Di kehidupan sebelumnya, ia adalah Penguasa Langit Surgawi—pemilik kuasa absolut yang bahkan para dewa segani. Namun ia memilih bereinkarnasi sebagai manusia biasa, hidup tenang dengan nama Douma Amatsuki, demi merasakan kehidupan normal yang tak pernah ia miliki.
Semua berubah ketika ia tanpa sengaja memasuki dimensi terlarang, memicu perhatian para iblis yang diam-diam menguasai dunia. Tanpa mengetahui siapa dirinya sebenarnya, mereka menetapkannya sebagai target untuk dilenyapkan sebelum menjadi ancaman.
Douma hanya ingin hidup sebagai manusia biasa.
Namun ketika seluruh dunia mulai memburunya…
berapa lama ia bisa terus berpura-pura lemah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ali Rayyan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jantung Hoshikawa
Setelah notifikasi kelas muncul di gelang identitas digital masing-masing, barisan siswa mulai terurai perlahan.
Suasana tidak lagi sama seperti sebelumnya.
Jika tadi penuh gugup dan spekulasi, kini dipenuhi bisik-bisik tentang satu nama yang masih terpatri di layar besar beberapa menit lalu.
Douma Amatsuki.
Namun Douma sendiri sudah berjalan mengikuti jalur yang diarahkan sistem, seolah hasil itu tidak terlalu berarti.
---
Begitu mereka memasuki area akademik utama, hampir semua siswa terdiam.
“...Wow.”
Satu kata itu keluar hampir serempak dari berbagai sudut.
Dari awal mereka memang sudah berekspektasi tinggi. Hoshikawa Elite Senior High School terkenal sebagai institusi pendidikan paling modern di kawasan Asia Timur. Biaya masuknya saja bisa membuat orang biasa berpikir dua kali.
Tapi yang mereka lihat sekarang… jauh melampaui bayangan.
Gedung akademik pria dan wanita berdiri terpisah, namun bukan seperti dua bangunan yang terpisah jauh. Keduanya dibangun simetris menghadap satu sama lain, seperti dua sayap raksasa.
Gedung pria berada di sisi timur.
Gedung wanita di sisi barat.
Keduanya menjulang sekitar dua belas lantai, berlapis kaca reflektif biru keperakan yang mampu menyesuaikan intensitas cahaya matahari secara otomatis.
Namun yang paling mencolok adalah struktur di tengahnya.
Sebuah bangunan penghubung berbentuk kubah transparan raksasa, menggantung seperti jantung di antara dua sayap itu.
Struktur tersebut dinamakan Central Nexus Hall.
Koridor penghubung dari gedung pria dan wanita mengarah langsung ke kubah tengah itu di setiap lantai ketiga, keenam, dan kesembilan. Jembatan-jembatan kaca transparan membentang di udara, memperlihatkan pemandangan taman vertikal di bawahnya.
Dari bawah, terlihat seperti jaringan cahaya yang menyambungkan dua dunia.
“Gila… ini sekolah atau pusat riset?” gumam salah satu siswa pria.
Lantai mereka terasa berbeda. Bukan keramik, bukan marmer. Permukaannya halus, sedikit elastis, dan mampu menyerap suara langkah. Setiap beberapa meter, panel transparan menampilkan jadwal kelas, notifikasi kegiatan, dan pengumuman organisasi.
Sistem pengenal wajah otomatis aktif saat mereka melewati pintu.
Tanpa kartu. Tanpa mengetuk.
Hanya berjalan.
Di sisi koridor, dinding tidak sepenuhnya padat. Sebagian merupakan layar transparan interaktif. Jika disentuh, jadwal pribadi akan muncul. Jika disentuh dua kali, peta 3D sekolah akan terbuka.
“Ini terlalu canggih…” bisik siswa lain.
Douma berjalan santai di antara kerumunan. Matanya mengamati setiap detail arsitektur.
Struktur baja karbon ringan.
Panel energi surya terintegrasi di lapisan luar.
Sistem ventilasi alami yang hampir tak terdengar.
“Efisien,” gumamnya pelan.
Sementara itu, di sisi lain gedung wanita, Aurelia Kazehaya melangkah anggun bersama beberapa siswi baru.
“Central Nexus Hall itu tempat kita bisa bertemu siswa pria ya?” tanya seorang siswi dengan nada penasaran.
“Iya… katanya kantin dan perpustakaan ada di tengah,” jawab yang lain.
Aurelia hanya tersenyum tipis.
Central Nexus Hall memang dirancang sebagai titik temu netral. Di sinilah interaksi antara siswa pria dan wanita diperbolehkan bebas—di luar kelas.
Ketika mereka memasuki kubah tengah untuk pertama kalinya, suara kagum kembali pecah.
“WAHHH…”
Langit-langitnya setinggi hampir lima puluh meter, seluruhnya transparan. Cahaya matahari masuk lembut, difilter oleh lapisan nano yang membuat suhu tetap sejuk.
Di tengah ruangan terdapat taman vertikal bertingkat, penuh tanaman hijau hidup yang dirawat sistem irigasi otomatis. Air mengalir tipis di dinding kaca, menciptakan efek air terjun transparan yang tenang.
Dan tepat di lantai dasar kubah itu—
Kantin utama Hoshikawa.
Sangat luas.
Bukan sekadar ruang makan, melainkan seperti pusat kuliner modern. Meja-meja tersebar rapi, sebagian melayang tipis beberapa sentimeter dari lantai dengan teknologi anti-gravitasi ringan. Kursi menyesuaikan tinggi otomatis sesuai postur tubuh penggunanya.
