Di dunia modern di mana kultivasi berjalan beriringan dengan teknologi, Chen Mo adalah siswa jenius dengan nilai teori sempurna yang bermimpi menjadi kultivator hebat.
Namun, kenyataan pahit menghantam di hari kelulusan saat Upacara Kebangkitan menunjukkan bahwa dia hanya memiliki Bakat Rank F—level terendah yang dicap sebagai "sampah".
Kekecewaannya bertambah ketika teman masa kecilnya, Su Mengqi, yang membangkitkan Bakat Rank S, langsung memutuskannya demi mengejar masa depan bersama para elit.
Meskipun diremehkan oleh semua orang dan masuk ke Akademi Naga Bintang yang bergengsi hanya karena jalur akademis, Chen Mo tidak putus asa, terutama setelah dia secara tak terduga membangkitkan "Sistem Check-in".
Melalui sistem ini, dia mendapatkan hadiah tak terbatas mulai dari pil langka, teknik kuno, hingga uang tunai hanya dengan melakukan check-in di berbagai lokasi akademi.
Diam-diam, di balik tembok akademi yang penuh cemoohan, Chen Mo mulai menumpuk kekuatan dan kekayaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
"Ya. Lakukan check-in," batin Chen Mo dengan antisipasi.
Ding!
[Check-in Khusus Lokasi Brankas Sekolah berhasil.]
[Mendapatkan: Kartu Hitam Anonim (Berisi 10.000.000 Koin Bintang).]
[Mendapatkan: Skill Pasif - Penyamar Aura (Level 1).]
Chen Mo menahan napasnya sejenak melihat deretan notifikasi itu.
Sepuluh juta koin bintang bukanlah jumlah yang kecil bagi keluarga biasa sepertinya.
Itu setara dengan penghasilan ayahnya selama sepuluh tahun bekerja tanpa henti.
"Bagus sekali. Masalah keuangan keluargaku sudah terpecahkan hari ini," gumam Chen Mo puas.
Kartu hitam itu langsung tersimpan dengan aman di dalam inventaris sistemnya.
Dia juga langsung mempelajari skill Penyamar Aura agar tidak ada yang bisa melacak lonjakan kekuatan fisiknya.
Chen Mo kemudian mendorong pintu ruang tata usaha dan melangkah masuk.
Krieet...
Seorang staf administrasi wanita menatapnya dengan pandangan malas dari balik kacamata tebalnya.
"Nama dan keperluan?" tanya wanita itu dengan nada ketus.
"Chen Mo. Menyerahkan formulir pendaftaran masuk Akademi Naga Bintang," jawab Chen Mo datar.
Staf wanita itu menghentikan ketikannya dan menatap Chen Mo dengan sebelah alis terangkat.
"Oh, jadi kau si Rank F yang masuk lewat jalur akademis itu ya?" ejek staf tersebut terang-terangan.
"Dunia ini memang tidak adil. Orang sepertimu malah membuang-buang kuota akademi elit."
Chen Mo sama sekali tidak terpancing emosinya mendengar ocehan tidak berguna itu.
"Apakah urusan pendaftaranku sudah selesai, Nyonya?" tanya Chen Mo dengan sopan namun sangat dingin.
Staf itu mendecakkan lidahnya kesal karena gagal memprovokasi Chen Mo.
Brak!
Dia melempar sebuah amplop tebal berlogo naga emas ke atas meja dengan kasar.
"Ini surat pengantar dan tiket kereta cepat khusus menuju akademi untuk lusa."
"Ambil ini dan cepat keluar dari ruanganku," usir staf wanita itu sambil kembali menatap layar komputernya.
Chen Mo mengambil amplop tersebut tanpa mengucapkan terima kasih dan langsung berbalik pergi.
Waktu dua hari berlalu dengan sangat cepat tanpa ada gangguan yang berarti.
Lin Feng sepertinya terlalu sibuk menyembuhkan pergelangan tangannya yang patah sehingga tidak berani mencari masalah lagi.
