Maira yang terbiasa hidup di dunia malam dan bekerja sebagai perempuan malam, harus menerima tawaran menjadi madu oleh seorang pemuda bernama Hazel Dinata, pengusaha ternama di kota tersebut.
Awalnya Maira menolak, karena baginya menjadi perempuan yang kedua dalam sebuah hubungan akan hanya saling menyakiti sesama hati perempuan. Tetapi karena alasan mendesak, Maira akhirnya menerima tawaran tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tika Despita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Situasi canggung dan aneh benar-benar dirasakan Maira dan Hazel saat ini. Mereka duduk berhadapan di depan bapak penghulu, dengan jarak yang terasa dekat namun menyisakan jarak emosional yang begitu jauh. Pernikahan dadakan yang digelar demi memenuhi keinginan Nadia, yang membuat Hazel terasa sesak. Sejak tadi, pria itu berkali-kali menghela napas berat, seolah sedang memaksakan dirinya menerima sesuatu yang belum sepenuhnya ia siap jalani.
“Kita bisa mulai sekarang, Pak Hazel?” tanya bapak penghulu dengan suara tenang.
Hazel mengangguk lemah. Tangannya terulur saat menerima jabatan tangan bapak penghulu, meski jemarinya terasa dingin dan sedikit gemetar.
Bapak penghulu pun mulai menuntun Hazel untuk membaca ijab kabul. Ruangan mendadak hening. Semua pasang mata tertuju pada pria itu. Maira menunduk, jantungnya berdetak tak beraturan. Kepalanya dipenuhi rasa gugup, bingung, dan takut akan hidup yang tiba-tiba berubah arah.
Dan untungnya, Hazel mampu melafalkan ijab kabul dengan lancar. Tak ada kesalahan. Hanya dalam satu kali tarikan napas, akad itu sah. Kini, secara resmi, Maira menjadi istri kedua Hazel.
Namun, setelah semua selesai, Hazel justru bangkit dari duduknya. Tanpa menoleh ke arah Maira, tanpa sepatah kata pun, ia melangkah pergi begitu saja.
“ Hazel,” panggil Nadia pelan sambil menahan pergelangan tangan pria itu.
Hazel menoleh. Tatapan matanya tajam, dingin, dan penuh tekanan. Isyarat itu cukup jelas. Ia ingin sendiri. Nadia pun melepas genggaman tangannya, bibirnya bergetar menahan sesuatu yang tak terucap.
Sementara itu, Maira masih duduk terpaku di tempatnya. Tangannya mengepal di atas pangkuan, tubuhnya terasa kaku.Dan dia sendiri bingung harus apa selanjutnya.
“Apa begini rasanya ditinggal saat bersanding sama pengantin pria?” tanyanya dalam hati, menertawakan diri sendiri.
Pandangan Maira kemudian beralih ke arah Nadia. Wanita itu terlihat murung, matanya kosong menatap lantai. Beberapa detik kemudian, ekspresinya berubah. Nadia tiba-tiba tertawa kecil sendiri, seperti sedang memikirkan sesuatu yang hanya ada di kepalanya.
Merasa tak enak, Maira pun bangkit dan mendekatinya.
“Mbak… baik-baik saja?” tanya Maira dengan raut heran.
Nadia tak menjawab. Ia hanya tersenyum tipis, lalu mendadak air matanya jatuh. Tangisnya pecah tanpa peringatan. Maira terdiam, benar-benar kebingungan menghadapi perubahan emosi Nadia yang begitu cepat.
Melihat kondisi Nadia, kedua orang tuanya segera mendekat.
“Ayo, Nadia. Kita istirahat di kamar,” ajak Tamara lembut sambil merangkul putrinya.
Dengan bantuan kedua orang tuanya, Nadia pun dibawa masuk ke kamar. Langkahnya gontai, sementara isaknya masih terdengar lirih.
Maira menatap punggung mereka hingga menghilang di balik pintu.
“Tunggu-tunggu… kok aku merasa aneh dengan sikapnya Nadia? Dia kayak rada-rada… kayak orang nggak stabil gitu,” gumamnya dalam hati, ragu dan bingung.
“Maira,” panggil seseorang.
Maira menoleh dan mendapati Naina, mamanya Hazel, berdiri di hadapannya.
“Kamu jangan masukin ke hati sikapnya Hazel, ya. Dia hanya sedang menenangkan diri. Pernikahan ini memang di luar rencananya,” ucap Naina sambil mengusap punggung Maira dengan lembut.