Di sisi kiri, deretan stan makanan digital berdiri dengan layar menu holografik. Siswa bisa memesan melalui gelang identitas, dan makanan akan disiapkan oleh kombinasi koki profesional dan robot dapur presisi tinggi.
Di sisi kanan, terdapat area lounge dengan sofa empuk dan pencahayaan hangat, tempat siswa bisa bersantai atau berdiskusi.
Untuk menuju kantin, tersedia tiga akses utama:
Lift kapsul transparan di kedua sisi gedung penghubung.
Tangga manual marmer putih dengan pegangan baja minimalis.
Dan escalator panjang yang bergerak perlahan di tengah kubah.
Meskipun ada lift, sebagian besar siswa pria terlihat langsung menuju escalator.
“Kenapa nggak naik lift aja?” tanya seorang siswa baru.
Temannya menyeringai. “Escalator lebih santai… dan kelihatan keren.”
Beberapa bahkan sengaja berjalan pelan, berdiri tegap, sesekali melirik ke arah gedung wanita yang terhubung di sisi lain.
“Tebar pesona sedikit nggak apa-apa kan,” celetuk salah satu dengan percaya diri.
Tawa kecil terdengar.
Memang ada juga yang memilih tangga manual—biasanya mereka yang lebih fokus atau memang tidak peduli pada penampilan.
Douma sendiri tidak terlalu memikirkan jalur mana yang dipilihnya. Ia berjalan melewati escalator tanpa ekspresi, naik dengan langkah tenang.
Beberapa siswi dari sisi wanita tanpa sadar memperhatikannya saat mereka turun dari arah berlawanan.
“Dia yang nomor satu tadi kan…?” “Iya…”
Tatapan-tatapan itu kembali mengikuti.
Douma mengabaikannya.
Di lantai atas kubah, tepat di atas kantin, terdapat perpustakaan pusat.
Begitu pintunya terbuka otomatis, aroma buku dan udara bersih menyambut.
Perpustakaan itu bertingkat lima, melingkar mengikuti bentuk kubah. Rak-rak buku fisik tersusun rapi, namun sebagian besar koleksi tersimpan dalam sistem arsip digital.
Meja belajar dilengkapi panel layar transparan yang bisa muncul dari permukaan meja. Kursi memiliki sandaran dengan sensor postur untuk menjaga posisi duduk ideal.
Di tengah ruangan, terdapat silinder cahaya vertikal setinggi lima lantai—arsip data holografik. Dengan satu sentuhan, jutaan jurnal ilmiah, buku klasik, hingga data penelitian global bisa diakses.
“Ini seperti perpustakaan universitas internasional…” bisik seorang siswa kagum.
Sistem keamanan sangat halus. Drone mikro melayang perlahan memantau, hampir tak terlihat.
Sementara itu, pengumuman lembut terdengar di seluruh Central Nexus Hall.
> “Seluruh siswa baru dipersilakan menuju ruang kelas masing-masing untuk sesi orientasi internal.”
Kerumunan mulai terpecah kembali.
Gedung pria dan wanita kini menjadi tujuan masing-masing.
Di lorong gedung pria, suasana masih dipenuhi bisik-bisik.
“Itu benar-benar 999 juta plus?” “Simbol tak terbatas… gila.” “Kalau dia masuk kelas A, persaingan bakal gila.”
Haruto Kanzaki berdiri di balkon lantai dua, menyaksikan siswa baru berjalan ke arah kelas.
Tatapannya berhenti pada Douma yang melangkah tenang di bawah.
“Angkatan ini… tidak akan membosankan,” gumamnya.
Di sisi gedung wanita, Aurelia berjalan dengan langkah ringan.
Seorang siswi mencoba membuka percakapan.
“Kazehaya-san, kamu pasti masuk kelas A ya?”
Aurelia tersenyum lembut, elegan.
“Mungkin.”
Namun pikirannya tidak di situ.
Ia teringat simbol tak terbatas di layar tadi.
“Unlimited…”
Matanya sedikit menyipit.
“Douma Amatsuki…”
Ia jarang tertarik pada orang lain. Terlebih pria. Sebagian besar hanya tertarik pada namanya, keluarganya, atau status sosialnya.
Namun Douma berbeda.
Ia tidak terlihat berusaha menarik perhatian. Tidak menunjukkan ambisi berlebihan. Tidak panik saat sistem hampir error.
Terlalu tenang.
Dan justru karena itu… menarik.
“Semoga dia mau berteman,” pikirnya ringan.
Baginya, berteman dengan orang pintar dan kuat selalu menguntungkan.
Dari keluarga mana pun dia berasal, itu bukan masalah.
Selama ia menyukainya.
Sementara itu, Douma tiba di depan ruang kelasnya.
Pintu transparan itu memindai gelang identitasnya sebelum terbuka perlahan.
Di belakangnya, Central Nexus Hall masih ramai oleh langkah kaki, suara escalator, dan percakapan penuh rasa kagum.
Hari pertama belum selesai.
Namun satu hal sudah jelas—
Hoshikawa bukan sekadar sekolah elit.
Ia adalah dunia kecil dengan sistem, hierarki, dan dinamika sendiri.
Dan di dunia itu, seseorang baru saja berdiri di puncak peringkat.
Tanpa benar-benar berniat melakukannya.