Lembayung Senja, namanya begitu indah, namun, tak seindah nasib hidupnya.
Pernikahannya bahagia, tapi rusak setelah seorang wanita hadir diantara dirinya dan sang suami.
Fitnah yang kejam menghampirinya, hingga ia harus berakhir di penjara dengan tuduhan membunuh suaminya sendiri pada malam pertengkaran terakhir mereka.
Kelahiran bayi yang seharusnya menjadi hadiah pernikahannya bersama Restu Singgih suaminya, justru harus di warnai tangis nestapa, karena Lembayung melahirkan bayinya di balik jeruji penjara. Dua puluh tahun berlalu, Lembayung mendekam di penjara atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan.
Setelah bebas, Albiru justru berkata bahwa ia malu memiliki Ibu seorang mantan narapidana.
Akankah Lembayung menemukan kembali kabahagiannya setelah sekian lama menanggung derita tanpa berbuat dosa? Bagaimana Lembayung memperbaiki hubungan dengan Biru yang kini telah sukses? Pembalasan apa yang akan Lembayung lakukan pada orang-orang yang telah mengkhianatinya dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kelas Madam Gi
#18
“Baik, kita mulai kelasnya, ya?” Giana mulai membuka spidol white board.
Wanita itu benar-benar memulai pelajarannya dari tahapan yang paling mendasar, yakni tentang dasar-dasar membuat desain pakaian. Nantinya dasar-dasar tersebut mencakup banyak elemen desain, yaitu garis, bentuk, warna, dan tekstur kain.
Garis, meliputi arah, membagi bentuk, dan menciptakan ilusi, (garis vertikal untuk meninggikan, garis horizontal untuk melebarkan). Bentuk, meliputi dasar pakaian dan detail hiasannya.
Warna, untuk membangkitkan emosi, menyampaikan pesan, serta menciptakan fokus. Tekstur, meliputi karakteristik permukaan kain, yang akan mempengaruhi tampilan dan kenyamanan orang yang mengenakannya.
Kelas yang dirasa luar biasa bagi Ayu, karena lagi-lagi, ia mempelajari pengalaman baru serta materinya yang benar-benar baru. Selain itu Bu Giana juga menyampaikan materinya dengan bahasa yang mudah dipahami para peserta yang mengikuti kelasnya.
Hingga sesi kelas berakhir, rasanya Ayu masih belum puas menikmati pelajarannya, wanita itu pun mendekati sang pemberi materi. “Bu Giana, terima kasih atas pelajarannya. Saya tak menyangka bisa menimba ilmu secara langsung dari seorang desainer pakaian kenamaan dari ibu kota.”
Senyum bahagia pun terpancar dari wajah Giana, “Senang juga bisa berbagi ilmu,” jawab Giana santun dalam kesederhanaan. “Sampai jumpa minggu depan, Bu—”
“Ayu,” sambung Ayu, tak lupa mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Giana. “Lembayung Senja.”
Senyum Giana memudar sesaat, kala mendengar Ayu menyebutkan nama lengkapnya. Tapi momen itu hanya sesaat, karena setelah itu Giana pamit pergi untuk urusan selanjutnya.
Setelah Giana pergi, Ayu pun kembali ke selnya.
“Ayu, ini sertifikatmu,” kata Bu Kepala lapas yang sengaja memanggil Ayu untuk memberikan sertifikat keahlian yang Ayu kuasai. Kali ini sertifikasi lulus ujian sebagai petani hidroponik, dengan memanfaatkan limbah botol plastik bekas minuman ringan.
“Selamat, ya.”
“Terima kasih, Bu Kepala,” ucap Ayu haru.
Ibu kepala pun turut bahagia karena dalam 5 tahun perjalanannya, Ayu telah bertransformasi menjadi sosok orang baru. Meski hanya mendengar cerita masa-masa awal Ayu menjadi napi, tapi Ibu Kepala ikut bahagia melihat perubahan dalam diri Ayu.
“Ayu, nanti sore jangan lupa, kita panen sayuran,” kata salah seorang rekan Ayu di rumah kaca khusus tanaman hidroponik, ketika mereka berpapasan.
Sayuran yang ditanam sepenuh hati, oleh para napi binaan yang tergabung dalam kelas pertanian, selanjutnya sayuran tersebut akan di borong pemasok, untuk di kemas serta di jual di supermarket.
“Iya, aku ingat, sebentar aku ke sel dulu.”
Ayu kembali ke sel guna meletakkan barang-barangnya, serta menjalankan kewajiban lima waktunya sebagai seorang hamba.
Ayu tak pernah melupakannya, karena saat berdoa ia bisa menumpahkan segala keluh kesah, serta berdoa agar selalu diberi kelapangan hati. Tak lupa pula Ayu menitipkan rasa rindunya pada putra tersayang yang hanya bisa ia bayangkan bagaimana rupa dan wajahnya saat ini.
Bukan Ismail dan Karmila enggan mengunjunginya di lapas, tapi Ayu memilih tidak menemui mereka. Karena takut akan semakin rindu bila terlanjur bertemu darah dagingnya sendiri. Lebih baik begini, tidak saling bertemu, karena Ayu bisa mengubur dalam-dalam rasa rindu di kalbu.
