NovelToon NovelToon
ISTRI BERCADAR MAFIA

ISTRI BERCADAR MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Saniaa96

ISTRI BERCADAR MAFIA

​Jakarta. Di bawah guyuran hujan yang meradang.
​Di dalam dinding mansion mewah bergaya Eropa, takdir dua dunia yang bertolak belakang baru saja disatukan oleh paksaan dan ancaman. Ini bukan kisah cinta, melainkan kisah pengorbanan di ujung moncong pistol.

​Alaska Ravendra. Nama itu adalah sinonim dari kekuasaan, kegelapan, dan kekejaman. Sebagai pemimpin Black Vipers, kelompok mafia yang paling ditakuti di Asia Tenggara, ia hidup dalam hukumnya sendiri, yang kuat memakan yang lemah. Di tangan dinginnya, pistol Beretta perak hanyalah mainan, dan nyawa manusia adalah alat tawar menawar.

​Di hadapannya berdiri Sania Humairah, seorang gadis sederhana yang jiwanya berhias iman dan raga terbungkus cadar hitam—simbol dari kehormatan yang ia jaga melebihi nyawanya.

Sania dipaksa menjadi "bayaran" atas hutang ayahnya kepada Alaska.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saniaa96, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ISTRI BERCADAR MAFIA

​Bab 19: Fajar Berdarah dan Ujian Iman.

​Kegelapan masih menyelimuti lereng perbukitan saat jarum jam menunjukkan pukul 04.00 pagi. Di dalam The Fortress, udara terasa statis. Alaska berdiri di depan cermin besar, mengenakan rompi antipeluru di bawah kemeja hitam taktisnya. Bahu kirinya berdenyut nyeri, namun amarahnya telah membeku menjadi tekad untuk memusnahkan Dante.

​Sebelum melangkah keluar, Alaska berhenti di depan pintu kamar Sania. Ia membukanya sedikit. Di bawah temaram lampu, ia melihat Sania tertidur dengan cadar kain hitamnya masih terikat sempurna—wanita itu bahkan tidak pernah melepaskan penutup wajahnya saat tidur di tempat asing ini, seolah itu adalah benteng terakhir harga dirinya.

​"Tetaplah di dalam doamu, Sania," bisik Alaska. "Karena tanganku akan terlalu kotor untuk menyentuhmu setelah fajar ini."

​Ia mengunci pintu secara elektronik dan meninggalkan sepuluh pengawal terbaik dengan perintah mutlak: Jangan biarkan siapa pun masuk.

​Serangan Fajar: Neraka di Dermaga.

​Alaska meluncur ke dermaga tua milik Dante. Ledakan granat peluncur menghancurkan gerbang baja, mengawali pembantaian subuh itu. Alaska bergerak seperti mesin pembunuh, namun ia tidak menyadari bahwa Dante telah menyiapkan jebakan. Di ruang kontrol, Dante menatap layar GPS yang mengarah balik ke The Fortress.

​"Masuk sekarang," perintah Dante pada Marco, pembunuh bayarannya. "Bawa wanita bercadar itu kepadaku."

​Penyusup di Sangkar Emas.

​Di dalam bunker, Sania terbangun saat sistem listrik mendadak mati. Lampu darurat berwarna merah redup menyala, menciptakan suasana mencekam. Ia merasakan udara di ventilasi berbau manis yang mencekik—gas tidur.

​Sania segera bertindak. Ia menarik kain cadarnya yang sempat sedikit longgar saat tidur, mengencangkan ikatannya di belakang kepala, dan melapisinya dengan kain basah dari sisa air minumnya. Baginya, cadar itu bukan sekadar pakaian, melainkan pelindung identitas di tengah kepungan serigala.

​Brak!

​Pintu kamar hancur. Marco, dengan masker gas dan pistol peredam, melangkah masuk.

"Aku tahu kau di sini, Cantik. Jangan mempersulit keadaan."

​Sania bersembunyi di balik bayangan lemari. Saat Marco mendekati tempat tidur, Sania keluar dan menghantamkan vas kristal ke kepala belakang pria itu.

PRANGG!

Marco terhuyung, namun amarahnya bangkit. Ia mencengkeram leher Sania dan menghempaskannya ke lantai.

