkan pernikahan orang lain demi dirimu? Lalu sekarang kau mau cerai begitu saja? Mimpi!"
Dalam satu gerakan cepat, bibirnya menghantam bibir Anna. Bukan ciuman. Ini invasi. Penjajahan. Dipaksa, dikuasai, sambil terus dicekik.
"Akan kuwujudkan pernikahan yang kau impikan," bisiknya serak tepat di bibir Anna, membuat bulu kuduknya berdiri. "Akan kubuat sampai kau trauma dengan kata 'menikah' di tujuh kehidupanmu berikutnya."
_Tolong!_ Anna menjerit dalam hati. _Dicekik sambil dicium rasanya persis seperti ditodong malaikat maut. Aku sudah mati sekali saat jiwaku terlempar ke tubuh sialan ini. Apa Tuhan sengaja mengirimku ke sini untuk mati kedua kalinya?_
Pemberontakan hanya bahan bakar. Semakin Anna melawan, semakin liar binatang buas di dalam diri Chandra itu bangkit. Akhirnya, Anna memilih diam. Bukan pasrah. Ini strategi bertahan hidup. Malam pertama yang seharusnya sakral, baginya lebih mirip disiksa iblis yang menyamar jadi suaminya.
...
Cahaya mentari sudah tinggi ketika menerobos celah tirai sutra, menyengat tepat di kelopak mata Anna. Bulu matanya yang lentik bergetar sebelum kelopak itu terbuka perlahan. Kepalanya serasa diisi timah.
"Aduh..." rintihnya pelan. Sekujur tubuhnya remuk. "Kekuatan tentara aktif memang tidak ada lawan. Tenaganya seperti tidak ada habisnya. Tadi malam... satu, dua, tiga, empat... ah, enam? Entahlah, aku hilang hitungan."
Ia terkekeh getir. Kekehannya hampa. Rasanya seperti habis dilindas satu peleton tank baja, puluhan kali, tanpa ampun. Kakinya bergetar hebat saat mencoba menapak lantai dingin. Begitu kakinya menyentuh marmer, lututnya hampir lemas.
Kamar pengantin ini tidak lagi bisa disebut kamar. Lebih pantas disebut medan perang. Selimut robek, vas bunga pecah, meja rias terguling. Seolah pertempuran di perbatasan pindah ke sini semalam, dan Anna adalah wilayah yang kalah.
Dengan langkah gontai seperti mayat hidup, Anna menyeret tubuhnya ke depan cermin ukir besar. Ia menjatuhkan diri di kursi meja rias. Napasnya tersengal.
Lalu ia menatapnya. Pantulan itu.
Seorang gadis dengan wajah pucat penuh jerawat meradang. Kantong mata hitamnya tebal dan berkerut, membuat usianya yang baru 20 tahun terlihat seperti nenek 50 tahun yang kelelahan hidup. Kulitnya kusam, legam, penuh daki seolah tidak tersentuh air selama bertahun-tahun. Rambutnya kering dan bercabang.
"Jadi ini 'aku' yang baru," bisik Anna pada cermin. Suaranya pahit. "Tiga hari lalu aku Anna Chandrawathi, wanita karir abad 21. Punya apartemen sendiri, gaji dua digit, dihormati di ruang rapat. Sekarang? Aku terlempar ke tubuh gadis ingusan, ceng, yang memilih bunuh diri hanya karena cinta ditolak."
Ia menunjuk wajah di cermin dengan jari telunjuk gemetar. "Bodoh! Wanita paling bodoh dalam sejarah! Seharusnya kau bercermin dulu. Wajah seburuk ini, bahkan pengemis pun tidak sudi menikahimu, apalagi seorang Jendral!"
Amarah pada pemilik tubuh asli ini membakar dadanya. Tapi amarah tidak akan mengubah keadaan.
Anna menghela napas, menegakkan punggungnya. Matanya yang tadi sayu kini menyala. Sorot wanita abad 21 itu kembali. "Baiklah. Kalau takdir memaksaku main di papan catur ini, aku tidak akan jadi pion. Langkah pertama: aku harus merombak total 'pion' jelek ini jadi ratu."
"Sebelum kakimu sempat melangkah ke mana-mana, akan kupastikan sendiri remuk di tanganku!"
Suara setajam silet itu membelah udara dari belakang. Dingin, menusuk, penuh kuasa.
Anna menoleh perlahan. Tidak terkejut. Di ambang pintu berdiri seorang wanita paruh baya. Tubuhnya dibalut kebaya sutra emas yang norak, sarat payet. Di lehernya bergelayut tiga untai kalung emas tebal, di sepuluh jarinya tersemat cincin permata berbagai ukuran. Gelang emasnya beradu, menimbulkan bunyi _kring-kring_ yang memuakkan.
