Jeany adalah gadis yang tak pandai bergaul karena memiliki fobia sosial. Hidupnya tak lagi sama sejak ia kehilangan kesuciannya.
Rasa bersalah karena telah merenggut kesucian Jeany membuat Kevin ingin selalu menjaga gadis itu sebagai seorang sahabat. Tanpa disadari, perhatian yang ia berikan membuat Jeany jatuh hati padanya. Gadis itu harus tersiksa karena sakitnya cinta sepihak. Namun ia tahu tidak mungkin memiliki Kevin, yang telah menambatkan hatinya pada kekasih cantik bernama Stevi.
"Apa aku gak boleh mempertanggungjawabkan perbuatanku? Kamu tahu aku selalu dihantui rasa bersalah!" -Kevin-
"Kamu egois. Kamu cuma mau ngilangin rasa bersalahmu. Tapi aku ... di sini aku sakit!" -Jeany-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rou Hui, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Usah Takut, Ada Aku
Seumur hidupnya, Jeany belum pernah bertemu dengan orang yang sangat memegang kata-katanya seperti Kevin. Pemuda itu selalu menepati apa yang dijanjikannya pada Jeany. Hanya saja, bila biasanya gadis itu selalu menerima kebaikan Kevin, kali ini ia harus bersikap sebaliknya.
"Aku gak bisa, Vin. Coba cari orang lain aja ya." Jeany langsung menolak.
Rasanya sungguh berbeda jika rumah Kevin yang akan menjadi tempat kerjanya. Nyalinya seketika menciut. Gadis itu lebih memilih bekerja di tempat lain, tempat di mana tidak ada orang yang dikenalnya.
"Lho kenapa? Tadi katanya mau?" tanya Kevin terdengar kecewa.
"Aku gak punya pengalaman ...."
"Tadi katanya pernah jaga adik kamu?"
"Ehm ... emang anak siapa yang mau dijaga?"
"Anak kakak aku."
"Aduh aku gak berpengalaman, Vin. Kakak kamu pasti cari yang profesional. Aku gak mau ngecewain keluarga kamu kalo kerjaku gak bagus," kata Jeany memelas.
"Jean, ini cuma sampai akhir bulan depan aja. Setelah kakak ipar aku resign, dia bisa full jaga anak. Ponakanku gak ribet kok anaknya." Kevin mencoba meyakinkan Jeany.
"Tapi, Vin-"
"Jean, gak usah takut oke? Kan ada aku yang bantuin kamu," tutur Kevin lembut.
"Ponakan kamu umur berapa?" tanya Jeany yang pertahanannya mulai goyah.
"Minggu depan pas satu tahun."
"Kamu yakin aku bisa? Yakin orang rumah kamu setuju?" Jeany berusaha memastikan lagi.
"Iya aku yakin sama kamu."
Kata-kata terakhir Kevin seolah membius Jeany. Ia menerima tawaran pekerjaan itu begitu saja.
"Kapan aku harus mulai kerja?"
"Besok, soalnya lusa papa mama aku mau ke Hong Kong. Paling engga kamu harus ketemu mereka dulu."
Oh Tuhan, kenapa rasanya takut banget mau ketemu orang tua Kevin? jerit Jeany dalam hati.
"Jean? Halo?" Kevin memanggil karena tidak mendapat tanggapan dari Jeany.
"Iya halo, Vin. WA-in alamat kamu ya, besok pagi aku ke sana."
"Gak usah, besok aku jemput aja."
"Jangan, Vin aku gak mau ngerepotin kamu," tolak Jeany langsung.
"Gak repot kok. Bisa lewat tol. Lagian kamu mau ke rumahku naik apa?"
"Naik ojol."
"Aku jemput. Udah dulu ya aku mau kasih tahu mama kalo aku udah dapat babysitter. Bye." Kevin mengakhiri panggilannya sebelum Jeany sempat menjawab.