Hari ini adalah hari keberangkatan menuju ibu kota provinsi, tempat Akademi Naga Bintang berada.
Stasiun kereta cepat Kota Jinghai dipenuhi oleh ratusan siswa baru beserta keluarga mereka.
Suasana sangat riuh dengan tangis haru perpisahan dan tawa bangga para orang tua.
Chen Mo berdiri di peron bersama ayah dan ibunya.
"Mo-er, jaga dirimu baik-baik di sana ya," ucap ibunya sambil mengusap air mata di sudut matanya.
"Makan yang teratur, jangan terlalu memaksakan diri dalam latihan fisik karena ayah dengar di sana sangat keras."
Chen Mo tersenyum hangat dan mengusap punggung ibunya pelan.
"Ibu tenang saja, aku pasti akan menjaga diriku dengan baik dan tidak akan mencari masalah."
Ayahnya menepuk pundak Chen Mo dengan kuat dan menatap matanya dalam-dalam.
"Jadilah pria sejati, Nak. Jangan biarkan siapa pun merendahkan martabatmu," ucap ayahnya tegas.
"Aku mengerti, Ayah," jawab Chen Mo mantap.
Sebelum berangkat, Chen Mo diam-diam sudah mentransfer lima juta koin bintang ke rekening ayahnya.
Dia menggunakan sistem anonim dengan catatan bahwa itu adalah beasiswa khusus dari dermawan akademi.
Dengan uang itu, kehidupan orang tuanya di Kota Jinghai akan sangat terjamin.
Wuuusshhh!
Suara kereta cepat melayang magnetik yang membelah angin terdengar memekakkan telinga.
Kereta futuristik berwarna perak itu berhenti dengan mulus di depan peron stasiun.
"Aku berangkat dulu, Ayah, Ibu," pamit Chen Mo sambil melambaikan tangan.
Dia melangkah masuk ke dalam gerbong kelas standar dengan membawa satu koper kecil.
Di kejauhan, Chen Mo bisa melihat gerbong kelas VIP melalui jendela peron.
Dia melihat sosok Su Mengqi yang sedang duduk di balik jendela kaca yang mewah.
Gadis itu tampak mengedarkan pandangannya ke luar, seolah mencari-cari sesuatu di kerumunan kelas standar.
Namun saat Lin Feng dengan tangan diperban mengajaknya bicara, gadis itu langsung memalingkan wajahnya dan menutup tirai jendela.
"Masih saja gengsi untuk sekadar menatap," gumam Chen Mo sambil tersenyum geli.
"Biarkan saja dia hidup di istana pasirnya sendiri bersama para elit itu."
Perjalanan memakan waktu empat jam sebelum kereta akhirnya tiba di Stasiun Naga Bintang.
Saat Chen Mo melangkah keluar dari stasiun, pemandangan di depannya benar-benar luar biasa.
Akademi Naga Bintang bukan sekadar sekolah biasa, melainkan sebuah kota mandiri yang sangat masif.
Gedung-gedung pencakar langit berlapis baja berpadu dengan pagoda-pagoda kuno yang melayang di udara.
Formasi susunan sihir bercahaya emas menyelimuti seluruh area akademi seperti kubah raksasa.
Mobil-mobil terbang berlalu-lalang di jalur udara yang sudah ditentukan.
Ini adalah pusat peradaban kultivasi modern yang sesungguhnya.
"Selamat datang di Akademi Naga Bintang, para siswa baru!"
Suara pengumuman dari pengeras suara raksasa menggema di udara, membuat kerumunan siswa bersorak.
"Silakan menuju ke alun-alun utama untuk pembagian asrama dan kelas dasar kalian."
Ribuan siswa baru berbaris dengan tertib mengikuti papan petunjuk arah yang melayang secara holografik.
Chen Mo berjalan dengan santai sambil mengamati setiap sudut akademi.
Otaknya bekerja cepat, memetakan tempat-tempat potensial untuk melakukan check-in di masa depan.
