Andrian adalah seorang mahasiswa yang menjalani pekerjaan freelance sebagai fotografer. Sejak kapan semuanya dimulai, tidak ada yang benar-benar tahu. Kini, ia menjual jasa foto jalan-jalan yang tengah populer di kalangan anak muda.
Ia memotret siapa saja yang ingin terlihat cantik di depan kamera. Mereka tersenyum, dan ia.. di balik lensa.. tersenyum lebih lama.
Setiap jepretan membuat sesuatu di dalam dirinya bergetar. Bukan karena hasilnya ,melainkan karena sesuatu yang hanya ia pahami sendiri. Dua folder tersimpan di komputernya: satu untuk dunia, satu untuk dirinya.
[Jika kamu sudah membaca, tinggalkan Like & komentar kamu sebagai bentuk penghargaan untuk penulis.]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meongming, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 : Lukisan dalam obsesi
Tiga puluh menit sudah berlalu. Para mahasiswa tenggelam dalam lukisan mereka, fokus penuh pada goresan cat masing-masing. Dosen seni mulai berkeliling, mengamati satu per satu. Setiap kali ia melewati lukisan mahasiswa, ia hanya mengangguk pelan, terlihat puas semuanya normal dan mudah dipahami.
Namun, langkahnya terhenti saat ia tiba di belakang Adrian. Dosen seni itu berdiri diam cukup lama, matanya menatap detail lukisan Adrian dengan cermat. Satu tubuh, dua kepala, dua ekspresi—sesuatu yang tidak bisa ia pahami sepenuhnya, sekaligus mengganggu instingnya.
“Adrian, lukisanmu menarik. Bisa jelaskan apa maknanya?” Nada suaranya terdengar wibawa, sekaligus penuh rasa ingin tahu.
Adrian berhenti mengoles cat, menatap kanvasnya sebentar, lalu menjawab dengan tenang, “Ini hanya sesuatu dalam imajinasi saya, Pak. Sangat kuat sehingga saya melukisnya begitu saja… tidak ada makna khusus.” Ia tersenyum santai, seperti biasa.
“Tidak ada makna sama sekali?”
“Iya… tidak ada,” jawab Adrian singkat.
Dosen seni itu terdiam sejenak, menatapnya dengan mata yang seolah menangkap sesuatu yang sulit dijelaskan. Namun ia tidak berani membahasnya lebih jauh. Ia mengangguk pelan, “Iya… kamu memang punya imajinasi yang tinggi.” Senyumnya tipis, kemudian ia berbalik untuk mengecek lukisan mahasiswa lain.
Adrian tetap terdiam, matanya menatap punggung dosen itu. Tatapan dan ekspresi yang baru saja ia lihat di wajah dosen tadi, entah kenapa, menganggu ketenangannya.
Setelah kelas seni selesai, semua mahasiswa diperbolehkan membawa hasil karya mereka. Adrian berjalan keluar, membawa kanvasnya, diikuti Riko yang mengejarnya.
“Bro, tunggu dong!”
Adrian menoleh dan berhenti. Rio menyusul, kini berjalan beriringan dengan Adrian menuju kantin untuk ngopi. Matanya melirik kanvas yang dibawa Adrian.
“Lu ngelukis apa? lihat nih, gue ngelukis asbak,” katanya sambil tertawa ngakak.
“Apa nggak ada hal lain selain asbak di pikiran lu?” tanya Adrian, setengah basa-basi.
“Haha, ada sih, tapi gue pengen cepat aja. Btw , lihat punya lu dong”
Adrian menyerahkan kanvasnya. Rio menatapnya, sedikit kagum, sedikit terkejut. Ia tahu Adrian memang punya selera unik.
“Lu ngelukis apaan sih? Gue sampe bingung mendeskripsikannya,” kata Rio.
“Ngelukis orang mati,” jawab Adrian datar, tanpa ekspresi.
Rio menoleh, diam sebentar, lalu tertawa terbahak-bahak, “Sinting lu… ada-ada aja,” katanya sambil merangkul bahu Adrian. Mereka terus berjalan ke arah kantin.
Mereka sampai di kantin dan memesan kopi. Rio duduk di seberang Adrian, menatap kanvasnya sebentar sebelum menyeruput kopi.
“Eh, ngomong-ngomong… kasus anak Desain, si Dita, katanya dihentikan sementara ya?” Rio mulai membuka topik dengan santai, “Lu masih sering ditanyain polisi nggak sekarang?”
Adrian mengangkat bahu, suaranya datar.
“Gak. Hanya pas waktu itu aja.”
Rio meneguk kopinya, lalu mencondongkan badan sedikit., "Sebenernya… gue aga curiga si Dita tewas karena dibunuh.” bisiknya.
Adrian hanya diam, matanya menatap Rio dengan tenang. Ia mendengarkan setiap kata, tapi tak menunjukkan reaksi. Rio terus berbicara, melemparkan spekulasi dan teori tentang kasus Dita, sementara Adrian hanya duduk diam, menelan kata-kata itu dengan tatapan yang tak bisa ditebak.
Di dalam diamnya, ada sesuatu yang berbeda. Adrian bukan hanya mendengar, tapi mengamati Rio, nada bicaranya, ekspresinya, cara dia berspekulasi—seperti seorang yang menilai objeknya, bukan teman bicara.
