NovelToon NovelToon
Legenda Sang Bayangan

Legenda Sang Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Action / Kultivasi Modern
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: kansszy

sebuah kisah tentang perjalanan pulang, melalui pertarungan demi pertarungan, kesedihan demi kesedihan, untuk memeluk erat semua kebencian dan rasa sakit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kansszy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 19

"Kenzy, tauke memanggilmu" ucap salah satu pelayan.

"terima kasih." aku berkata pendek. Beranjak pelan keluar dari kamar. Aku menyeret kakiku kebangunan utama melintasi tukang pukul yang sedang berkumpul . 1 2 menyapaku , aku hanya balas menyapa selintas tidak peduli .

Aku tiba di lobi dengan lampu gantung dari turki , lalu menaiki anak tangga . Berjalan menuju ruang kerja tauke, mendorong pintunya .

Sudah ada kopong , mansyur , dan basir di sana .

"ayo masuklah, Kenzy. Kami sudah menunggumu." tauke berseru tersenyum . Sebulan terakhir tauke ramah sekali denganku . Bahkan saat dia sedang mengamuk sekalipun , jika aku melintas di depannya , dia akan tersenyum .

Aku melangkah duduk di kursi panjang , bertiga menghadap tauke

"wajahmu pucat sekali, Kenzy. Kapan terakhir kali kau berjemur di bawah sinar matahari? Lama-lama kau mirip kelambit yang selalu mendekam di kamar sepanjang siang." tauke tertawa, mencoba bergurau.

Aku hanya menggeleng tipis

"baiklah, aku sengaja memanggilmu, Kenzy, karena aku punya kabar baik untukmu" tauke memperbaiki posisi duduknya, "kau seharusnya sudah berangkat ke Amerika bersama Frans dua Minggu lalu, melanjutkan kuliahmu. universitas itu sudah menelepon Frans, bilang kau sudah terlambat mendaftar. Tapi tidak apa, sungguh tidak masalah, Kenzy. Lupakan." tauke tersenyum.

Lantas kabar apa yang hendak tauke sampaikan sekarang?

"sesuatu yang akan kau sukai, Kenzy" tauke tersenyum, seolah itu memang spesial.

Apa?

"guru Bushi mengundangmu ke Tokyo, Kenzy. Kau belum menyelesaikan latihan bersamanya. Kau akan pergi ke Tokyo selama enam bulan. Itulah kabar baiknya."

Kepalaku terangkat kali ini dengan wajah lebih berwarna seperti ada kesegaran baru menerpa wajahku . Tauke tidak bergurau?

Tauke terkekeh, menepuk meja, "astaga! Tentu saja aku serius, Kenzy. Kau akan ke Jepang, belajar dengan guru Bushi. Kau tidak mau?"

Itu sungguh kabar spesial. Aku mengusap wajah. Tentu saja aku mau.

"tapi kita punya sedikit perjanjian, Kenzy. Hanya sedikit.... Sedikit sekali.” tauke kembali serius, "setelah enam bulan di sana, jika suasana hati kau membaik, maka berangkatlah ke Amerika bersama Frans. Universitas menelepon mereka mengerti situasi yang kau alami. Mereka bersedia memberikan kau tenggat satu semester untuk menyusul. Kau bisa ikut kelas musim dingin. Kau masih bisa mengejar ketinggalannya.

Ruangan kerja itu lengang sebentar.

"bagaimana, Kenzy? Kau bisa sepakat dengan syaratnya?"

Aku akhirnya menganggu

"bagus sekali, Kenzy." tauke besar tertawa, "beres sudah, kopong. Ini brilian sekali. Dia menyetujui usulmu. Mansur, kau siapkan perjalanan Kenzy sesegera mungkin."

Pertemuan itu berakhir lima menit kemudian. Kopong dan mansur masih tinggal di sana membicarakan hal lain dengan tauke . Sementara aku dan basir menuruni anak tangga pualam . Itu terakhir kali aku melihat Basyir. aku berangkat malam itu juga.

...****************...

pesawat ku tiba dibandara Tokyo siang hari.

