NovelToon NovelToon
Dikejar, Brondong

Dikejar, Brondong

Status: sedang berlangsung
Genre:Terpaksa Menikahi Murid / Cintamanis / Cinta pada Pandangan Pertama / Berondong
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: sky00libra

Arumi Dessfira, selalu merasa aneh dengan tatapan dan juga tingkah laku Bumantara kepada dirinya. Dia sudah dengan berbagai upaya untuk menghindar, dari gangguan dan godaan Bumantara yang terlalu mempesona itu.

Namun, seperti nya Arumi gagal. Dia mulai merasakan getaran didalam hati nya saat bersama dengan Bumantara, jantung yang berdetak berlebihan, pipinya bahkan selalu merona karena salah tingkah.

Bumantara Bwoel, tertarik kepada perempuan yang baru pertama kali ia lihat, ia menyukai semua yang ada didalam diri Arumi. Dan... Masalah umur hanyalah angka untuk Bumantara, ia akan tetap mengejar Arumi sampai ke ujung dunia sekalipun.

Bagaimana cara Arumi menyikapi rasa yang mulai tumbuh kepada muridnya?
Harus kah ia pergi menjauh dari kejaran pesona Bumantara?
Atau justru ia menyambut rasa itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sky00libra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DB—19

Zelie Bwoel. Menutup wajah nya dengan kedua lutut, rambutnya berantakan akibat sering ia acak. Bahkan tenggorokan nya terasa tercekat, membuat nya hampir sesak.

"Pria penebar janji memang sering bikin sakit hati. Nyakitin nya bahkan enggak kira-kira," gumamnya, mendesah lelah, sambil menyeruput lendir yang hampir keluar dari hidung nya, terlalu banyak menangis membuat hidung nya tersumbat.

Setelah ia yang baru sampai dari bekerja, tiba-tiba saja ia mendapati anak buah Bumantara, yang mengantarkan sebuah map coklat.

Entah apa isi nya, namun berhasil membuat jantungnya memompa dua kali lebih cepat dari biasanya — sedikit was-was namun ia tetap perlahan membuka map itu, dan benar, isi nya membuat hati nya seperti di remas — membuat gigi nya ngilu, bahkan membuat perut nya mules.

Menelepon Bumantara untuk menanyakan kepastian malah membuat ia semakin sakit hati. Sekarang ia sendirian di dalam apartemen, menangis dan terlihat menyedihkan — tak ada yang merangkul.

"Rasanya aku pengen balas dendam. Ingin banget aku membuat perempuan lainnya sakit hati seperti diriku ini juga." Zelie kembali menangis sembari berguling-guling di atas ranjang nya.

Membuat seseorang yang masuk kedalam kamar nya terkejut, bahkan sampai menghembuskan napas panjang, ia terlihat jengah melihat tingkah gadis di atas kasur itu.

"Mau sampai kapan Mbak bertingkah seperti itu?"

Sosok itu Bumantara, yang bertanya dengan nada lelahnya, masuk ke kamar Zelie sambil menghempaskan dirinya ke sofa. Padahal tadi ia ingin bersama Arumi di kontrakan, tapi harus menyerah dengan memutuskan untuk pulang dan itu semua ia lakukan untuk memperhatikan gadis yang sedang menangis seperti anak kecil itu di atas kasur, berguling tak jelas.

Zelie menghentikan tangisan nya, mendudukkan dirinya di atas kasur, dengan wajah yang merengut, sambil menatap Bumantara.

"Mbak enggak nyangka dia bisa berbuat seperti itu sama Mbak. Sakit hati Mbak, Buma," isak nya lirih, ia hampir kembali menangis lagi.

Bumantara menghela napas dalam-dalam, "Lalu Mbak mau nya gimana? Meminta aku untuk menghancurkan pria itu bersama perempuan nya? Iya, itu yang mbak mau hmm?"

Zelie menggeleng lelah, sambil mengusap sudut matanya, "Tolong bantu Mbak, cari kan info tentang perempuan itu. Kalau perlu semua tentang dia, dari keluarga sampai lubang hidung nya," pinta nya aneh.

Yang kembali membuat Bumantara menggeleng tidak habis pikir, "Baiklah. Sekarang tolong hentikan tangisan itu, laki-laki seperti nya tidak pantas Mbak tangisan," tegas Bumantara, menatap manik keabu-abuan milik Zelie yang sama seperti miliknya.

Satu jam yang lalu.

"Kamu enggak pulang, Buma?"

Arumi meletakkan segelas kopi yang masih mengepulkan uap panas di atas meja kecil itu. Bumantara meletakkan ponsel nya, sambil mengambil kopi itu, menyesapnya pelan.

"Bentar lagi, sayang. Aku masih merindukan mu. Jadi ayo duduk sini," ucap Bumantara sambil menepuk paha nya.

Arumi memutarkan bola matanya, "Jangan aneh-aneh. Lagian ini udah mau malam, aku enggak mau kamu nginep di sini lagi," tolaknya.

Bumantara terkekeh, sembari menarik tangan Arumi lembut, hingga jatuh di pangkuannya.

Membuat arumi terhenyak, menatap mata Bumantara dengan kesal, "Ihhh, jangan tarik seenaknya seperti itu..."

Arumi memukul dada Bumantara pelan, pipi nya mungkin sudah memerah karena malu, dengan posisi seperti ini. Bahkan yang saat ini ia duduki terasa ada yang mengganjal di bawah bokongnya.

"Terasa kan, sayang?"

Kedipan mata jahil itu semakin membuat pipi Arumi merona seperti tomat.

"Mesum...," teriak tertahan Arumi kesal, lalu bangkit duduk dari paha Bumantara namun tertahan dengan tangan Bumantara yang langsung memeluk nya — membawakan tubuh kecil itu kedalam pelukan nya.

