Sinopsis
Su Yelan, murid dari Tabib Ilahi legendaris, datang ke ibu kota hanya dengan satu tujuan sederhana, mengobati kebutaan seorang pria yang dikenal sebagai Tuan Ketujuh, sosok bangsawan yang berkuasa namun terkenal dingin dan tak tersentuh.
Niat baik itu justru berujung pada sebuah taruhan berbahaya.
Jika ia gagal, hidupnya akan sepenuhnya berada di bawah kendali sang pangeran.
Dengan dalih menjalankan pengobatan, Su Yelan mulai “menyiksa” pasiennya dengan cara yang tidak biasa. Setiap hidangan yang disajikan kepadanya dipenuhi rasa pedas menyengat, cukup untuk membuat siapa pun berkeringat dan mengernyit kesakitan.
Melihat sang pangeran yang biasanya angkuh terpaksa menahan pedas, wajahnya memerah dan napasnya berat, Su Yelan justru merasa puas diam-diam.
Namun di balik semua itu, gadis yang tampak keras kepala ini sebenarnya bukan orang yang kejam.
Sedikit demi sedikit, kebersamaan mereka mengikis jarak yang ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yorozuya Rin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sungguh Peduli pada Kaisar
Bab 21
: Sungguh Peduli pada Kaisar
A Shun menggelengkan kepalanya dengan wajah serius.
"Aku sudah mengirim orang untuk melacaknya, tapi tidak ada jejak sama sekali."
Yan Yuxing mendengus pelan.
"Orang itu sejak lama memang bukan tipe yang patuh. Setelah bertahun-tahun dikurung di
Fengyang, akhirnya dia mulai bergerak."
Tatapannya menjadi dingin, namun di balik ketenangan itu tersembunyi kewaspadaan yang tajam.
"Perketat pengawasan. Jangan beri celah sekecil apa pun," lanjutnya pelan namun tegas.
"Pangeran Kesembilan bukan orang biasa. Jika dia bisa menghilang tanpa jejak, itu berarti semuanya
sudah direncanakan jauh hari."
A Shun menunduk hormat.
"Tenang saja, Tuan Keenam. Situasi masih dalam kendali."
Yan Yuxing mengangguk singkat.
"Terus cari dia. Aku punya firasat dia sudah ada di ibu kota."
"Baik."
......................
Di sisi lain, di Istana Harmoni…
Su Yelan duduk di sisi ranjang, matanya tak pernah lepas dari wajah kecil Yan Longquan.
Perasaan di dadanya bercampur haru, sakit, rindu, dan penyesalan.
Anak yang dulu ia kira telah hilang kini berada tepat di hadapannya.
Begitu dekat namun terasa begitu jauh.
Tangannya sempat terangkat, ingin menyentuh pipi anak itu seperti seorang ibu.
Namun di detik terakhir, ia menahan diri.
Ia tidak berani.
Ia takut jika kasih sayangnya terlalu nyata, semua rahasia akan runtuh.
"Su Jiejie…"
Suara lembut itu memanggilnya kembali dari kekacauan pikirannya.
Su Yelan tersentak pelan, lalu tersenyum.
"Iya, Yang Mulia?"
Yan Longquan menatapnya dengan mata jernih, penuh rasa ingin tahu
"Mereka bilang kau yang menyembuhkan mata Ayah. Tapi kau masih sangat muda.
Bagaimana bisa?"
Nada suaranya bukan meragukan, melainkan kagum.
Su Yelan tersenyum tipis, lembut seperti angin musim semi.
"Aku mulai belajar sejak usia dua belas tahun. Guruku adalah Tabib Ilahi Mo Shoude. Sudah
enam tahun aku belajar."
"Enam tahun…"
Anak itu mengangguk pelan, lalu berkata tulus,
"Hebat sekali."
Lalu ia tersenyum kecil.
"Tidak seperti aku. Aku bahkan belum bisa melakukan apa-apa dengan baik, tapi sudah harus
menjadi kaisar."
Senyumnya tampak manis namun menyimpan kesepian yang dalam.
Hati Su Yelan langsung teriris.
