NovelToon NovelToon
Duda Terpaksa Turun Ranjang

Duda Terpaksa Turun Ranjang

Status: tamat
Genre:Obsesi / Duda / Konflik etika / Tamat
Popularitas:329.2k
Nilai: 5
Nama Author: Kirana Pramudya

"Dewa, sebaiknya kamu menikahi Gita saja. Supaya tidak memutus kasih sayang dari Mamanya yaitu mendiang Tya. Kalau wanita lain, belum tentu dia bisa menyayangi Qinan."

Suara Bu Endang terdengar dan meminta Dewa untuk menikahi adik iparnya sendiri yaitu Gita. Dewa yang baru saja menjadi duda terpaksa Turun Ranjang.

Apakah tragedi turun ranjang ini akan berakhir bahagia? Atau hanya formalitas semata untuk memberikan kasih sayang dan membersamai tumbuh kembang Qinan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Pramudya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Meminta Kesempatan

Hari demi hari berlalu, semakin hari agaknya penilaian Dewa kepada Gita perlahan berubah. Ya, pria itu mulai melihat bahwa Gita itu baik, menyayangi Qinan, dan juga lebih memprioritaskan Qinan dibandingkan kesenangannya sendiri.

Sekarang, saat duduk di kantornya, pria itu justru terbayang-bayang pada Gita yang sedang menggendong Qinan. Aneh rasanya, sebelumnya bayangan yang selalu menghampiri adalah senyuman Tya. Akan tetapi, sekarang Gita mulai mengusiknya.

"Kok bengong, Bro?" tanya rekan kerja yang sekaligus sahabat Dewa yaitu Rino.

"Eh, enggak kok."

Rino tertawa, jelas-jelas Dewa sedang bengong, tapi dia masih saja mengelak. Kemudian, Rino pun berbicara lagi. "Yuk, ke kopi tiam di depan."

Kedai kopi atau kopi tiam merupakan tempat yang menjamur di Batam. Terlebih masyarakat Batam seolah memiliki budaya minum kopi. Banyaknya etnis Tionghoa di sana juga membentuk budaya minum kopi, karena kata 'tiam' itu sendiri adalah kata dari bahasa Hokian yang artinya adalah kedai. Lalu, Kopi O adalah kopi hitam yang biasa diminum masyarakat di kota Batam.

"Pesen apa?" tanya Rino.

"Kopi O saja," balas Dewa.

Rino memesankan Kopi O untuk temannya. Tak lupa ada camilan seperti Parata yang menemani untuk meminum kopi. Kini keduanya duduk dengan saling berhadap-hadapan.

"Kenapa, banyak pikiran? Bukan karena pekerjaan kan? Soalnya pekerjaanmu aman-aman saja."

"Enggak biasa aja."

Dewa masih berusaha berkata bahwa semuanya baik-baik saja. Sebab, Dewa sendiri adalah orang yang introvert. Dia jarang mengemukakan perasaannya kepada orang lain. Bahkan pedihnya hati usai kepergian Tya saja tak Dewa bagikan kepada siapa pun.

"Kamu enak, Bro. Setidaknya dengan pernikahan sekarang, ada yang mengasuh anakmu. Istrimu juga cantik dan baik, selain itu dia sehat. Maaf, bukan bermaksud membandingkan, tapi kamu bersyukur andai jodoh baik, kalian bisa menua bersama. Waktu yang kamu habiskan dengan istrimu sekarang jauh lebih banyak," kata Rino.

Rino tahu bahwa dulu Dewa menikah dengan Tya dalam kondisi Tya sudah sakit. Sekarang, seharusnya Dewa lebih bersyukur karena istrinya sekarang sehat. Harapan untuk menua bersama itu benar-benar terbuka lebar.

"Sana cuti dan pergilah berbulan madu. Kamu berhak bahagia, Wa. Sebab, mendiang istri pertamamu sudah bahagia bersama Allah. Kita yang ditinggalkan juga berhak bahagia."

