Anya gadis muda 18 tahun harus mengahadapi kenyataan pahit saat Pria yang selama ini disukainya dijodohkan dengan kakak Anya, Joana. Anya berusaha untuk menghalanginya namun dia masalah diasingkan oleh Ayahnya. Anya yang patah hati akhirnya berusaha melepaskan perasaanya dan fokus akan study nya. 4 tahun berlalu saat kelulusan Anya, Edgae yang selama ini Alya coba melupakan malah datang membawa seikat bunga. apakah dia datang sebagai kakak Ipar atau ada hal lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eureka Irene, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perisai yang Mengeras
Hujan tipis mengguyur kota Surabaya sejak dini hari, menyisakan hawa lembap yang menempel di kaca-kaca jendela besar gedung rektorat lama. Di dalam ruang rapat eksklusif lantai dua yang kini disulap menjadi kantor daruratnya, Edgard Baskoro berdiri menatap ke luar jendela. Secangkir kopi hitam yang sudah mendingin terabaikan di atas meja marmer.
Struktur wajahnya yang tegas dengan garis rahang kokoh mirip Daniel Henney tampak mengeras saat dia mengingat penolakan telak Anya di studio desain kemarin. Kalimat gadis itu terus bergema di kepalanya, memotong ulu hatinya tanpa ampun: “Jangan menyentuh saya dengan tangan yang sama yang dulu mendorong saya ke dalam jurang.”
Edgard mengembuskan napas berat. Pria yang biasanya selalu mengendalikan jalannya negosiasi bisnis bernilai triliunan rupiah di Jakarta itu kini merasa sepenuhnya tidak berdaya di hadapan seorang mahasiswi berusia sembilan belas tahun. Namun, alih-alih mundur dan kembali ke ibu kota, rasa bersalah yang bercampur dengan debaran asing di dadanya justru membuat keras kepala Edgard bangkit. Dia tidak akan menyerah secepat itu.
Di sudut lain kampus, Anya berjalan menyusuri selasar dengan langkah kaki yang teratur. Tas ransel kulit hitamnya tersampir rapi di pundak. Dia mengenakan kemeja satin berwarna hijau sage yang pas badan, dipadukan dengan rok denim span selutut—sebuah kombinasi gaya yang feminin, segar, namun tetap memancarkan batas formal yang tegas. Rambut panjang lurusnya yang hitam cerah bergoyang halus seiring langkahnya.
"Anya! Tunggu sebentar!" panggilan dari Pak Hermawan membuat Anya menghentikan langkah di depan laboratorium komputer.
"Iya, Pak? Ada kendala dengan berkas cetak baliho?" tanya Anya, membalikkan tubuh dengan raut wajah profesional yang tenang.
Pak Hermawan tersenyum kikuk, membetulkan letak kacamatanya. "Bukan, bukan soal baliho. Begini, pihak Baskoro Logistic baru saja mengirimkan permintaan tambahan untuk agenda besok pagi. Mereka ingin tim inti mahasiswa melakukan survei visual langsung ke area pelabuhan dan pergudangan utama mereka di Tanjung Perak [1]."
Alis Anya bertaut sedikit. "Survei lapangan? Bukannya data dokumentasi foto yang mereka kirim dari Jakarta minggu lalu sudah lebih dari cukup untuk referensi desain gaya visual, Pak?"
"Secara teori memang cukup," Pak Hermawan mengangguk setuju, "tapi Pak Edgard secara pribadi menegaskan bahwa pemahaman ruang nyata akan memberikan kedalaman yang berbeda pada hasil akhir logo dan kampanye komersial kita. Beliau bahkan menyiapkan mobil khusus untuk menjemputmu dan Ririn besok pagi jam delapan."
Anya mengepalkan jemarinya di balik saku rok denimnya. Dia tahu persis ini adalah siasat lain dari Edgard. Pria itu sengaja menggunakan alasan pekerjaan lapangan untuk memaksanya keluar dari zona nyaman studio kampus. Namun, sebagai ketua tim yang bertanggung jawab penuh atas masa depan proyek ini, Anya tidak memiliki celah hukum atau akademis untuk menolak.