Jeany mendesah dan segera masuk ke kamarnya. Gadis itu mencari artikel di internet mengenai cara mengasuh bayi berusia satu tahun. Ia menghabiskan waktu sepanjang hari dengan membaca artikel mengenai cara pengasuhan anak yang baik. Jeany ingin melakukan pekerjaannya dengan benar agar tidak membuat malu Kevin yang sudah memberinya pekerjaan itu.
Keesokan harinya Kevin benar-benar menjemputnya. Jam baru menunjukkan pukul tujuh pagi ketika kendaraan pemuda itu tiba di rumah kos Jeany.
"Udah siap? Gak ada yang ketinggalan?" tanya Kevin setelah gadis itu naik ke mobil.
"Iya gak ada." Jeany menjawab dengan raut wajah lelah.
Bagaimana tidak lelah, semalaman ia gelisah memikirkan akan pergi ke rumah Kevin dan bertemu dengan keluarga pemuda itu. Rasa cemas membuatnya baru bisa tertidur di sepertiga malam terakhir.
Kecemasannya bertambah setelah mobil yang ia tumpangi keluar dari gerbang tol, itu artinya semakin dekat dengan rumah Kevin. Jeany menggigit bibirnya, berusaha menenangkan detak jantungnya yang tidak terkendali.
"Kamu kenapa?" tanya Kevin yang melihat Jeany memilin-milin jari tangannya.
"Kita balik aja ya?" ajak gadis itu memelas.
"Hah? Kenapa?"
"Perutku mules ...."
"Kamu sakit perut? Bisa tahan? Dikit lagi udah sampe rumahku kok," jawab Kevin berusaha tidak panik.
"Bukan .... Maksud aku ... aku gak bisa jadi babysitter di rumah kamu ...."
Kevin mengernyit. "Kok gini lagi? Kemarin kan kamu udah setuju? Tadi pagi juga masih gapapa."
"Aku gak pede, Vin .... Aku takut ...." Akhirnya Jeany mengutarakan isi hatinya.
Kevin pun menepikan mobilnya. Ia baru sadar bahwa gadis di sampingnya sedang dilanda kecemasan, cukup parah hingga membuat wajah gadis itu memucat. Ia teringat pernah membaca tulisan mengenai gangguan kecemasan dan berharap apa yang terjadi pada Jeany sekarang belum sampai ke tahap itu.
"Jean, coba tutup mata kamu."
Jeany menatap Kevin dengan pandangan bertanya.
"Udah lakuin aja seperti yang aku bilang," ujar Kevin lembut.
Jeany pun memejamkan matanya.
"Sekarang tarik napas dalam-dalam melalui hidung, dan hembuskan melalui mulut. Lakukan beberapa kali."
"Gimana? Mendingan?" tanya Kevin setelah beberapa saat.
Jeany mengangguk tanpa membuka matanya. Ia masih melanjutkan ritual menarik dan membuang napas hingga degupan jantungnya kembali normal. Setelah itu ia membuka matanya. "Makasih ya," katanya tersenyum pada Kevin.
Pemuda itu melihat jari-jari tangan Jeany masih saling bertautan. Menuruti nalurinya, ia mengulurkan tangannya dan menggenggam jemari Jeany.
"Jean, gak usah takut ya. Kan ada aku." Kevin berkata dengan suara lembut menenangkan.
"Iya, Vin. Sorry .... Pasti kamu mikir aku aneh ya?" tanya Jeany malu.
Kevin mer*mas jemari gadis itu. Dapat dirasakannya jemari yang sebelumnya dingin itu perlahan menghangat karena sentuhan tangannya.
"Gak kok kamu gak aneh. Setiap orang punya sisi uniknya masing-masing. Aku putar lagu aja ya supaya kamu rileks."
Kevin memutar lagu kesukaannya yang dipopulerkan oleh grup musik Naff. Lagu lama yang tak pernah bosan didengarnya. Menurutnya melodi lagu tersebut sederhana namun indah di pendengaran. Ia sampai meminta CD album musik koleksi kakaknya itu karena senang dengan lagu tersebut.