"Yang Mulia tidak menyukai menjadi kaisar?"
Yan Longquan menggeleng pelan.
"Tidak."
Ia menatap langit-langit, suaranya lirih.
"Setiap hari hanya belajar, mendengar laporan, mengikuti aturan bahkan cara aku berbicara
dan berjalan pun diawasi."
Ia menggenggam selimutnya erat.
"Dan sejak aku naik tahta Ayah jarang sekali datang."
Su Yelan menahan napas.
Setiap kata itu seperti pisau yang menusuk hatinya.
"Kalau aku sakit setidaknya Ayah akan datang," lanjutnya polos.
"Jadi aku berpura-pura sakit."
Su Yelan terdiam.
Matanya mulai memerah.
Anak sekecil ini harus menggunakan cara seperti itu hanya untuk mendapatkan perhatian
ayahnya.
Ia ingin memeluknya.
Ingin mengatakan, Ibu di sini
Ibu tidak akan meninggalkanmu lagi.
Namun ia tidak bisa.
"Apakah Yang Mulia marah pada Ayah?" tanyanya perlahan.
Yan Longquan buru-buru menggeleng.
"Tidak! Ayah orang baik…"
Nada suaranya panik, seolah takut ayahnya disalahkan.
"Beliau hanya mungkin tidak tahu bagaimana harus bersikap."
Su Yelan tertegun.
Jawaban itu terlalu dewasa untuk anak seusianya.
Seketika, rasa bersalah menghantam hatinya.
Ia menyalahkan Yan Yuxing…
tapi bukankah dirinya juga sama?
Selama enam tahun ia memilih bersembunyi.
Meninggalkan anaknya sendirian di istana yang dingin ini.
Bibirnya bergetar.
Jika Yan Yuxing bukan ayah yang baik, maka dia juga bukan ibu yang baik.
Malam itu, Su Yelan merawat Yan Longquan sendiri.
Ia menyiapkan obat, membantu anak itu membersihkan diri, menyelimutinya dengan hati-hati…
Gerakannya lembut, penuh perhatian…
seperti seorang ibu yang telah lama merindukan anaknya.
Yan Longquan memejamkan mata, tubuh kecilnya perlahan rileks.
Sebelum benar-benar tertidur, ia berbisik lirih
"Su Jiejie…"
"Iya?"
"Entah kenapa… aku merasa nyaman sekali di dekatmu."
Su Yelan menahan napas.
Lalu kalimat berikutnya membuat hatinya runtuh sepenuhnya
"Seandainya kau adalah ibuku."
Air mata Su Yelan langsung jatuh tanpa suara.
Tangannya menggenggam tangan kecil itu erat-erat.
Anakku… aku di sini… aku benar-benar di sini…
Namun semua itu hanya bisa ia ucapkan dalam hati.
Tak lama, Yan Longquan tertidur pulas.
Su Yelan tetap duduk di sampingnya, menatap wajah kecil itu dengan penuh cinta dan
penyesalan.
Air matanya tak berhenti mengalir.
Tiba-tiba, sebuah tangan hangat menyentuh bahunya dari belakang.
Tubuhnya menegang.
Suara rendah dan dalam itu terdengar pelan di telinganya,
"Yelan… apakah kau baik-baik saja?"
Ia menoleh.
Yan Yuxing berdiri di sana, menatapnya dengan tatapan yang sulit dibaca, lembut, namun penuh makna.
Su Yelan buru-buru menyeka air matanya.
"Aku hanya merasa Yang Mulia terlalu menyedihkan. Memiliki ibu tapi tidak bisa
merasakannya… memiliki ayah tapi jarang ditemani."
Yan Yuxing menatapnya dalam diam.
Ia tahu… itu bukan alasan sebenarnya.
Namun kali ini, ia tidak membongkarnya.
Karena untuk pertama kalinya…
ia melihat luka di hati wanita itu sama dalamnya dengan lukanya sendiri.
Dan untuk pertama kalinya…
ia merasa, mungkin mereka berdua tidak lagi berdiri di sisi yang berlawanan.