"Baik, Pak. Tolong sampaikan pada sekretarisnya bahwa saya dan Ririn akan siap di gerbang depan kampus jam delapan tepat," jawab Anya dengan nada suara yang teramat datar. "Tapi beri tahu mereka, kami tidak butuh mobil khusus. Kami akan berangkat menggunakan taksi online agar tidak merepotkan pihak klien."
Pak Hermawan tertegun mendengar ketegasan mahasiswinya, namun akhirnya hanya bisa mengangguk pasrah.
Keesokan paginya, langit Surabaya kembali bersih dan terik menyengat. Tepat pukul delapan kurang lima belas menit, Anya dan Ririn sudah berdiri di dekat pos keamanan gerbang utama. Ririn berulang kali menyeka keringat di dahinya dengan tisu, sementara Anya tetap berdiri tegak dengan payung lipat hitam yang melindunginya dari sengatan matahari pagi.
Sebuah mobil sedan hitam mewah bermerek eropa perlahan berhenti tepat di depan mereka. Kaca jendela baris tengah perlahan turun, menampilkan sosok Edgard yang sedang menatap Anya dengan sorot mata yang sarat akan kehangatan. Hari ini dia mengenakan kemeja polo rajut berwarna biru tua yang santai namun tetap menonjolkan bentuk tubuh tegap atletisnya.
"Anya, Ririn. Silakan masuk. Perjalanan ke Tanjung Perak akan memakan waktu sekitar empat puluh lima menit karena jalur utama biasanya padat oleh truk kontainer," ucap Edgard dengan suara baritonnya yang berat namun terdengar sangat lembut.
Ririn baru saja hendak melangkah maju dengan wajah canggung, namun gerakan tangannya tertahan saat Anya menahan lengan sahabatnya itu dengan cengkeraman yang halus namun kuat.
"Terima kasih atas tawarannya, Pak Edgard," suara Anya mengalun tenang, memotong harapan yang sempat muncul di wajah Edgard. "Tapi taksi online yang saya pesan sudah hampir sampai di belokan depan. Kami akan mengikuti mobil Anda dari belakang. Sampai jumpa di lokasi pelabuhan."
Edgard menahan napas sejenak. Jantungnya berdenyut perih melihat bagaimana Anya dengan begitu rapi memasang perisai di antara mereka. Tidak ada amarah yang meledak-ledak seperti di studio kemarin, yang tersisa hanyalah penolakan sistematis yang teramat dingin.
"Baiklah kalau itu maumu," bisik Edgard lirih, perlahan menaikkan kembali kaca mobil mewahnya dengan rasa sunyi yang kembali mencengkeram dadanya.
Kawasan pelabuhan Tanjung Perak menyambut mereka dengan deru mesin truk besar, aroma garam laut yang pekat, dan debu jalanan yang beterbangan di udara sore. Anya melangkah turun dari taksi dengan kacamata hitam yang bertengger di hidung bangirnya. Dia segera mengeluarkan kamera digital dslr dari dalam tas ranselnya, bersiap mengambil beberapa sampel foto sudut pencahayaan pada kontainer-kontainer raksasa berlambang huruf B besar.
Edgard berjalan mendampingi kepala operasional pelabuhan yang sibuk menjelaskan alur logistik, namun fokus utama mata elang pria itu tidak pernah benar-benar lepas dari Anya. Dia memperhatikan bagaimana Anya bekerja dengan begitu profesional—mengabaikan hawa panas yang membakar kulit putih cerahnya, memanjat undakan tangga besi menara pantau kecil demi mendapatkan sudut foto yang sempurna, dan berdiskusi dengan Ririn tanpa sekali pun melirik ke arahnya.
