NovelToon NovelToon
Ketika Putri Istana Menjadi Antagonis

Ketika Putri Istana Menjadi Antagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Sistem / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:867
Nilai: 5
Nama Author: Larasa

Ruoling hidup di istana seperti di neraka setelah ibunya di hukum mati karna katanya 'sudah menuangkan racun di makanan utama saat perayaan ulang tahun Kaisar' hingga banyak yang kehilangan nyawa.

Semua penderitaannya itu di mulai saat dirinya di cap sebagai "anak pembunuh", lalu di fitnah, di jauhi sampai di perlakukan tidak selayaknya tuan putri. Parahnya anak-anak itu tak ragu untuk membayar pelayan yang bekerja dengannya untuk membuatnya berada di posisi yang jahat.

Tapi Ruoling remaja diam saja, tapi beranjak dewasa Ruoling sadar mereka tidak pantas memperlakukannya seperti itu. Namun saat kebenaran tentang ibunya terungkap dalam suatu kebetulan yang tak di sengaja membuat Ruoling rela mempertaruhkan nyawa, masa depan dan namanya semakin buruk untuk membongkar pelaku yang tak pernah di sangkanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sedikit lebih baik

Keesokan harinya hukuman itu di mulai lagi dengan berawalan Ruoling mengurus dirinya sendiri, merapikan ranjang, mencuci pakaian dan terakhir baru berjalan ke paviliun herbal dengan langkah mantap.

Udara menjelang siang membawa aroma mint dan wangi jahe dari tungku yang sedang dipanaskan para apoteker.

Paviliun ini berbeda dengan area pelayan biasa. Dinding-dindingnya berlapis rak kayu besar yang dipenuhi toples kaca, kantong kain, dan gulungan kering dari berbagai tanaman obat.

Ruangan itu dipenuhi suara lembut: bunyi pisau memotong akar, denting sendok mengaduk ramuan, dan bisikan para apoteker senior yang sedang berdiskusi.

Ruoling melirik sekeliling. Meski ia hanya pelayan sementara yang dihukum, tapi tempat ini terasa, damai serta pelayan bahkan senior yang pekerjaan di paviliun obat sedikit lebih segan padanya dari pada di tempat lain yang di temuinya.

Senior yang ditugaskan mengawasi Ruoling hari itu adalah wanita yang sama seperti kemarin yaitu Aiwen. Rambutnya diikat rapi, wajahnya datar tanpa ekspresi, dan sorot matanya tajam.

Dari gelagat serta tatapannya, Ruoling tahu wanita itu juga tidak menyukainya, tapi setidaknya dia lebih baik karna sejauh yang di lihatnya wanita itu tidak begitu suka banyak bicara dengan orang lain dan tidak pernah menyindir kesalahan ibunya.

“Putri Ruoling,” panggilnya pendek. “Ini daftar bahan hari ini. Ingat jangan ada yang salah lagi!"

Ruoling mendegus tapi tetap menerima gulungan daftar itu. Tulisan tangannya jelas, namun nama-nama obat yang tertera membuat alis Ruoling sedikit berkerut, ia tidak tahu apa itu semua karna dirinya tidak pernah mempelajari tentang obat-obatan.

Namun ia memilih untuk tidak banyak bertanya, lebih memilih untuk mencari bahan-bahan itu di ruangan yang khusus berisi tanaman obat.

Ruoling cukup terbantu karna setiap bahan obat di tulis hingga mempermudahkan pencariannya. Pertama kali ia mengambil akar huang qi dari rak bagian timur. Akar itu berwarna kuning kusam dan keras seperti kayu. Lalu mengambil dua helai daun kering. Kemudian sejumput serbuk adas. Setiap mengambil bahan, ia harus berhati-hati agar tidak salah.

Selama menjalankan tugas Senior atau pelayan yang membantu di apoteker sering kali kedapatan memperhatikannya dengan tatapan berbeda-beda—kaget, sinis dan bingung tapi tidak satu pun yang bersuara.

Pengawas tertinggi paviliun obat, seorang guru apoteker berusia tua, sedang duduk di sudut ruangan sambil membaca. Ia tidak banyak bicara, hanya sesekali menegur murid yang bicara tidak penting dengan suara rendah.

Keberadaannya seperti gentong air besar yang siap mengguyur siapa pun yang membuat kesalahan. Karena itu, para senior, junior dan pelayan membantu pekerjaan mereka tidak berani mengucapkan sesuatu yang menyinggung sebab itu pasti menimbulkan masalah.

Setelah semuanya lengkap Ruoling kembali mendekati senior yang sedang sibuk mencampurkan bahan obat.

"Apakah ini semua sudah benar?" Tanya Ruoling, membuat Senior Aiwen menghentikan pekerjaannya untuk menatap bahan obat di tangannya.

“Kembalikan daun itu ke tempatnya. Yang kutulis daun semanggi kering, bukan ‘bijak’. Apakah kau tidak bisa membaca?”

Ruoling terdiam sejenak. Ia tidak suka cara bicara itu, sinis dan dingin, tapi ia harus mengakui kesalahannya.

“Kupikir benar karna bentuknya mirip…,” gumam Ruoling.

“Mirip tidak sama. Apoteker yang menyamakan tanaman berdasarkan kemiripan bentuk akan membawa bencana pada semua orang di istana,” balasnya.

Ruoling menggigit bibir. Ia mengambil napas erat dan menunduk sedikit. "Baik.”

Ia mengembalikan daun yang salah dan mengambil daun yang benar. Tangannya mulai terbiasa menyentuh berbagai tekstur tanaman: ada yang keras, ada yang lengket, ada yang renyah. Ada pula wangi yang menusuk, ada yang lembut.

Meski nada bicara senior sinis, Ruoling tidak bisa menyangkal bahwa pekerjaannya menarik. Selain itu ia juga bisa belajar hal baru dan Ruoling sangat menikmatinya.

"Andai saja aku bisa bekerja di sini, tapi sayangnya aku cuma di izinkan fokus merawat diri saja sambil menunggu ada putra mahkota yang melamar. "Gumam Ruoling pelan sambil mengamati para senior mengajarkan junior meracik obat.

Berbeda dengan anak penjabat kerajaan yang di wajibkan setelah selesai menempuh pendidikan harus bekerja di kerajaan dengan kenaikan status secara bertahap maka anak-anak Kaisar jika laki-laki akan di persiapkan untuk masuk ke dunia politik dengan posisi tinggi sementara yang wanita di persiapkan untuk pernikahan politik.

"Lakukan apapun seperti pelayan yang lain," kata Aiwen yang sesekali melirik Ruoling sebelum memutuskan untuk menegurnya. "Sebenarnya tanpa di perintah pelayan yang membantu di sini punya banyak tugas, tapi karna menghormati statusmu, aku tidak berani memerintah lebih banyak."

"Lalu apa yang membuatmu akhirnya berani memerintahku?" Tanya Ruoling.

"Karna saya tidak suka orang di sekitar saya diam saja sementara semua orang di sini bekerja." Aiwen meninggalkan mejanya mendekati meja-meja lain untuk memeriksakan hasil kerja beberapa juniornya. "Sebaiknya jangan hanya berdiri sini saja, kau bisa bantu Senior lain agar lebih memahami obat-obatan."

"Apakah boleh?" Tanya Ruoling masih menyembunyikan rasa senangnya karna tidak ingin menarik perhatian banyak orang.

"Ya, selagi tidak mengganggu mereka."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!