Sophia lahir dari keluarga sederhana di pinggiran kota London. Hidupnya tak pernah berlebih, namun penuh kehangatan dari kedua orang tuanya. Hingga suatu hari, datang tawaran yang tampak seperti sebuah pertolongan—keluarga kaya raya, Mr. Rich Charter, menjanjikan masa depan dan kestabilan finansial bagi keluarganya. Namun di balik kebaikan itu, tersimpan jebakan yang tak terduga.
Tanpa sepengetahuan Sophia, orang tuanya diminta menandatangani sebuah dokumen yang mereka kira hanyalah kontrak kerja sama. Padahal, di balik lembaran kertas itu tersembunyi perjanjian gelap. Yakni, pernikahan antara Sophia dan putra tunggal keluarga Charter.
Hari ketika Sophia menandatangani kertas tersebut, hidup Sophia berubah selamanya. Ia bukan lagi gadis bebas yang bermimpi menjadi pelukis. Ia kini terikat pada seorang pria dingin dan penuh misteri, Bill Erthan Charter—pewaris tunggal yang menganggap pernikahan itu hanya permainan kekuasaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERNYATAAN MENYAKITKAN BILL
Aku, Bill Erthan Charter, dengan ini menyatakan bahwa setelah pernikahan berlangsung, aku dan Sophia tidak akan tidur satu kamar, tidak akan tinggal dalam ruang pribadi yang sama, tidak ada larangan bagi keduanya untuk pergi ke mana pun, kapan pun, dan dengan siapa pun tanpa kecuali. Pernyataan ini aku buat dengan kesadaran penuh dan tanpa paksaan dari pihak mana pun, dan akan berlaku hingga aku mengeluarkan pernyataan tertulis lainnya.
Begitu selembar kertas resmi yang sudah distempel dan ditandatangani. Tulisan Bill rapi namun tekanannya kuat, setiap huruf seolah menegaskan bahwa keputusan itu tidak bisa diganggu gugat. Maka setelah membaca semua isinya, saat itu juga Sophia menandatangani lembaran tersebut. Gerakannya cepat—namun tetap anggun—dan saat tinta huruf terakhir menempel di kertas, seolah seluruh ruangan langsung mengeras dalam keheningan yang tak bisa dijelaskan.
Bill mengamati dari seberang meja. Tanpa senyum. Tanpa komentar.
Sophia lalu meletakkan bolpoinnya kembali. “Sudah,” Ucapnya lirih. Namun suaranya jelas. Sejelas garis tanda tangannya yang kini sejajar dengan milik Bill.
Bill kembali mengambil surat itu, memeriksanya sekilas. Hanya satu detik, namun cukup untuk menunjukkan bahwa ia ingin memastikan semuanya resmi, final, dan mengikat. "Oke. Bagus. Jadi sekarang kau mengerti apa yang harus kau lakukan?"
Sophia membisu. Detik berikutnya, ia hanya mengangguk tanpa suara. Udara di antara mereka menegang, seperti tali halus yang ditarik terlalu kencang.
“Mulai hari ini, tidak ada yang perlu kamu khawatirkan dariku. Semua yang ingin kamu jaga… sudah aku jaga dengan caraku.” Lanjut Bill sambil menepuk perlahan lembar surat yang kini sudah terlipat rapi—simbol dari batas yang baru saja mereka sepakati.
Sophia mendongak, menatapnya. “Tapi, bagaimana jika Ayahmu...”
“Ayahku tak berhak menentukan apa pun di antara kita." Potong Bill cepat. "Dan kalau sampai ia keberatan…” Ia berhenti sejenak, rahangnya mengeras. “…surat ini cukup menjadi bukti bahwa aku tidak tunduk pada permainannya. Aku bilang saja pernyataan ini dibuat bukan atas dasar permintaanku, tapi keinginanmu juga, Sophia!"
Keheningan kembali turun.
Hanya kali ini, berbeda—lebih berat, lebih gelap, namun juga lebih jujur. Sophia menelan saliva. Ia tak bisa
Sophia menelan saliva. Ia tak bisa menutupi getaran kecil di dadanya. Ada sesuatu dalam cara Bill mengucapkan namanya—bukan marah, bukan kecewa—tetapi seolah ia akhirnya mengakui sesuatu yang sudah lama ia ketahui namun terus ia abaikan.
“Bill…” Suaranya pecah pelan, nyaris seperti bisikan yang tidak ia rencanakan.
Namun kelanjutan kata itu tersangkut di tenggorokan. Ia tidak tahu apakah ia hendak meminta maaf, mengucapkan terima kasih, atau sekadar menjelaskan perasaan yang juga tak mampu ia pahami.
"Tidak ada bantahan, Nona Sophia yang terhormat!" Bantah Bill cepat. "Kau sudah menandatangani pernyataan ini."
Sophia terdiam, napasnya terhenti sesaat.
Untuk pertama kalinya, ia merasa posisi mereka sejajar. Bukan sebagai calon pengantin yang dipaksa keadaan, tetapi sebagai dua manusia yang salah satunya memilih batas untuk melindungi, dan yang satunya memilih batas untuk terpaksa bertahan sebelum menemukan cara bagaimana ia harus keluar dari sangkar ini.
Kemudian, Bill beranjak. Gerakannya tenang, tapi ada sesuatu yang tertahan di bahunya—seakan ia masih membawa sisa emosi yang tidak sempat ia keluarkan. Ia memutar tubuhnya, lalu melangkah perlahan menuju Pintu.
Saat mencapai ambang, langkahnya terhenti.
Keheningan ruang itu seperti membeku, menunggu apa pun yang masih tersisa di pikirannya.
“Tidak ada benturan ego,” Ucap Bill tanpa menoleh, suaranya rendah namun jelas, seolah ia sedang menegaskan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar pernyataan tadi.
Ia menoleh sedikit, cukup untuk membuat setengah wajahnya terlihat. Sorot matanya bukan marah, bukan dingin—melainkan sesuatu yang sulit ditafsirkan. Campuran dari peringatan, kejujuran… dan mungkin sedikit kepedihan. “Jadi kau harus siap dengan apa pun yang terjadi.” Sambungnya. Kali ini suaranya lebih berat, seolah setiap kata menahan sesuatu yang tidak ingin ia akui.
Lalu, tiba-tiba Bill tertawa kecil—pendek, tipis, dan sama sekali tidak mengandung keriangan. Lebih mirip tawa yang muncul dari ironi hidup yang sudah terlalu sering ia hadapi. Tanpa menunggu respons Sophia, ia menarik pintu, dan menutupnya.
****