Di tengah sesi survei, embusan angin laut yang kencang mendadak bertiup, menerbangkan beberapa lembar kertas catatan sketsa komposisi warna dari papan klip yang dipegang Ririn. Lembaran-lembaran kertas itu terbang acak di atas aspal dermaga.
"Eh! Kertas analisis warnanya terbang!" seru Ririn panik, langsung berlari mengejar kertas-kertas tersebut.
Anya ikut bergerak cepat, berlutut untuk mengambil selembar kertas yang tersangkut di dekat ban besar truk derek yang sedang berhenti. Namun, karena fokus matanya tertuju pada kertas, Anya tidak menyadari bahwa pengait rantai besi dari mesin derek di atasnya perlahan bergerak turun karena getaran teknis.
"Anya! Awas!" sebuah teriakan bariton yang sarat akan kepanikan memecah keheningan dermaga.
Sebelum Anya sempat mendongak, sebuah tubuh tegap langsung menerjangnya dari samping. Edgard mendekap tubuh proporsional Anya erat-erat ke dalam dadanya, berguling bersama di atas permukaan aspal dermaga yang kasar, menjauh dari jatuhnya pengait rantai besi besar yang menghantam lantai dermaga dengan bunyi dentuman keras beberapa detik kemudian.
Brak!
Suasana dermaga seketika menjadi riuh oleh teriakan panik para pekerja lapangan yang langsung berlari menghentikan mesin derek.
Anya terengah-engah di dalam dekapan Edgard. Detak jantung pria itu bergemuruh liar tepat di bawah telinganya. Wangi maskulin bercampur sisa aroma kopi premium yang khas seketika memenuhi indra penciumannya, memicu memori lama yang sempat membuatnya membeku selama beberapa detik. Edgard mencengkeram bahu Anya dengan tangan yang gemetar hebat, matanya yang tajam menatap seluruh wajah Anya dengan kecemasan murni.
"Kamu tidak apa-apa? Ada yang terluka? Anya, jawab saya!" tanya Edgard dengan suara yang serak dan pecah, sepenuhnya mengabaikan rasa perih di siku lengannya sendiri yang tergores aspal kasar hingga berdarah.
Anya mengerjapkan matanya. Rasa terkejutnya perlahan digantikan oleh kesadaran penuh. Dia melihat darah segar yang mulai merembes di lengan kemeja polo biru tua milik Edgard. Semburat rasa bersalah dan emosi yang berkecamuk sempat melintas di mata indahnya, namun dengan cepat Anya memperkeras kembali perisai di hatinya. Dia mendorong dada bidang Edgard dengan sentakan yang tegas, memaksa pria itu untuk melepaskan dekapannya.
Anya bangkit berdiri, merapikan rok denimnya yang kotor terkena debu pelabuhan dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Dia menatap Edgard yang masih terduduk di atas aspal sambil memegangi lengannya yang terluka.
"Saya tidak apa-apa, Pak Edgard," ucap Anya, suaranya kembali berubah menjadi sangat datar, sedingin es yang tidak akan pernah bisa dicairkan oleh aksi heroik apa pun. "Terima kasih atas pertolongan Anda. Tapi saya rasa, cedera yang Anda alami adalah bukti bahwa kehadiran Anda di lapangan justru mengacaukan fokus tim kami. Tolong segera obati luka Anda di pos medis."
Mendengar respons yang teramat dingin dan tanpa rasa terima kasih yang tulus dari bibir Anya, Edgard terpaku. Pria dengan garis wajah setegas Daniel Henney itu menatap telapak tangannya yang kini menyisakan sisa kehangatan tubuh Anya dengan pandangan yang kosong. Luka di hatinya saat ini terasa jauh lebih perih ketimbang goresan aspal di lengannya. Dia menyadari, di mata Anya sekarang, bahkan keselamatannya pun tidak lagi memiliki arti penting. Dinding di antara mereka masih berdiri teramat kokoh, menantangnya untuk merendahkan egonya lebih dalam lagi di hari-hari mendatang.
semangat nulisnya 💪