NovelToon NovelToon
Pendekar Elang Hitam

Pendekar Elang Hitam

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Balas Dendam / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: bang deni

Keluarganya di rampok oleh pemdekar Aliran hitam, ayah dan ibunya terbunuh sedangkan ia terjatuh di lembah Bangkai, Seekor Elang hitam raksasa menyelamatkan nya, di bawah asuhan Elang Hitam Dia tumbuh menjadi pendekar sakti dan menumpas kejahatan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bang deni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penguntit

Jaka memacu kudanya kearah alun alun di mana pendaftaran untuk ikut pertandingan di langsungkan, saat Jaka sampai disana, kerumunan masih ramai, di antara mereka jaka juga melihat ada beberapa pendekar muda seperti dirinya, namun di lihat dari baju yang mereka kenakan mereka seperti pendekar muda dari kalangan keluarga yang berada, karena baju yang mereka pakai terlihat mewah

Salah satu Prajurit yang melihat kuda yang di tuntun Jaka mendekat

" Anak muda apa kau ingin ikut mendaftar lomba?' tanya Prajurit itu sambil memperhatikan kuda Jaka

" Iya paman, tetapi sepertinya masih lama" jawab Jaka sambil menunjuk orang yang sedang mengantri

" kalau kau mau kau bisa di dahulukan" seru Prajurit itu menawarkan jasa, Jaka menggeleng

" Tidak Paman, biar aku mengantri saja " tolak Jaka, ia menulis di meja tamu lalu menuju ke sebuah kedai arak yang berada di dekat situ

Prajurit yang di tolak Jaka menjadi kesal

" Jika Adipati tak menginginkan kudamu, kau pasti sudah ku bunuh!" geramnya sambil kembali duduk di salah satu bangku di meja pendaftaran, ternyata adipati Galungan telah memerintahkan ke semua prajurit untuk mengawasi gerak gerik Jaka, di luar alun alun tampak sebuah bayangan mengawasi Jaka, jaka tahu jika bayangan itu mengawasinya semenjak keluar mengejar pencuri kuda tetapi sejauh ini ia hanya mengawasi dari jarak jauh yang tak mungkin bisa menyerangnya walau pakai senjata rahasia atau anak panah , jadi Jaka mendiamkan saja sambil menyusun rencana menangkap penguntitnya itu

sambil meneguk arak pesanannya Jaka menunggu namanya di panggil, saat hari menjelang sore Jaka nama Jaka baru di panggil

" jika kau menurut padaku tadi kau tak perlu menunggu selama ini" Prajurit yang tadi menawarkan jalan pintas berkata sambil mencibir

" Aku tak suka jalan pintas seperti itu paman, merugikan orang lain" balas Jaka tenang, setelah mengisi daftar perlombaan ia kembali ke penginapan dan rumah makan Melati.

saat sampai di depan penginapan Melati , remaja yang bertugas menjaga kuda menghampiri, Jaka. Jaka tersenyum melihat remaja itu seperti malu

" lain kali lebih hati hati, jangan di lawan sendiri langsung beri tahu aku"  ucap Jaka, ia tahu walau kedua pencuri kuda itu berilmu rendah tetap tak bisa di lawan oleh para pelayan yang ada di penginapan melati

" Ya tuan muda" jawab remaja itu senang Jaka tak memarahinya karena pencurian kuda tadi pagi

Jaka masuk ke kamarnya, namun sebelum masuk ia melihat ke sekitar apa penguntit itu masih mengawasinya

" Sepertinya dia sudah bosan menguntitku" gumam Jaka saat melihat penguntitnya tak terlihat di manapun

Jaka merebahkan dirinya di pembaringan kayu dalam kamar penginapan itu, dan tak lama ia tertidur

" Sreeek"

Jaka terlonjak bangun saat mendengar suara genteng bergeser

" aah, kamar mandi di mana yah" ucap Jaka sambil meloncat bangun dari pembaringannya, ia sengaja berkata agak keras agar terdengar oleh si penguntit itu. Jaka Keluar dan menuju kamar mandi , namun saat sudah dekat, dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh ia melompat ke atas pohon yang berada tak jauh dari kamar mandi itu

Tak lama satu bayangan melesat mendekati pohon di mana Jaka berada

" Tap " Jaka dengan gerakan kilat menotok dan memeluk bayangan itu agar tak jatuh

namun wangi semerbak memenuhi indra penciumannya dan tangannya yang mendekap tubuh itu terasa menyentuh sesuatu yang kenyal dan lembut

" Lepaskan aku, dasar cabul!" suara wanita yang marah terdengar memekakan telinga jaka, jaka dengan cepat melepaskan pelukannya

" Mengapa kau mengawasiku!" tanya Jaka tak mengerti seorang wanita berkepandaian tinggi mengawasinya dari tadi pagi

"Tak baik bicara disini ! lepaskan aku! kita ke hutan sana saja" ketus wanita itu

Jaka melepaskan totokannya, kini baru ia melihat jika wanita ini sangat muda dan cantik,ia juga bisa merasakan jika kulit wanita muda itu sangat halus

" Ayo ikuti aku" wanita itu melesat cepat membelah kegelapan malam, gerakannya sangat cepat membuat tubuhnya seperti bayangan saja di gelapnya malam

