Alitza Zeefanya Bella, atau sering disapa Zee adalah seorang gadis cantik yang ceria. Seperti nama yang diberikan oleh orang tuanya yang berarti gadis cantik yang ceria yang selalu ada dalam lindungan Tuhan.
Hidupnya baik-baik saja, terlahir cantik serta besar di lingkungan keluarga kaya yang harmonis membuat dirinya tumbuh menjadi gadis ceria dan penuh kepedulian.
Semua baik-baik saja sampai dirinya harus kehilangan seluruh alasan kebahagiaan nya. Membuat dirinya harus bekerja untuk menghidupi dirinya dan seorang wanita tua yang menjadi pengasuhnya sejak bayi.
Bekerja didunia malam membuat dirinya dipandang miring oleh semua orang. Namun dirinya tak peduli, hanya dirinya yang tahu seperti apa sesungguhnya yang ia jalani.
Akankah nasib baik kembali berpihak padanya? atau justru kehidupannya semakin sulit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novia_dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
datang menjenguk
Zee meremas ujung kertas yang tengah dipegangnya. Disana ada rincian biaya untuk operasi emak.
"Paling tidak masuk setengah nya dulu kak.. sisa nya bisa dibayar setelah operasi". Ucapan petugas informasi masih terngiang di telinga Zee.
" Darimana aku dapat uang sebanyak ini". Gumam Zee menatap kosong kertas yang dipegang nya.
Zee harus menyiapkan uang sebanyak 180jt untuk operasi emak. Dan tabungan Zee baru ada 60jt saja. Masih sangat banyak kekurangan nya. Jika harus masuk setidaknya separuh, itu artinya ia masih harus mencari 30jt untuk kekurangannya.
Zee meraba lehernya, kalung peninggalan mendiang sang mama yang tak pernah ia lepaskan.
Haruskah kini ia merelakan kalung itu? Zee berperang dengan pikirannya sendiri.
"Kalung ini juga nggak akan cukup". Gumam Zee dengan tatapan nanar. Ia merasa tidak berguna.
Zee meremas kertas ditangannya dan melemparkannya ke tempat sampah saat melihat Leon dan Aurel dari kejauhan. Ia tak ingin membuat Leon kepikiran apalagi membantu dirinya.
Jika Zee bercerita, Leon pasti akan membantunya. Namun Zee tidak bisa menerimanya karena Leon selalu menolak jika Zee mengembalikan uang pinjamannya.
" Bagaimana kondisi emak? ". Tanya Aurel setelah melepas pelukannya pada Zee.
Zee hanya menggeleng lemah menjawab pertanyaan Aurel. Jika ia bercerita tentang kondisi emak, sudah pasti ia akan menangis dan Leon serta Aurel akan bisa membaca kondisi dan situasinya.
Zee hanya bisa masuk melihat emak saat waktu-waktu makan saja. Meskipun emak tidak makan karena masih belum sadar, namun Zee tetap masuk untuk sekedar mengobrol pada raga yang tak bisa merespon nya.
Hampir 2jam Leon dan Aurel berada disana menemani Zee. Tentu Zee sedikit kena omel dari Leon dan juga Aurel karena tidak langsung memberi kabar jika emak masuk rumah sakit.
" Kalau Ben tidak bilang, sampai saat ini aku pasti nggak tau". Omel Leon membuat Zee tersenyum dengan tatapan bersalah.
Aurel bertanya bagaimana ceritanya Ben bisa menemani Zee semalam. Dan Zee menceritakan semua, namun ia tidak menceritakan jika dirinya menangis dalam pelukan Ben. Terlalu malu untuk ia ceritakan pada Leon dan Aurel.
"Langsung telepon aku atau Aurel kalau kamu butuh sesuatu, Zee". Ucap Leon mengingat kan Zee yang hanya mengangguk.
" Aku izin nggak masuk kerja ya bang. Kalo aku paksain takut malah nggak bener.. " Sekalian saja Zee pamit pada bos nya untuk tidak pergi bekerja.
Selepas kepergian Leon dan Aurel, Zee mencoba mencari pekerjaan tambahan yang sekiranya cepat menghasilkan banyak uang.
