Seorang dokter muda yang sedang meneruskan pedidikannya di S2, dipaksa untuk segera menikah...
ternyata salah satu pasiennya membuatnya jatuh hati pada pandangan pertama
berhasilkah Dokter tersebut mendapatkan gadis pujaannya.
jangan lupa comen dan likenya ya..🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Friska Nanda Raisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
akad nikah
Beberapa hari kemudian, Nuripun sembuh dan dia kembali sekolah seperti biasanya. Sementara aku, sedang diam-diam menyiapkan semua keperluan pernikahan dan juga tidak lupa memberi tahukan kepada ayah, ibu dan juga Adit tentang kabar bahagia ini.
Dan saat ini, hari ini adalah hari yang sudah dipastikan. Aku akan menikahi Nuri, adik iparku sendiri.
“Hei suf, lo ngapain buru-buru kaya gitu?!” ucap Randy saat melihatku
“Sorry Ran, gue ga bisa jelasin sekarang. Udah ya. Gue pergi duluan.” Ucapku
“Eh iya iya, gue minta tolong ke lo, minggu ini, lo datang ke rumah gue ya. Jam 9 pagi. Jangan sampe telat. Gue tunggu. Penting.” Ucapku lalu cepat-cepat pergi
“Hei..!!” Panggil Randy
“Lha dia main nyelonong aja. Sebenarnya dia itu kenapa sih?” ucap Randy ketika melihat sahabatnya itu buru-buru pergi
Beberapa saat kemudian, Randy bertemu dengan Cindy.
“Ya ampun. Kenapa sih gue harus ketemu sama ni cewe satu.” Gerutu Randy saat Cindy mendekat
“Hai Ran, lo lihat yusuf ga?” tanya Cindy
“Tadi sih gue lihat. Emang kenapa?” tanya Randy
“Ga.. Gue rasanya mau nyatain perasaan gue ini deh ke dia.” Sahut Cindy
“Oh.. Kaya’nya susah deh.” Ucap Randy
“Kenapa susah?” tanya Cindy bingung
“Tadi dia kelihatan seperti orang sibuk. Gue aja negor, ga digubris sama dia.” Jelas Randy
“Sibuk ngapain emangnya?” tanya Cindy
“Lha mana gue tahu. Cuma tadi dia sempat bilang klo gue disuruh datang kerumahnya minggu ini, jam 9. Dan itupun ga boleh telat.” Jelas Randy
“Oh begitu ya?! Gue ikut donk.” Pinta Cindy
“Aduh gimana ya?! Bukan gue ga mau ajak lo, tapi lo kan tau sendiri, si Yusuf kan sensi banget sama lo. Gue ga berani ah.” Sahut Randy
“Plis.. Sekali ini aja. Gue pingin dia tahu perasaan gue ke dia dengan jelas.” Ucap Cindy memohon
“Tapi klo hasilnya lo ditolak mentah-mentah gimana? Lo ga pingin bunuh diri lagi kan kaya waktu itu.” Ucap Randy memastikan sekaligus menyindir
“Untuk masalah itu...” ucapan Cindy terpotong karena dia sendiri ga yakin akan hal itu
“Ayolah Cin, lo kan tau sendiri klo Yusuf itu ilfill ma lo. Jadi kemungkinan besar sih lo bakalan ditolak.” Ucap Randy blak-blakan
“Ya udah, gue ga bakalan nyoba bunuh diri lagi deh.” Ucap Cindy
“Lo janji?” ucap Randy memastikan
“Iya.” Ucap Cindy
“Ya udah klo gitu. Awas. Jangan bohong.” Ucap Randy mengancam
“Iya. Ya ela segitu ga percayanya lo sama gue.” Ucap Cindy
“Bukan masalah percaya ga percaya, tapi gue kan juga harus antisipasi. Gue ga mau nanti ujung-ujungnya ada kejadian diluar keinginan.” Jelas Randy
“Iya. Jadi gimana? Gue boleh ikut ke sana ga besok hari minggu?” tanya Cindy
“Ya udah deh.” Sahut Randy pasrah
“Makasih ya Ran.” Ucap Cindy bahagia
“Hmm...” sahut Randy singkat
Sementara di waktu yang sama ditempat lain, aku sudah sampai di depan sekolah Nuri dan kebetulan, nuripun baru saja keluar dari kelasnya
“Nur..!!” panggilku
“Mas..” sahut Nuri yang kemudian melangkah mendekatiku
“Masuklah.” Ucapku dan diapun langsung masuk
“gimana tadi sekolahnya Nur?” tanyaku
“Ya begitulah mas. Ga ada yang spesial.” Sahut Nuri santai
“Walo disekolahmu ga ada yang spesial, tapi tetep saja hari ini adalah hari spesial. Iya kan Nur?!” ucapku
“Hari spesial? Emang hari ini, hari apa mas? Bukannya hari ini hari sabtu ya mas?!” tanya Nuri yang lupa tentang rencana pernikahannya
“Nur, kamu pura-pura lupa atau emang lupa?! Jangan becanda lagi deh Nur. Ga lucu tau.” Ucapku agak sedikit panik karena takut klo Nuri juga lupa sama semua kesepakatan yang udah dibuat olehnya sendiri
“Aku beneran lupa mas. Emang hari ini tuh ada apa ya?” tanya Nuri yang polos
“Hadeuh... Nur, hari ini kita kan nikah.” Ucapku
“Apa mas? Nikah? Hari ini?” ucap Nuri terkejut dan akupun mengangguk.
