NovelToon NovelToon
Jerat Cinta Pria Beristri

Jerat Cinta Pria Beristri

Status: tamat
Genre:Beda Usia / One Night Stand / Cinta Seiring Waktu / Konflik etika / Showbiz / Tamat
Popularitas:10.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: Desy Puspita

Tak terima lantaran posisi sebagai pemeran utama dalam project terbarunya diganti sesuka hati, Haura nekat membalas dendam dengan menuangkan obat pencahar ke dalam minuman Ervano Lakeswara - sutradara yang merupakan dalang dibaliknya.

Dia berpikir, dengan cara itu dendamnya akan terbalaskan secara instan. Siapa sangka, tindakan konyolnya justru berakhir fatal. Sesuatu yang dia masukkan ke dalam minuman tersebut bukanlah obat pencahar, melainkan obat perang-sang.

Alih-alih merasa puas karena dendamnya terbalaskan, Haura justru berakhir jatuh di atas ranjang bersama Ervano hingga membuatnya terperosok dalam jurang penyesalan. Bukan hanya karena Ervano menyebalkan, tapi statusnya yang merupakan suami orang membuat Haura merasa lebih baik menghilang.

****

"Kamu yang menyalakan api, bukankah tanggung jawabmu untuk memadamkannya, Haura?" - Ervano Lakeswara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desy Puspita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19 - Seperti Akan Gila

"Ya Tuhan ... meski aku memang menerima, tapi boleh tidak untuk sekarang aku berharap bahwa dugaanku ini salah? Aku tidak siap, apalagi jika harus menjadi istrinya."

Setelah perdebatan panjang tadi malam, Haura semakin takut untuk menghadapi yang namanya kehamilan. Padahal sebelum berjumpa Ervano dia sudah menerima, tidak apa andai harus menghidupi anak tanpa sosok ayah.

Namun, begitu Ervano datang untuk bertanggung jawab, Haura justru berharap dugaannya salah. Sepanjang perjalanan dengan Ervano di sampingnya Haura terus berdoa dan berharap hasil pemeriksaan tidak sesuai dengan dugaan mereka.

Sementara itu, Ervano yang berada di samping Haura terlihat begitu tenang. Seolah tidak ada masalah, padahal kalau dipikir secara logika, pria mana yang bisa setenang itu setelah menghamili wanita lain sementara statusnya memiliki istri.

Sesekali dia menatap ke arah Haura yang terus melihat ke luar sembari bersedekap dada. Ervano tidak akan bertanya, sudah jelas Haura bersikap demikian karena tidak begitu suka dengan apa yang kini tengah dijalani.

Beberapa menit menempuh perjalanan, Ervano tiba di sebuah rumah sakit terdekat yang sudah menjadi pilihannya. Hingga tiba Haura masih terus melamun, sama sekali tidak sadar jika sudah sampai.

Tanpa banyak bicara, Ervano turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk Haura. Saat itulah, Haura terperanjat kaget sampai mengelus dada.

"Bikin kaget, bilang kalau sudah sampai apa salahnya?" protes Haura dengan wajah cemberut dan mata mendelik tak suka khas dirinya.

Ervano yang berada di depannya hanya menatap datar menghadapi protes Haura. "Sudah sampai," lanjutnya.

"Telat, dari tadi harusnya."

"Masih saja salah," gumam Ervano menggeleng pelan.

Haura tidak lagi merespon walau sebenarnya mendengar. Lagi pula memang salah Ervano, tepatnya terlambat.

Keduanya berjalan berdampingan, dengan Haura yang terus bersedekap dada lantaran tidak ingin sampai digandeng pria di sampingnya.

Mengingat, beberapa pasangan yang mungkin sayang untuk alasan sama ke rumah sakit ini rata-rata bergandengan tangan semua.

Ervano dan Haura tak ubahnya seperti pasangan yang tengah perang dingin, sama sekali tidak ada romantis-romantisnya. Sewaktu duduk di kursi tunggu saja saling berjauhan, tepatnya Haura yang menjauh.

Ervano tidak bisa memaksa Haura untuk mendekat, satu-satunya yang bisa dia lakukan sekarang hanya memantau. Ya, memantau calon istrinya.

Mengingat hal itu Ervano seketika tersenyum tipis. Siapa sangka, ketika dia tengah fokus menatap Haura lekat-lekat justru tertangkap basah hingga dibalas dengan tatapan permusuhan dari jarak beberapa meter di sana.

