Tamara Hadinata adalah perempuan tegas yang terbiasa memegang kendali. Memiliki gaya hidup yang dipenuhi ambisi dan emosi, membuatnya tak pernah serius memikirkan pernikahan.
Ia sibuk bekerja, sesekali terlibat hubungan sementara tanpa komitmen nyata. Sampai keputusan papanya, mengubah segalanya.
Khawatir dengan gaya hidup dan masa depan Tamara, sang Papa menjodohkannya dengan Arvin Wicaksono—Pria karismatik, intelektual, dan dianggap mampu menjadi penyeimbang hidup putrinya.
Namun bagi Tamara, pertemuan mereka adalah benturan dua dunia dan karakter yang tak seharusnya saling bersinggungan.
____
Bagaimana pernikahan mereka bisa terjadi?
Lalu, apa jadinya jika dua orang yang nyaris bertolak belakang, disatukan dalam ikatan pernikahan?
Di tengah kesibukan dan perbedaan, bisakah keduanya hidup berdampingan meski memulai hubungan tanpa cinta?
kuyyy ikuti kisahnya ya~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lonafx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 Bersama Tapi Belum Bersatu
Hari-hari setelahnya, waktu berlalu seperti hembusan angin yang tak terlihat.
Pagi datang, siang berlalu, dan malam kembali pulang membawa lelah masing-masing.
Siang hari, mereka benar-benar berada di dunia berbeda.
Tamara disibukkan dengan rapat, presentasi, dan angka-angka laporan yang tidak mengenal kompromi.
Sedangkan Arvin tetep di jalurnya, berjalan dari satu ruang ke ruang lain. Dari kelas, berbagai forum, hingga seminar yang semuanya diisi dengan kepala penuh konsep.
Namun, di antara rutinitas dan ritme hidup yang berjalan sendiri-sendiri, rumah selalu menjadi titik pulang yang sama.
Tidak ada ciuman sapaan, atau pun pelukan panjang.
Hanya ada komunikasi sebagai dua orang yang sama-sama belajar berbagi ruang, tanpa tuntutan harus segera saling memiliki sepenuhnya.
...
Pagi itu, suasana rumah masih seperti biasa—udara segar, cahaya matahari menyelusup lembut, dan selalu ada sesuatu yang terasa berbeda.
Bukan perubahan besar, hanya kehadiran seseorang yang selalu membuat suasana jadi lebih hidup.
Arvin yang sudah rapi dengan setelan kerja, duduk di kursi ruang makan.
Punggungnya bersandar santai, seolah tidak sedang dikejar apapun.
Di depannya, piring sarapannya belum sepenuhnya kosong, tapi perhatiannya sering teralihkan.
Tak jauh dari ruang makan, Tamara berdiri di sudut ruangan—baju rumahan sederhana, rambut diikat ala kadarnya, wajahnya tetap memancarkan aura tegas meski hanya dengan riasan tipis.
Tamara terlihat sibuk memberi arahan penting kepada Yuli, yang mendengarkannya sambil mencatat sesuatu di buku kecil.
Suara Tamara tidak meninggi, tapi cukup terdengar seperti irama yang memecah keheningan di pagi itu, juga seperti di hari-hari biasanya.
"Untuk roti, beli yang gandum ya... jangan yang polos. Kamu pilih yang tinggi serat," ujar Tamara.
Yuli mengangguk, langsung menulis cepat seolah tak ingin melewatkan apapun.
"Sama jangan lupa beli yogurt, tapi jangan yang pakai perisa tinggi gula." Tamara menambahkan, menutup daftar panjang yang harus diingat Yuli.
Hingga ia selesai dan langsung berjalan menghampiri Arvin, laki-laki itu terlihat langsung menegakkan punggung.
"Ada seminar lagi?" tanya Tamara, sambil menarik kursi ketika sudah di dekat Arvin.
Hampir dua minggu lebih setelah menikah dan hidup bersama, ia mulai sedikit banyak tahu tentang kesibukan Arvin yang padat, bahkan di akhir pekan seperti ini.
Arvin menatap istrinya, yang sudah duduk di sampingnya.
"Enggak. Hari ini kebetulan ada jadwal supervisi praktik kerja lapangan mahasiswa," jawabnya lembut.
Tamara mengangguk-angguk pelan, lalu teringat untuk memberitahu sesuatu.
"Aku tadi minta Yuli buat belanja," katanya, sambil menuang air mineral ke dalam gelas.
"Aku nggak suka rumah tanpa persediaan yang cukup. Jadi, semua harus tersedia sebelum dibutuhkan," lanjutnya.
Arvin mengiyakan. "Kamu atur aja..."