“Jadi hari ini ya?” tanyanya memastikan
“Iya Nur. Kamu beneran lupa ya?” tanyaku
“Bukan lupa masalah rencananya, tapi aku ga tahu klo bakalan hari ini dilaksanaksnnya.” Jelas Nuri
“Oh begitu. Tapi kamu gimana? Ga apa-apakan klo cepat begini.” Tanyaku mulai sedikit khawatir
“Ya udah, ga apa-apa mas.” Sahutnya dan akupun lega
“Ya udah, klo gitu, kita pulang dulu dan ganti pakaianmu. Ok?!” ucapku dan Nuripun mengangguk
Begitu sampai dirumah, Nuri dan aku serta keluarga yang lainnya pun langsung bersiap-siap.
Setelah selesai, kamipun bergegas ke KUA untuk melangsungkan akad nikah.
Disaat sedang menunggu penghulu datang, aku melihat Nuri menangis
“Nur, kamu kenapa menangis? Kamu menyesal dengan keputusan kamu ini?” tanyaku
“ga mas. Aku ga menyesal. Hanya saja aku teringat mba Aisyah. Waktu itu aku yang menemani dan menjadi saksi kalian berdua menikah, sekarang gantian aku yang menikah dengan mas.” Jelas Nuri
“Oh.. Sudahlah Nur. Gimana klo setelah ini kita ziarah ke makam mbakmu?!” ucap ku dan diapun mengangguk
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya penghulupun datang. Dan kamipun melangsungkan proses akad nikah dengan khidmat.
Beberapa saat kemudian, kami sudah resmi sebagai pasangan suami istri. Dan sesuai dengan omonganku tadi, akhirnya aku memutuskan untuk datang ke makam Aisyah
Disana, aku melihat Nuri menangis sesenggukan.
“Mba, aku kangen sekali dengan mba. Semenjak ibu dan juga ayah meninggalkan kita, mbak lah yang selalu mengurusku dan juga mas Adit. Aku rindu mba. Rindu sekali.” Ucapnya sambil menangis
“Nur, sudah. Jangan seperti ini. Klo mba’mu tahu, dia bakalan sedih.” Ucapku
“Iya Nur. Kamu jangan seperti ini. Kasihan mba. Kamu ga mau kan mba Aisyah sedih?” ucap Adit yang sebenarnya dia sendiri ingin menangis namun dia tahan dan nuripun menggeleng
“Sayang, ayo sekarang kita pulang. Sepertinya hujan sudah mau turun. Klo kita ga cepat-cepat pergi dari sini, kita bisa kehujanan.” Ucap ibu lembut sambil mengelus-ngelus kepala Nuri
“Iya bu.” Sahut Nuri
“Mba, kami pulang dulu ya. Kapan-kapan kami ke sini lagi.” Pamit Nuri yang kemudian memutar badan untuk melangkah pergi
Sesampainya di rumah, kamipun langsung ke kamar kami masing-masing untuk istirahat
“Nur, kamu mau kemana?” tanyaku
“Ke kamar, mas. Emang kenapa?” sahutnya polos yang lagi-lagi buat ku menjadi sangat gemas
“Ke kamar? Bukannya kamar kamu udah pindah ya?” ucapku mencoba memancingnya apa dia ngerti atau tidak dengan maksudku
“Pindah? Kok pindah sih mas? Aku kan ngantuk. Aku mau tidur. Lagipula bukannya tadi pulang sekolah, kamarku masih tetap disana?” ucapnya sambil menunjuk kamarnya
“Hadeuh...” ucapku sambil tepok jidat
.
.
.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa like dan comentnya ya...🙏
singkat padat dan jelas
harus nya judul nya turun ranjang😀
jd gk trima rasanya kl judulnya"cinta karna ibadah"..
" Cinta Dalam Doa ".
terima kasih kak
.aq suka