SMA Nusantara bukan sekadar tempat menuntut ilmu. Ia adalah mesin raksasa yang memangsa jiwa. Di balik kemegahan arsitekturnya, tersimpan eksperimen gelap "Proyek Nusantara" yang telah mengorbankan ribuan siswa sejak tahun 1985. Setiap detak lonceng adalah tanda maut dan setiap koridor adalah penjara bagi mereka yang tak pernah kembali ke rumah.
Arga, seorang remaja dengan kemampuan Indigo yang ekstrem, terpaksa memasuki neraka ini demi mencari kakaknya yang hilang. Berbekal tangan perak yang menjadi kunci sekaligus kutukannya, Arga bersama Lintang dan Rian harus mengungkap konspirasi berdarah Sang Kepala Sekolah, Bramantyo.
Di dunia di mana batas antara realitas dan alam Barzakh kian menipis, mampukah Arga mematahkan sumpah hitam pendiri sekolah sebelum fajar terakhir ditelan kegelapan abadi?
Since: 10-04-2026
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I'ts Roomie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Aktif
Hening yang menyelimuti Titik Nol terasa lebih mencekam daripada ledakan energi Indigo beberapa saat lalu. Kata-kata dari siswa berseragam putih itu menggantung di udara seperti vonis mati.
Arga menoleh perlahan ke arah Lintang. Gadis itu masih berdiri dengan belati perak yang patah di tangannya, namun bahunya sedikit menegang.
Cahaya biru yang tersisa di ruangan itu memantul di mata Lintang, menyingkapkan sesuatu yang selama ini tersembunyi di balik ketegasannya.
"Lintang?" suara Arga parau, nyaris tak terdengar di antara deru mesin yang mulai mendingin. "Apa yang dia bicarakan?"
Lintang tidak menjawab. Ia tetap menatap siswa berseragam putih itu dengan tatapan tajam. Raka, yang masih terduduk di lantai, mencoba menggapai ujung jaket Lintang.
"Lintang, katakan kalau itu salah. Kau yang menyelamatkanku dari Lab Kimia. Kau yang membantu Arga melewati Sektor 6..."
Siswa berseragam putih itu melangkah maju. Sepatunya yang bersih tidak meninggalkan jejak di lantai yang berdebu.
"Oh, dia memang membantu kalian. Itu adalah bagian dari tugasnya. Namanya Lintang, tapi di catatan kami, dia adalah Agen 04, si Penjaga Jalur. Tugasnya adalah memastikan Subjek 02 mencapai potensi maksimalnya tanpa mati terlalu dini di tangan Sang Arsitek yang tidak sabaran."
"Diam kau!" Lintang berteriak, namun suaranya bergetar.
"Kenapa diam? Arga harus tahu kebenarannya," siswa .itu tersenyum dingin.
"Siapa yang memberikan informasi tentang Ruang Musik? Siapa yang membimbing Arga ke Ruang Isolasi tempat ibunya berada? Semuanya adalah skenario untuk memicu emosi Arga agar kekuatan Indigo-nya meluap. Dan itu berhasil. Terima kasih atas kerja kerasmu, Lintang."
Arga merasa ada sesuatu yang retak di dalam dadanya, bukan karena energi Indigo, melainkan karena kepercayaan yang hancur.
Ia mengingat kembali setiap momen. Bagaimana Lintang selalu tahu jalan pintas. Bagaimana Lintang selalu memiliki jimat atau pengetahun yang tepat di saat kritis.
Ia pikir itu adalah intuisi seorang kawan seperjuangan. Ternyata, itu adalah panduan dari seorang pengawas.
"Lintang... jawab aku," Arga melangkah mendekat. Tinta hitam di lehernya berdenyut, merespons amarah yang mulai membara.
"Apakah harmonika ayahku juga bagian dari rencana kalian?"
Lintang akhirnya menoleh. Matanya berkaca-kaca, namun tidak ada bantahan di sana.
"Arga, dengarkan aku. Awalnya memang begitu. Aku ditugaskan untuk mengawasimu. Sekolah ini... sistem ini... jauh lebih besar dari Sang Arsitek. Arsitek hanyalah seorang administrator yang gila, tapi Dewan Sekolah membutuhkan Mesin Indigo yang stabil. Mereka menginginkanmu."
