anak remaja laki laki yang kehidupannya dibilang tak normal, jika anak seusianya akan merasakan bahagia sedih kecewa atau luka dan lainnya, namun dia malah tak merasakan apapun pada dirinya, kadang dia bertanya pada dirinya sendiri 'kenapa aku tak bisa hidup seperti mereka', hingga ia mengalami kecelakaan dan hidup ditubuh orang lain lebih tepatnya didunia novel, dia yang tak dapat merasakan apapun mendapat sebuah teman untuk pertama kalinya, yaitu sebuah sistem yang akan membantunya hidup didunia novel tersebut, akankah dia mendapatkan hidup yang dia inginkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
menjemput tanaka pulang
Disebuah mansion megah nan mewah tampak dimeja makan beberapa orang telah duduk dikursi masing2, tak lama terdengar langkah kaki yang bersahut sahutan mengalihkan perhatian orang yang berada dimeja makan
tampak seorang gadis dengan senyum khasnya berjalan kearah meja makan dengan menarik tangan seorang remaja laki2 tampan
gadis itu mendudukkan remaja itu didekatnya
"tanaka~ingin makan apa?" tanya gadis itu lembut
yah tanaka yang berniat pergi dari mansion itu malah bertemu dan ditarik kemeja makan oleh gadis disampingnya ini
"apa saja" balas tanaka yang langsung diangguki oleh gadis itu
"ekhm!!!" seorang wanita berdehem keras mengagetkan gadis itu sekaligus menyadarkan gadis itu bahwa masih ada orang lain dimeja makan
"mami kapan ada disitu?" tanya gadis itu bingung
"anak ini~ekhm...tanaka perkenalkan, erlina adijaya panggil mami saja yah~" ucap erlina dengan senyum ramahnya
Tanaka mengangguk lalu menatap gadis disampingnya
"ah..kamu pasti lupa sama aku kan, kenalin aku fanaya adijaya temen sekelas mu, anak ketiga adijaya" ucap fanaya dengan senyumnya
masih ingat kelompoknya cila, yah fanaya salah satu murid perempuan yang sekelas dengan tanaka, gadis itu selalu tertutup jika disekolah jadi dia tak begitu dikenal karna dia juga sengaja melakukan itu, fanaya juga tak menyebut marga keluarganya jadi tak ada yang tau jika dia anak dari keluarga terpandang
Tanaka kembali mengangguk lalu menatap black dan blue, dua orang itu mengerti jika tanaka bertanya nama mereka lewat tatapannya
"algario adijaya, anak kedua adijaya, panggil kak rio~" ujar black dengan senyum tampannya, yah nama black hanya samaran jika didunia luar
"karfel adijaya, anak ketiga adijaya panggil abang aja yah~" ucap blue dengan senyum tampannya
karfel juga teman sekelas tanaka, dia juga termasuk anak famous karna ia ketua club renang disekolah itu, meski awalnya karfel tak peduli soal tanaka, tapi sejak waktu itu ia jadi tertarik dengan tanaka
ia pikir tanaka adalah anak manja seperti kebanyakan , tapi ia tidak menyangka setelah dirinya cari tahu justru tanaka adalah anak yang luar biasa
Balik lagi dimeja makan saat ini
erlina dengan semangat menaruh makanan dipiring tanaka mengabaikan tiga anaknya yang kini menatapnya malas
"mami, piring tanaka sudah penuh bahkan ada yang tumpah begitu, mami kembali duduk dan makan saja ya mami juga harus makan..." ucap fanaya dengan senyum paksanya mewakili dua kakaknya
Erlina terkekeh bodoh dia terlalu semangat, dia senang saat melihat tanaka berada dimansionnya
Baru saja lima orang itu akan memulai acara makan malam terdengar langkah kaki bersahut sahutan mendekati arah meja makan dengan sangat cepat
"mami!!! rere pulang!!!" teriak seorang gadis, dia adalah renata adijaya
