Anila mencoba meraba disekitarnya hingga dia merasakan ada dinding di sebelah kirinya. Dia berjalan melangkah ke depan.
Tapi dia tersandung oleh sesuatu membuat dia jatuh ke tanah.”Ini dimana sih kenapa semua gelap. Seharusnya ini masih siang. Kenapa gelap sekali,”ucap Anila dengan wajah binggung. Tapi dimana saat itu Anila berada akan dia bisa keluar dari kegelapan itu dan kembali ke tempat asalnya. Anila akan bisa menemukan teka-teki yang dia dapatkan?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Hanan mendengar kata itu dari Baki merasa harga dirinya turun dengan wajah cemberut. Hanan hanya bisa mengurangi berat barangnya saja. Anila melihat Hanan bertanya di dalam hatinya,”Kenapa dia ingin ikut jauh ke sini hanya untuk Baki. Apa dia mengira aku mengambil Baki darinya. Ini sangat merepotkan saja.” Harits yang ada disisi Anila hanya diam saja dan Bani yang sedang berbincang dengan Babon untuk rute yang mereka lewati.
“Jika kalian sudah siap kita berangkat sekarang. Aku ingatkan kepada kalian harus mengikuti instruksiku. Jika kalian ingin selamat,”ucap Babon memberitahukan kepada mereka semua.
“Tenang saja kami akan mengikuti instruksi anda dengan baik,”ucap Bani dengan wajah ramah tersenyum tangan merangkul leher Babon seperti teman lama. Setelah mereka setuju mereka mulai berangkat menuju huta Tratam.
Hanan mendekat ke arah Anila yang berjalan didepan Harits. Anila melihat Hanan mendekat hanya menyambutnya dengan biasa saja.”Hai kamu kenapa kamu ingin pergi ke hutan ini. Apa yang kamu cari sebenarnya Anila,”ucap Hanan karena ingin tahu maksud dari tujuan Anila pergi ke hutan Tratam.
“Aku hanya ingin memastikan sesuatu saja. Jika kamu merasa takut kenapa kamu ikut dengan kami kak Hanan. Apa kakak berpikir aku akan mengambil incaran kakak itu,”ucap Anila dengan wajah santai. Tapi dalam hati Anila dia berkata,“Kamu kira aku tidak tahu maksud dari perkataannya. Wanita yang sudah mengincar sesuatu akan berbahaya untuk didekati. Dia juga terlalu waspada dari awal hingga akhir melihat aku.”
Hanan mendengar kata Anila sedikit tersinggung. Tapi dia tahan karena tempat yang mereka jelajahi adalah tempat yang berbahaya.”Ada apa kak Hanan?,”ucap Anila dengan wajah polosnya.
Hanan kembali maju kedepan untuk berjalan bersama dengan Baki. Setelah mereka masuk lebih jauh ke dalam mereka hanya melihat pohon yang lebat. Cahaya matahari yang masuk juga tidak terlalu banyak. Apa lagi saat malam tiba mereka tetap berjalan untuk menghindari hewan liar yang datang. Tapi anehnya saat itu Anila merasa ada yang tidak beres sehingga dia mendekat ke Hanan.
“Adad apa kamu mendekati. Apa kamu merasa takut sekarang,”ucap Hanan merasa percaya diri.
“Tidak aku hanya ingin bertanya saja apa boleh kak Hanan,”ucap Anila dengan santai.
“Apa yang ingin kamu tanyakan kepadaku. Jika ini hal lain aku tidak ingin menjawab,”ucap Hanan dengan ketus.
“Jenis hewan yang hidup saat malam hari selain ular dan kekelawan itu apa saja kak Hanan,”kata Anila. Hanan dengan wajah serius berkata,”Aku dia tidak tahu kalau ada hewan yang akan hidup dalam kesunyian ini.
“Apa benar tidak tahu. Tapi pasti ada kalau soal masalah hewa langkah seperti nenek moyang,”ucap Anila yang berhati-hati. Hanan mendengar kata Anila mulai berpikir dengan tenang dengan wajah serius dia menatap ke Anila yang menuggu dia menjawab.
“Kalau ada hewan yang akan bergerak saat malam dan tidak takut dengan api atau manusia yang lewan itu adalah hewan kecil yang merayap dan menyamakan tubuh mereka dengan tumbuhan dan tanah disekitanya untuk diketahui,”ucap Hanan mengatakan sesuai dengan pengetahuan dia.
Babon mendengar kata Hanan juga berkata,”Hewan itu disebut semut berwarna bisa mengubah warna kulit untuk menghindar dari serangan musuh atau mencari mangsa.”