"Tempat ini benar-benar ladang harta karun," batin Chen Mo dengan mata berbinar.
Setiap bangunan besar di sini pasti memancarkan fluktuasi energi spiritual yang bisa ditangkap oleh sistem.
Sesampainya di alun-alun utama, keramaian semakin menjadi-jadi dengan saling lempar gosip antar siswa.
"Hei, kudengar ada siswa jenius Rank S dari Kota Jinghai tahun ini!" seru seorang siswa jangkung.
"Iya, namanya Su Mengqi. Kudengar dia sangat cantik bak dewi es yang turun dari surga."
"Wah, para senior dari guild papan atas pasti sudah mengincar gadis itu untuk direkrut."
"Tapi kalian tahu tidak berita yang lebih konyol dari kota itu?" potong siswa berambut merah.
"Ada apa memangnya? Jangan buat penasaran."
"Siswa peraih nilai teori tertinggi dari kota yang sama dengan dewi itu ternyata cuma Rank F!"
"Hahahaha! Rank F? Apakah dia datang ke sini untuk melamar menjadi petugas kebersihan akademi?"
"Entahlah, kudengar dia punya koneksi orang dalam jadi bisa memaksakan diri masuk kemari."
Chen Mo yang kebetulan berjalan melewati sekelompok orang bermulut besar itu hanya menguap bosan.
"Telingaku lama-lama bisa berdarah mendengar gosip receh para bocah ini," gumam Chen Mo pelan tanpa menghentikan langkahnya.
Tak lama kemudian, panitia mulai memisahkan para siswa berdasarkan rank bakat mereka.
Siswa Rank S dan Rank A diarahkan dengan sangat hormat ke asrama mewah berlapis emas di sebelah timur.
Sementara siswa Rank B hingga Rank D diarahkan ke asrama standar di tengah yang terlihat cukup modern.
Tentu saja, para panitia bahkan tidak repot-repot memandu siswa Rank E dan Rank F.
Siswa kelas bawah seperti Chen Mo hanya diberi peta digital dan dilempar ke asrama barat.
Asrama barat itu terlihat seperti bangunan tua tak terurus yang tertutup lumut dan sulur tanaman.
"Ck, bau sekali asrama barat ini. Seperti kandang babi betulan," keluh seorang siswa berbadan gemuk di sebelah Chen Mo.
"Nasib kita memang buruk memiliki bakat sampah. Tapi setidaknya kita masih bisa bersekolah di sini dan mendapat subsidi makan," sahut siswa lain dengan pasrah.
Chen Mo sama sekali tidak peduli dengan kondisi asrama yang terlihat kumuh dan terisolasi itu.
Baginya, semakin sepi dan terpencil tempat tinggalnya, semakin bebas dia bergerak menggunakan sistem tanpa pantauan orang lain.
Dia mengambil kunci kamarnya bernomor 404 dari kotak lobi dan berjalan menaiki tangga kayu yang berderit nyaring.
Krieet...
Pintu kamar terbuka, menampilkan sebuah ruangan berdebu dengan satu kasur tipis dan meja kayu yang lapuk.
Chen Mo meletakkan kopernya dengan tenang lalu membersihkan debu di kasur dengan tepukan tangannya.
Baru saja dia duduk untuk meluruskan kakinya, suara mekanis yang sangat dia nantikan kembali terdengar jelas di kepalanya.
Ting!
[Anda telah memasuki area Asrama Barat Akademi Naga Bintang.]
[Area ini dibangun di atas bekas reruntuhan medan perang berdarah di masa lalu.]
[Mendeteksi lokasi check-in khusus dengan fluktuasi aura pembunuhan tingkat tinggi.]
[Apakah Anda ingin melakukan Check-in di lokasi ini?]
Sudut bibir Chen Mo kembali melengkung ke atas membentuk senyuman tipis.
Belum genap satu jam dia berada di akademi ini, dan hadiah baru yang luar biasa sudah menunggunya di tempat kumuh ini.