​"Jalang kecil!" geram Marco.

Saat ia hendak memborgol tangan Sania, tangan Sania yang gemetar meraih pecahan kristal dan menusukkannya ke paha Marco. Sania bangkit dan berlari keluar menuju koridor gelap, jemarinya mencengkeram erat pinggiran cadarnya agar tidak tersingkap di tengah kekacauan itu.

​Duel di Dermaga.

​Di dermaga, Alaska telah menyudutkan Dante. Namun, Dante tertawa sambil menunjukkan ponselnya. Di layar itu, terlihat Marco sedang menyudutkan Sania di sebuah lorong buntu di dalam benteng Alaska.

​"Letakkan senjatamu, atau kau akan menjemput mayat istrimu," ancam Dante.

​Alaska terpaku. Melalui layar, ia melihat Sania terpojok. Meski tubuhnya gemetar, tatapan mata Sania di balik celah cadarnya tidak menunjukkan ketakutan. Mata itu bersinar dengan keyakinan yang menghancurkan nyali Marco. Sania memegang tasbihnya erat-erat, bibirnya bergerak di balik kain hitam itu, melantunkan doa yang tenang.

​Keajaiban di Lorong Buntu.

​"Berdoa saja sepuasmu," ejek Marco sambil menodongkan pistol ke dahi Sania yang tertutup kain.

​"Kematian hanyalah pintu untuk bertemu dengan Sang Pencipta," suara Sania terdengar jernih dari balik cadarnya. "Tapi apakah kau siap mempertanggungjawabkan nyawaku di hadapan-Nya?"

​Keraguan sekejap muncul di mata Marco. Detik itu juga, sistem Self-Defense Override aktif. Sebuah turet senapan otomatis keluar dari plafon, mengunci suhu tubuh Marco.

​RAT-TAT-TAT-TAT!

​Marco tewas seketika. Sania jatuh terduduk, napasnya tersengal di balik kain cadarnya yang basah, namun ia selamat.

​Akhir dari Sang Pengkhianat.

​Alaska yang melihat kemenangan itu melalui layar segera melumpuhkan Dante. Ia menembak kedua tangan Dante dan menghantamnya hingga hancur.

"Kau tidak akan pernah menyentuhnya lagi!"

​Setelah memastikan Dante diamankan untuk disiksa lebih lanjut, Alaska langsung memacu mobilnya kembali ke perbukitan.

​Kepulangan sang Monster.

​Saat Alaska sampai, ia menemukan Sania duduk di lantai koridor dikelilingi tim medis. Meski pakaiannya kotor dan berdebu, cadar hitamnya masih melekat erat menutupi wajahnya, seolah badai sebesar apa pun tak mampu menanggalkan prinsipnya.

​Alaska berhenti beberapa langkah di depannya. Ia melihat tangan Sania yang masih menggenggam tasbih dengan buku jari memutih.

​"Kau terluka," suara Alaska serak.

​Sania berdiri perlahan, matanya menatap Alaska dari balik cadar dengan ketenangan yang menghujam jiwa.

"Anda kembali," bisik Sania.

​"Aku selalu kembali untuk mengambil apa yang milikku," jawab Alaska, suaranya pecah.

​Sania mendekat, menyentuh lengan Alaska yang bersimbah darah.

"Tuan, Anda menyelamatkan saya lagi. Tapi hari ini Anda melihat, bahwa ada kekuatan yang lebih besar yang menjaga kita berdua."

​Alaska hanya terdiam. Di bawah cahaya fajar, ia menyadari bahwa meski ia mengurung Sania di dalam benteng baja, wanita ini memiliki "benteng" sendiri di balik cadar dan imannya—sebuah tempat yang tak akan pernah bisa ia kuasai sepenuhnya.

​__Kehormatan seorang wanita bukan terletak pada apa yang ia perlihatkan, melainkan pada apa yang ia jaga dengan nyawanya. Penjara sejati bukanlah tembok yang tinggi, melainkan jiwa yang kehilangan pegangan. Dan di balik selembar kain yang tipis, terkadang tersimpan kekuatan yang lebih besar daripada seribu peluru__

Bersambung ....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!