Tamara memberi anggukan, dibarengi senyum kecil. Ia meneguk minumannya, lalu tiba-tiba mengingat sesuatu.
"Hmm... Hari ini aku mau hangout sama Meliza dan Tyas, mau spa bareng."
Arvin tahu itu bukan kalimat permintaan izin, lebih terdengar seperti hanya informasi, tapi ia senang karena Tamara perlahan mulai terbuka kepadanya.
Hubungan mereka memang masih berjarak. Namun, jarak itu terasa bukan penolakan, melainkan hanya ruang yang perlu sedikit waktu untuk menerima segala prosesnya.
Arvin tersenyum ke arahnya. "Oke... Have fun ya."
Ia segera menyelesaikan sarapan, lalu berpamitan.
...
Siang harinya, Tamara baru memasuki tempat spa. Ia sudah janjian dengan Meliza dan Tyas.
Di sela rutinitas yang padat, ketiganya memang sesekali menyempatkan bertemu. Salah satunya pergi ke tempat spa dan melakukan perawatan bareng.
Mulai dari pijat relaksasi untuk tubuh dan wajah, luluran dengan rempah pilihan, sampai tahapan yang paling mereka sukai: berendam di air hangat.
Suasana ruang mandi spa itu menenangkan. Namun, terasa lebih hidup oleh gelak tawa ringan ketiganya.
Mereka duduk di bathtub besar berwarna putih gading, yang terisi air hangat dan kelopak mawar yang mengapung di permukaan.
Suara obrolan dan alunan musik relaksasi, beradu di antara aroma bunga dan rempah yang menguar di udara.
Mereka berendam lebih lama, sekadar melepas penat sekaligus berbagi cerita, sampai tubuh terasa rileks dan pikiran jadi lebih ringan.
Di sela obrolan itu, Meliza yang duduk di tengah, baru meletakkan kembali gelas minumannya di antara lilin-lilin aromaterapi.
Matanya menyipit ke arah Tamara, yang berada di samping kanannya.
"Hmm... yang sibuk banget akhir-akhir ini, sampai baru bisa di ajak ngumpul bareng lagi," celetuknya ringan.
Tubuhnya sedikit condong. "Iya tau... Yang udah nikah, udah sibuk sama suaminya sekarang."
Nada bicaranya santai, tapi penuh sindiran halus, ala sohib yang kelamaan menahan kangen.
Tamara tergelak ringan. "Aku tuh emang lagi repot banget kemarin, karena mau peresmian warehouse baru sama nambah beberapa jalur logistik."
Tyas yang berada di sebelah kiri Meliza, langsung terkagum. "Woah... Makin besar aja Lunara, Ta. Kamu emang nggak pernah main-main soal bisnis."
Tamara tersenyum kecil. "Kalian kan tahu sendiri, Lunara itu ibarat 'bayi aku' yang udah mendarah daging, dari nol banget. Untuk urusan ini, aku nggak setengah-setengah."
Kedua sahabatnya mengangguk setuju, dengan sorot mata antusias penuh dukungan bercampur kekaguman.
Hingga Meliza berdeham singkat, tatapannya berkilat nakal. "Terus gimana nih?"
"Gimana apanya?" Tamara bertanya dengan wajah polos, lalu meneguk minumannya.
Senyum Meliza mendadak usil. "Ya sama pak profesor lah, bikin bayi beneran."
Tamara tersedak minumannya, langsung disambut gelak tawa dari kedua sahabatnya.
Ia meletakkan gelasnya, bahunya bergidik ringan. "Apaan sih? Nggak ada ya... " suaranya datar, jelas terganggu.
Tyas menghentikan tawanya. "Nggak ada, apanya? Kalian itu kan udah nikah," ujarnya.
Tamara tetap terdiam. Namun, diamnya justru memantik rasa keingintahuan sahabatnya lebih jauh.
Meliza menyenggol lengannya, gerakan ringan setengah menggoda. "Gimana rasanya, Ta? Enak dong... " Ia tak ragu menanyakannya.
Bagi lingkungan pertemanan mereka, pembahasan itu memang bukan hal yang tabu.
Tamara tak langsung menjawab. Ada jeda hening sebentar, sebelum Tamara akhirnya menceritakan keadaan hubungannya dengan Arvin.
Ia memang meminta waktu pada suaminya itu untuk menyesuaikan diri, karena ia memang belum siap dengan hubungan mereka yang terkesan terlalu cepat baginya.
Entah kenapa, Arvin menurutinya begitu saja, membiarkannya tetap bisa memegang kendali hidupnya sendiri.
Bahkan Arvin cenderung tidak mau mencampuri urusannya. Mereka benar-benar berada di jalur masing-masing, dengan ritme hidup sendiri-sendiri, tanpa kemesraan yang berarti.
