Aruna tak menyangka kematiannya justru membawanya bertransmigrasi ke dalam novel kerajaan Eropa sebagai Lady Evelyne Ashcroft, villain yang ditakdirkan berakhir tragis.
Berbekal ingatan akan alur cerita, ia bertekad mengubah nasibnya dan menghindari semua bendera kematian. Namun, rencananya langsung berantakan ketika seluruh keluarganya dan sang tunangan tiba-tiba dapat mendengar isi pikirannya.
Rahasia masa depan yang terus terungkap membuat jalan cerita berubah. Keluarga yang semula membencinya mulai melindunginya, sementara tunangan yang seharusnya meninggalkannya justru semakin tergila-gila padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Aruna menunduk dalam hatinya ia berkata, [Jika aku datang ke pesta itu, aku pasti akan berpapasan dengan Isabelle, Putra Mahkota, dan semua orang yang kelak akan menjadi saksi atas kehancuranku sendiri. Lebih baik aku tetap tinggal di sini dan menjauhi segala bahaya itu sejauh mungkin.]
"Ayah.. sepertinya aku tidak bisa ikut, tubuhku terasa capek, mungkin aku akan sakit"
Duke Arthur terdiam sejenak mempertimbangkan permintaan putrinya. Namun sebelum ia sempat menjawab, suara Adrian terdengar lebih dulu.
"Aku rasa Evelyne tidak perlu ikut hadir jika ia merasa sungguh-sungguh tidak nyaman."
Aruna menatap kakaknya dengan mata berbinar penuh harap. Adrian menatapnya tenang dan meyakinkan.
"Biarkan ia beristirahat di rumah."
[Kakakku sungguh orang yang paling baik di dunia!] Hati Aruna melonjak bahagia. Namun harapan itu seketika musnah ketika Duke Arthur perlahan menggeleng.
"Tidak bisa begitu, Evelyne."
Aruna menatap ayahnya tak percaya.
"Ayah..."
Arthur menahan senyum namun ucapannya tak dapat dibantah.
"Keluarga Ashcroft tak pantas terlihat seakan menghindari undangan kerajaan. Kau harus ikut hadir, Evelyne."
Aruna pun menunduk pasrah, tak berdaya menentang keputusan ayahnya. "Baiklah..."
Sore harinya, Aruna berjalan menyusuri jalan setapak di taman bersama Cedric. Pria itu berjalan di sampingnya dengan tenang, namun bibirnya tak pernah sekalipun melengkung tersenyum sepanjang perjalanan.
"Mengapa kau begitu pendiam hari ini?" tanya Aruna akhirnya memecah kesunyian.
Cedric menoleh perlahan.
"Tidak ada apa-apa."
"Kau berbohong," ucap Aruna menatapnya lurus.
Cedric mengangkat sebelah alisnya, sedikit terkejut mendengar jawaban yang begitu lugas itu.
"Kau bahkan mampu mengetahui bahwa aku sedang berbohong?"
Aruna terdiam sejenak sebelum menjawab pelan.
"Itu karena wajahmu terlalu mudah dibaca oleh siapa pun."
Sudut bibir Cedric nyaris melengkung membentuk senyum tipis, namun ia segera menahannya.
"Aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu, Evelyne."
"Tanyakanlah."
"Apakah kau sungguh-sungguh takut pergi ke pesta musim semi itu?"
Aruna memandangi bunga mawar yang bermekaran indah di samping jalan, embun yang masih tersisa di kelopaknya berkilau bagai butiran air mata.
"Sedikit takut," akuinya jujur. [Aku takut bukan pada pesta itu sendiri, melainkan takut alur cerita akan kembali berjalan persis seperti yang tertulis dan itu menuju kehancuranku yang tak terelakkan.]
Cedric memperhatikannya dengan tatapan yang begitu dalam dan penuh perhatian.
"Apa yang sebenarnya kau takutkan?"
Aruna tak menjawab. Cedric pun melangkah mendekat satu langkah, suaranya terdengar begitu tulus dan meyakinkan.
"Jika kelak terjadi sesuatu yang tidak kau inginkan di sana... kau dapat mengandalkanku. Aku akan selalu berdiri di sisimu."
Aruna mendongak menatapnya lekat-lekat, hatinya seakan bergetar mendengar janji yang begitu lembut itu.
Dalam cerita yang pernah ia baca, Cedric tak pernah sekalipun mengucapkan kata-kata semacam ini kepada Evelyne. Ia tak pernah menawarkan perlindungan dan ketetapan hati seperti ini.
"Terima kasih," ucapnya pelan sambil tersenyum tipis yang menyembunyikan kepahitan. "Namun... aku tetap harus menjauh darimu."
Cedric seketika terdiam membeku. Senyum yang sempat terukir di wajahnya pun lenyap seketika. Entah mengapa, kalimat yang begitu sederhana itu justru terasa menembus dadanya bagai bilah pedang yang tajam, menyisakan rasa sesak yang tak dapat dijelaskan dengan kata-kata.
Ia tak mengerti sejak kapan hatinya mulai merasa terganggu setiap kali Evelyne menyebutkan perpisahan seakan itu adalah hal yang tak terelakkan kelak.
***
Malam pun akhirnya menyelimuti kediaman Ashcroft dengan kegelapan yang lembut. Aruna berdiri di depan cermin besar di kamarnya, menatap pantulan dirinya sendiri sambil memikirkan hari pesta yang tinggal tiga hari lagi.
"Aku harus berhati-hati," bisiknya kepada pantulan dirinya sendiri. "Aku tak boleh menimbulkan masalah atau menyakiti hati Putri Isabelle. Aku juga tak boleh melakukan hal yang membuat Putra Mahkota semakin membenciku. Dan yang paling penting..." Ia menghela napas panjang seakan membebani segala ketakutan di dadanya. "Aku harus tetap hidup selamat dari pesta itu."