"Kenapa?" tanya Haura dengan nada dingin, sama sekali tidak bersahabat.

Ervano menggeleng sembari memalingkan muka, tak lupa raut wajahnya juga kini sudah datar seperti biasa. "Tidak."

Kembali Haura hanya mencebikkan bibir. Sungguh dia ingin semua ini segera berakhir. Beruntungnya, kini tiba giliran Haura untuk diperiksa.

Bergegas dia berdiri, diikuti dengan Ervano yang juga tampak tidak sabar hingga Haura mendorong dadanya sewaktu hendak masuk ke ruangan pemeriksaan.

"Mau apa?"

"Ikut masuk, apalagi memangnya?"

"Iya maksudnya mau apa ikut masuk? Tunggu di luar," tegas Haura yang hanya Ervano anggap angin lalu.

"Kenapa begitu? Bukankah semua wanita di sini didampingi suaminya?"

"Memangnya Bapak suami saya?" tanya Haura mengerjap pelan dengan maksud membuat Ervano sadar diri.

Dengan wajah santainya, Ervano mengangguk pelan. "Calon suamimu tepatnya," pungkas pria itu kemudian masuk lebih dulu.

Yang mau periksa siapa yang sibuk sendiri siapa. Ervano sama sekali tidak melepaskannya, bahkan untuk sekadar periksa kandungan.

Padahal hanya pria asing yang tak Haura ingini hadir dalam hidup, tapi di ruangan ini Ervano benar-benar bertindak seperti suami yang mendambakan buah hati.

Matanya terus menatap ke arah Haura yang sedang diperiksa hingga wanita itu mulai berpikir macam-macam. Mungkin karena Ervano sudah menikah, bisa jadi sudah pengalaman sewaktu memeriksakan istrinya, begitu pikir Haura tak ambil pusing karena malas jika harus berdebat di depan dokter.

"Sudah, Dok?"

"Sudah, silakan duduk."

Sebentar lagi dia akan mendengar pernyataan dokter. Tangan Haura panas dingin, sampai gemetar dan pucat juga.

Dia tidak memiliki keberanian untuk menatap lawan bicaranya. Hingga, mimpi buruk itu benar-benar terjadi tatkala wanita berjas putih itu mengatakan.

"Selamat, usia kandungannya memasuki empat minggu."

"Apa?!"

Tak ubahnya bak tersambar petir di siang bolong, Haura terkejut setengah mati. Tubuhnya yang tadi hanya sekadar dingin dan gemetar mendadak tak bertenaga.

Luruh, hancur sudah dan Haura seperti tidak punya daya. Penjelasan dari dokter tersebut tidak lagi Haura dengar, tanpa menunggu dipersilakan Haura keluar lebih dulu meninggalkan Ervano di belakang.

.

.

Tanpa peduli pada Ervano yang masih tertinggal, Haura terus melangkah dengan pikiran berisiknya. Kenyataan bahwa dirinya hamil masih bisa Haura terima, tapi untuk menjadi istri kedua Ervano rasanya seperti akan gila.

Dihadapkan dengan situasi semacam ini, Haura seketika membenci Abimanyu yang dia yakini sebagai penyebab utama kenapa Ervano bisa datang dan menemuinya.

Semuanya menjadi lebih rumit sekarang, Haura kebingungan hendak melangkah karena sudah terperangkap dalam kekuasaan Ervano yang membuatnya tidak semudah itu untuk pergi.

"Tidak mudah, bukan berarti tidak mungkin, 'kan?" Haura berhenti sejenak, dia berusaha untuk berpikir keras dan juga jernih agar tidak salah langkah.

Kembali menyusun rencana selanjutnya karena dia memang tidak bersedia jika harus menjadi yang kedua. Cukup mamanya saja, Haura tidak ingin mengulang sejarah dimana sang mama dinikahi tatkala sang papa masih berstatus sebagai suami sah istri pertama.

"Haura!!" panggil Ervano yang memecah konsentrasinya.

"Iya?" Haura menoleh, berusaha untuk bersikap tenang karena dirinya akan merancang rencana baru, kabur lebih jauh.

Sudah tentu dia tidak boleh sampai membuat Ervano curiga, apalagi menyadari rencananya.

"Ini mobilnya, bukan itu."

"Oh, sorry ... mirip soalnya," jawab Haura dengan wajah memerah lantaran malu sekali.

