Dewasa🌶🌶🌶
"Apa? Pacaran sama Om? Nggak mau, ah! Aku sukanya sama anak Om, bukan bapaknya!"
—Violet Diyanara Shantika—
"Kalau kamu pacaran sama saya, kamu bakalan bisa dapetin anak saya juga, plus semua harta yang saya miliki,"
—William Alexander Grayson—
*
*
Niat hati kasih air jampi-jampi biar anaknya kepelet, eh malah bapaknya yang mepet!
Begitulah nasib Violet, mahasiswi yang jatuh cinta diam-diam pada Evander William Grayson, sang kakak tingkat ganteng nan populer. Setelah bertahun-tahun cintanya tak berbalas, Violet memutuskan mengambil jalan pintas, yaitu dengan membeli air jampi-jampi dari internet!
Sialnya, bukan Evan yang meminum air itu, melainkan malah bapaknya, William, si duda hot yang kaya raya!
Kini William tak hanya tergila-gila pada Violet, tapi juga ngotot menjadikannya pacar!
Violet pun dihadapkan dengan dua pilihan: Tetap berusaha mengejar cinta Evan, atau menyerah pada pesona sang duda hot?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HANA ADACHI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Violet Patah Hati
Tangan Violet ditepis begitu saja oleh Nana. Namun, bukannya membalas dengan teriakan kesal atau protes, Violet justru terdiam. Lebih tepatnya, ia melongo.
Pikirannya berkecamuk. Test pack itu… milik siapa?
Jangan-jangan… itu milik Kak Nana?
Dan kalau memang begitu… berarti ayahnya adalah—
Secara refleks, Violet menoleh ke arah Evan yang sedang bersiap-siap.
Dadanya terasa sesak.
Hatinya remuk seketika.
Harapannya musnah dalam sekejap.
...----------------...
Sementara itu, William dan sekretarisnya masih tertahan di pintu masuk festival. Mereka dihadang oleh dua orang petugas.
"Anda tidak boleh masuk tanpa tiket, Pak," ujar salah satu petugas dengan tegas.
"Saya belum punya tiket. Bagaimana kalau saya beli di sini saja?" tanya William sambil merogoh kantongnya untuk mengambil dompet.
"Wah, nggak bisa, Pak. Pembelian tiket harus lewat aplikasi," jawab petugas.
"Oke, apa nama aplikasinya? Biar saya beli di sana," kata William, mulai tak sabar. Ia cukup terkejut karena festival ini ternyata berbayar. Tadinya, ia mengira ini konser gratis yang terbuka untuk umum.
Sang petugas menyebutkan nama aplikasinya, dan William segera menyenggol sekretarisnya. "Cepat, kamu download," perintahnya.
Sekretaris yang awalnya masih kebingungan langsung buru-buru mengeluarkan ponselnya dan menuruti perintah sang bos. Namun, setelah beberapa lama berselancar di aplikasi itu, ia mengernyit. "Sepertinya tiketnya sudah sold out, Pak," katanya, menunjukkan layar ponselnya yang penuh dengan tanda merah.
"Masa sih?" William menatap layar itu dengan tidak percaya.
Petugas itu menimpali. "Iya, Pak. Soalnya hari ini ada penampilan band Sunday Reverie. Fansnya banyak karena pemainnya ganteng-ganteng, apalagi vokalisnya, Evander!"
William terbelalak. "Memangnya merkea seterkenal itu ya?"
"Bapak punya aplikasi TokTok nggak? Coba lihat deh, lagunya lagi viral di sana!"
William menghela napas panjang. Mana mungkin ia punya aplikasi itu di ponselnya? Meskipun media sosial penting bagi perusahaannya, William tidak pernah memiliki akun pribadi di platform mana pun.
"Kalau begitu, begini saja," katanya berusaha bernegosiasi. "Saya ini ayahnya Evander. Jadi, saya boleh masuk, kan?"