“Iya, Tante. Gak masalah kok,” jawab Maira pelan, berusaha tersenyum meski hatinya terasa kosong.
“Biar Om dan Tante saja yang ngantar kamu ke apartemen,” tawar Naina lagi.
Maira mengangguk setuju.
Sebenarnya, Maira ingin bertanya lebih jauh tentang kondisi Nadia. Namun niat itu ia urungkan. Ia takut pertanyaannya justru menyinggung perasaan orang tua Hazel. Bagiamana pun Nadia adalah menantu sah mereka. Akhirnya, Maira memilih diam, membawa semua kebingungannya seorang diri.
***
Sementara itu, Hazel memilih kembali ke kantornya. Mobilnya melaju tanpa arah tujuan yang benar-benar ia sadari. Kepalanya penuh, dadanya sesak. Begitu tiba, ia langsung masuk ke ruangannya tanpa menyapa siapa pun.
Sesampainya di dalam ruangan, Hazel menghempaskan tubuhnya ke sofa. Ia menelentang, sebelah lengannya menghimpit dahi, mata terpejam seolah berharap semua ini hanya mimpi buruk yang bisa segera berlalu.
Pintu ruangannya tiba-tiba terbuka. Hazel menoleh sekilas.
“Galau amat wajah lo, bro,” ucap Davin sambil melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya.
Hazel tak menjawab. Tatapannya kosong menatap langit-langit.
“Seharusnya lo bahagia dong,” lanjut Davin sambil duduk di kursi seberang sofa.
“Hari ini lo menikah lagi. Sekarang resmi punya dua istri.”
Hazel mendengus pelan.
“Jangan bahas itu,” potongnya ketus.
“Sumpah… semuanya begitu memuakkan.”
“Lah, kenapa?” tanya Davin, kali ini nadanya lebih hati-hati.
Davin menyandarkan punggung, lalu terkekeh kecil.
“Coba lo pikir, selama dua tahun jadi suami, lo bahkan belum pernah ngerasain malam pertama sama istri pertama. Nah sekarang, lo bisa ngerasain itu sama istri kedua.”
Hazel membuka matanya. Ia duduk, menyandarkan punggung ke sandaran sofa, lalu menghela napas panjang.
“Itu masalahnya,” katanya lirih.
Davin mengernyit.
“Maksud lo?”
“Karena gue udah terlalu terbiasa hidup kayak gini,” jawab Hazel.
“Makanya gue bingung.”
Ia mengusap wajahnya kasar, rahangnya mengeras.
“Sumpah… ini semua gara-gara Andrew. Kalau hari itu nggak pernah terjadi, mungkin kehidupan gue sama Nadia masih baik-baik aja.” Suaranya menurun, sarat emosi.
“Dan Nadia nggak akan minta hal-hal aneh kayak begini.”
Davin terdiam sejenak, lalu bangkit dan menepuk pundak Hazel.
“Kita udah sama-sama nyari Andrew, kan. Tapi memang belum ada hasil. Lo sabar aja.”
Hazel tertawa pendek, hambar.
“Sabar? Gue udah sabar bertahun-tahun.”
Davin kembali duduk.
“Terus, apa yang bakal lo lakuin dengan situasi kayak gini?”
Hazel menggusar rambutnya kasar, napasnya memburu.
“Nadia pasti bakal terus maksa gue buat nyentuh perempuan itu. Coba lo bayangin… gue bisa gila lama-lama.”
“Ya udah, lakuin aja,” jawab Davin enteng.
“Toh pernikahan lo sama perempuan itu cuma sampai dia bisa ngasih kalian anak. Kalau lo terus nunda, kapan dia bakal hamil?”
Hazel terdiam. Tatapannya mengeras, rahangnya menegang.
“Bukan itu masalahnya,” ucapnya pelan namun penuh tekanan.
“Menyentuh wanita yang tubuhnya sudah terlalu sering dijamah laki-laki lain itu bakal bikin gue…”Ucapannya terhenti di tengah jalan.
“Jijik?” tanya Davin hati-hati.
Hazel menghela napas berat, menunduk, lalu bersandar kembali ke sofa.
“Entahlah,” jawabnya frustasi.
“Gue sendiri udah nggak ngerti sama diri gue.”
Ruangan itu kembali hening. Hanya suara pendingin udara yang terdengar, menemani kebingungan Hazel yang semakin dalam.