NovelToon NovelToon
BANGKITNYA KEKUATAN LEGENDA

BANGKITNYA KEKUATAN LEGENDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi Timur / Kultivasi
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mochamad Fachri

Seorang siswa culun yang hidupnya selalu di warnai luka dan derita, ternyata memiliki garis keturunan dewa kultivator. Ia belum menyadarinya hingga suatu hari, ia nyaris tewas karena di keroyok oleh siswa lainnya yang tak suka kepadanya.

Di saat ia sekarat, seorang gadis cantik membawanya masuk ke dalam sebuah dimensi yang jauh dari peradaban manusia.

Namun, tentu saja hal itu membuatnya menjadi bingung saat tersadar, ia menganggap dirinya sudah mati, lalu bagaimana cara ia memulai kembali kehidupannya di dunia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mochamad Fachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 Ruang dimensi

Di perpustakaan Nova dan Aruna menyusuri rak buku untuk mencari buku yang akan mereka beli. Saat Nova sedang berhenti di salah satu rak buki, ia tak sengaja mendengar isi hati Aruna yang membuatnya terus tersenyum.

“Kamu semakin tampan, Nova.”

Nova hanya berpura-pura tidak tahu, dan ia juga mulai membiasakan diri dengan kemampuannya itu. Walau ia sendiri terkadang merasa aneh, saat mendengar isi pikiran seseorang yang seakan di bisikan ke dalam kepalanya itu.

“Udah nemu, buku yang kamu cari?” tanya Aruna saat melihat Nova menarik salah satu buku dari atas rak.

Nova mengangguk pelan sambil tersenyum.

“Udah, sekarang giliran kamu,” jawabnya santai.

Kemudian keduanya menuju salah satu rak untuk mencari buku yang di butuhkan oleh Aruna, di tengah keduanya sedang bercakap santai. Suara langkah kaki mendekat ke arah keduanya, sontak hal itu membuat Nova dan Aruna serempak menoleh.

“Apa kau yang bernama Nova?” tanya pemuda berhoodie hitam itu.

Nova mengangguk pelan, dengan tatapan yang menyelidik Nova menatap ke arah pemuda itu. Ia dapat merasakan aura tekanan di sekitarnya berubah drastis. Sementara Aruna hanya memperhatikan perbincangan keduanya tanpa merasakan apapun.

“Benar, ada apa?” jawab Nova nyaris tanpa nada.

Pemuda misterius di hadapan Nova itu, memasukan tangannya ke dalam jaket, dan meraih sebuah kartu undangan dengan logo serigala di amplopnya.

“Apa ini?” tanya Nova.

Pemuda itu maju satu langkah lebih dekat sambil berkata.

“Sebuah undangan, dan kau di haruskan hadir.”

Setelah mengucapkan itu, pemuda misterius itu pergi meninggalkan Nova dan Aruna yang berdiri dengan kebingungan.

“Siapa orang itu? Apa kamu kenal?” ucap Aruna.

Sementara itu Nova hanya mengedikkan bahunya sebagai jawaban.

Singkat cerita, keduanya selesai di perpustakaan, Aruna mengantarkan Nova pulang ke rumahnya. Sepanjang jalan Aruna sangat senang, karena kali ini ia bisa bersama dengan Nova lebih lama lagi.

***

“Terimakasih, Aruna,” ucap Nova sambil menyunggingkan senyumnya.

Aruna mengangguk, kemudian ia melambaikan tangannya dari balik jendela mobil kepada Nova. Setelah Aruna pergi, Nova segera masuk ke dalam rumahnya.

Setelah masuk ke dalam rumah, Nova tak mendapati sang ibu ada di rumah, ia berpikir bahwa ibunya belum pulang bekerja, jadi Nova langsung masuk ke dalam kamarnya.

Begitu pintu kamar tertutup, keheningan langsung menyelimuti ruang itu. Nova meletakkan tasnya di atas meja, lalu menjatuhkan tubuhnya ke kasur sambil menatap langit-langit dengan pandangan kosong.

Namun pikirannya tidak benar-benar tenang. Bayangan pemuda berhoodie hitam itu terus berulang di benaknya, bersamaan dengan kartu undangan berlogo serigala yang terasa asing namun mengandung tekanan yang tidak bisa ia jelaskan. Ia mengangkat tangannya perlahan, menatap telapak tangannya sendiri, merasakan sisa-sisa getaran halus yang belum sepenuhnya hilang.

“Aura itu… bukan orang biasa,” gumamnya pelan.

Belum sempat ia tenggelam lebih jauh dalam pikirannya, udara di dalam kamar mendadak berubah.

Sebuah dengung halus merambat, seperti getaran yang berasal dari celah ruang yang tak terlihat. Awalnya lemah, hampir tidak terasa, namun dalam hitungan detik berubah menjadi tekanan yang menyesakkan.

Dinding, lantai, bahkan cahaya lampu seolah bergetar dalam frekuensi yang sama. Tubuh Nova menegang, napasnya tertahan, dan sebelum ia sempat bangkit...

Ruang di sekitarnya retak seperti kaca yang dihantam dari dalam. Dalam satu tarikan paksa yang tak kasat mata, tubuhnya tersedot ke dalam kehampaan.

Segalanya menjadi kabur. Tidak ada atas atau bawah, tidak ada arah, hanya pusaran kelabu yang menelan kesadaran. Namun kali ini Nova tidak sepenuhnya kehilangan dirinya.

Di antara kesadaran yang terombang-ambing, ia masih mampu membuka matanya meski berat. Sensasi ini… membuatnya merasakan rasa sakit yang luat biasa.

