NovelToon NovelToon
London’S Heart Surgeon

London’S Heart Surgeon

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Pernikahan rahasia / Kehidupan alternatif
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: AEERA-ALEA

novel dengan universe berbeda dari novel
"hazel lyra raven", dimana pharma dan Lyra bisa bersama tanpa ada ledakan

Dokter Lyra (27), spesialis anak, dipindahtugaskan ke Rumah Sakit Delphi di London. Di sana, ia harus berhadapan dengan Pharma Andrien, kepala rumah sakit sekaligus spesialis saraf yang dijuluki "Ice King" karena sifatnya yang sangat cuek, dingin, dan perfeksionis di depan staf medis.
​Namun, segalanya berubah saat mereka sedang berduaan. Di balik pintu tertutup, Pharma berubah drastis menjadi sosok yang sangat clingy dan manja hanya kepada Lyra. Kini, Lyra harus berjuang menjaga profesionalitas di rumah sakit sambil menghadapi tingkah "muka dua" atasannya yang tidak bisa jauh darinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19

Pagi harinya di Delphi Medical Centre, suasana koridor sudah sibuk sejak jam 7 pagi. Lyra berjalan menuju ruangannya dengan langkah mantap, merasa jauh lebih percaya diri setelah keberhasilan operasi Lord Sterling. Namun, baru saja ia melewati meja resepsionis, ia melihat kerumunan perawat sedang berbisik-bisik sambil melihat ke arah satu titik.

​Ternyata, di depan pintu ruangan Lyra, sudah berdiri sebuah buket bunga mawar putih raksasa yang tingginya hampir separuh pintu. Di tengahnya, terselip sebuah kartu kecil dengan tulisan tangan yang sangat rapi dan elegan.

​"Untuk asisten bedah dengan refleks tangan tercepat di London. Semoga hari ini kamu tidak telat (lagi). - P"

​"Ya ampun... si Pirang Caper ini beneran nggak ada kapoknya!" gumam Lyra sambil memijat pelipisnya. Ia bisa merasakan tatapan iri sekaligus penasaran dari staf rumah sakit lainnya.

​Baru saja Lyra mau memindahkan bunga itu ke dalam, suara langkah kaki yang berat dan berwibawa terdengar. Pharma muncul dengan jas putih panjangnya yang berkibar, kacamata tipisnya bertengger sempurna di hidungnya, memberikan kesan intelektual yang mematikan.

​"Bagaimana, Dokter Lyra? Bunganya cukup untuk mengganti momen 'gagal' di balkon semalam?" tanya Pharma tanpa dosa, sengaja berbicara cukup keras agar terdengar oleh perawat di sekitar mereka.

​"Pharma! Bisa nggak sih sehari aja nggak bikin heboh?!" bisik Lyra tajam sambil menarik Pharma masuk ke dalam ruangannya agar tidak jadi tontonan. "Ini rumah sakit, bukan lokasi syuting drama Korea!"

​Pharma justru bersandar santai di meja kerja Lyra, melipat tangannya di dada. "Saya hanya mengapresiasi rekan kerja. Lagipula, bunga itu memiliki aroma yang menenangkan, cocok untukmu yang sering marah-marah."

​"Gue marah karena lo mancing terus!" balas Lyra ketus.

​"Oh ya?" Pharma tiba-tiba berdiri tegak dan melangkah mendekat, memojokkan Lyra di antara dirinya dan meja kerja. Ia membungkuk sedikit, menatap mata Lyra dalam-dalam. "Kalau begitu, bersiaplah. Karena hari ini jadwal kita sangat padat. Ada tiga operasi bypass berturut-turut. Dan saya ingin melihat, apakah kamu masih bisa menolak saya di bawah tekanan lampu operasi."

​Lyra menahan napas. "Gue bakal buktiin kalau profesionalitas gue nggak bakal keganggu sama aksi caper lo, Pharma!"

​"Kita lihat saja nanti, My Best Assistant," ucap Pharma sambil menjentikkan jarinya ke dahi Lyra, lalu berjalan keluar ruangan dengan senyum kemenangan yang sangat menyebalkan.Suasana di depan ruang operasi tiba-tiba berubah saat seorang pria berambut cokelat dengan senyum ramah yang terlihat jauh lebih "normal" daripada Pharma berjalan mendekat sambil merapikan jas dokternya.

​"Wah, sepertinya saya melewatkan banyak drama saat cuti ya?" sapa pria itu.

​Pharma menoleh, dan untuk pertama kalinya Lyra melihat ekspresi Pharma yang sedikit... datar, seolah keberadaan pria ini mengganggu momen capernya. "Kamu sudah kembali, Leon?"

​"Tentu saja, Sir. Tidak mungkin saya membiarkan Anda menyiksa asisten baru ini sendirian," ucap pria itu sambil mengulurkan tangan ke arah Lyra dengan sopan. "Halo, saya Leon Watson, asisten utama Dokter Pharma yang sebenarnya. Kamu pasti Lyra, kan? Beritanya sudah sampai ke telinga saya bahkan saat saya masih di Maldives."

​Lyra menyambut tangan Leon dengan antusias mungkin sedikit terlalu antusias karena merasa ada "penyelamat" dari tekanan Pharma. "Halo, Dokter Leon! Akhirnya... asisten yang asli datang juga! Saya Lyra. Senang sekali bisa ketemu Anda!"

