Agil membawa Laila tinggal di rumah besar Baskoro. Baskoro mulai menunjukkan ketertarikan yang tidak wajar pada Laila, melalui bantuan finansial yang menjerat.
Disaat Agil perlahan menemukan keganjalan, Baskoro bermain trik dengan...
Simak selengkapnya, hanya dalam novel berikut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makam Di Tepi Sunyi
Angin laut selatan bertiup kencang, membawa aroma garam dan lumut yang menusuk hidung. Mobil jip tua yang dikendarai Gito mendaki jalanan setapak yang rusak di pinggiran tebing curam kawasan pantai terpencil Jawa Barat. Di kursi belakang, Laila tampak pucat. Agil belum menceritakan seluruh kebenaran tentang ayahnya, namun Laila bisa merasakan bahwa perjalanan ini bukan sekadar pelarian.
"Kita hampir sampai, Pak," bisik Gito, matanya waspada menatap kaca spion. Sejak keluar dari perbatasan Jakarta, ia merasa ada tiga mobil hitam yang menjaga jarak cukup jauh di belakang mereka. Rina tidak melepaskan mereka; ia sedang menggiring mereka.
Agil menggenggam tangan Laila. "Laila, apa pun yang kita temukan di sana... ingatlah bahwa aku mencintaimu bukan karena siapa orang tuamu, tapi karena siapa dirimu."
Laila menatap Agil dengan bingung. "Mas, apa yang sebenarnya kita cari di tempat sesunyi ini?"
Agil tidak menjawab. Ia hanya menunjuk ke arah sebuah mercusuar tua yang sudah tidak berfungsi, berdiri tegak di atas bukit yang menjorok ke laut. Di bawah naungan mercusuar itu, terdapat sebuah area kecil yang dipenuhi semak belukar dan nisan-nisan tanpa nama.
Kebenaran yang Terkubur
Mereka turun dari mobil. Gito bersiaga dengan senjatanya, menjaga jalan masuk satu-satunya. Agil membimbing Laila berjalan menuju koordinat yang diberikan Baskoro. Di sana, di bawah sebuah pohon beringin yang miring karena hantaman angin laut, terdapat sebuah gundukan tanah dengan nisan kayu yang sudah lapuk.
Agil membersihkan semak belukar itu dengan tangannya. Saat tulisan di nisan itu mulai terlihat, Laila lari mendekat. Ia jatuh berlutut, nafasnya tercekat.
“Surya Atmadja – Wafat 1998”
"Ini... ini nama ayahku," isak Laila. "Tapi... ibu bilang ayah meninggal di tempat kerja dan jenazahnya dikremasi oleh perusahaan karena kecelakaan kimia. Kenapa dia ada di sini? Di tempat terpencil ini?"
Agil berlutut di samping Laila, merangkul bahunya yang bergetar. "Dia tidak meninggal karena kecelakaan, Laila. Dia dibunuh. Dan orang yang memerintahkannya... adalah ibuku, Rina."
Dunia seolah berhenti berputar bagi Laila. Ia menoleh ke arah Agil dengan tatapan tak percaya yang mengerikan. "Apa kamu bilang? Mama Rina? Wanita yang selalu mengirimkan uang sekolahku? Wanita yang menjodohkan kita?"
"Dia melakukannya bukan karena kasihan, Laila," suara Agil pecah. "Dia melakukannya untuk mengontrolmu. Dia membunuh ayahmu karena ayahmu punya bukti kejahatan intelijennya. Dia menjodohkan kita agar dia bisa memastikan rahasia itu tetap terkunci di dalam keluarga kita. Dia menggunakan aku... dan dia menggunakanmu."
Perangkap Sang Predator
Tiba-tiba, suara tepuk tangan terdengar dari arah balik mercusuar.
Rina muncul, mengenakan jaket trench coat panjang dan sepatu bot kulit yang elegan, sangat kontras dengan lingkungan sekitarnya yang liar. Di belakangnya, selusin personel pasukan khusus bersenjata lengkap keluar dari balik pepohonan, mengepung mereka dalam lingkaran yang rapat. Gito terpaksa menurunkan senjatanya saat tiga laser merah membidik dadanya.
"Anakku sayang," Rina berkata dengan nada yang hampir seperti pujian. "Kau memang cerdas. Kau berhasil menemukan tempat ini. Ayahmu memang selalu lemah jika menyangkut nostalgia, dia tidak pernah tega menghancurkan foto itu."
"Mama adalah iblis," Agil berdiri, melindungi Laila di belakang tubuhnya.
"Iblis?" Rina tertawa pelan. "Aku adalah realita, Agil. Aku adalah orang yang memastikan kau punya makanan di meja dan kekuasaan di tanganmu. Ayah Laila adalah seorang idealis yang bodoh. Dia ingin menghancurkan struktur yang memberimu makan. Jadi, aku menyingkirkannya. Itu bukan kejahatan, itu adalah pembersihan."
Laila berdiri, matanya yang tadi penuh air mata kini berubah menjadi bara kemarahan. "Anda membunuh ayahku... dan Anda membiarkan suamimu sendiri melecehkanku selama tiga bulan hanya untuk menyingkirkannya? Anda mengorbankan martabatku demi aset perusahaan?"
Rina menatap Laila dengan dingin. "Jangan terlalu dramatis, Laila. Kau seharusnya berterima kasih. Tanpa aku, kau mungkin sudah mati kelaparan di pinggir jalan bersama ibumu yang penyakitan itu. Aku memberimu kehidupan yang layak sebagai istri anakku. Mengenai Baskoro... itu adalah ujian. Dan kau berhasil melaluinya, kan? Kau membuat Baskoro cukup ceroboh sampai dia bisa kupenjarakan."