disamping renata juga ada dua laki2 beda usia tapi sama2 tampan
kennard adijaya, sang kepala keluarga
zendra adijaya anak sulung adijaya
"jangan teriak rena! Ini bukan hutan!!" teriak erlina
"ish...mami juga teriak" jengah fanaya
"hehehe...kebiasaan~" ujar erlina
"bocah lucu dari mana ini?" celutuk zendra yang tiba2 saja berdiri dibelakang tanaka
"woh...aza!!!" teriak renata berlari ke arah tanaka lalu memeluk tanaka yang masih duduk dengan wajah datarnya
"dia bocah yang kemarin aku ceritakan" sahut rio
"yang menolong kalian berdua?" tanya kennard
"iya pih.." balas karfel
"huh? aza nolongin lo juga?" sela renata yang langsung mendapat tatapan datar dari ayahnya
"maksudnya kakak juga ditolong aza?" ucap renata dengan tampang bodohnya
"juga? apa maksudmu rena?" tanya fanaya
"kalian ingat insiden penyerangan disekitar konser musik waktu itu? rere bilang ada yang nyelametin rere waktu itu kan, nah aza ini yang udah nolongin rere waktu itu" jelas renata dengan senyum khasnya
Kennard menatap tanaka yang hanya menatap datar kedepan, ia mendekati tanaka lalu duduk didekatnya menggeser renata yang kini kesal pada papinya itu
"terima kasih" ucap kennard tersenyum penuh dengan aura tenang
tanaka menatap datar pada kennard yang duduk disamping kanannya "sama-sama" balas tanaka singkat dan tiba2 saja wajahnya tertoleh kesamping kiri karna pipinya ditarik oleh seseorang
"kamu lucu...jadi adikku ya!" seru zendra, orang yang menarik pipi tanaka
fanaya menatap kesal kakak sulungnya yang seenaknya menggeser tempat duduknya, fanaya yang tadinya duduk didekat tanaka kini malah diganti oleh zendra
"sudah ada" jawab tanaka yang mendapat arahan dari zero
"bagaimana kalau adik kontrak?" tanya zendra
"sedang tidak butuh uang" lagi, jawaban itu didapat dari zero
"bagaimana kalau aku mengangkat mu jadi adikku, kamu mau?" tanya zendra
"aku bukan yatim piatu" balas tanaka masih dari arahan sang sistem
Zendra terdiam, sedangkan rio karfel fanaya dan renata tertawa keras, erlina dan kennard terkekeh kecil
"hahahaa...kak lebih baik kau diam deh, aku tidak kuat hahahaha!!!" ujar renata yang mencoba menahan tawa
Brak...
"diam" tekan zendra dengan aura gelapnya yang seketika para adik2nya terdiam dengan wajah kaku
"aku tidak mau tau, kamu sekarang sah jadi adikku!" tekan zendra sambil mengelus pucuk kepala tanaka lembut lalu ia duduk kembali dengan tenang dan memulai acara makannya tanpa menatap yang lain
Kennard menghela napas, jika si sulung yang sudah berbicara tegas dan penuh penekan seperti itu maka ia juga tak bisa memaksa
erlina dan lima anak2nya diam2 menyeringai saat melihat kennard tak menentang sama sekali ucapan zendra, mereka tau jika lelaki itu juga tertarik dengan tanaka meski ia masih agak gengsi karna selama ini ia selalu menjaga imagenya
"maaf dia memang begitu, tak usah pedulikan dia, kamu lanjutkan makan malammu" ucap kennard datar yang diangguki oleh tanaka
acara makan malam dimansion adijaya berjalan lancar berbanding terbalik dengan mansion veroze yang kini sepi, meski ada banyak orang dimeja makan itu tapi suasananya terlihat tidak baik
leo berdiri dan pergi dari sana menuju ruang tempat berkumpulnya dengan teman2nya yang saat ini ada disana
dimeja makan masih sepi
"kak leo kenapa~?" celutuk alisa dengan wajah polosnya dan juga suara lembutnya, lembut?