Meliza terperangah tak percaya, sedangkan Tyas kaget dengan versi lebih kalem.
Meliza mendekat cepat ke arahnya, membuat air bathtub bergelombang kecil di antara mereka.
"Ta, serius? Cowok kayak Arvin loh."
Matanya melebar. "Punya suami dengan ketampanan dan kecerdasan level high quality gitu, kamu anggurin?" suaranya sedikit meninggi tak percaya.
Tyas mengangguk setuju dengan Meliza, lalu ikut menimpali, "Terus, mau sampai kapan kamu minta dia menunggu?"
Tamara menaik napas singkat, lalu mengedikkan bahu. "Nggak tau, aku merasa belum siap aja. Lagian, aku juga mau nikah karena permintaan Papa."
Meliza menatapnya protes. "Tapi kamu kebangetan deh, Ta. Kamu egois banget, sumpah. Iya kalau Arvin bertahan, nunggu kamu terus... Kalau dia nyerah?"
Tamara tak langsung menjawab, tatapannya sedikit menunduk ke arah kelopak bunga yang mengapung di sisi kulitnya.
"Ya udah," ucapnya enteng.
"Oh My God!" suara Meliza langsung menyambar.
"Tamara Hadinata si 'kepala batu'! Buka mata dan hati kamu! Arvin itu ditaksir cewek-cewek loh, Ta," geramnya.
Ia benar-benar gemas dengan kelakuan sahabatnya itu. "Jangan sampai kamu nyesel, loh. Entar kalau suami kamu tiba-tiba diembat sama pelakor, baru tahu rasa," omelnya.
Tamara langsung terdiam, baru kali ini melihat sahabatnya itu serius mengomelinya soal urusan laki-laki.
Untuk pertama kalinya, kalimat-kalimat itu juga mampu menghentak jantungnya.
"Kali ini aku sepakat sama Memel, Ta." Tyas ikut bersuara.
"Aku sih lihatnya, Arvin cowok yang baik, kok. Kalau enggak, dia pasti udah ninggalin kamu, atau nyari cewek lain."
Kemudian menambahkan, "Cowok mana yang tahan hubungan tanpa sentuhan, Ta. Apalagi udah nikah? Andra aja cari pelarian kan? Padahal kalian hanya pacaran waktu itu."
"Pikirin baik-baik lagi deh, Ta. Aku cuma nggak mau, kamu nyesel nantinya." Meliza menyarankan. Suaranya rendah, jauh lebih terkontrol.
Tamara masih mendengarkan, sadar egonya diserang berkali-kali oleh dua orang yang sudah terlalu dekat dan terlalu sering membersamainya sejauh ini.
Diamnya, menyisakan hening yang panjang di antara musik yang terus mengalun lembut.
Kalimat-kalimat itu menancap dalam pikiran Tamara, dan entah kenapa terdengar seperti ancaman yang membuatnya langsung waspada.
...
Setelah dari tempat spa.
Pikiran-pikiran itu terus mengusiknya, sampai terbawa dalam perjalanan pulang.
Saat itu, cahaya matahari masih terang, kilaunya memantul pada aspal dan badan kendaraan-kendaraan yang berlalu lalang di jalanan kota.
Tamara duduk tenang di balik setir. Sedan mewah itu melaju mulus, stabil, tapi tidak dengan isi pikirannya.
Tiba-tiba gelisah. Tiba-tiba teringat Arvin.
Apalagi ketika teringat potongan ingatan, tentang dirinya yang sering mengabaikan laki-laki itu.
Hal itu membuat hatinya sedikit melunak, seolah memunculkan kesadaran baru.
Apa aku udah keterlaluan ya? batinnya.
"Kalau dia nyerah? Apa itu artinya dia bakal ninggalin aku?" bisiknya.
Ia berpikir cukup lama. Mencoba membayangkan hal itu, tapi kaget sendiri, karena merasa tak sanggup.
"Kok aku jadi takut ya, kalau tiba-tiba dia nyerah... dan mutusin buat pergi." Ia terus bergumam sendiri.
Hingga pandangannya tersadar ketika tepat di depannya, dari arah kanan, sebuah mobil tiba-tiba memasuki jalur yang sama terlalu cepat.
Refleks.
Tamara langsung membanting setir ke sisi kiri jalan untuk menghindar, dan...
BRAAKK!!
Mobil tersentak kuat, bersamaan dengan dentuman keras yang terdengar menghantam.
BERSAMBUNG...
Wah kira-kira apa yang terjadi dengan Tata nih?
Mohon doanya ya biar Tata nggak kenapa-napa... 😌
arvin godaanmu sampai ke hatiku🤣
. yg lagi mahal sekarang🥺