Tiba-tiba handphone Adrian berbunyi. Ia menatap layar sejenak, lalu melihat pesan dari Nadya:
"Malam ini aku nggak nginep?"
Adrian diam, matanya kosong. Tak lama, ia mengunci handphonenya tanpa membalas pesan itu. Ia sudah memperkirakan Nadya akan gelisah dan mungkin akan datang menghampirinya.
“Dari cewek lu, ya?” goda Rio, menepuk bahunya sambil tersenyum nakal.
“Iya,” jawab Adrian pendek, datar.
“Dia emang suka nginep di kosan lu, ya? Gue denger dari anak-anak yang satu kost sama lu…” Rio menatap Adrian dengan tatapan jahil. “Ngapain aja lu…” Ia menahan tawa.
Adrian hanya tersenyum tipis, tetap diam. Senyum itu, sederhana tapi dingin, justru membuat Rio makin ingin ngoceh.
“Sialan lu… bikin iri aja hahaha!” Rio tertawa lepas, sementara Adrian tetap tenang, matanya menatap kosong ke arah lain, seolah dunia Rio yang ramai itu tak sepenuhnya menyentuhnya.
Adrian menyeruput kopinya, matanya kosong. Rio masih ngoceh tentang Nadya, tapi Adrian seolah tidak mendengarnya. Di pikirannya, Nadya sudah ada di sana—cara dia gelisah menunggu pesan, dan mungkin akan datang malam ini.
Sore itu, Adrian baru keluar dari kampus. Saat mobilnya memasuki parkiran, matanya langsung menangkap sosok Nadya yang sudah menunggunya di sana.
Rio, yang ikut melihat dari jauh, langsung menepuk bahu Adrian, "Waduh, cewek lu udah nongkrong disana aja, udahlah gue pamit takut ganggu pasangan yang lagi di mabuk cinta,” katanya sambil dengan cepat berjalan menjauh, sedikit cegegesan.
Adrian menghela napas pelan, matanya melihat ke arah Nadya. Tanpa berkata sepatah kata pun, ia lalu menghampiri Nadya yang berdiri menunggunya di parkiran yang sepi itu.
“Kenapa kamu nggak balas chat aku?” tanya Nadya, matanya menatap Adrian penuh harap.
"Aku harus balas apa?” jawab Adrian datar.
“Yah… apa kek. Jangan suka cuekin chat dari aku,” rengek Nadya.
“Kamu nggak pulang?” tanya Adrian, berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Menurutmu aku harus pulang aja?” Nadya membalas dengan nada setengah bercanda, setengah menantang.
Adrian terdiam, menatap Nadya sebentar. “Mau kamu apa,” katanya singkat, nada datar.
Nadya sedikit cemberut mendengar jawaban itu, pipinya memerah. “Aku… mau sama kamu… malam ini,” ucapnya malu-malu, menunduk sebentar.
Adrian menatap Nadya. “Ikut aku,” ucapnya dingin.
Nadya tersenyum malu, dada berdebar. Ia menggenggam tasnya lebih erat dan mengikutinya ke mobil.
Di dalam mobil, Adrian tetap diam, jarang bicara. Nadya mencoba memulai percakapan kecil, tapi seperti biasa, ia tak terlalu menanggapinya. Nadya tak tahu, di dalam pikirannya, Adrian tidak melihatnya sekadar sebagai kekasih—ia adalah “objek” yang bisa ia amati, kendalikan, dan bentuk sesuka hati. Malam ini, semuanya masih miliknya.
Malam itu, Adrian membawa Nadya ke sebuah motel kecil yang sepi dari keramaian Nadya tampak ragu, matanya sesekali menatap Adrian, mencoba membaca ekspresi wajahnya yang tenang dan dingin, sementara Adrian membuka pintu kamar dan masuk lebih dulu tanpa berkata sepatah kata pun.
Nadya duduk di tepi tempat tidur, mencoba menenangkan diri, “Adrian… kita… hanya ngobrol aja, kan?” suaranya bergetar pelan.
Adrian berdiri di hadapannya menatap Nadya, "Haruskah kita hanya basa-basi disini?"
Nadya menunduk sejenak, sebenarnya dia sudah memahami maksud Adrian. Pasangan mana yang hanya basa-basi di dalam motel? Ia menarik napas dalam-dalam, lalu berdiri dan memeluk Adrian dengan pelan.
“Andrian… kamu sayang sama aku, kan?” suaranya bergetar.
Adrian tidak menjawab. Nadya mendongak untuk melihat wajahnya, tapi ia hanya menatapnya tanpa ekspresi, matanya dingin dan kosong. Nadya sejenak kebingungan, tapi ada sesuatu dalam tatapan itu yang membuatnya tak bisa mengabaikan Adrian begitu saja. Ia menarik napas lagi, sedikit gemetar, lalu menggigit bibirnya sebelum menjijit dan mencium Adrian.
“Bilang kalau kamu sayang aku…” Nadya menatap Adrian, suaranya pelan tapi tegas.
Adrian tetap diam. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun, hanya membalas ciuman Nadya. Bagi Nadya, itu sudah cukup—jawaban yang ia tunggu, meski tetap ada rasa misterius yang menyelimuti Adrian.
Ardian/Rangga kembali ke kebiasaan lamanya dan sudah mulai dapat calon korban baru.
lanjutkan