Kening petugas mengernyit. Ia menatap William dari atas ke bawah. "Bapak pasti cuma mengada-ada."
"Hei! Saya tidak mengada-ada! Saya benar-benar ayahnya Evan! Kamu nggak percaya?"
"Ada buktinya, Pak?"tanya si petugas.
"Tentu saja! Akan saya tunjukkan!" William dengan percaya diri membuka ponselnya dan mulai menggulir layar, mencari sesuatu yang bisa membuktikan ucapannya. Namun, setelah beberapa lama, ia terdiam. Tidak ada satu pun dokumen atau foto yang bisa membuktikan bahwa ia benar-benar ayah Evan.
"Kamu harus percaya! Saya sudah mengenal Evan sejak dia lahir ke dunia ini!"
Petugas itu menghela napas panjang. "Pak, meskipun wajah Anda mirip Evander, bukan berarti saya bisa langsung percaya. Siapa tahu Anda cuma ngaku-ngaku."
"Hei! Buat apa juga saya mengaku-ngaku jadi ayahnya?!"
"Banyak, Pak, yang ngelakuin itu. Tapi biasanya sih lebih sering yang ngaku jadi istrinya. Contohnya tuh," petugas menunjuk ke sisi kanan.
William dan sekretarisnya sontak menoleh ke arah yang ditunjuk.
"Gue tuh istrinya Evander! Lo nggak percaya?! Mau gue bawain surat kawin?!" teriak seorang perempuan kepada petugas lainnya.
"Maaf, tetap nggak bisa masuk kalau nggak ada tiket," jawab petugas dengan tegas.
"Heh! Gue laporin Evander lo!"
William dan sekretarisnya terbelalak. Ternyata memang benar-benar ada orang yang mengaku sebagai istri Evan. Masalahnya, jumlahnya bukan hanya satu orang. Ada lebih dari sepuluh perempuan yang berteriak-teriak di sana.
"Sejak kapan aku punya menantu sebanyak itu?" gumam William heran. Ia kembali menatap si petugas. "Jangan samakan saya dengan mereka. Saya akan telepon Evan sekarang supaya kamu percaya kalau saya nggak ngaku-ngaku."
"Silakan," kata petugas sambil mengangkat bahu.
William mendengus kesal dan segera menelepon nomor Evan. Tapi… tidak aktif.
"The f—! Anak itu ke mana sih?!" umpat William.
"Gimana, Pak? Bisa?" tanya petugas dengan nada mengejek.
Wajah William semakin memerah. Ia mencoba menelepon Evan lagi, tapi tetap tidak ada jawaban.
"Wah, kurang ajar betul bocah ini," keluhnya.
"Pak, Pak," sekretarisnya mencolek William. "Jadi kita bisa masuk nggak, Pak?"
"Shhh! Jangan berisik! Saya lagi fokus nih!" hardik William.
Sekretarisnya hanya bisa menghela napas panjang dan melihat sekeliling. Saat itu, tatapannya tertuju pada seorang wanita yang baru keluar dari area festival. Ia menyipitkan mata, mencoba mengenali sosok itu.
"Pak, itu bukannya keponakan Bapak yang kemarin?"
"Apa maksud kamu? Saya mana ada keponakan di sini," jawab William asal sambil terus mencoba menelepon Evan yang tidak juga aktif. "Haish, sialan."
"Loh, keponakan Bapak yang kemarin datang ke kantor kita, yang teriak-teriak itu, loh!" ujar sekretarisnya.
William langsung menoleh ke arah yang ditunjuk sekretarisnya dan terbelalak saat melihat Violet berdiri di sana dengan mata sembab.
"Purple!" panggilnya. Secepat kilat ia bergegas menghampiri gadis itu tanpa memedulikan sekretarisnya yang kebingungan.
"Loh, Pak? Mau ke mana? Katanya mau nonton festival!" Sekretarisnya berlari mengikuti dari belakang.