Dalam minggu ini emak sudah harus dioperasi. Itu pesan dokter pagi ini. Dan Zee semakin bingung dibuatnya.
Saat sedang membuka akun media sosial nya, Zee melihat unggahan tentang sebuah pekerjaan yang mungkin ia butuhkan saat ini.
Zee membaca dengan seksama unggahan tersebut. Melihat djmana lokasi yang tertera dalam unggahan itu.
Waktu berjalan tanpa terasa, jam sudah menunjukkan pukul 1siang. Dan Zee baru saja keluar dari ruang rawat emak didslam ICU.
Ia banyak bicara pada emak yang diam tak menanggapi karena memang belum sadar. Sedikit banyak Zee khawatir pada kondisi emak yang masih belum sadar. Namun dokter meyakinkan jika kondisi emak baik. Hanya perlu bersabar menunggu emak sadar saja.
Sore itu seorang perawat keluar mencari keberadaan Zee. Syukurlah emak sudah sadar dan Zee boleh melihatnya walau sebentar.
"Emak.. " Suara Zee terdengar sangat pelan dan lembut. Ia duduk di samping brankar emak dan menggenggam tangan emak.
"Neng.. " Suara emak juga sangat lirih. Namun Zee melihat senyum tipis dibibir emak.
"Emak harus cepet sehat ya.. " Pinta Zee dengan wajah penuh permohonan. Ia tak sanggup melihat emak seperti ini.
"Jangan sakit lagi.. nanti setelah emak stabil, emak operasi ya. Biar kedepan tinggal sehatnya aja.. " Emak hanya menganggukkan kepalanya pada Zee. Ia masih terlalu lemah untuk banyak bicara.
"Emak nggak usah pikirin apa-apa. Pikirin kesehatan emak aja pokoknya ya.. " Kembali emak mengangguk, namun cairan bening menetes dari mata emak.
"Jangan nangis mak.. emak nggak boleh sedih. Biar cepet pulih harus seneng ya.. "
"Iya..neng.. " Emak menyahut dengan suara lirih.
"Mbak Zee, sudah dulu ya kunjungannya. Biar ibu bisa istirahat dulu.. " Zee menoleh pada perawat yang mengingatkan dirinya.
"Iya.. terimakasih ya". Perawat itu mengangguk dan tersenyum ramah.
Zee kembali duduk didepan ruang ICU. Sepi dan sunyi, hanya terdengar suara-suara alat kesehatan yang sangat tidak Zee sukai.
" Kak Zee.. " Zee menoleh saat mendengar seseorang menyerukan namanya.
"Jangan teriak-teriak Sa. Ini rumah sakit, nanti malah kita disuruh keluar". Tegur oma Sandra pada cucunya.
Sasa tak menjawab dan berlari menghampiri Zee. Gadis cilik itu langsung memeluk Zee dengan erat seolah tengah menyalurkan kekuatan untuk Zee.
Zee tak bisa menahan air mata nya jatuh saat Sasa memeluknya. Ia balas memeluk Sasa dengan erat pula.
" Emak pasti sembuh kok kak". Bocah itu seolah tau ketakutan Zee. Ia mengelus punggung Zee dan memberikan kata-kata penghiburan.
Zee tak menjawab, namun Sasa merasakan kepala Zee mengangguk cepat. Sebelum melepaskan pelukannya, Zee mengusap air mata yang meleleh tanpa bisa ia cegah tadi.
"Bagaimana kabar emak Zee? ". Tanya oma Sandra yang juga memeluk Zee sekilas kemudian melepaskannya.
" Alhamdulillah sudah sadar bu.. " Sahut Zee dengan seulas senyum tipis.
"Kamu harus kuat ya.. semua pasti baik-baik saja". Kini gantian Meidina yang memeluk Zee.
Zee merasa bersyukur banyak orang baik disekelilingnya dan emak. Banyak doa dan dukungan yang ia dapat dan itu sangat membantunya.
Sore itu Zee bisa sedikit tersenyum mendengar Sasa yang asyik bercerita tentang sekolahnya. Les nya dan sebagainya. Gadis cilik itu mengeluh tentang lelahnya bersekolah.
