"Aku tak akan pernah menganggap mu istri apalagi menyentuh mu, karena ikatan ini ada semata- mata untuk menyelamatkan pernikahan kakak ku!"
Bagaimana rasanya harus menikah dengan seseorang yang tidak pernah kita duga sebelumnya? Itulah yang terjadi pada Indira zaraa Husain, laki-laki yang terlihat soleh dan mapan yang menjadi pilihan orang tuanya ternyata tidak sebaik kenyataan nya. Kebenaran yang baru terungkap ketika akad di langsung kan membuat nya mau tak mau harus terlibat pernikahan palsu dengan laki-laki berdarah dingin bernama Senopati trian Barata.
Seno memiliki dendam dan menjadikan Indira istrinya adalah rencana dari dendam nya itu.
Bagaimana pernikahan mereka yang didasarkan atas dendam dan benci itu? ikuti kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MDSC : 19
Hujan yang turun sejak sore itu semakin deras, tapi Seno baru benar- benar menyadari nya ketika tetesan nya menghantam kaca depan mobil tanpa jeda. Jalanan licin, lampu- lampu kota memanjang jadi garis buram, namun meski begitu kakinya justru semakin kuat menekan pedal gas.
Ia tahu ini berbahaya, karena biasanya ia selalu pergi dengan pengawalan ketat, sistem keamanan tinggi, namun kali ini ia hanya pergi seorang diri. Ia juga tahu kalau dirinya membenci hujan, tapi malam ini kebencian itu kalah oleh sesuatu yang tak mau ia sebut.
Seno menggertakkan giginya, tangannya mencengkram setir terlalu kuat seolah-olah ingin menghancurkan nya, sampai-sampai ruas jarinya memucat. Dadanya terasa penuh, seperti ada benda berat yang menekan dari dalam. Ia tidak panik-- begitu ia bilang pada dirinya sendiri.
Ia hanya kesal kenapa perasaan ini begitu mengganggu nya, perasaan yang sebetulnya dari hatinya sendiri dan tak ingin ia akui.
Egonya runtuh ketika akhirnya ia memencet nomor Indira yang tersimpan di dalam ponselnya. Namun satu kali, dua kali, tak ada jawaban dari gadis itu hanya pangggilan saja yang terus bergetar. Saking geramnya ia memukul stir beberapa kali dengan tinjunya.
"Keluyuran kemana kau Indira! " batinnya, dengan rahang mengeras.
Beberapa saat kemudian, tak menyerah, ponsel di sebelahnya kembali menyala. Kali ini panggilan yang keempat, tapi tetap tak diangkat, berdering pun tidak.
Brak!
"Dimana kau... " gumamnya lirih, hampir teredam oleh suara hujan.
Lalu mobil yang dikendarai nya berbelok tajam, klakson terdengar dari arah berlawanan, tapi Seno tak peduli. Kepalanya dipenuhi bayangan Indira yang berdiri di halte sore tadi. Diam, tenang, sendirian dan dengan raut wajah yang sulit ia baca.
Ia memukul setir, sekali lagi. Dan kali ini lebih keras.
"Bodoh."makinya, entah kepada siapa.
Tak lama kemudian, ia menghentikan mobil di pinggir jalan, dan halte bus yang ada di depan matanya terlihat kosong. Lampu temaram menyala malas, bangku basah, dan tidak ada siapa- siapa.
Tak ada Indira di sana.
Seno kemudian turun, hujan langsung membasahi rambut dan kemejanya. Ia melangkah cepat, lalu berlari menyusuri trotoar. Mengintip ke balik papan reklame, sampai ke arah gang kecil di samping halte.
"Indira! " suaranya meninggi.
Tapi nihil, tak ada jawaban. Napas Seno memburu, ia berputar- putar seperti orang kehilangan arah. Dan rasanya konyol-- berdiri di tengah hujan, mencari seseorang yang seharusnya tak penting. Setidaknya itu yang selama ini ia yakini.
Seno tertawa, buka tawa karena lelucon receh, tapi lebih seperti mentertawakan dirinya sendiri yang segini nya pada orang yang seharusnya ia bikin menderita. Bukankah seharusnya ia senang melihat Indira menderita? itu berarti balas dendam nya untuk sang kakak perlahan-lahan berjalan, tapi kenapa rasanya justru berbeda.
Seno mengusap wajahnya, seluruh tubuh nya sudah basah kuyup, air hujan yang sejak dulu sangat ia benci justru sekarang menyelimuti dirinya dan itu karena satu orang-- yang tak pernah ia duga sebelumnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hingga detik ini, Seno masih ada di sana, tak menyerah meski tak ada yang menyahuti teriakannya, hingga tiba-tiba terdengar langkah kaki di tengah hujan saat itu.
"Kak Seno... "
Suara itu datang dari belakang.
Seno menoleh, di sana-- Windya berdiri beberapa langkah darinya, dengan memegang payung. Wajah gadis itu tampak khawatir, tubuhnya di balut mantel bulu tebal, dan matanya meneliti Seno dari ujung kaki sampai kepala.
Seno tak menjawab. Ia kembali menatap sekitar, seperti Windya bahkan tak ada di sana.
Windya mengeraskan wajah, tak suka melihat Seno mengacuhkan nya. "Apa yang kakak lakukan disini? bukankah kakak benci hujan? "
Seno melirik sesaat. "Bukan urusan mu, " kata- katanya tak ketus tapi cukup membuat Windya harusnya sadar diri.