Anna menahan napas. Butuh seluruh kekuatan menahan tawa yang hampir meledak. _Astaga. Ini manusia atau hantu emas Jibaro yang viral di TikTok tahun 2024? Jangan-jangan animator Jibaro dapat inspirasi dari istri kedua komandan tahun 80-an ini._
"Wajah konyol apa yang kau pasang di hadapanku, hah?" Widuri mendesis, telunjuknya yang penuh cincin menunjuk tepat ke hidung Anna. "Kau berani mengejekku? Dengar baik-baik, bocah ingusan! Akulah Nyonya Besar di rumah ini!"
Anna mendengus pelan. Dengan sisa tenaga yang ia punya, ia memaksa kakinya yang gemetar untuk berdiri tegak. Ia melangkah maju, mendekat hingga jarak mereka hanya sejengkal. Bau parfum menyengat Widuri menusuk hidung.
"Widuri... Widuri..." Anna menyebut nama itu pelan, dieja, seperti mengeja nama anak TK. Senyumnya miring, sinis. "Sudah siang begini masih kuat bermimpi, ya? Mari kubangunkan."
Ia mencondongkan tubuhnya sedikit. "Nyonya utama rumah ini itu ibu mertuaku, Nyonya Chandrawathi. Dia ibu kandung Jendral. Kamu? Istri kedua. Tetap istri kedua. Di akta nikah, di silsilah keluarga, di mata hukum, posisimu cuma satu: S-E-L-I-R." Ia menekankan setiap hurufnya, jelas dan kejam.
"Kurang ajar!" Wajah Widuri merah padam seperti kepiting rebus. Telunjuknya bergetar hebat di depan wajah Anna.
"Heh," Anna melengos, membalikkan badan dengan anggun meski kakinya nyeri. Ia berjalan kembali ke kursi riasnya, sengaja menunjukkan punggung pada Widuri. "Memang begitu kenyataannya. Tidak suka? Gugat saja pembuat akta."
Belum selesai. Anna menatap pantulan Widuri di cermin, lalu berkata lagi tanpa menoleh. "Oh iya, satu hal lagi biar otakmu yang penuh emas itu paham. Mertuaku adalah Nyonya Besar. Suamiku, Jendral Chandra, adalah Tuan Muda Pertama, pewaris tunggal. Dan aku," ia menunjuk dadanya sendiri lewat cermin, "adalah istrinya yang sah. Secara struktur, aku adalah Nona Muda Pertama. Jadi, posisiku di rumah ini, sayang, jauh... lebih tinggi darimu, S-E-L-I-R."
_Bugh!_ Widuri mengepalkan tangan sampai buku-buku jarinya memutih. Dahinya berkerut dalam, urat-urat di pelipisnya menonjol. Amarahnya sudah sampai ke ubun-ubun.
Dalam hati Widuri meraung: _Tidak mungkin! Gadis bodoh, bisu, dan penakut itu? Dari mana dia belajar kosa kata seperti ini? Dari mana nyalinya hingga berani menatapku seperti ini?_
Anna duduk kembali. Dagunya terangkat. Ia menatap Widuri dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan tatapan mengejek, tatapan seorang ratu pada pelayannya.
_Kau pikir aku Anna yang dulu?_ batin Anna, senyumnya tidak menyentuh mata. _Biarpun aku baru tiga hari menjadi 'transmigrasi' di tubuh busuk ini, semua ingatan pemilik lama ada di kepalaku. Lengkap. Jelas. Semua kebusukanmu, semua skandalmu, semua mayat yang kau sembunyikan di gudang belakang... aku tahu semuanya, Widuri. Satu per satu._
"Beraninya kau, anak sialan!" Akhirnya Widuri meledak. Ia berbalik ke pintu, suaranya melengking memanggil pasukan. "Semua orang! Masuk! Seret gadis tidak tahu diri ini! Kurung dia di gudang halaman belakang! Jangan sampai satu nyawa pun tahu dia masih hidup!"
Seketika, empat orang dayang berbadan besar berhamburan masuk. Tanpa ba-bi-bu, mereka membungkus tubuh Anna yang masih lemas dengan selimut tebal agar tidak bisa meronta.
"Bakar kamar ini!" Perintah Widuri selanjutnya membuat darah Anna berdesir dingin. Senyum kejam terukir di bibir wanita tua itu. "Buat seolah-olah pengantin baru yang jelek ini mati terpanggang. Biar semua mengira itu kecelakaan."
Kebakaran di kamar pengantin utama. Akan jadi berita heboh. Semua orang akan panik, berduka, sibuk memadamkan api. Tidak akan ada yang sadar bahwa di tengah kekacauan itu, Nona Muda Pertama yang sah sedang diseret seperti sampah untuk dikurung hidup-hidup.
Di dalam selimut yang pengap dan gelap, Anna tidak panik. Bibirnya justru menyunggingkan senyum.
_Mau main api, Widuri? Baiklah. Kita lihat siapa yang akan hangus duluan._
...
*Gimana bab 1 versi "jempol"?* Kalau suka dan mau lanjut, jangan lupa tinggalin jejak di komentar ya. Dukungan kalian \= bensin buat author nulis lebih brutal 🔥 Kalau ada rezeki lebih, traktir kopi biar melek ngetik bab 2 ❤️
lnjut thor