Langkah Terakhir Agil
Agil merogoh saku jaketnya. Ia mengeluarkan pemantik api Zippo dan sebuah botol kecil berisi cairan kimia yang sangat korosif.
"Mama mengira Mama sudah menang karena punya pasukan," ucap Agil. "Tapi Mama lupa satu hal. Aku membawa kunci brankas fisik dari Bank Swiss itu."
Agil mengangkat kunci perak kecil yang ia dapatkan dari buku Surya Wijaya. "Di dalam brankas itu bukan hanya dokumen Project Cendrawasih. Tapi ada rekaman suara asli Mama saat memerintahkan eksekusi Surya Atmadja. Papa menyimpannya sebagai jaminan jika suatu saat Mama mencoba membunuhnya."
Wajah Rina sedikit berubah. "Berikan kunci itu padaku, Agil. Jangan memaksa Ibu melakukan hal yang akan aku sesali."
"Jika Mama memerintahkan mereka menembak, aku akan menjatuhkan kunci ini ke dalam botol asam ini," Agil mendekatkan kunci itu ke mulut botol. "Kunci ini terbuat dari logam khusus yang akan hancur seketika jika terkena cairan ini. Tanpa kunci ini, brankas di Swiss tidak akan pernah bisa dibuka, bahkan dengan bor sekalipun. Dan Mama akan selamanya hidup dalam ketakutan bahwa suatu hari, pihak bank akan menyerahkan isinya ke otoritas internasional jika Mama tidak bisa melakukan verifikasi tahunan."
Rina mengepalkan tangannya. Ia tahu Agil tidak sedang menggertak. Agil adalah darah dagingnya; ia tahu persis betapa keras kepalanya anaknya itu.
Konfrontasi Berdarah
"Tembak kakinya!" perintah Rina tiba-tiba pada penembak jitu.
DOR!
Peluru mengenai tanah tepat di depan kaki Agil. Agil tidak bergeming.
"Tembak lagi, dan kunci ini masuk ke dalam asam!" teriak Agil.
Namun, Laila melakukan sesuatu yang tak terduga. Di tengah ketegangan itu, ia berlari ke arah Rina. Ia tidak membawa senjata, ia hanya membawa amarah murni. "Bunuh aku sekalian! Bunuh aku seperti Anda membunuh ayahku!"
Kekacauan pecah. Salah satu penjaga mencoba menghalangi Laila, namun Laila berhasil merampas pisau kecil dari sabuk penjaga tersebut dan mengayunkannya ke arah Rina. Rina menghindar, namun pipinya tergores, mengeluarkan darah segar.
"Laila, jangan!" Agil berteriak.
Rina menyentuh pipinya yang terluka. Matanya berkilat dengan kegilaan yang mengerikan. "Habisi mereka semua. Sekarang."
Saat pasukan khusus itu bersiap menarik pelatuk, suara gemuruh mesin helikopter terdengar dari arah laut. Sebuah helikopter dengan logo kepolisian internasional (Interpol) dan unit pemberantasan korupsi independen muncul.
Ternyata, Agil tidak hanya membawa kunci ke tempat ini. Melalui Gito, ia telah mengirimkan koordinat GPS mereka ke jaksa jujur yang ia temui sebelumnya, dengan pesan bahwa ini adalah lokasi eksekusi massal saksi kunci korupsi Baskoro Group.
"Letakkan senjata kalian! Ini adalah wilayah hukum federal!" suara dari pengeras suara helikopter menggema.
Abu yang Tersisa
Rina menyadari bahwa waktunya sudah habis. Ia menatap Agil untuk terakhir kalinya—sebuah tatapan yang penuh dengan kebencian dan pengakuan atas kecerdasan anaknya. Ia tidak menunggu ditangkap. Rina berlari menuju pinggir tebing.
"Mama! Jangan!" Agil mencoba mengejar.
Namun Rina tidak melompat. Ia justru berbalik dan melepaskan sebuah tembakan ke arah botol asam di tangan Agil.
PRANG!
Botol itu pecah, cairan asamnya mengenai tangan Agil dan kunci tersebut. Agil menjerit kesakitan saat kulitnya mulai melepuh, dan kunci perak itu mulai berasap, meleleh menjadi gumpalan logam yang tak berguna.
"Jika aku tidak bisa memegang rahasia itu, maka tidak ada yang boleh memegangnya!" teriak Rina sebelum ia menghilang di balik kerumunan pasukannya yang mulai menyerah pada polisi yang turun dari helikopter.
Agil terjatuh di atas rumput, memegang tangannya yang terbakar. Laila segera menghampirinya, merobek kain bajunya untuk membalut luka Agil.
"Kuncinya hancur, Laila... rahasianya hilang..." bisik Agil dengan napas tersenggal.
Laila menatap makam ayahnya, lalu menatap Agil. "Biarkan saja, Mas. Biarkan rahasia itu hancur bersama mereka. Kita tidak butuh kertas-kertas itu untuk tahu bahwa kita telah merdeka."
Di tengah kerumunan polisi dan garis polisi yang mulai dipasang, Agil dan Laila duduk berdampingan di depan makam Surya Atmadja. Mereka telah kehilangan segalanya—harta, keluarga, dan identitas lama mereka. Namun di bawah langit selatan yang mulai menggelap, mereka akhirnya menemukan sesuatu yang tidak pernah bisa diberikan oleh Baskoro maupun Rina: Kedamaian yang jujur.
Namun, di balik semak-semak yang jauh, sebuah bayangan terlihat melarikan diri menggunakan perahu cepat yang sudah menunggu di bawah tebing. Rina belum berakhir. Ia mungkin kehilangan asetnya, tapi ia masih memiliki nyawanya, dan ia adalah tipe wanita yang akan selalu merencanakan pembalasan, berapa pun lama waktunya.