NovelToon NovelToon
Target

Target

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:189
Nilai: 5
Nama Author: Rick Tur

Fred Tucker, mahasiswa kedokteran diparis, penampilan biasa, agak gempal dan bukan pusat perhatian. satu kali menjadi dirinya menjadi target pembunuh bayaran. Dia harus melarikan diri tanpa tahu penyebabnya. bukan miliarder, bukan siapa-siapa, orang tua biasa saja namun menjadi target mati. hidupnya hancur, orang tua nya mati. Untuk mengetahui apa yang terjadi hidupnya maka Fred harus menjadi pembunuh bayaran. berlatih dan menjadi kuat Dia harus ke berbagai negara sebagai Assassin

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saatnya Berubah ke 2

Waktu berhenti terasa ketika hari-hari terlalu mirip.

Fred tidak lagi menghitung tanggal. Ia hanya tahu ada subuh, ada napas yang terbakar, ada tanah basah di bawah sepatu, dan ada Mercer yang selalu muncul dengan ritme yang sama—seperti jam yang menolak berhenti meski dunia Fred sudah berganti.

Lalu, suatu pagi, tanpa tanda khusus, Fred menyadari sesuatu yang membuat dadanya mengembang aneh.

Ia tidak tertinggal.

Mercer berlari di sampingnya, napas tenang, langkah stabil. Biasanya Fred akan mulai kalah di tanjakan kecil dekat pohon besar, biasanya kakinya akan berat, biasanya ia akan melihat punggung Mercer menjauh.

Tapi kali ini…

Fred tetap sejajar.

Ia masih berkeringat. Ia masih merasakan dada panas. Tapi ia tidak hancur. Ia tidak tertinggal.

Ia mengimbangi.

Mercer melirik sekilas, tidak tersenyum, tapi sudut bibirnya bergerak tipis—seperti pengakuan yang tidak mau diucapkan.

“Mungkin,” gumam Mercer, “kamu belum sepenuhnya peti mati berjalan.”

Fred hampir tertawa, tapi ia menahan. Ia hanya mengangguk, fokus pada ritme.

Mereka berhenti setelah beberapa kilometer. Fred meneguk air, tangan di pinggang, menahan napas agar tidak terputus-putus.

Mercer menatap Fred beberapa detik, lalu berjalan ke gudang kecil di belakang rumah. Ia keluar membawa sesuatu yang membuat Fred mengernyit.

Sebuah ban truk besar.

Ban itu kotor, berat, dan baunya seperti karet tua. Mercer melemparnya ke tanah dengan bunyi thud yang membuat tanah bergetar sedikit.

Fred menatap ban itu, lalu menatap Mercer. “Itu… buat apa?”

Mercer mengeluarkan tali pinggang lebar dan tali tambang tebal. “Beban.”

Fred menelan ludah. “Untuk siapa?”

Mercer menatapnya datar. “Untuk kamu.”

Fred merasa ingin protes. Tapi ia tidak protes. Karena ia tahu aturan baru Mercer: kalau kamu bisa, kamu akan diberi beban. Kalau kamu tidak bisa, kamu akan diberi alasan untuk membenci dirimu sendiri.

Mercer memasang tali pinggang itu di pinggang Fred, mengencangkannya seperti memasang sabuk keselamatan. Lalu ia mengikat tambang pada ban truk, ujung satunya pada pinggang Fred.

“Tarik,” kata Mercer.

Fred menatap ban itu, kemudian menatap jalan tanah di depan. Tangannya mengepal.

Ia mulai berlari.

Langkah pertama terasa seperti kaki menabrak dinding. Ban itu menolak bergerak, lalu—setelah tarikan kedua—ban itu menyeret, menggesek tanah, mengeluarkan bunyi serak yang menyakitkan telinga.

Fred merasakan pinggangnya tertarik ke belakang. Otot perut dan punggungnya menjerit. Kakinya seperti diikat.

Tapi ia terus bergerak. Perlahan, tapi maju.

Satu meter. Dua meter. Lima meter.

Mercer berjalan di sampingnya seperti orang mengawasi pasien latihan rehabilitasi—tenang, tapi mata tidak lepas.

Fred menggertakkan gigi. Keringat menetes dari dagu. Napasnya memburu.

“Aku… bisa…” Fred memaksa kata keluar.

Mercer mengangguk kecil. “Jangan bicara. Tarik.”

Fred menarik.

Beberapa hari kemudian, atau beberapa minggu, Fred tidak tahu, Mercer menaikkan kebodohan latihan itu ke level baru.

Pagi itu Mercer mengikat ban lebih berat, ban yang sama, tapi kini ada tambahan rantai kecil yang membuat gesekannya lebih brutal. Fred sudah bersiap, sudah memanaskan tubuh, sudah tahu sakitnya akan datang.

Ia mulai berlari.

Dan tiba-tiba Mercer melakukan hal yang membuat Fred hampir tersandung.

Mercer duduk di atas ban itu.

Fred tersentak, hampir jatuh. “Apa?!”

Mercer menyilangkan tangan, duduk santai seperti orang naik kereta wisata.

“Tarik,” kata Mercer datar.

Fred menatap Mercer seperti menatap setan.

“Aku manusia,” Fred terengah.

“Aku juga,” jawab Mercer. “Tarik.”

Fred ingin menghina, tapi tidak ada oksigen untuk menghina. Ia hanya menggertakkan gigi dan berlari.