“Semut berwarna. Apa itu seperti apa dia kok sangat berbahaya?,”ucap Anila. Harits yang ada di belakangnya juga ikut mendengarkan perkataan dari Hanan selanjutnya.
“Seperti yang sudah dikatakan Babon semut ini. Hanya hewan kecil saja hanya saja mereka selalu berkelompok. Mereka bisa menyamakan mangsa sebelum menghabisinya.Tapi itu tidak mungkin ada di hutan ini,”ucap Hanan yang percaya diri.
“Apa itu benar kalau semut yang kamu katakan itu tidak ada di hutan ini. Tapi bagaimana Babon bisa tahu tentang semut berwarna itu?,”ucap Anila.Semua mata melihat ke arah Babon yang tahu tentang semut berwarna.
“Seperti yang sudah saya katakan ini adalah hutan Tratam hutan yang penuh serangga baik itu beracun atau tidak. Mereka akan selalu ada di sini,”ucap Babon.
“Jadi maksud anda kalau semut berwarna pasti ada di hutan ini,”ucap Hanan merasa hatinya resah.
“Itu benar hanya saja saat malam hari itu akan sulit untuk melihatnya. Jadi kalian harus tetap waspada ya,”ucap Babon memberitahukan untuk waspada.
Di saat mereka membahas semut berwarna. Mereka merasa lelah kakinya sehingga mereka berhenti sejenak di dekat pohon untuk memulihkan tubuh mereka.”Baki tabur bubuk ini untuk mengusir serangga di sekitar kita,”ucap Hanan. Baki segera mengambi botol yang berisi bubuk putih.
“Apa itu?,”ucap Anila.
“Bubuk pengusir serangga,”ucap Hanan.
“Jadi kak Hanan membawa itu juga ya,”ucap Anila.
“Tentu saja aku membawa. Kamu kira aku ingin mati di hutan ini,”ucap Hanan.
“Sudah kenapa kalian masih saja berdebat,”ucap Bani mengumpulkan kayu bakar. Dimalam yang gelap dengan suasana yang sunyi tanpa ada suara yang aneh. Membuat Anila merasa kalau ini sangat aneh. Harits yang sadar dengan kegelisahan Anila berkata,”Ini akan baik saja.”
“Bagaimana bisa akan baik saja. Tidak ada suara hewan disekitar kita,bukan in bertanta kalau di sini berbahaya,”kata Anila.
“Kamu terlalu takut kali Anila. Kalau kamu merasa tidak nyaman kembali saja sana,”ucap Hanan.
“Takut atau tidak ini tidak ada kaitannya.Tapi bukan kita harus tetap waspada saja untuk malam ini,”ucap Anila.
“Baiklah kita tetap berjaga untuk malam ini untuk memastikan kalau tidak ada masalah yang terjadi,”ucap Bani yang juga merasakan ada yang salah dengan hutan yang mereka lewati hari ini.
“Hai Bani apa kamu juga merasa takut,”ucap Hanan yang tersenyum.
“Diam kamu Hanan. Kamu tidak tahu saja hutan Tratam ini sangat mistirius kalau kita tidak waspada kita akan mati,”ucap Baki. Hanan mendengar kata itu terdiam untuk sesaat. Mereka makan kalengan yang sudah mereka bawa dan minuman botol. Anila makan sambil merasakan suasana hutan dan pohon disekitarnya.
Harits melihat makanan Anila merasa ingin mengambilnya. Di belakang dia mengambil sisa makanan Anila membuat Harits seperti memeluk Anila di belakang. Anila yang merasakan gerakan itu menoleh dan wajah keduanya saling bertemu. Anila dan Harits sempat terkejut sehingga mereka kembali ke posisi semul. Harits yang sudah mendapatkan makanan segera menghabisinya.
“Apa kakak masih lapar?,”ucap Anila merasa tenang kembali.
“ Sudah cukup kok,”ucap Harist merasa malu. Hanan melihat sikap Harits kepada Anila merasa ada yang salah. Dia mendekat ke sisi Baki sambil berbisik,”Hai Baki apa Harits suka dengan Anila?.”
“Aku juga tidak tahu, kenapa kamu berkata seperti itu. Apa terlihat jelas apa?,”ucap Baki yang membalas sambil berbisik.
“Aku rasa ada yang salah saja dengan Harits dari tadi dia melihat Anila saja. Berbeda dari biasanya,”ucap Hanan masih curiga.
“Jika kamu sudah menyimpulkan seperti itU,untuk apa kamu merasa bersaing dengan Anila,”kata Bani yang datang dari belakang. Hanan merasa terkejut dengan suara Bani kembali tenang setelah memukul ringan ke arah tubuh Bani. Tapi Bani bisa menghindar dan duduk disamping Hanan. Tapi akan malam itu mereka baik saja?.