Guru Bushi telah menunggu di lobby kedatangan . Dia tidak menggunakan pakaian samurai seperti saat mengajar ku dulu , melainkan mengenakan pakaian kasual seperti kakek tua kebanyakan . Di belakang guru busi , iris tembok airis atlas sub indo berdiri dua remaja perempuan kembar berusia belasan tahun , mungkin sekitar 15 . Itulah pertama kali aku mengenal yuki dan kiko . Si kembar sejak kecil sudah suka bermain-main semau mereka saja . Tidak ada yang bisa mengatur .

"orang tua mereka meninggal saat kecelakaan kereta cepat." guru Bushi menjelaskan. Dia mengemudi mobil sendiri, membawaku ke pinggiran kota Tokyo . Saat itu musim semi, pohon sakura bermekaran indah di sepanjang jalan, aku menatap terpesona.

"itulah kenapa aku tiba tiba kembali ke Tokyo, Kenzy. Aku harus merawat mereka."

aku mengangguk . Itulah pula Kenapa si kembar ini suka bermain-main . Kakek mereka tidak pernah melarang dan membiarkan Mereka mencoba banyak hal .

Kami tiba di rumah guru Bushi yang bergaya pedesaan. di sekelilingnya tumbuh pohon Sakura . Dan di depannya terhampar sawah luas dan bukit-bukit menghijau , aku langsung menyukainya , tempat ini tempat berlatih yang sama dengan saat berlatih bersama Ayahku dulu . Yuki dan Kiko mengantar menuju kamarku , aku mengangguk mengucapkan terima kasih . itu kamar kas orang Jepang , tidur di atas lantai beralaskan kasur tipis dengan dinding terbuat dari kertas . Semua perabotan kamar terbuat dari bambu dan kayu .

Rumah guru busi besar . Ada enam pelayan bekerja di sana . Juga orang-orang yang menggarap lahan pertanian miliknya . Guru Bushi amat terpandang di desanya . Iya dianggap sesepuh adat - Meskipun tidak ada yang tahu sama sekali Jika dia adalah Samurai sekaligus pernah menjadi Ninja di masa mudanya puluhan tahun lalu . orang orang menunduk memberi hormat kepada guru Bushi, juga kepadaku. Aku mulai beradaptasi dengan lingkungan sekitar, diajak guru Bushi dalam pertemuan dan acara acara setempat.

entahlah , satu bulan di sana tidak sekalipun guru puisi mengajakku berlatih . Dia hanya mengajakku melihat banyak tempat mengajariku bahasa Jepang dan menulis huruf Jepang . Tidak sekalipun aku memegang Katana atau shuriken . Aku belum protes karena sejauh ini masih menyenangkan . Tapi setelah satu bulan lagi berlalu . Aku memutuskan bertanya . Aku datang untuk melanjutkan latihan bukan liburan menghilangkan kesedihan .

Tertawa pelan , ”justru aku sedang melatih mu, kenzy.”

"tapi baiklah, karena kau sudah memintanya, kita bisa berlatih sekarang." guru Bushi tersenyum, berdiri. Dia beranjak ke dinding ruangan, mengambil dua katana, lalu melemparkan salah satunya kepadaku.

Yang membuat ku menelan ludah adalah, guru Bushi mengambil sehelai kain, lalu menutup pandangannya dengan kain itu. Kemudian dengan mata tertutup sempurna, dia menggerakkan kaki, memasang kuda kuda.

"serang aku, Kenzy. Jangan ragu ragu, tanpa ampun. Tapi pastikan kau tidak membuat berantakan, jangan menumpahkan teh, walau setetes."

Aku memegang katana erat erat. Kami persis berhadap hadapan di ruangan tengah yang tidak terlalu luas, dengan dua meja untuk acara minum teh, perabotan, dan sebagainya. Bagaimana aku bisa bergerak tanpa membuat barang barang berantakan? Dan bagaimana guru Bushi akan melakukannya? Matanya ditutupi kain.

"ayo, Kenzy! Bukankah kau jauh jauh datang ke sini karena ingin berlatih? Serang aku sekarang!"

Aku menggigit bibir, katanaku bergerak. Latihanku telah resmi dimulai.

Di belakangku, di balik daun pintu, Yuki dan Kiko mengintip dengan wajah semangat. Mereka selalu antusias setiap kali melihat kakeknya mengajariku berlatih pedang.

1
Adi Arkan Imani
bagus
KanKaaan!!!
cocok buat orang yang lagi mencari cerita dan inspirasi
Adi Arkan Imani
lumayan
kansszy: heeheeee maksih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!