​Pharma menyipitkan mata melihat betapa cerianya Lyra menyapa Leon. Ia berdehem keras, sengaja berdiri di antara Lyra dan Leon untuk memutus kontak mata mereka.

​"Leon, kamu baru kembali. Kamu pasti lelah," ucap Pharma dengan nada yang sangat formal tapi terdengar posesif. "Hari ini biar Lyra yang tetap jadi asisten pertama di tiga operasi bypass. Kamu bisa jadi asisten kedua atau mengurus dokumen di kantor."

​Leon tertawa kecil, ia sepertinya sudah sangat hafal dengan sifat bosnya ini. "Sir, saya cuti untuk istirahat, bukan untuk jadi juru ketik. Dan bukankah prosedur standarnya saya yang harus mendampingi Anda di operasi besar?"

​"Peraturan bisa saya ubah," sahut Pharma dingin. Ia kemudian menoleh ke arah Lyra. "Lyra, tunggu apa lagi? Cepat ganti baju. Atau kamu lebih suka mengobrol dengan Leon daripada menyelamatkan nyawa pasien?"

​Lyra melongo. "Lho, kok jadi gue yang disalahin? Kan Dokter Leon baru aja nyapa!"

​Pharma tidak menjawab, ia langsung berjalan duluan menuju ruang sterilisasi dengan langkah yang sangat cepat, meninggalkan aura dingin di belakangnya.

​Leon mendekat ke arah Lyra dan berbisik, "Jangan kaget. Dia memang begitu kalau merasa... 'wilayahnya' diganggu. Sepertinya kamu sudah bikin CMO kita yang dingin ini jadi sedikit panas."

​Lyra mengerutkan kening. "Wilayah apa sih? Dia emang aneh dari kemarin, Dok!"

​"Panggil Leon saja," ucap Leon sambil mengedipkan sebelah mata. "Ayo, jangan sampai si singa pirang itu mengamuk karena kita telat."Di ruang sterilisasi yang sunyi, hanya terdengar suara gemericik air dari wastafel otomatis. Leon sedang mencuci tangannya dengan tenang, sementara Pharma berdiri di sampingnya, melakukan hal yang sama dengan gerakan yang jauh lebih agresif seolah-olah dia sedang mencoba menggosok habis kuman yang bahkan tidak ada.

​Leon melirik bosnya itu dari balik bahunya, lalu tersenyum tipis. "Sir, Anda terlihat lebih... bersemangat hari ini. Biasanya Anda hanya bicara dua kata saat mencuci tangan: 'Pisau' dan 'Cepat'."

​Pharma tidak menoleh. "Saya hanya ingin memastikan efisiensi kerja. Kita punya tiga operasi berturut-turut, Leon. Jangan banyak bicara."

​"Oh, tentu," Leon mematikan keran, membiarkan tangannya mengering sejenak. "Tapi Dokter Lyra itu... dia luar biasa, ya? Saya sudah lihat rekaman operasi Lord Sterling semalam. Presisinya luar biasa untuk dokter seumurannya. Dan saya harus akui, dia sangat manis saat sedang panik."

​Gerakan tangan Pharma mendadak berhenti. Ia menoleh perlahan ke arah Leon dengan tatapan yang bisa membekukan air seketika. "Dia asisten saya, Leon. Dan dia di sini untuk belajar bedah toraks, bukan untuk dinilai tingkat 'kemanisannya'."

​Leon tertawa rendah, tidak merasa terintimidasi sama sekali karena sudah bertahun-tahun bekerja dengan Pharma. "Kenapa Anda sensitif sekali? Saya hanya memuji rekan kerja. Lagipula, dia terlihat sangat nyaman mengobrol dengan saya tadi. Mungkin karena saya tidak memaksanya bangun jam 5 pagi."

​Pharma mendengus, kembali menggosok tangannya dengan kasar. "Saya melakukan itu untuk kedisiplinan. London bukan tempat untuk dokter yang manja."

​"Tapi Sir," Leon mendekat sedikit, menurunkan suaranya menjadi bisikan yang menggoda. "Sepanjang karier Anda, Anda tidak pernah memakaikan jas tuxedo Anda pada asisten mana pun, apalagi di balkon kediaman bangsawan. Seluruh staf rumah sakit membicarakan foto di koran itu. Anda tidak sedang mencoba 'menandai wilayah', kan?"

​Pharma terdiam sejenak. Ia merapikan masker bedahnya dengan sentakan kasar. "Saya hanya tidak ingin dia mati kedinginan dan membuat rumah sakit ini dituntut oleh pemerintah Indonesia. Itu murni tindakan medis untuk mencegah hipotermia."

​"Hipotermia di musim panas London? Alasan yang bagus, Sir," Leon menyeringai, memakai sarung tangan sterilnya dengan santai. "Tapi hati-hati. Jika Anda terlalu keras padanya, dia mungkin akan lebih memilih asisten yang ramah seperti saya untuk menemaninya minum kopi nanti sore."

​Pharma menatap Leon dengan tajam, matanya berkilat di balik kacamata tipisnya. "Coba saja temui dia untuk minum kopi, Leon, dan saya pastikan jadwal cutimu tahun depan akan saya hapus dari sistem."

1
Cici Winar86
di sinopsis nya pharma dokter jantung..tapi ini di bilangnya di sini dokter saraf...
AEERA♤
bacaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!