Laura benar-benar tak menyangka akan bertemu lagi dengan Kakak angkatnya Haidar. Ini benar-benar petaka untuknya, kenapa bisa dia muncul lagi dalam hidupnya.
Ini sudah 5 tahun berlalu, kenapa dia harus kembali saat Laura akan menjalani kisah hidup yang lebih panjang lagi dengan Arkan. Ya Laura akan menikah dengan Arkan, tapi kemunculan Haidar mengacaukan segalanya. Semua yang sudah Laura dan Arkan rencanakan berantakan.
"Aku benci padamu Kak, kenapa kamu tak mati saja" teriak Laura yang sudah frustasi.
"Kalau aku mati siapa yang akan mencintaimu dengan sangat dalam sayang" jawab Haidar dengan tatapan dinginnya tak lupa dengan seringai jahatnya.
Bagaimana kah kisa selanjutnya, ayo baca. Ini terusan dari Novel Berpindah kedalam tubuh gadis menyedihkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ririn dewi88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Andai tak jatuh
Laura menghalangi pandangannya yang terkena silau pagi hari. Menatap ruangan ini dengan bingung dimana ini, Laura benar-benar tak tahu keberadaannya sekarang ada dimana.
"akhirnya kamu sadar juga"
Laura mengerutkan keningnya, mencoba untuk duduk namun tubuhnya begitu sakit. Perempuan tadi segera menghampiri Laura dan membantunya duduk mengganjalnya dengan sebuah bantal.
"aku dimana, dan kamu"
"Aku Sela, suamiku menemukan kamu dipinggir jurang sudah terluka seperti ini. Maaf aku tak bisa membawamu ke rumah sakit selama dua hari ini turun hujan lebat dan tak memungkinkan kami untuk keluar rumah dan satu lagi kami tak ada kendaraan"
Laura mengingat kejadian yang terjadi padannya, kepalanya sakit sekali "Terimakasih karena telah membantu aku. Apakah ini masih dikawasan hutan"
"Iya, masih tapi ini lebih dalam lagi. Kalau boleh tahu kenapa kamu bisa ada di hutan malam-malam"
"Aku di culik, aku harus pulang pasti Ayahku begitu khawatir dengan keadaanku ini" jujur Laura tak mau ada yang di sembunyikan.
Sela kaget dan lebih mendekatkan dirinya lagi kearah Laura "Apakah kamu juga sama dengan orang-orang yang berkemah itu, apakah kamu salah satu teman mereka. Aku mendengar ada pembunuhan di sekitar hutan sini" bisik Sela
"Bukan, aku di culik saat akan menikah. Apakah kamu bisa membantuku untuk pergi dari sini, aku ingin pulang dan berkumpul kembali dengan keluargaku, aku begitu rindu dengan mereka" pinta Laura.
"Aku harus bicara dahulu dengan suamiku, makanlah aku akan segera kembali dan beritahu mu keputusannya, aku juga tak bisa berjanji untuk menolong kamu lebih jauh"
Laura hanya menganggukkan kepalanya, menatap makanan yang baru dibawa Sela, perutnya sudah sangat lapar sekali. Dengan pelan Laura mengambilnya dan segera memakannya dengan hati-hati.
Laura sekarang ingat kenapa dirinya bisa ada disini, sungguh tak menyangka masih bisa hidup.
Flashback on.
Laura yang tak tentu arah terus berlari, tak peduli dengan kakinya yang mulai sakit, yang Laura pikirkan sekarang adalah pulang menemui Ayahnya. Laura begitu khawatir dengan keadaan Ayahnya. Pasti Ayahnya akan terus memikirkannya.
Larinya makin kencang, ternyata Laura malah terjun, sungguh itu begitu cepat. Bahkan Laura tak sempat berteriak, badannya berguling-guling dan trak, kepalanya terbentur ke batu besar yang membuat kepalanya begitu nyeri.
Pandangannya begitu buram, hujan mulai turun. kesadaran Laura juga mulai menghilang. Apakah ini akhir dari hidupnya. Laura tersenyum kecil, kalau iya ini adalah terakhir kalinya dirinya hidup Laura bahagia tak kembali bersama Haidar.
Flashback of
Laura yang sudah menghabiskan makannya mencoba untuk berjalan dengan perlahan, mengintip di jendela yang semuanya hutan, masih rimbun dengan pepohonan.
"Aku harus bagaimana sekarang, malah celaka segala sih" gumam Laura kesal dengan dirinya sendiri.