Sedang asyik mendengar Sasa bercerita, suara sepatu beradu dengan lantai terdengar di sepanjang lorong menuju ruang ICU.
Semua mata mengarah pada sumber suara. Zee melihat sosok yang semalam menemani dirinya di rumah sakit tengah berjalan tenang penuh wibawa. Ya, dia adalah Ben.
" Kenapa buru-buru sih jemputnya ". Omel Sandra yang memang tadi meminta putranya datang kerumah sakit untuk menjemput nya.
" Tau nih. Biasanya juga jam 8 baru pulang dari kantor". Mei menimpali omelan ibunya untuk sang adik.
"Salah mulu deh. Nanti lama jemputnya diomelin juga. Mami sama kakak maunya apa? ". Tanya Ben kesal, karena pasti apa yang ia ucapkan benar terjadi jika ia lama menjemput para wanita itu.
" Ayo pulang Rosalinda". Ajak Ben pada ibunya yang langsung melorot galak.
" Dasar antek-antek penjajah, bule tengik. Bisa-bisa nya panggil mami seperti itu". Omel Mami Sandra pada Ben.
Sementara Zee mencoba menahan bibirnya untuk tidak tersenyum lebar melihat interaksi ibu dan anak itu.
Ben melirik Zee sekilas. Sudut bibir nya sedikit terangkat saat melihat Zee tersenyum. Setidaknya gadis itu lebih baik dibanding semalam. Itu pikir Ben saat melihat senyum Zee.
Cukup lama Ben disana menunggu para wanita memuaskan diri menemani Zee hingga akhirnya sebelum jam 6 mereka pamit untuk pulang dan mengatakan esok akan datang lagi.
"Jaga kesehatan. Jangan lupa makan". Ben yang sengaja pergi terakhir menepuk pundak Zee lembut dan mengingatkan Zee untuk makan dan menjaga kesehatan nya.
" Terimakasih pak Ben". Zee tersenyum menatap Ben yang mengangguk dan akhirnya berlalu meninggalkan Zee sendiri.
Lama Zee diam. Ia teringat dengan apa yang akan ia lakukan. Ia kembali membuka ponselnya dan kembali membaca unggahan di sosial media itu.
Setelah memantapkan dirinya, Zee pamit pada perawat disana. Ia menitipkan emak dan menuliskan nomor ponselnya. Meminta sang perawat segera menghubungi dirinya jika ada sesuatu pada emak atau jika dirinya harus mengurus sesuatu disana.
Ia pun pamit pada emak setelah tadi menyuapi emak makan. Ia bilang akan pulang sebentar untuk mandi dan berganti pakaian. Ia akan menunggu emak diluar nanti nya.
" Hati-hati ya neng.. " Suara emak sudah lebih stabil dibanding sebelumnya.
Zee mencium kening emak dan punggung tangan wanita tua itu sebelum benar-benar keluar dari ruang ICU.
Dan disinilah Zee, berdiri didepan sebuah bangunan 2lantai yang cukup luas. Semua terlihat normal dan biasa saja, tidak ada yang aneh dan terlihat mencurigakan.
"Bener disini bukan ya?? ". Gumam Zee ragu. Ia kembali membuka ponsel dan melihat unggahan yang membawanya hingga kesini. Berbekal keyakinan yang ia miliki, Zee mulai melangkah masuk kedalam bangunan itu.
" Bismillah.. "
...¥¥¥°°°¥¥¥...
...Semangat neng Zee.. semoga emak lekas pulih ya cantik🤲🤲❤🫰...
Zee: Pulih enggak nya emak kan gimana situ thor😔
othor: Oia ya.. lupa saya kalo disini aku penentu nya😁🤭😂
Zee: 🙄😒
...Happy reading cintaku semuaaa😘🤩...
...Jangan lupa ritualnya ya sayang 💕💕💕💕Like komen dikencengin yuuukk🙏💋🥰...
...Saranghae readers kuuu💋💋💋🥰❤🥰🥰😘😘😘😘😍❤😘🤩🥰💋💋💋🌹🌹🌹...