Walau demikian, tentu saja dia harus tetap elegan tatkala menghampiri Ervano. Pria itu tetap bersikap layaknya pasangan, Haura bahkan tidak perlu mengeluarkan tenaga untuk membuka atau menutup pintu mobilnya.

Dalam perjalanan pulang kali ini, Haura tidak ingin terlihat gusar demi misinya bisa tercapai. Dibanding harus memikirkan pedihnya kehidupan pernikahan dengan pria gila di sampingnya ini, Haura kini fokus tentang rencananya untuk pergi lebih jauh lagi.

"Hotel, nanti langsung packing ... pesan tiket, dan kita akan memulai hidup yang lebih baik!! Iya, begitu!!"

Matang sekali pertimbangan Haura kali ini. Tanpa sadar, bahwa jalan yang ditempuh Ervano tidak sedang menuju hotel, tapi ke tempat lain.

Cukup lama dia terlena, terlalu asyik dan merasa hidupnya aman-aman saja. Sampai, ketika mobil berhenti di sebuah villa cukup mewah tersebut Haura celingukan ke kanan kiri.

"Kita kenapa ke sini? Ada yang mau ditemui?"

"Tidak," jawab Ervano kemudian kembali turun lebih dulu dan melakukan hal sama seperti yang dia lakukan sebelumnya.

Haura masih berusaha berpikir positif, barangkali pria itu ingin pamer harta kekayaan atau sekadar memeriksa villa tersebut.

Namun, setelah turun dua orang wanita bersama empat pria dengan pakaian senada mendekat dan menunduk hormat kepada mereka.

"Selamat datang, Tuan."

"Hem, kamar sudah kalian persiapkan?"

"Sudah, Tuan."

Setelah memastikan hal tersebut, Ervano beralih menatap Haura yang kini masih terlihat bingung.

"Masuklah, kita akan istirahat di sini sementara papa dan keluargamu datang."

"Hah?! Apa maksudmu?"

.

.