"Andai aku tak jatuh mungkin aku sudah berkumpul dengan Ayah dan juga saudara-saudaraku. Aku juga akan bertemu dengan Arkan dan saling melepas rindu"
Laura kembali berbaring, kepalanya pusing dan tubuhnya juga makin sakit-sakit saat berdiri seperti ini.
...----------------...
Tak, sebuah foto berserakan dihadapan Anya, tentu saja Anya kaget kenapa Adit bisa punya foto pernikahannya bersama Arkan.
"Selama ini ternyata kamu sudah mengkhianati aku ya, pantas saja selalu menghindar ternyata sudah punya suami diam-diam dariku. Tega sekali Anya kamu padaku"
Anya yang panik segera bangkit dan menggenggam tangan Adit, namun dengan cepat Adit menghempaskannya dan seperti merasa jijik.
"Kita putus, aku tidak mau jadi pacar istri orang. Jika memang tak mencintai aku maka bilang dari awal. Aku benci dengan kebohongan Anya. kamu tahu sendiri bukan"
"Tidak, jangan tinggalkan aku. Aku begitu mencintai kamu Adit. Ini hanyalah pernikahan sementara sampai Laura kembali, dia di culik dan aku harus mengantikan Laura untuk menikah, setelah Laura ada aku akan pergi dan kita bisa menikah"
Adit malah tertawa dengan kecewa "Lalu aku dapat bekas, enak saja tak sudi aku Anya. Lebih baik memang tak usah bersama saja sekalian, aku juga tak mau menikahi janda nantinya. Mau dikata apa oleh orang-orang nantinya"
"Tidak, aku tak pernah memberikan keperawananku pada Arkan, aku hanya akan memberikannya padamu saja seorang, tolong beri aku kesempatan untuk hubungan ini. Aku tak ingin berpisah darimu"
"Baiklah berikan keperawanan mu itu padaku, maka aku percaya kalau itu untukku bukan untuk Arkan ataupun orang lain" tantang Arkan.
Anya diam cukup lama, apakah harus tapi mereka belum menikah bagaimana kalau hamil pasti Ayahnya akan marah kalau dirinya hamil bukan oleh suaminya.
"Aku, aku mau kita menikah dulu saja nanti"
"Lihat sudah pasti tak akan mau aku sudah tahu apa jawabannya. Kamu memang tak mencintai aku Anya. Aku benar-benar salah memilih perempuan seperti kamu. Bahkan hanya dipinta keperawanan saja tak mau. Memang tak mau berjuang bersama dirimu ini"
Anya meremas tangannya sendiri, menghapus air matanya yang sudah terbuang sia-sia dihadapan Adit, meminta-minta kesempatan seperti pengemis memberikan Bogeman mentah di rahang kiri Adit.
"Sialan, apa-apaan kamu Anya" teriak Adit yang tak terima sambil memegang rahangnya yang sakit.
"Gila dasar, belum juga menikah sudah meminta keperawanan ku. Sialan kau jadi laki-laki, dasar bajingan sudah berapa perempuan yang terjebak oleh mu hah, aku tak akan pernah memberikan keperawananku percuma-cuma pada laki-laki seperti kamu. Yang ada aku akan ditinggalkan nantinya dan kau akan bebas mencari mangsa lagi" teriak Anya tak peduli akan terdengar oleh orang lain.
"Kamu yang gila, perempuan tak tahu di untung sudah pantas memang kamu disakiti Anya. Lihat saja aku tak akan diam saja, aku akan kembali menghancurkan kamu. Memangnya aku mencintaimu tidak sama sekali, aku hanya ingin menghancurkan masa depanmu saja, menghamili mu dan pergi meninggalkan mu" sambil menunjuk nunjuk kearah Anya. Akhirnya semuanya terbongkar dan Adit tak bisa menyembunyikannya lagi.
Bukannya tak berani memukul Anya, hanya saja disini banyak orang. Lihat saja Adit akan melakukan sesuatu untuk menghancurkan Anya.
Namun Anya tak takut, tak goyah sedikit pun dia tetap berdiri dengan tegap menatap Adit yang pernah menjauh dengan wajah yang begitu marah.
"Kenapa aku baru tahu sekarang kalau Adit seperti itu, kalau tahu seperti ini aku tak akan mempertahankannya" gumam Anya dengan menyesal.
Dengan langkah pelan Anya masuk kembali kedalam kantor, duduk dimeja nya dan melamun. Hidupnya kembali hancur, untung saja terbongkar sekarang kalau tidak Anya akan terjebak dengan laki-laki itu.
"Adit sialan, Adit biadab aku benar-benar menyesal telah mengenal kami" Anya menyobek-nyobek kertas dan melemparkannya sembarangan. Mencurahkan segala kekesalan, kemarahannya di sana.