Tapi Ayu yakin, suatu hari nanti jika sudah bebas dari bui, ia pasti bisa mengenali anaknya sendiri.
•••
Minggu berikutnya, Ayu menanti kelas Bu Giana dengan tak sabar. Hatinya berdebar setiap kali membaca ulang ringkasan pelajaran yang disampaikan Bu Giana minggu sebelumnya.
“Selamat siang semua—”
“Selamat siang, Bu—” Dengan suara serempak, para murid di kelas Bu Giana menyahuti ucapan wanita itu, termasuk Ayu.
“Senang sekali rasanya bisa kembali mengajar di kelas ini,” ungkap Bu Giana dengan jujur. Walau sebenarnya ia melakukan pekerjaan ini secara cuma-cuma demi membantu sesama wanita, agar bisa terus berkarya di tengah keterbatasan kebebasan mereka.
Bu Giana mulai membuka buku catatan pribadinya sebelum memulai kelas, “Ada yang sudah coba praktek membuat desain pakaian?” tanya Bu Giana mengawali kelasnya.
Semua peserta terdiam, “Belum ada rupanya, baiklah hari ini kita akan mulai belajar membuat Desain pakaian yang simpel dan praktis.”
Bu Giana membagikan selembar kertas kosong pada para peserta, serta pensil yang sudah diserut sebelumnya. “Sekarang saya mau, kalian semua menggambar figur fashion secara proporsional. Dengan teknik garis yang sudah saya ajarkan minggu lalu, vertikal untuk meninggikan dan horizontal untuk melebarkan.”
Semua peserta mulai kasak-kusuk karena masih bingung memahami perintah Bu Giana. Tapi tidak demikian dengan Ayu, tangannya mulai bekerja, walau masih otodidak dan ala kadarnya. Ayu cukup membayangkan wajah putranya, sudah seperti apa sekarang bayi kecilnya? Tingginya berapa? Apakah sudah mulai sekolah?
Ah, semua pertanyaan itu tak pernah beroleh jawaban, karena Ayu memilih tidak mengetahui apa-apa, agar Biru tak perlu berkecil hati dengan ibunya yang seorang narapidana.
“Wah, mau membuat desain pakaian laki-laki?” tanya Bu Giana ketika melihat sketsa di kertas Ayu.
“Eh, iya, Bu,” jawab Ayu malu karena gambarnya masih ala kadarnya.
“Lebih tepatnya anak laki-laki, saya ingat anak saya, Bu.”
Sekali lagi, senyum Bu Giana memudar, namun, dengan cepat ia menguasai diri. “Anakmu pasti baik-baik saja.”
“Amin,” ucap Ayu dengan pandangan berkaca-kaca.
Ayu kembali melanjutkan desainnya, tak muluk-muluk, ia hanya ingin membuatkan Biru sepasang pakaian baru, dengan warna senada dengan namanya, biru. Pakaian indah untuk putranya pergi mengaji ke surau desa mereka.
Membayangkan Biru berlarian di jalan menuju surau, membuat dada Ayu bergetar. Ia yakin sepenuhnya pada Ismail dan Karmila, yang sudah pasti mendidik putranya dengan baik. Setiap berdoa tak lupa Ayu menyelipkan doa untuk kedua orang tua asuh putranya, agar mereka senantiasa sehat, serta dikarunia rezeki berlimpah.
•••
Bu Giana mengakhiri kelas hari ini, ia membawa semua desain amatir para murid-muridnya untuk di periksa di rumah, agar ia bisa menilai secara obyektif.
Asisten Bu Giana sudah menanti di ruang tunggu, “Saya sudah memastikannya, Bu,” lapor sang asisten.
“Jadi benar?”
“Iya, Bu. Dia adalah wanita itu.”
“Kasihan sekali, di usia muda sudah menanggung derita tanpa berbuat dosa,” gumam Bu Giana seraya meremas kertas berisi informasi tentang Ayu dan masa lalunya.
“Lalu, bagaimana selanjutnya, Bu?”
“Kita tunggu saja sambil berjalan, aku rasa Ayu bukan orang yang susah untuk diajari.”
Dua orang itu pun melangkah pergi meninggalkan lapas, “Lalu bagaimana dengan merk MiJa?”
“Biarkan saja, merk bajakan mana mungkin bisa menang bersaing dengan merk asli.” Dengan acuh, Bu Giana menjawab. Dirinya sama sekali tak resah dengan kenyataan bahwa merk dagangnya telah dibajak oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
“Sementara ini aku ingin fokus pada Ayu dulu.”
Bu Giana duduk di kursi belakang mobilnya, sementara kendaraan roda 4 itu melaju dengan kecepatan perlahan-lahan.
Tangannya terkepal erat, ketika tiba-tiba asistennya membahas MiJa Fashion. Ada rasa sakit, yang telah mengakar sekian lama meski Bu Giana telah berusaha mati-matian melupakan.
trims kak thor
Miranda mengutamakan cinta buta mungkinkah bakal cinta mati sama biru kita tunggu disebelah