"Dia mencintaiku untuk sebuah taruhan. Aku menghancurkannya untuk sebuah keadilan."
Kirana percaya bahwa Arka Mahendra adalah pelabuhan terakhirnya. Di pelukan pria itu, ia merasa aman, hingga sebuah malam di pesta megah mengoyak dunianya. Di balik tawa mahal dan denting gelas sampanye, Kirana mendengar kenyataan pahit, cintanya hanyalah sebuah objek taruhan, dan harga dirinya hanyalah alat untuk memenangkan kontrak bisnis keluarga Mahendra.
Dikhianati, dipermalukan, dan dibuang hingga ke titik nol tak membuat Kirana menyerah. Ia menghilang, mengubur gadis naif yang penuh cinta, dan terlahir kembali sebagai wanita sedingin es yang haus akan pembalasan.
Tiga tahun kemudian, ia kembali. Bukan untuk memohon maaf, tapi untuk mengambil setiap keping kekayaan, kehormatan, dan kewarasan pria yang telah menghancurkannya.
Selamat datang di Cerita Kirana, di mana cinta adalah racun dan pengkhianatan adalah senjatanya.
By: Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Deru mesin kapal cepat membelah ombak Laut Jawa dengan beringas, seirama dengan detak jantung Kirana yang terasa pecah. Di dalam kabin VIP yang kedap suara, Kirana hanya menatap pantulan dirinya di kaca jendela yang gelap. Gaunnya kusut, rambutnya berantakan, dan matanya kehilangan binar yang dulu membuat dewan direksi gemetar. Di sampingnya, Arka duduk seperti patung perunggu, dingin, kokoh, dan tak terjangkau.
Arka tidak mengucapkan satu patah kata pun sejak mereka meninggalkan motel apek itu. Ia hanya memberikan instruksi singkat melalui earpiece-nya kepada Dion. Namun, setiap kali kapal itu menghantam ombak besar, tangan Arka secara refleks bergerak ingin menahan bahu Kirana agar tidak terbentur, sebelum akhirnya ia menarik kembali tangannya saat menyadari tatapan benci yang dilayangkan wanita itu.
Setelah hampir satu jam perjalanan, sebuah daratan kecil muncul di cakrawala. Pulau Manjalika. Sebuah pulau pribadi yang tidak terdaftar di peta pariwisata mana pun. Di sana berdiri sebuah bangunan ultra-modern yang didominasi kaca dan baja, tampak seperti permata yang sengaja disembunyikan di tengah ganasnya samudera.
Begitu kaki Kirana memijak dermaga kayu, ia merasakan embusan angin laut yang asin. Namun, keindahan pemandangan tropis itu terasa seperti ejekan. Ia ditarik pelan oleh Arka melewati barisan pria berseragam taktis yang berdiri tegak dengan senjata laras panjang di pundak mereka.
"Selamat datang di satu-satunya tempat di dunia ini di mana kau tidak bisa dihancurkan, Kirana," ujar Arka datar.
Mereka naik ke lantai paling atas vila tersebut. Arka membimbingnya menuju balkon yang sangat luas, di mana langit senja yang kemerahan bertemu dengan garis laut yang tak berujung. Kirana melangkah ke pinggir pagar kaca, membiarkan angin kencang menerpa wajahnya.
"Kau membawaku ke sini untuk membungkamku, bukan?" tanya Kirana tanpa menoleh. Suaranya kering, seperti daun mati yang terinjak.
Arka mencoba mendekat, tangannya terulur ingin menyentuh bahu Kirana yang sedikit menggigil. Namun, sebelum ujung jarinya mendarat, Kirana tersentak menjauh seolah sentuhan Arka adalah bara api yang akan membakar sisa-sisa kewarasannya.
"Aku membawamu ke sini untuk melindungimu dari orang-orang Baskara, Kirana. Setelah rekaman itu sampai ke tanganmu, kau bukan lagi sekadar aset bagi mereka. Kau adalah ancaman yang harus dimusnahkan," Arka membela diri, meskipun matanya menunjukkan keletihan yang luar biasa.
"Atau kau melindungi dirimu sendiri dari kenyataan bahwa aku tahu ayahmu adalah seorang pembunuh?" Kirana berbalik, menatap Arka dengan mata yang kosong, tanpa nyawa. "Kau menghancurkan perusahaanku, merenggut martabatku di depan semua orang, dan sekarang kau ingin mengurungku di tengah laut agar aku tidak bisa bicara pada siapa pun. Kau tidak mencintaiku, Arka. Kau hanya ingin memiliki boneka yang tidak bisa melawan."
Arka terdiam. Rahangnya mengeras hingga tulang pipinya menonjol tajam. Ia menatap Kirana lama, seolah ingin meneriakkan kebenaran yang tidak bisa ia katakan. Tanpa sepatah kata pun, Arka berbalik, melangkah keluar dari kamar suite mewah itu, dan suara klik mekanis yang dingin bergema, ia mengunci pintu dari luar.
~~
Dua jam berlalu. Kirana hanya duduk di lantai balkon, memeluk lututnya di bawah sinar rembulan yang pucat. Ia tidak menyentuh fasilitas mewah yang ada di kamar itu. Baginya, setiap inci kain sutra dan furnitur desainer di sini adalah hasil dari darah ayahnya.