"Jadi kau mengumpakanku?" Arga menggeram. Udara di sekitarnya mulai bergetar kembali.
"Tidak! Setelah melihat apa yang kau lakukan untuk Raka... setelah melihat bagaimana kau mengorbankan kemanusiaanmu untuk menyelamatkan jiwa-jiwa di XI-A... aku mencoba mengubah rencananya!" Lintang menjatuhkan belatinya.
"Harmonika itu... aku mencurinya dari brankas Dewan, bukan dari Profesor Johan. Aku memberikannya padamu agar kau punya senjata untuk melawan mereka, bukan hanya Sang Arsitek. Aku ingin kau bebas, Arga!"
"Cukup dramanya," siswa berseragam putih itu melambaikan tangan.
"Agen 04 telah terkontaminasi oleh empati subjek. Dia telah gagal dalam tugasnya. Unit Pembersihan Putih, amankan Agen 04 dan Subjek 01. Subjek 02 akan ikut bersama kami ke Ruang Administrasi Pusat."
Empat orang berseragam putih maju. Gerakan mereka tidak agresif seperti Osis Malam. Mereka bergerak dengan keanggunan yang mekanis. Mereka membawa tongkat pendek yang memancarkan cahaya putih murni, frekuensi Penetralisir.
"Jangan sentuh mereka!" Arga meraung.
Ia mencoba memanggil kekuatan Indigo-nya, namun tubuhnya beraksi berbeda. Alih-alih ledakan besar, tangannya mengeluarkan aliran listrik hitam yang merambat di lantai.
Efek dari cairan perak Damar dan luapan energi tadi telah mengubah sifat kekuatannya. Arga kini bukan lagi sekadar pemancar, ia adalah penghancur sirkuit.
Salah satu petugas putih mengayunkan tongkatnya. Arga menangkis dengan tangan kosong. Energi putih itu terserap ke dalam tato hitam di lengan Arga.
Arga merasakan nyeri yang hebat, namun ia tidak mundur. Ia menghantamkan tinjunya ke lantai, menciptakan gelombang kejut yang mementalkan para petugas itu.
"Raka, Lintang, lari ke arah lift di belakang!" perintah Arga.
"Tapi Arga—"
"LARI!"
Lintang menarik Raka. Kali ini, Lintang menggunakan kemampuannya yang sebenarnya. Ia menghentakkan kakinya, dan lantai di bawah mereka bergeser secara mekanis.
Sebagai Penjaga Jalur, Lintang memiliki akses ke arsitektur rahasia sekolah ini. Mereka menghilang ke dalam lorong rahasia tepat sebelum pintu baja menutup.
Kini Arga sendirian menghadapi siswa berseragam putih dan unitnya.
"Kau membuat kesalahan, Arga," ujar siswa itu, wajahnya masih tenang.
"Kau baru saja menyerang otoritas tertinggi di SMA Nusantara. Sang Arsitek adalah perusak, tapi kami adalah pembangun. Tanpa kami, sekolah ini akan runtuh dan semua jiwa di dalamnya akan lenyap ke alam baka tanpa sisa."
"Kalau begitu biarkan runtuh," jawab Arga. Matanya kini sepenuhnya berwarna biru gelap, hampir hitam.
"Aku lebih suka melihat tempat ini menjadi abu daripada melihat kalian bermain tuhan dengan nyawa orang lain."
Siswa berseragam putih itu menghela napas. "Sangat disayangkan. Padahal kau adalah kandidat terbaik untuk posisi Ketua Osis yang baru.
Jika itu maumu, maka kita akan melakukannya dengan cara sulit. Selamat datang di Jebakan di Ruang Komputer."
Siswa itu menekan sebuah tombol di pergelangan tangannya. Seketika, dinding-dinding Titik Nol mulai melipat. Platform logam tempat Arga berdiri terangkat dengan kecepatan tinggi, menembus lapisan-lapisan lantai gedung. Arga merasa gravitasi menekannya hingga ia sulit bernapas.