"Sssttt... Jangan teriak, nanti di dengar sama tetangga, sayang," bisiknya, sambil menepuk pelan punggung Arumi.

Setelah terdiam beberapa menit, Bumantara melepaskan pelukan nya, menatap wajah cantik itu.

"Pernah kah aku bilang bahwa kamu sangat cantik, sayang. Kamu sangatlah indah, membuat ku selalu ingin ada di sisi mu," bisiknya, menangkup wajah Arumi yang tidak pernah hilang rona nya.

Bumantara mendekati wajah nya, hingga hembusan napas hangat Arumi yang cepat, terasa di wajahnya — ia memiringkan wajah nya, mengecup lembut bibir itu, lalu melepas kan nya pelan, menatap mata indah itu yang sudah terpejam. Seakan-akan siap menyambut dirinya.

Bumantara kembali mendekati wajahnya, mencium bibir lembut itu dengan ritme pelan, hingga menjadi ritme cepat, dengan balasan Arumi yang kuwalahan mengikuti setiap permainan lidah dan bibir Bumantara — membuat napas Arumi tersengal-sengal.

"Hufff... Buma, hmmm," tepuk di pundak Bumantara, menyadari nya dari sisa nafsu yang menjalar hingga batasnya.

"Bernapas, sayang," bisik Bumantara sambil mengusap bibir Arumi yang membengkak dan basah karena ulah lapar nya.

"Ck," decak Arumi, memukul dada Bumantara. "Kamu hampir membuat ku enggak bernapas, Buma," kesalnya, menatap manik abu-abu itu yang sayu.

"Maaf, aku kurang bisa mengontrol nya."

Dahi mereka yang masih menyatu, dengan napas yang masih terengah-terengah, sedikit terganggu dengan bunyi ponsel milik Bumantara.

Arumi menoleh kearah ponsel Bumantara di atas meja, yang tertera nama dan foto seorang perempuan, membuat ia tersentak hingga dengan cepat bangun dari pangkuan Bumantara.

Bumantara menyipit matanya, saat melihat perubahan wajah Arumi yang mendadak di tekuk, bahkan selalu menghindari tatapan nya.

"Ada apa hmm?" tanyanya lembut, memegang tangan Arumi yang langsung ditepis.

"Enggak apa-apa. Kamu langsung pulang sana, aku mau istirahat," usir Arumi datar.

Bumantara menghembuskan napasnya, "Ada apa, sayang? Tolong cerita hm," bujuknya, ia bahkan menghiraukan panggilan dari kakak nya, karena Arumi yang saat ini adalah prioritas nya.

Padahal tadi mereka terlihat nyaman-nyaman saja, bahkan ciuman nya terbalaskan.

Namun saat...

Astaga...

Bumantara menepuk dahinya, ia tersenyum melihat wajah cemberut itu bahkan terlihat sedang menahan kesal nya.

"Ahhh... apa Mbak Zelie membuat kamu enggak nyaman, sayang? Apa karena dia menganggu waktu kita berdua hm," imbuh Bumantara sambil menunjukkan arah ponsel nya yang masih menyala dengan dagu, tersenyum menatap wajah cantik itu yang menegang.

"Apaan sih... bukan urusan aku, terserah kamu sama perempuan mana pun," elak Arumi, mendengus kesal sambil menarik tangan Bumantara supaya bangkit dari duduknya. "Sana... pergi sana," usirnya kembali.

"Wahhh... membuat ku bingung." Bumantara berdecak, sambil menggeleng kan kepalanya, membuat tarik kan tangan Arumi berhenti.

"Aku bingung, haruskah berterima kasih sama Mbak Zelie karena membuat Arumi cemburu, atau harus marah karena membuat Arumi mengusirku."

Kata 'Mbak' membuat Arumi terperangah, ia menatap wajah Bumantara yang sedang tersenyum jahil. Membuat nya malu.

"Aku enggak cemburu," bantah Arumi lirih, menunduk, sembari memainkan jari nya — ia benar-benar malu, karena salah paham.

Pikiran nya terlalu liar, mengira Bumantara sudah memiliki wanita lain dan sedang memainkan nya. Bahkan sampai sekarang ia belum tahu, hubungan mereka ini apa — dan aneh nya ia malah merasa cemburu saat melihat nama dan foto perempuan cantik di layar ponsel Bumantara.

——

——

Bersambung...

1
mungkin
hah....menghela napas
mungkin
bau kecemburuan sudah terlihat
mungkin
ugal-ugalan juga nih brondong, gimana ngga luluh juga tuh Arumi
mungkin
geng kapak ya?
mungkin
nih kerasa gemas nya
mungkin: jangan gini thor
total 1 replies
mungkin
muda ² udah punya pengaruh itu
mungkin
nih rasakan💪 dari Bumantara
mungkin
cam kan itu/Panic/
mungkin
namanya juga pesona brondong licik
mungkin
ya lanjutkan saja
mungkin
jangan malu-malu masih banyak yang perlu dibahas
Anala.: apa saja itu🤭
total 1 replies
mungkin
cinta tidak mengenal salah
Anala.: eyaasa🤭
total 1 replies
mungkin
nyaris saja
mungkin
ini itu tentang ngajar dan ngejar ya, dengan karakter tokoh yang keren
mungkin
lanjut thor. Arumi ngga simple aja thor pelajaran nya
Anala.: 1+1> gitu yah🤣
total 1 replies
mungkin
oh...manis
mungkin
jadi pebinor pun tak apa/Panic/
Anala.: menurut lo🤭
total 1 replies
mungkin
oh masih sopan awalan nya
mungkin
hahahaha
Anala.: yeee tau kan😄
total 1 replies
Anala.
beg0 dia itu🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!