- To Be Continued -

1
Efratha
baca part ini aku sampe ketawak bengek 🤣🤣🤣🤣
Efratha
jangan² Sofia kaum lesbiola 🤭
Efratha
pertengahan part ini hampir mewek saya bacanya,eh tetiba akhir jadi ngakak "anggap aja anak hantu " 🤣🤣🤣🤣
Borahe 🍉🧡
sempet"nya liatin ke mang Udin🙈
Borahe 🍉🧡
Persis Kayla dan Evan😂
Borahe 🍉🧡
bener bener mulut Haura. apa yg ada diotak itu yg diungkapin tanpa filter😂😂🙈
Borahe 🍉🧡
kecintaan banget pak
Borahe 🍉🧡
wihh banyak duit nih Bpk dua bini🤣
Borahe 🍉🧡
hahaah
Borahe 🍉🧡
hahaga panik gak
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙜𝙠𝙜𝙠𝙜𝙠𝙠𝙠... 𝙖𝙠𝙪 𝙠𝙞𝙧𝙖 𝙢𝙖𝙪 𝙣𝙮𝙚𝙗𝙪𝙩 𝙗𝙤𝙩𝙤𝙡 𝙮𝙖𝙠𝙪𝙡𝙩 𝙚𝙝 𝙜𝙖 𝙩𝙖𝙪 𝙣𝙮𝙖 𝙗𝙤𝙩𝙤𝙡 𝙠𝙚𝙘𝙖𝙥.😆😆😆
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙉𝙖𝙠𝙖 𝙗𝙨 𝙙𝙞 𝙖𝙟𝙖𝙠 𝙠𝙚𝙧𝙟𝙖 𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙟𝙜 𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙥𝙖𝙥𝙖𝙝𝙣𝙮𝙖... 𝙨𝙚𝙙𝙞𝙠𝙞𝙩 𝙡𝙜 𝙡𝙪𝙡𝙪𝙝𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙖𝙢𝙖𝙝𝙣𝙮𝙖.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙝𝙖𝙙𝙪𝙪𝙝𝙝 𝙠𝙙 𝙠𝙬𝙗𝙖𝙬𝙖 𝙟𝙚𝙣𝙜𝙚𝙡 𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙀𝙫𝙖𝙣, 𝙥𝙖𝙙𝙖𝙝𝙖𝙡 𝙘𝙪𝙢𝙖 𝙗𝙖𝙘𝙖 𝙣𝙤𝙫𝙚𝙡 𝙩𝙥 𝙥𝙚𝙧𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖 𝙃𝙖𝙪𝙧𝙖 𝙨𝙚𝙗𝙖𝙜𝙖𝙞 𝙨𝙚𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙞𝙖𝙩𝙧𝙞 𝙥𝙡𝙞𝙨 𝙞𝙗𝙪 𝙮𝙜 𝙙𝙞𝙠𝙚𝙘𝙚𝙬𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙨𝙪𝙖𝙢𝙞 𝙖𝙠𝙪 𝙟𝙙 𝙞𝙠𝙪𝙩2𝙖𝙣 𝙢𝙖𝙧𝙖𝙝 𝙟𝙜.𝙬𝙠𝙬𝙠𝙬𝙠𝙠...
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙬𝙖𝙟𝙖𝙧 𝙨𝙞𝙝 𝙥𝙖𝙥𝙖𝙝 𝙕𝙚𝙖𝙣 𝙢𝙖𝙧𝙖𝙝 𝙠𝙧𝙣 𝙮𝙜 𝙣𝙖𝙢𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙡𝙖𝙝𝙞𝙧𝙖𝙣 𝙗𝙚𝙧𝙩𝙖𝙚𝙪𝙝 𝙣𝙮𝙖𝙬𝙖 𝙩𝙥 𝙖𝙞 𝙨𝙪𝙖𝙢𝙞 𝙜𝙖 𝙖𝙙𝙖 𝙨𝙞 𝙨𝙖𝙢𝙥𝙞𝙣𝙜𝙣𝙮𝙖 𝙝𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙠𝙧𝙣 𝙣𝙜𝙤𝙗𝙚𝙤𝙡 𝙨𝙖𝙣𝙩𝙖𝙞 𝙙𝙜𝙣 𝙩𝙢𝙣𝙣𝙮𝙖 𝙗𝙚𝙙𝙖 𝙘𝙚𝙧𝙞𝙩𝙖 𝙠𝙖𝙡𝙖𝙪 𝙡𝙜 𝙨𝙞𝙡𝙪𝙖𝙧 𝙠𝙤𝙩𝙖/𝙥𝙪𝙡𝙖𝙪 𝙠𝙧𝙣 𝙠𝙚𝙧𝙟𝙖 𝙢𝙪𝙣𝙜𝙠𝙞𝙣 𝙢𝙖𝙖𝙞𝙝 𝙗𝙨 𝙙𝙞 𝙢𝙖𝙠𝙡𝙪𝙢𝙞.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙧𝙖𝙨𝙖𝙞𝙣, 𝙢𝙜 𝙃𝙖𝙪𝙧𝙖 𝙠𝙖𝙨𝙞𝙝 𝙥𝙚𝙡𝙖𝙟𝙖𝙧𝙖𝙣 𝙩𝙪𝙝 𝙨𝙞 𝙀𝙧𝙫𝙖𝙣𝙤 𝙟𝙜𝙣 𝙙𝙞𝙠𝙖𝙨𝙞𝙝 𝙢𝙖𝙖𝙛 𝙙𝙪𝙡𝙪 𝙠𝙧𝙣 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙖𝙗𝙖𝙞 𝙨𝙢 𝙩𝙪𝙜𝙖𝙨𝙣𝙮𝙖 𝙨𝙚𝙗𝙖𝙜𝙖𝙞 𝙨𝙪𝙖𝙢𝙞 𝙥𝙡𝙪𝙨 𝙖𝙮𝙖𝙝 𝙖𝙞𝙖𝙜𝙖.. 