Windya semakin cemberut, dan menghentakkan kaki karena kesal.
Pria itu kemudian melangkah lagi, meninggalkan Windya yang setengah berlari mengejarnya.
"Kak tunggu! " Windya menepikan payung di atas kepala Seno. "Masuk dulu, kamu basah semua. "
Seno yang jengkel mengibaskan tangan payung itu menjauh. ""Pergilah Windya. Aku sedang mencari seseorang. " tegasnya, menolak.
Windya terdiam sejenak. "Indira? "
Sebelum nya Windya memang sudah diberitahu oleh nenek Athaya jika Seno sedang pergi mencari Indira, hal itu lah yang membuat nya kesal dan nekat menyusul Seno hingga kesini.
Dan benar saja, nama itu sontak membuat Seno berhenti. Hanya seperkian detik, namun cukup membuat Windya tahu ucapan nenek Athaya bukanlah omong kosong belaka. Amarah langsung merayap di wajahnya, bercampur cemburu yang tak sempat ia rapikan.
"Kenapa harus sejauh ini sih ka?! " suara Windya meninggi, tertutup hujan. "bisa saja dia sudah pulang ke rumah orang tuanya, dia tidak ada di sini, itu berarti dia sudah aman, kau tidak perlu sampai segininya! "
"Tidak, " potong Seno. suaranya rendah namun tegas, "dia ada di sekitar sini. "
Insting itu datang begitu saja-- tajam dan tak bisa dijelaskan, namun ia sangat yakin.
Windya menghela napas, frustasi. Di dalam hatinya, ia menyumpahi Indira. Perempuan itu entah bagaimana, berhasil membuat Seno melakukan hal-hal yang bahkan tak akan ia lakukan untuk dirinya sendiri.
“Kak, ayo pergi. Ini tidak aman,” bujuk Windya lagi, nyaris memohon.
Seno tetap bergeming.
Akhirnya, Windya menyerah. Ia mundur selangkah, menatap Seno dengan mata berkaca. “Kalau begitu, aku pergi. Jangan bodoh,” katanya pelan, lalu berbalik, langkahnya menjauh, payung hitam itu lenyap ditelan hujan.
Seno kembali bergerak, menyusuri gang kecil di samping halte. Lalu tak lama terdengar teriakan yang memecah keheningan diantara riuh hujan malam itu.
Seno membeku.
Ia mengenal suara itu. Terlalu mengenalnya.
“Indira!” Seno berlari, jantungnya berdentam liar. Di ujung gang, pemandangan itu menghantamnya tanpa ampun. Tampak di sana Indira terdesak, beberapa lelaki mengelilinginya, salah satu dari mereka meraihnya terlalu dekat, terlalu lancang.
Amarah Seno meledak, terlebih ketika fokusnya melihat tangan lelaki itu yang berada di dada atas Indira.
Tanpa aba-aba, ia menerjang. Pukulan pertama mendarat, diikuti teriakan kaget. Tubuh bergerak tanpa rencana, hanya naluri dan amarah yang menggelegak dalam dada. Seno menghajar membabi buta, melupakan hujan, melupakan rasa sakit. Namun jumlah yang tak memihaknya membuat sebuah pukulan menghantam rahangnya, disusul tendangan yang membuatnya terjatuh.
Dunia seolah berputar.
Seno terkapar, hujan bercampur darah di wajahnya. Pukulan demi pukulan mendarat. Ia mendengar Indira berteriak, dan dalam kekacauan itu, mata mereka bertemu.
Di matanya yang berbayang namun terlihat jelas wajah Indira yang ketakutan dan gerakan bibirnya yang seolah sedang memanggilnya.
Lalu sesuatu bangkit di dada Seno. Sesuatu yang lebih kuat dari sekedar rasa sakit, lebih keras dari derasnya hujan. Ia menggeram, meraih tangan yang menahannya, memutar, lalu bangkit dengan sisa tenaga. Pukulan kembali melayang. Satu demi satu mereka tumbang, tersentak oleh kemarahan yang tak sempat dihitung.
Tak lama kemudian, suara sirene memecah malam.
Lampu merah biru berpendar di dinding gang. Para preman jalanan itu panik, mencoba kabur, namun terlambat. Polisi datang, mengamankan mereka dengan cepat. Di antara keributan itu, Raka-- asisten pribadi Seno muncul, wajahnya pucat melihat keadaan tuannya.
“Maaf, Tuan. Saya terlambat,” katanya cepat.
Seno hanya mengangguk. Tubuhnya gemetar, pandangannya mulai kabur. Lututnya melemah, dan sebelum ia jatuh ke aspal basah, Indira sigap menangkapnya.
Indira tersentak, dan dalam keadaan panik ia menepuk-nepuk pipi Seno. “Jangan… jangan tidur,” suara Indira bergetar, lengannya menahan tubuh Seno yang bersimbah darah.
Seno ingin menjawab. Ingin menyangkal, ingin marah, ingin berkata bahwa semua ini bukan karena ia peduli. Namun yang keluar hanyalah napas berat, dan dunia pun menggelap.
*****
ga tegas ulet bulu nempel pun diem" Bae rasa"kamu kurang 12/ons
tinggalkan aja gak ada tanggung jawabnya buat pembaca
aduh ran ran laki laki kaya gitu di pertahankan cinta buta kamu
sen kamu ga tau kelakuan iparmu bantai lah dari pada nyakitin istri
aduh situ lagi apa di dada remas" ga yah