"tidak ada apa2, lisa makan lagi aja biar makin tembem pipinya" ujar zaga sambil mengacak rambut alisa
alisa mengembungkan pipinya "ish..rambut lisa rusak tau~" ucap alisa dengan nada kesal
fandi tertawa lalu ia mencubit pipi alisa gemas "uuh...jangan kesel gitu dong, nanti kakak teraktir eskrim deh" ujar fandi
alisa mengangguk dengan mata berbinar "mau..nanti jalan2 ke mall ya!" seru alisa semangat
"iya" balas zaga sambil mengelus surai milik alisa
Antonio dan desyifa mendengus tidak suka, dua orang itu pergi dari sana
"opah sama omah kenapa? mereka gk suka ya sama alisa?" tanya alisa dengan nada sedih bahkan kini matanya juga sudah berkaca kaca
"enggak kok sayang...opah sama omah lagi sibuk jadi perlu mengurus sesuatu dulu" ucap elaine lembut mencoba menenangkan alisa yang kini malah semakin menangis
"tapi opah sama omah selalu begitu jika ada alisa~hiks.." alisa sudah sesegukan sambil menghapus air matanya
Zaga membawa alisa kedalam pelukannya "sstt...gk kok, opah sama omah emang lagi sibuk, jangan nangis lagi dong gak jadi beli eskrimnya?" tanya zaga
alisa menggeleng kan kepalanya "jadi tapi papa sama mama ikut ke mall ya" ujar alisa sambil menatap elaine dan alex
"mama masih ada urusan sayang, jadi tidak bisa ikut" ucap elaine karna dia masih ingin mencari tanaka
"lisa mohon, kita gk pernah jalan2 bareng, papah sama mamah selalu saja sibuk, hiks...kalian gk sayang sama lisa lagi ya~" alisa kembali menangis
Zaga dan fandi gelagapan, dua orang itu mencoba menenangkan alisa tapi tangisan alisa malah terdengar semakin keras
alex mendekat lalu memeluk alisa "sstt...lisa jangan ngomong gitu lagi ya...kita sayang kok..ya sudah kita ke mall malam ini, lisa jangan sedih lagi ya" ujar alex yang membuat alisa mendongak menatap alex dengan mata merahnya
"beneran ya, papah gk bohong" ujar alisa dengan masih sesegukan
empat orang itu terkekeh kecil merasa gemas pada alisa "iya janji, sekarang lisa siap2 kita akan segera berangkat" ucap alex lembut
diam2 alisa menyeringai didalam pelukan alex tapi ia kembali merubah wajahnya menjadi gadis yang terlihat lugu dan polos dengan tatapan menyedihkan "huh semoga saja anak haram itu tak ditemukan, sekalian jika ditemukan anak haram itu dalam keadaan sudah mati" batin alisa
Alisa mengangguk semangat ia segera pergi dari sana menunju kamarnya, tak lama ia turun dan lima orang itu pun berangkat menuju mall
Sedangkan diruang game milik leo, ia kini terbaring disofa dengan wajah suramnya karna tanaka masih belum ditemukan
"ketemu!!!" seru azis yang membuat leo segera bangun dari sofa dan berjalan mendekati azis, begitu juga revi arda dan ardo
"dimana?" tanya leo tak sabar
"mansion adijaya?" arda terlihat bingung saat laptop milik azis menampakkan titik merah yang berlokasikan mansion adijaya, yang menandakan jika tanaka berada disana
"ngapain tanaka pergi kesana?" tanya ardo
"apa renata yang ajak tanaka kesana" sahut revi dengan wajah ragunya
sret...
"eh!! Mau kemana lo?!!" teriak azis saat melihat leo berdiri dan berjalan keluar
Sret..