Dewa terdiam. Namun, benar yang Rino sampaikan bahwa mereka yang sudah ditinggalkan juga berhak bahagia. Ucapan ini pernah Gita sampaikan juga.

Secangkir kopi O dengan obrolan-obrolan pun mengalir begitu saja. Ya, walaupun Dewa lebih banyak mendengarkan apa yang dikatakan oleh Rino. Lagipula, Dewa merasa sekarang tidak begitu membandingkan Gita dengan Tya.

Sepanjang hari di perusahaan bisa Dewa lewati dengan baik. Setelahnya dia segera bergegas untuk pulang. Setibanya di rumah, Dewa melihat Gita yang sedang bernyanyi dengan Qinan. Keduanya tampak bahagia bersama, bahkan Qinan juga bertepuk tangan girang dengan lagu dan tawa Gita.

Tiba-tiba saja pria itu kemudian tersenyum. Anaknya bahagia, Gita bisa menghadirkan kebahagiaan untuk Qinan. Lantaran Gita dan Qinan sedang bercanda berdua sampai tidak mengetahui bahwa Dewa sudah pulang. Sampai akhirnya pria itu berdehem.

"Ehem."

Gita dan Qinan seolah kompak menoleh ke sumber suara, dan Dewa tersenyum menatap keduanya. Hal yang jarang Dewa lakukan, biasanya pria itu berwajah datang.

"Maaf, sampai gak tahu kalau sudah pulang," kata Gita.

"Tidak apa-apa. Kalian sedang heboh bercanda," balas Dewa. "Aku mandi dulu."

Gita menganggukkan kepalanya. Gadis itu kembali bermain dengan Qinan. Namun, beberapa menit sebelumnya Gita menuju ke dapur dan membuatkan teh hangat untuk Dewa.

Turun dari kamarnya, Dewa bergabung dengan Gita dan Qinan yang masih menyanyi dan tertawa bersama. Gita kemudian berbicara.

"Tehnya, Mas."

"Makasih, Ta."

Dewa menyeruput teh itu sedikit dan kemudian duduk di lantai beralaskan karpet bulu-bulu itu mendekat ke Qinan.

"Seharian Qinan ngapain aja? Rewel enggak, Ta?" tanya Dewa.

"Enggak rewel. Seharian malahan ceria banget kok," balas Gita.

Dewa mengangguk. Syukurlah kalau Qinan sudah tidak rewel. Kalau Qinan kembali tantrum kasihan Gita yang pastinya akan lebih banyak menggendong Qinan.

Qinan yang sebelumnya tertawa dan gulung-gulung di karpet itu tidak lama setelahnya justru tertidur. Gita mengusapi kepala Qinan, pun Dewa yang ingin mengusapi kepala putrinya itu. Namun, saat tangan keduanya hendak membelai kepala Qinan, tanpa sengaja tangan Dewa mengenai tangan Gita.

Seketika Gita ingin menarik telapak tangannya. Namun, Dewa masih menggenggam tangan itu. Itu membuat Gita merasa tidak nyaman.

"Ta," panggil Dewa kepada adik ipar yang sekarang sudah menjadi istrinya itu.

Gita mengangkat wajahnya, pandangannya kini tertuju pada Dewa. Sejurus dengan Dewa yang sekarang juga tengah menatapnya. Pria itu mengeratkan tangannya, menggenggam tangan Gita.

"Ta, sebelumnya aku minta maaf karena memberikan pernikahan yang penuh duka untukmu. Akan tetapi, sekarang aku rasa kabut duka itu sedikit berlalu. Perlahan duka kehilangan di hatiku mulai berkurang, dan aku ingin meminta kamu untuk kita mulai bersama hidup rumah tangga kita. Beri kesempatan untuk kita bahagia bersama," kata Dewa.

"Hm, maksudnya apa?" tanya Gita dengan begitu naifnya.