Jaka tentu saja tak mau kalah, apalagi kalah oleh seorang wanita yang usianya di bawahnya, ia dengan gaya elang Hitamnya melesat dari satu pucuk pohon ke pohon lainnya

di bawah bayangan bulan sabit keduanya tampak seperti berlomba satu di atas dan satu di bawah, wanita muda tadi ternyata mengajak Jaka ke tempat Jaka menghajar dua pencuri kuda pagi  tadi

Wanita itu berhenti dan menunggu Jaka yang sedang berlari di pucuk pohon

" Hei , cabul, di sini!" Wanita itu berteriak karena jaka terus berlari, rupanya jaka tak melihat kebawah ia berlari sambil menikmati pemandangan dari atas pohon

" Eh, kenapa berhenti?" tanya jaka menghentikan larinya, tubuhnya berayun di dahan kecil yang di pijaknya, wanita itu kagum melihat ilmu meringankan tubuh Jaka yang sangat tinggi, ia saja tak mampu untuk berdiri di dahan sekecil itu walau tubuhnya lebih kecil

" Turunlah, kita bicara di sini!" panggil wanita itu, Jaka melesat turun mendengarnya

" Katakan mengapa kau mengawasiku?" tanya jaka setelah mereka berhadapan

" Darimana kau dapatkan kuda itu!" tanya wanita itu menyelidik

" Memangnya ada apa dengan kudaku?" tanya Jaka heran, semua mengincar kudanya

" Cerewet tinggal jawab saja " ketus wanita itu, sepertinya ia masih marah karena Jaka memeluknya tadi

" marah marah aja, nanti cepat tua" goda Jaka

" Cabul, mau katakan tidak atau aku pergi!" wanita itu semakin marah

" Hei , kau mengataiku cabul terus, seperti kau mengenalku saja!" sewot Jaka karena kupingnya panas di panggil Cabul oleh wanita itu

" kalau bukan Cabul mengapa kau tadi memelukku!" nada wanita itu semakin meninggi, benar saja dugaan Jaka wanita itu masih marah karena di peluk Jaka tadi

" he he he, maaf mana aku tahu kalau kau seorang wanita, lagian kenapa kau mengawasiku terus" Jaka tertawa kecil

" Itu karena kudamu tahu! siapa juga yang ingin mengawasimu, cabul " jawab wanita itu dengan nada masih ketus

" Baik baik, aku bilang. Kuda ini ku dapat dari paman Senopati Wirabumi, nah kau puas katakan mengapa kau mengawasi kudaku?" Tanya Jaka sambil menatap wanita itu

' Bohong! kau pasti mencurinya" ucap wanita itu tak percaya jika kuda itu di berikan pada Jaka

" terserah kau sajalah, mau percaya atau tidak" jawab Jaka kesal, ia sudah berkata jujur malah di bilang bohong

" mana mungkin paman Wira Bumi memberikan kuda kesayangannya padamu begitu saja!" ketus wanita itu tak percaya

" Eh apa? kau memanggil paman pada Senopati Wira Bumi?" tanya Jaka heran

" Iya memang kenapa paman Wira bumi memang pamanku, adik ayahku Wira Bayu" sahut wanita itu

" baiklah baiklah, tetapi memang benar kuda ini pemberian pamanmu, apa kau tak tahu jika jaliteng tak akan menurut dengan semua orang" ucap Jaka

Wanita itu terdiam , lalu menatap Jaka dari ujung rambut ke ujung kaki

" Katakan siapa namamu?" tanyanya penasaran

" Aku Jaka Wisesa, kau sendiri siapa?" Jaka balik bertanya setelah menyebutkan namanya

Wanita muda itu terbelalak mendengar Nama Jaka, ia langsung berlutut satu kaki

" maafkan Ratri Pangeran" ucap gadis itu, kini Jaka yang yang kaget mendengar nama Ratri, memang benar , Senopati Wira mempunyai seorang keponakan namanya Ratri , ia teringat Ratri dulu sangat kurus dan dekil karena sering bermain di kolam berlumpur

" Ha ha ha kau Ratri, anak perempuan yang suka menagkap katak di kolam" Jaka tertawa mengingatnya

" Pangeran, jangan berkata begitu"sahut Ratri malu mukanya memerah mengingat masa kecilnya dulu

" Bangunlah,dan Jangan panggil aku pangeran, panggil aku kakang saja seperti dahulu" Jaka membangunkan Ratri yang masih berlutut satu kaki

"Baik kakang" Ratri mengangguk, memang saat kecil dulu ia memanggil kakang pada Jaka yang berusia satu tahun lebih tua darinya

1
Night Watcher
rara jadi niken..
Blue Angel: salah ketik kak
total 1 replies
Night Watcher
berkali2 salah nama. srenggi jd lingga
Aman Wijaya
gaaas pooolll Thor lanjut terus
Blue Angel
salah up nanti di revisi
pendekar angin barat
lah kok lompat pertarungan nya mana? kok aneh seh Thor tau tau sdh di galungan
Dania
semangat tor
Lili Aksara
Wah, kok nggak ada yang heran sama elang itu ya, entah terkesima apa gimana gitu. Lanjutkan, unik ini novelnya, soalnya tokohnya dilatih sama burung elang.
pendekar angin barat
nah gitu donk .nhrs kejam ma penjahat..
Bagaskara Manjer Kawuryan
berasa baca kitab perndekar rajawali sakti 😁
Blue Angel: hampir mirip kak
total 1 replies
erick
hanya kena racun sdh keok... memalukan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!