"eeh..bos mau kemana?" tanya revi saat melihat zeuro juga ikutan berdiri dan berjalan menuju pintu
"mansion adijaya" singkat zeuro tanpa berbalik
"oke..gass!! Kita jemput tanaka!!!" seru azis semangat
"gass!!!" sorak arda dan ardo
revi hanya menggelengkan kepalanya pelan lalu ia pun segera menyusul sahabat2nya
beberapa menit kemudian zeuro dkk sampai didepan gerbang mansion adijaya
Tapi dihadang oleh seorang satpam
"kita ada perlu, buka gerbangnya!" ujar leo datar
"s-sebentar saya kedalam dulu" satpam itu berlari kedalam mansion
Tak lama satpam itu kembali lalu membuka gerbang dan mempersilahkan zeuro dkk masuk
zeuro dkk memarkikan motor mereka didepan mansion adijaya
Zeuro dkk turun dan berjalan menuju pintu mansion yang sudah dibuka oleh seorang pelayan, enam remaja laki2 tampan dan gagah itu masuk
Sedangkan keluarga adijaya yang duduk disofa ruang tamu menatap zeuro dkk dengan senyum ramah yang terlihat palsu dimata zeuro dkk
"permisi mengganggu waktu tuan adijaya, saya kesini ada perlu" ujar leo sopan karna perusahaan adijaya menjalin kerja sama dengan perusahan keluarga veroze
"perlu apa, kenapa tidak duduk saja dulu" ucap kennard ramah meski itu palsu setidaknya itu senyum formal untuk menghargai leo yang merupakan anak keluarga veroze
"saya mau menjemput adik saya, dimana dia?" tanya leo yang tidak melihat keberadaan tanaka
"tanaka sedang tidur 'dikamarnya' " ucapan santai elaine membuat leo menahan emosi, perkataan kamarnya yang ditekan oleh elaine seolah tanaka tinggal dimansion itu
"baiklah terima kasih, tapi disini 'bukan tempat tinggalnya' jadi saya akan membawanya pulang" ucap leo menekan perkataannya
"tapi tanaka sedang tidur" sela karfel datar
"saya tetap akan membawanya pulang, keluarga kami cemas karna tanaka belum pulang kemasion" ucap leo
"besok saja" ujar rio datar
"tidak, dia harus pulang sekarang, tunjukkan dimana kamarnya" ucap leo mencoba menahan kekesalannya
"biar aku saja" sela zendra datar lalu ia berdiri dan berjalan menuju lift
Tak lama lift terbuka mengalihkan perhatian beberapa orang yang masih duduk disofa
leo menggeram, dia menahan emosi saat melihat zendra mendekat dengan tanaka yang tertidur nyaman digendongan lelaki itu
zendra tersenyum miring saat melihat kekesalan yang ditahan oleh leo, zendra dengan sengaja membuat tanaka terganggu dalam tidurnya, dan ya tanaka bergerak semakin masuk kepelukan zendra, dan dengan nyaman memposisikan tidurnya didada bidang zendra
Leo yang sudah emosi pun berdiri dan langsung mengambil alih tubuh tanaka, sehingga kini tanaka tidur dalam gendongan leo
"terima kasih, saya permisi" ucao leo datar lalu segera pergi dari sana menuju motornya
"kami permisi" ucao zeuro datar lalu ia juga pergi dari sana diikuti empat sahabatnya
"huh, sial" gumam zendra kesal
"sudahlah, kita memang salah sudah membawa tanaka kesini tanpa izin dari mereka" ucap erlina sambil menghela napas
"tapi tanaka sudah jadi adikku" kesal zendra bahkan auranya kini gelap dan dingin
"lain kali kita bisa membawanya kesini lagi" ujar kennard
"dan membuatnya tinggal disini" ucap erlina rio karfel fanaya dan renata kompak
Zendra menyeringai lalu mengangguk, ia kembali duduk disofa, dan suasana kembali santai
Sedangkan diperjalanan, zeuro dkk behenti karna tanaka yang dibonceng oleh leo oleng dan hampir jatuh
Leo memperbaiki posisi tanaka, lalu ia melingkarkan tangan tanaka keperutnya dan mengikatnya agar tidak lepas, setelah selesai mereka kembali melanjutkan perjalanan
sebenarnya mereka sadar jika tanaka itu tertidur karna pengaruh obat tidur
Ya tadi selesai makan tanaka sempat mengatakan untuk pulang tapi keluaga adijaya tak mengizinkannya, tanaka tetap berdiri dari duduknya dan berjalan menuju pintu
Tapi baru saja tiga langkah tiba2 tanaka ambruk kelantai dengan mata terpejam
karna kennard dengan cepat dan tak terlihat melempar sebuah jarum kecil yang sudah dilumuri obat tidur dengan dosis tinggi sehingga tanaka langsung ambruk dan tertidur
Keluarga adijaya menatap kennard dengan pandangan kagum, lalu rio pun mendekati tanaka dan langsung membawa tubuh tanaka kekamarnya yang kemarin dan dibaringkan disana