Dingin, kosong, namun menekan seperti langit runtuh dari segala penjuru. Tempat yang sama seperti sebelumnya, hanya saja kini ia hadir dengan kesadaran yang belum sepenuhnya terputus.

Tubuhnya akhirnya seolah mendarat meski tidak benar-benar menyentuh tanah. Lututnya menghantam permukaan yang terasa padat namun tidak memiliki bentuk jelas, seperti berdiri di atas kabut yang dipadatkan.

Belum sempat ia menyesuaikan diri, tekanan luar biasa langsung menghantamnya. Gravitasi di tempat itu meningkat berkali lipat, menekan setiap bagian tubuhnya tanpa ampun. Bahunya turun, punggungnya melengkung, dan napasnya tercekat seolah paru-parunya diremas oleh tangan raksasa yang tak terlihat.

Bahkan untuk mengangkat kepala saja terasa seperti mengangkat gunung. Keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya, sementara urat-urat di lehernya menegang.

Namun di tengah tekanan yang nyaris menghancurkan itu, Nova merasakan sesuatu yang aneh. Dari dalam tubuhnya, ada aliran energi yang perlahan bergerak, kasar dan belum terarah, namun jelas nyata.

Seolah meridian di dalam tubuhnya dipaksa terbuka oleh tekanan eksternal. Sensasi itu menyakitkan, namun sekaligus… membangkitkan sesuatu yang selama ini tertidur.

Dalam dunia kultivasi, kondisi seperti ini adalah pemurnian paksa, di mana tubuh dipaksa beradaptasi atau hancur tanpa sisa.

Detik terasa memanjang. Waktu seolah berhenti.

Lalu, tepat saat tubuhnya hampir menyerah...

Tekanan itu menghilang begitu saja. Udara kembali ringan, ruang kembali sunyi. Nova terengah-engah, tubuhnya gemetar hebat, namun ia masih tersadar.

Di tengah kabut kelabu yang perlahan berputar, suara langkah kaki terdengar pelan, teratur, seolah mengikuti ritme ruang itu sendiri. Nova mengangkat kepalanya dengan susah payah, matanya menyipit mencoba menembus kabut.

Siluet seorang wanita muncul dari kejauhan.

Semakin dekat, semakin jelas. Ia mengenakan pakaian ketat berwarna perak mengkilap yang memeluk tubuhnya seperti lapisan logam hidup.

Kilau halus memantul dari setiap gerakannya, namun yang paling mencolok bukanlah penampilannya, melainkan auranya yang dingin, tajam.

Setiap langkahnya ringan, namun membawa tekanan halus yang membuat ruang di sekitarnya seolah tunduk.

Wanita itu berhenti beberapa langkah di hadapan Nova dan menatapnya lurus, dalam, seolah menembus hingga ke inti jiwanya. Nova mencoba berdiri, namun lututnya masih lemah, tubuhnya belum sepenuhnya pulih dari tekanan sebelumnya.

“Kau…” suaranya serak, hampir tak terdengar.

Wanita itu tersenyum tipis, bukan senyum hangat, melainkan senyum yang mengandung pengakuan dan kepastian. “Akhirnya,” ucapnya pelan, suaranya bergema lembut di ruang kosong itu, “Ini sudah waktunya kekuatanmu untuk di bangkitkan.”

Jantung Nova berdetak lebih cepat. Ada sesuatu dalam nada suara wanita itu yang terasa… akrab, meski ia yakin belum pernah melihatnya sebelumnya. “Apa maksudmu…?” tanyanya, mencoba menahan rasa asing yang mulai memenuhi dadanya.

Namun, sesaat ia terdiam lalu mengingat kejadian beberapa hari yang lalu, saat dirinya di culik dan di keroyok beberapa orang.

Wanita itu mengangkat tangannya sedikit, dan seketika ruang di sekitar mereka bergetar halus.

Kabut bergerak mengikuti kehendaknya, membentuk lingkaran samar di bawah kaki mereka seperti formasi yang hidup. “Tempat ini bukan sekadar dimensi,” katanya tenang, matanya tetap menatap Nova tanpa berkedip, “ini adalah ruang resonansi yang terikat dengan eksistensimu.”

Kata-kata itu terasa berat, seolah mengandung makna yang jauh melampaui pemahaman Nova saat ini. Namun anehnya, di dalam dirinya ada sesuatu yang merespons, bergetar pelan seakan mengakui kebenaran itu.

Wanita itu melangkah lebih dekat, jarak mereka kini hanya beberapa meter, dan kilau perak di tubuhnya berdenyut seiring aliran energi yang tak terlihat.

“Aku Zira, pendamping sekaligus orang yang di kirim untuk membangkitkan kekuatan di dalam tubuhmu,” lanjutnya, suaranya tetap datar namun penuh kepastian, “bagian dari kekuatan yang belum sepenuhnya kau bangkitkan.”

Nova terdiam, pikirannya dipenuhi pertanyaan, namun tubuhnya belum sempat mengejar jawaban.

Wanita itu menatapnya sejenak, lalu berkata dengan nada yang sedikit lebih rendah, “Namun sebelum kau memahami segalanya, kau harus membuktikan bahwa dirimu layak.”

Tanpa menunggu respons...

Ia menjentikkan jarinya.

Dalam sekejap, tekanan yang tadi sempat menghilang kembali menghantam, bahkan jauh lebih berat dari sebelumnya.

Tanah di bawah Nova retak, udara bergetar keras, dan tubuhnya langsung terhempas ke bawah tanpa ampun. Tulang-tulangnya berderit, napasnya terputus, dan penglihatannya bergetar hebat.

“Aaaarrrghhhh!” teriakan Nova menggema di seluruh ruang dimensi saat ia merasakan tubuhnya seperti terjepit benda berat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!