Akhirnya ku menemukanmu
Saat hati ini mulai meragu
Akhirnya ku menemukanmu
Saat raga ini ingin berlabuh
Ku berharap engkau lah
Jawaban sgala risau hatiku
Dan biarkan diriku
Mencintaimu hingga ujung usiaku
Jeany pun tampak larut dalam irama lagu tersebut. Ia meresapi setiap kata-kata yang diucapkan oleh sang penyanyi, berandai-andai betapa bahagianya bila pemuda di sampingnya menyanyikan lagu itu untuknya.
Kevin tidak lagi mengajak bicara Jeany. Ia membiarkan gadis itu menikmati lagu dari CD yang diputarnya. Lagu-lagu dari grup musik Naff itu mengalun merdu di dalam mobil Kevin, membawa suasana berbeda yang hingga bertahun-tahun kemudian mereka berdua masih sulit melupakannya.
Tanpa terasa mereka telah sampai di rumah orang tua Kevin. Jeany melihat satpam membukakan pagar untuk mereka, dan melihat rumah yang berdiri megah menanti mereka. Benar-benar orang kaya, pikirnya.
"Yuk turun, kita udah sampai di rumahku," ujar Kevin.
Sebelum turun dari mobil, Jeany menyempatkan diri untuk menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ia berjalan mengikuti Kevin memasuki rumah mewah bergaya klasik itu.
Setelah masuk ke dalam rumah, mereka disambut oleh seorang wanita paruh baya yang sedang menggendong bayi.
"Ma, kenalin ini teman aku Jeany. Jean, ini mama aku." Kevin saling memperkenalkan mamanya dan Jeany.
"Selamat pagi, Tante," kata Jeany sambil mengulurkan tangannya untuk menyalami mama Kevin.
"Iya selamat pagi. Ayo ayo duduk dulu," kata Mama Kevin dengan ramah. Ia dapat merasakan kegugupan Jeany dari tangannya yang dingin ketika mereka bersalaman.
Jeany begitu lega melihat mama Kevin menerimanya dengan hangat. Ia kini tidak setegang ketika di mobil tadi.
"Panggil saja saya Tante Henny. Papanya Kevin dan orang tua anak ini sudah berangkat kerja. Tante minta tolong jaga cucu tante ini ya, Jeany. Kamu bisa kan?"
"Iya bisa, Tante," jawab Jeany sopan.
Mama Kevin lalu memberi catatan yang berisi jadwal mandi, makan dan minum susu bayi tersebut. "Makanannya nanti Bi Murni yang bikin jadi kamu tinggal kasih saja. Minum susunya gak harus mesti seperti di jadwal itu ya, tergantung anaknya kalau sudah minta ya dikasih saja. Peralatan bikin susu ada di kamar bayi," katanya memberi penjelasan.
Dalam hati Jeany bertanya-tanya apakah bayi satu tahun sudah bisa menunjukkan keinginannya untuk minum susu. Ia mencatat di benaknya untuk mencari tahu hal tersebut di internet ketika ada kesempatan.
"Ayo, Jean aku tunjukin kamar bayinya!" ajak Kevin bersemangat.
Pemuda itu berdiri mengambil sang bayi dari gendongan omanya dan membuat gestur pada Jeany agar gadis itu mengikutinya.
"Kalau gitu saya permisi masuk dulu, Tante," pamit Jeany sopan.
Mama Kevin pun mengangguk sambil tersenyum. Diam-diam ia memperhatikan putra keduanya yang memperlakukan Jeany dengan tidak biasa. Ia dapat melihat tatapan lembut Kevin pada gadis itu.
Apa benar gadis itu bukan pacarnya?
Yeahhh, sesuka ini aku sama novelmu🫠
novel " dipaksa bercerai"
sdh berapa tahun vacun Thor, sejak corona sampai sekarang