𝙗𝙞𝙖𝙧 𝙠𝙖𝙥𝙤𝙠 𝙨𝙚 𝙚𝙣𝙖𝙠𝙣𝙮𝙖.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙠𝙚𝙩𝙚𝙧𝙡𝙖𝙡𝙪𝙖𝙣 𝙨𝙞𝙝 𝙑𝙖𝙣𝙤 𝙞𝙖𝙩𝙧𝙞 𝙡𝙜 𝙠𝙚𝙨𝙖𝙠𝙞𝙩𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙜𝙖 𝙩𝙖𝙪 𝙠𝙧𝙣 𝙤𝙛𝙛 𝙝𝙥 𝙙𝙚𝙢𝙞 𝙜𝙖 𝙩𝙚𝙧𝙜𝙖𝙣𝙜𝙜𝙪 𝙬𝙖𝙠𝙩𝙪 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙗𝙚𝙧𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙩𝙚𝙢𝙖𝙣𝙢𝙪.. 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨𝙣𝙮𝙖 𝙥𝙧𝙞𝙤𝙧𝙞𝙩𝙖𝙨𝙠𝙣 𝙞𝙖𝙩𝙧𝙞 𝙮𝙜 𝙪𝙙𝙝 𝙢𝙖𝙨𝙖 𝙝𝙥𝙡𝙣𝙮𝙖 𝙙𝙠𝙩..
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙝𝙖𝙙𝙪𝙪𝙝𝙝 𝙒𝙧𝙫𝙖𝙣𝙞 𝙖𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙩𝙖𝙪 𝙞𝙨𝙩𝙧𝙞 𝙣𝙜𝙚𝙙𝙚𝙠𝙬𝙩𝙞𝙣 𝙝𝙥𝙡 𝙩𝙥 𝙝𝙥 𝙢𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙤𝙛𝙛 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨𝙣𝙮𝙖 𝙠𝙖𝙡𝙖𝙪 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙩𝙖𝙪 𝙥𝙧𝙚𝙨𝙞𝙠𝙨𝙞 𝙙𝙧 𝙨𝙤𝙠𝙩𝙚𝙧 𝙨𝙞𝙖𝙜𝙖 𝙝𝙥 𝙖𝙠𝙩𝙞𝙛 𝙩𝙧𝙨 𝙡𝙖𝙝 𝙞𝙣𝙞 𝙗𝙞𝙠𝙞𝙣 𝙩𝙚𝙥𝙪𝙠 𝙟𝙞𝙨𝙖𝙠, 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙨𝙚𝙣𝙖𝙣𝙜2 𝙩𝙥 𝙞𝙖𝙩𝙧𝙞 𝙡𝙜 𝙗𝙚𝙧𝙩𝙖𝙧𝙪𝙝 𝙣𝙮𝙖𝙬𝙖 𝙨𝙚𝙢𝙞 𝙢𝙬𝙡𝙖𝙝𝙞𝙧𝙠𝙖𝙣 𝙗𝙪𝙖𝙝 𝙝𝙖𝙩𝙞 𝙠𝙖𝙡𝙖𝙞𝙣.🤦‍♀️
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙖𝙬𝙖𝙨 𝙩𝙖𝙧 𝙠𝙚𝙩𝙪𝙡𝙖𝙝 𝙤𝙢𝙤𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙣𝙙𝙞𝙧𝙞 𝘼𝙗𝙞𝙢, 𝙩𝙖𝙧 𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙣𝙞𝙠𝙖𝙝 𝙞𝙨𝙩𝙧𝙞 𝙡𝙜 𝙟𝙖𝙢𝙞𝙡 𝙥𝙖𝙖𝙩𝙞 𝙜𝙞𝙩𝙪 𝙟𝙜 𝙖𝙩𝙖𝙪 𝙢𝙪𝙣𝙜𝙠𝙞𝙣 𝙡𝙗𝙝 𝙙𝙧 𝙮𝙜 𝙀𝙫𝙖𝙣 𝙡𝙖𝙠𝙪𝙠𝙖𝙣.. 𝙗𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙘𝙢 𝙙𝙞𝙚𝙡𝙪𝙨 𝙣 𝙙𝙞 𝙖𝙟𝙖𝙠 𝙗𝙞𝙘𝙖𝙧𝙖 𝙙𝙤𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙥 𝙙𝙞 𝙪𝙨𝙚𝙡2 𝙟𝙜.🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙬𝙚𝙚𝙚𝙝𝙝𝙝... 𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙣𝙪𝙢𝙥𝙪𝙠 𝙖𝙟𝙖 𝙗𝙖𝙗 𝙙𝙧 𝙨𝙚𝙠𝙞𝙖𝙣 𝙡𝙖𝙢𝙖 𝙣𝙪𝙣𝙜𝙜𝙪 𝙜𝙖 𝙩𝙖𝙪 𝙣𝙮𝙖 𝙥𝙖𝙨 𝙢𝙖𝙢𝙥𝙞𝙧 𝙣𝙤𝙫𝙚𝙡 𝙤𝙩𝙝𝙤𝙧 𝙮𝙜 𝙡𝙖𝙞𝙣 𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙥𝙙 𝙩𝙖𝙢𝙖𝙩.🙂
aku baru
suka sekali membaca karya mb desy,,,,,terlebih tentang kisah keluarga megantara,,,,,hampir semua aq baca,,,,,tp kisah zavia ko sulit di cari yah????
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!