Tiba-tiba, panel kecil di bawah pintu kamar terbuka. Sebuah baki perak didorong masuk secara otomatis. Di atasnya terdapat sebuah mangkuk porselen berisi bubur hangat dengan taburan bawang putih goreng dan irisan jahe tipis, persis seperti yang selalu dimakan Kirana setiap kali ia merasa stres atau jatuh sakit saat mereka masih bermain cinta dulu.
Di samping mangkuk itu, ada sebuah buku tua. Judulnya The Count of Monte Cristo. Di dalamnya terselip sebuah catatan kecil dengan tulisan tangan Arka yang tegas namun sedikit miring.
"Aku tahu kau benci makanan mewah saat hatimu sedang hancur. Makanlah. Jahe itu untuk meredam mual akibat mabuk lautmu. Buku ini untuk menemanimu membenciku. Di dalamnya, sang protagonis belajar bahwa balas dendam butuh kesabaran. Aku memberimu izin untuk belajar darinya."
Kirana menatap bubur itu dengan perasaan mual yang bercampur dengan kehangatan yang menyakitkan. Arka tetaplah Arka. Pria itu menghancurkannya dengan satu tangan, namun berusaha menyuapinya dengan tangan yang lain. Romansa di antara mereka kini telah berubah menjadi sesuatu yang sangat dingin, seperti es yang mengiris kulit, menusuk namun membuat mati rasa.
Tengah malam, Kirana terbangun karena suara guntur yang menggelegar di kejauhan. Ia bangkit dan berjalan menuju dinding kaca yang menghadap ke arah kolam renang infinity di bawah sana. Melalui keremangan lampu taman, ia melihat sosok pria.
Arka.
Pria itu tidak mengenakan jas. Ia hanya memakai celana panjang hitam, berdiri di pinggir kolam tanpa baju atasan. Punggungnya yang bidang dipenuhi bekas luka memar dan goresan dari kejadian di gudang pelabuhan tempoh hari. Arka tidak berenang. Ia hanya berdiri menatap laut lepas, membiarkan air hujan mulai membasahi tubuhnya.
Dari lantai atas, Kirana bisa melihat bahu Arka yang gemetar. Bukan karena dingin, tapi karena tekanan yang ia tanggung sendiri. Arka mengeluarkan sebuah benda dari kantong celananya, itu adalah liontin perak milik Kirana yang sempat ia ambil. Arka mencium liontin itu lama, lalu menekannya ke keningnya dengan mata terpejam.
Adegan itu begitu intim dan menyayat hati. Kirana membeku di balik kaca. Ia melihat sisi lain dari penculiknya, seorang pria yang tampak sangat hancur dan kesepian di tengah kekuasaan yang ia rebut secara paksa. Untuk sesaat, kebencian Kirana sedikit goyah, namun segera ia tepis saat teringat rekaman suara ayah Arka.
Saat Kirana hendak kembali ke tempat tidur, lampu di vilanya tiba-tiba berkedip dan mati total. Hanya ada lampu darurat berwarna merah yang menyala redup, memberikan kesan mencekam seperti di dalam film horor.
Suara langkah kaki pelan terdengar di luar pintu. Bukan langkah sepatu Arka yang berat, melainkan langkah yang lebih ringan, namun sangat teratur.
Klik.
Pintu yang tadi terkunci secara elektronik kini terbuka perlahan. Seorang pria muda dengan seragam pelayan, namun dengan mata yang terlalu tajam untuk ukuran seorang pekerja biasa, masuk membawa sebotol air mineral.
"Nona Kirana," bisiknya dengan nada yang tidak asing.
Kirana waspada. "Siapa kau? Arka tidak membiarkan siapa pun masuk ke sini."
Pria itu meletakkan air mineral di meja, lalu secara kilat menyelipkan sebuah ponsel kecil ke tangan Kirana. "Saya orangnya Dion, tapi saya bekerja untuk sisi yang berbeda. Jangan percaya sepenuhnya pada Arka, tapi jangan juga menyerah pada Roy. Di dalam ponsel ini ada koordinat pelarian. Besok malam, saat air pasang, pergilah ke sisi timur pulau."
Pria itu segera keluar sebelum Kirana sempat bertanya lebih lanjut. Kirana menggenggam ponsel itu, merasakan adrenalin kembali mengalir di nadinya.
Di sisi lain pintu, di lorong gelap, Arka sebenarnya berdiri bersandar di dinding. Ia melihat pelayan itu keluar. Ia tahu pelayan itu menyelipkan sesuatu. Arka sengaja membiarkannya.
Arka menarik napas panjang, menatap pintu kamar Kirana yang kembali tertutup. "Berlarilah, Kirana. Berlarilah ke arah yang aku siapkan untukmu. Karena jika kau tetap di sini, kau hanya akan hancur bersamaku saat Baskara datang."
Arka berjalan menjauh, meninggalkan keheningan yang menyesakkan di pulau terlarang itu. Sebuah sangkar emas yang sengaja dibuat sedikit retak, agar sang burung bisa terbang menuju jebakan yang lebih aman.
...----------------...
Next Episode....