"Hei, Purple, kamu kenapa nangis?" tanya William saat sudah berada di depan Violet.
Violet, yang awalnya menunduk, mendongak saat mendengar suara William. Matanya membesar karena kaget. "Om? Kok bisa ada di sini?"
"Kebetulan lewat," jawab William asal. "Kamu kenapa? Kok malah keluar dari sana sambil nangis-nangis?" tanyanya khawatir.
Ditanya seperti itu, air mata Violet semakin deras. "Huwaaaa! Ommm!" Tangisnya pecah, dan ia langsung menghambur ke pelukan William.
...----------------...
Sampai di dalam mobil, Violet masih terus menangis histeris. William sampai kebingungan karena sudah hampir satu jam gadis itu belum juga berhenti.
"Psst, psst," William berbisik pada sekretarisnya yang berdiri di luar mobil.
"Iya, Pak?" Sekretarisnya dengan sigap mendekat.
"Kamu coba ke supermarket gih, cari sesuatu yang bisa bikin dia berhenti nangis," bisik William.
"Memangnya keponakan Bapak nangis kenapa?"
"Ya nggak tahu, orang dari tadi saya tanyain juga nggak jawab."
"Lah, terus saya harus cari apa, Pak?" tanya sekretarisnya, mulai frustasi.
"Ya, apa kek. Pokoknya yang bisa bikin perempuan berhenti nangis. Masa gitu aja nggak tahu sih kamu?" sergah William.
"Ya, tapi kan saya harus tahu penyebab nangisnya dulu biar bisa cari solusinya, Pak."
"Duh, cerewet banget sih kamu. Pokoknya kamu cari apa aja deh. Kalau tanya lagi, jatah cuti tahunan kamu saya potong!"
"Ya ampun, jangan dong, Pak," wajah sekretarisnya berubah memelas.
"Ya udah, sana pergi."
Dengan terpaksa dan masih kebingungan, sekretaris William pun meninggalkan mereka menuju supermarket.
Setelah sekretarisnya pergi, perhatian William kembali tertuju pada Violet yang masih menangis kencang. Jas mahalnya, yang ada di tangan Violet, kini sudah berubah fungsi menjadi lap air mata dan ingus. William hanya bisa pasrah melihat jasnya yang berharga ratusan juta itu kotor.
"Udahlah, Purple. Jangan nangis terus. Bilang dong sama saya, kamu kenapa?" tanyanya lembut. Efek air jampi-jampi itu membuatnya ikut merasa sesak saat melihat Violet menangis seperti ini.
Violet mengusap air matanya dengan jas William sambil terisak. "Mulai sekarang, aku mau menyerah mengejar Kak Evan, Om."
Dahi William berkerut, meskipun tanpa sadar bibirnya tersenyum lebar. Ia susah payah menahan diri agar tidak terlihat terlalu senang.
"Loh, kenapa?" tanyanya basa-basi.
"Aku sadar kalau aku nggak bisa meraih cintanya Kak Evan," jawab Violet, masih sambil terisak.
"Yes," bisik William, kesenangan.
Violet menoleh ke arahnya, dan pria itu langsung salah tingkah. "Eh, kenapa? Ada apa?"
Violet memanyunkan bibirnya. "Selamat ya, Om. Karena sebentar lagi Om bakal punya menantu dan cucu," katanya dengan suara parau.
Kening William berkerut. "Hah?"
Sebelumnya, author mau ngucapin selamat menunaikan ibadah puasa bagi para pembaca yang muslim 🥰🙏
Terus.. untuk menjaga kekhusyukan para pembaca dalam beribadah, mulai besok bab selanjutnya akan update setelah buka puasa. Jadi tenang aja, meskipun ada adegan plus plusnya, ga akan bikin batal 🤭
Terimakasih atas perhatian nya...
Dukung terus karya ini dengan kasih like, komen, gift, subscribe, dan lain-lain.
Terimakasih! ❤