"Selama ini kita tinggal seatap seperti orang asing bukan? Sekarang perlahan-lahan, kita akan membaik, menjadi suami dan istri. Maafkan aku yang dulu sering membandingkan kamu dengan almarhumah. Maafkan aku yang sering ketus. Aku akan semakin memperbaiki diriku."

Dewa berkata dengan sungguh-sungguh. Dia ingin bahagia juga di sisa hidupnya. Bahkan ucapan Rino masih terniang di telinganya.

Kita yang sudah ditinggalkan juga berhak bahagia.

Ya, Dewa juga ingin bahagia. Dia merasa kabut duka di hatinya semakin berkurang. Dia meminta Kesempatan kepada Gita untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang jauh lebih baik tentunya.

"Kamu mau kan, Ta? Kamu sudah membereskan perasaanmu kepada Erfan kan?"

"Aku sudah tidak pernah berhubungan dengan Erfan sejak menikah," jawab Gita.

Jawaban yang Gita berikan membuat Dewa yakin bahwa memang Gita serius dan tidak main-main. Justru Dewa merasa bersalah jadinya.

"Jadi, kamu mau kan?"

"Itu semua tergantung Mas Dewa kok. Jika selamanya kita seperti ini pun tak apa, yang penting ada rasa saling menghormati dan tidak menyakiti satu sama lain," balas Gita.

"Aku menginginkan pernikahan yang bahagia, Ta. Kita yang sudah ditinggalkan juga berhak bahagia bukan? Aku akan berusaha menemukan kebahagiaanku lagi."

Saat Dewa mengatakan itu, Gita menatap kedua bola mata Dewa. Apakah benar keinginan itu? Lalu, jika memberikan kesempatan baru untuk mewujudkan pernikahan yang bahagia, artinya akan banyak romansa juga. Siap tidak siap pun itu akan terjadi bukan.

Dewa menggenggam tangan Gita, dia usap perlahan punggung tangan Gita. "Mau kan, Ta?"

1
Ni Wayan Sudarni
aduhhh, aku jadi kangen dg Batam sempet tinggal dan kerja di Batam View Beach resort selama 2 th dan ketemu suami kerja di sana sama2 orang Denpasar Bali, jodoh ku di Batam mungkin kalo di jadiin novel yaa wkwkwk, mksh thor
Alissia
/Facepalm/
Alissia
/Smirk/
Alissia
🙄🙄🙄🙄🙄🙄
Eli Maliani
bagus ceritanya
dina
Luar biasa
A Z I Z A H
makan hati banget jadi gita, hrs memaklumi sepanjang hidup
capek bangeeeettt
capek badan ngurus ponakan sekalian hamil
capek hati, terpaksa memaklumi suami yg selalu membanding2kan dg almh sang kk
A Z I Z A H
kenapa kesan nya gita yg mau banget nerima pernikahan ini
dih laki bersyukur
tau gitu, rawat aja anaknya ga usah kawinin bapaknya
Yus Warkop
udah tamat atau gimna belum up
Idha Giatno
Luar biasa
hasimnely
kang modus
Yani Hendrayani
bagus
Kirana Pramudya: Terima kasih💗💞
Baca karya yg lain juga yuk, Kak.
Asmaradhana Putri Ningrat juga bagus loh, Kak. 🤗🤗
total 1 replies
suharlina
extrapart anaknya
Enisensi Klara
terima kasih kisahnya apik KK ,ditunggu kisah lainnya 🥰
Enisensi Klara
lope lope deh utk kalian bahagia sepanjang masa 🥰🥰🥰🥰
Enisensi Klara
Ah nyebelin emang dewa 😳
Enisensi Klara
welcome baby boy ❤️😙❤️
Enisensi Klara
aduh aku ikutan mules ini 😳😳
Enisensi Klara
harusnya tau kan udah pengalaman waktu Tya hamil dulu 😤
Enisensi Klara
Dulu suami ku aja nolak kerja luar kota pas kehamilanku udah besar ,harusnya dewa gitu lah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!