Ban itu sekarang bukan hanya beban. Itu penghinaan. Itu ujian. Itu pernyataan: kamu belum cukup.

Pinggang Fred seperti ditarik robek. Paha dan betisnya terbakar. Napasnya jadi kasar.

Tapi ia bergerak.

Selangkah. Selangkah. Selangkah.

Mercer, di atas ban, berkata pelan, seperti mengajari sesuatu yang tidak tertulis di buku:

“Kamu tidak akan pernah cepat kalau kamu masih negosiasi sama rasa sakit.”

Fred menggeram, bukan kata, lebih seperti binatang. Ia menarik lagi.

Ketika sesi itu selesai, Fred jatuh berlutut di tanah, nyaris muntah. Mercer turun dari ban, menepuk bahu Fred satu kali.

“Kamu masih hidup,” kata Mercer.

Fred menatapnya, mata merah. “Sayangnya.”

Mercer mengangkat alis. “Bagus. Kamu masih punya humor. Itu pertanda kamu belum patah.”

Mercer akhirnya merasa Fred layak memegang logam tanpa langsung jadi peti mati, latihan berubah.

Bukan berubah jadi mudah.

Berubah jadi lebih kejam, lebih detail, lebih disiplin.

Suatu siang, Mercer menaruh sebuah pistol di meja bawah tanah—pistol peredam yang Fred pernah pegang di mobil, sekarang terasa seperti benda yang menunggu.

“Bongkar,” kata Mercer.

Fred menelan ludah. “Aku… belum pernah.”

“Makanya,” jawab Mercer.

Mercer menyalakan stopwatch.

“Tiga puluh detik,” kata Mercer. “Mulai.”

Fred panik. Tangannya kaku. Ia mencoba mengingat apa yang Mercer pernah tunjukkan sekilas: lepaskan magazen, periksa ruang peluru, geser slide, tekan pin, tarik pegas.

Tangannya gemetar.

Stopwatch berdetak seperti bom.

Fred gagal. Bagian kecil terpental, jatuh ke lantai. Mercer tidak marah. Mercer tidak membentak. Mercer hanya menekan stopwatch, menatap angka, lalu menatap Fred.

“Kamu mati,” kata Mercer.

Fred menggertakkan gigi. “Sekali lagi.”

Mercer mengangguk. “Mulai.”

Hari-hari berikutnya, itu jadi rutinitas.

Pagi: lari. Ban truk. Pinggang tertarik. Napas hancur.

Siang: bongkar pasang pistol. Berkali-kali. Dengan target waktu. Dengan tangan yang harus stabil bahkan ketika otot masih gemetar dari lari.

Sore: latihan tinju di ruang bawah tanah—bukan tinju gaya ring, tapi tinju praktis, tinju untuk bertahan hidup. Mercer mengajari cara menjaga dagu, cara menutup rusuk, cara masuk dari sudut, cara menahan pukulan tanpa kehilangan keseimbangan.

Fred berkali-kali jatuh. Berkali-kali bangun. Berkali-kali merasakan bibirnya pecah, tulangnya ngilu, dan rasa malu yang digilas.

Mercer tidak memuji. Mercer hanya membetulkan posisi.

“Jangan benci pukulan,” kata Mercer suatu sore, saat Fred terhuyung. “Pukulan itu informasi. Kamu belajar dari informasi.”

Malam: buku-buku.

Bukan buku anatomi. Bukan buku kedokteran.

Buku-buku tebal dengan cover polos, berisi hal-hal yang membuat Fred merasa seperti masuk dunia lain: pola pengawasan, psikologi operasi lapangan, identifikasi tailing, komunikasi, peta jaringan, kode etik hitam, dan sesuatu yang Mercer sebut “membaca ruangan.”

Fred membaca sampai mata perih. Ia mencatat sampai tangan pegal. Ia bertanya, Mercer menjawab seperlunya.

Kadang Fred ingin menyerah bukan karena rasa sakit, tapi karena kebosanan.

Latihan itu repetitif.

Tidak glamor.

Tidak ada adegan heroik.

Hanya langkah yang sama, gerakan yang sama, pukulan yang sama, dan buku yang sama.

Tapi di tengah repetisi itu, tubuh Fred berubah pelan-pelan.

Napasnya lebih panjang.

Langkahnya lebih stabil.

Tangannya lebih tenang saat memegang pistol.

Dan yang paling penting, pikirannya tidak lagi kabur saat lelah.

Suatu malam, setelah Fred selesai memasang pistol dan stopwatch menunjukkan angka yang mendekati target Mercer, Mercer menatapnya lama.

“Kamu mulai ngerti,” kata Mercer pelan.

Fred mengangkat kepala, mata lelah. “Ngerti apa?”

Mercer mengetuk meja pelan.

“Bahwa jadi seperti Maëlle bukan soal bakat,” kata Mercer. “Itu soal tahan.”

Fred menelan ludah. “Aku tahan.”

Mercer mengangguk kecil. “Besok… kita ulang.”

Fred tersenyum getir. “Tentu.”

Dan di lantai atas, di ruang steril, monitor jantung Maëlle masih berbunyi pelan.

Bip… bip… bip…

Seolah ikut menghitung langkah Fred, hari demi hari, menuju titik di mana ia akhirnya bisa mengatakan:

Aku tidak lagi cuma target.

Aku sekarang juga pemburu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!