Dalam hitungan detik, ia sampai di sebuah ruangan yang sangat luas dan dingin. Ribuan monitor komputer berukuran raksasa menutupi dinding dari lantai hingga langit-langit yang sangat tinggi.
Di setiap layar, terdapat wajah-wajah murid SMA Nusantara, ribuan data statistik, dan grafik-grafik Indigo yang berdenyut.
Ini adalah pusat saraf digital sekolah. Di sini, tidak ada hantu atau monster daging. Hanya ada data dan algoritma.
"Di sini, kekuatan fisikmu tidak berguna," suara siswa putih itu bergema melalui ribuan pengeras suara monitor.
"Di Ruang Komputer ini, kami bisa menulis ulang persepsimu. Kami bisa membuatmu merasa terbakar meski kau sedang berdiri di atas es. Kami bisa menghapus ingatanmu tentang Lintang dan Raka dalam hitungan detik."
Arga berdiri di tengah ruangan, dikelilingi oleh ribuan matanya sendiri yang menatap dari layar. Ia menyadari bahwa pengkhianatan Lintang hanyalah puncak gunung es.
Di sekolah ini, musuh yang paling berbahaya bukanlah mereka yang bersembunyi di kegelapan, melainkan mereka yang mengatur "cahaya".
"Kau pikir bisa menghapus mereka?" Arga mengepalkan tangannya. Tinta hitam di tubuhnya mulai berpendar biru elektrik. "Cobalah."
Tiba-tiba, monitor-monitor itu mulai menampilkan gambar masa kecil Arga. Gambar-gambar yang bahkan Arga sendiri sudah lupa.
Namun, gambar-gambar itu mulai terdistorsi. Wajah Raka berubah menjadi wajah monster, wajah ibunya berubah menjadi wajah Dr. Elena. Sistem komputer itu sedang mencoba melakukan rebranding pada ingatan Arga untuk memicu kegilaan.
Arga merasakan kepalanya seperti akan meledak. Ia jatuh berlutut, mencoba menutup matanya, namun gambar-gambar itu langsung masuk ke dalam otaknya.
Kau sendirian, Arga... Kau adalah eksperimen... Lintang mengkhianatimu... Raka membencimu karena kau berubah menjadi monster...
"Diam... DIAM!"
Di tengah serangan psikologis itu, Arga merasakan getaran di sakunya. Ia merogohnya dan menemukan patahan beliti perak Lintang yang terjatuh tadi. Di gagang belati itu, terdapat sebuah ukiran kecil yang baru ia sadari.
"MAAFKAN AKU. JALUR KELUAR ADA DI BALIK DATA."
Arga menyadari sesuatu. Lintang memberikan belati itu bukan hanya sebagai senjata, tapi sebagai kunci terakhir untuk menghadapi sistem digital ini.
Belati perak itu bukan sekadar logam, itu adalah perangkat keras yang mengandung Virus dari Alam Barzakh.
Dengan sisa kemampuannya, Arga menusukkan belati perak itu ke salah satu kabel data utama yang menjalar di lantai Ruang Komputer.
Arus listrik biru dan hitam meledak dari titik tusukan. Ribuan monitor di sekelilingnya mulai berkedip liar. Gambar-gambar masa lalunya hancur, digantikan oleh barisan kode biner yang terbakar.
Sistem administrasi pusat sekolah ini sedang mengalami serangan virus yang tidak bisa mereka prediksi.
"Apa yang kau lakukan?!" suara siswa putih itu kini terdengar panik dan terdistorsi.
"Aku sedang melakukan instalasi ulang," geram Arga.
Ruang Komputer mulai berguncang hebat. Arga berdiri di tengah badai data yang hancur, menyadari bahwa investigasi ini telah membawanya pada kebenaran yang paling pahit di SMA Nusantara.
Tidak ada yang benar-benar bisa dipercaya sepenuhnya, bahkan cahaya yang paling terang sekalipun bisa menjadi sumber kegelapan yang paling pekat.
Namun, di antara kekacauan itu, Arga melihat sebuah jalur baru yang terbuka di layar utama, sebuah koordinat menuju Sektor 5, Sektor yang belum pernah ia jamah. Dan di sana, sebuah nama muncul di layar yang mulai rusak.
VIRUS BARZAKH - AKTIF.