NovelToon NovelToon
Resep Cinta Dokter Narendra

Resep Cinta Dokter Narendra

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Sci-Fi / Dokter
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Naila fitri

Judul lama : Diagnosis: Falling For You

dr. Narendra Adiwijaya, Sp.B adalah putra tunggal dari keluarga konglomerat, Narendra dipersiapkan sejak kecil untuk menjadi penerus Adiwijaya Healthcare Group. Tuntutan tinggi tersebut membentuk Narendra menjadi pria kaku, dominan, dingin.

dr. Nayla Kartikasari, Sp.A adalah anak pertama dari pasangan Arga Dewantara dan Citra Kirana, memiliki seorang adik bernama Bintang. Nayla memiliki sifat yang hangat, ekspresif, namun bermental baja menjadikannya dokter yang disukai oleh anak anak

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naila fitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

H-30

Sehari setelah momen romantis di bridal house, realita kesibukan dua dokter spesialis kembali menghantam tanpa ampun.

Di lounge dokter lantai empat RS Medika Adiwijaya, suasana jam makan siang terasa sangat jauh dari kata tenang. dr. Gibran Adiwijaya, Sp.An—sepupu Narendra sesama klan Adiwijaya yang juga berprofesi sebagai dokter spesialis anestesi—sedang tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya.

"Gue gak salah denger, kan?!" celetuk Gibran, menunjuk muka Naren dengan garpu plastik bekas makannya. "Lo beneran nyuruh tim Wedding Organizer buat ganti katering resepsi cuma gara-gara ada menu udang balado?!"

Narendra yang sedang menyesap kopi hitamnya hanya menatap sepupunya itu dengan wajah datar tanpa dosa. "Nayla punya riwayat alergi seafood. Kalau dia gak sengaja makan atau kena kontaminasi silang waktu salam-salaman sama ribuan tamu, siapa yang repot?"

Rania yang duduk di sebelah Nayla langsung menepuk jidatnya keras-keras. "Ya Tuhan, Dokter Narendra Adiwijaya... yang alergi kan Mbak Nayla, bukan 1.500 tamu undangan lo! Lagian kan Mbak Nayla bisa makan menu khusus pengantin di pantry privat!"

"Mencegah lebih baik daripada mengobati," sahut Naren santai, tanpa merasa bersalah sedikit pun.

Nayla menutup wajahnya dengan kedua tangan, pipinya merona antara malu dan pengin menyumpal mulut calon suaminya itu pakai sarung tangan steril. "Naren... kamu tuh bener-bener ya! Kasihan Mbak Maya WO-nya, kemarin dia nyaris nangis di telepon gara-gara kamu revisi denah panggung tiga kali dalam semalam!"

"Denah panggung yang lama terlalu dekat sama sound system utama, Nayla," jawab Naren lekat-lekat, menatap tunangannya dengan raut wajah sangat serius. "Suara bass-nya bisa bikin kamu pusing kalau berdiri lama di sana. Aku cuma memastikan kamu nyaman."

Gibran menggeleng-gelengkan kepala, menatap Nayla dengan tatapan prihatin yang dibuat-buat. "Nay... saran gue sebagai saudara sepupunya nih ya, mumpung masih H-30, lo pikir-pikir lagi deh. Ini orang kalau udah protektif bukan kayak calon suami, tapi kayak Satpol PP berwujud Dokter Bedah!"

"Gibran," panggil Naren pelan. Suara baritonnya rendah, tapi tatapan mata elangnya mendadak sedingin es. "Jadwal bius pasien operasi toraks lo nanti sore mau gue majuin jadi sekarang?"

Gibran seketika mengatupkan bibirnya rapat-rapat, mengangkat kedua tangannya menyerah. "Ampun, Pak! Ampun! Gue balik ke ruang OK sekarang!" serunya sambil ngacir keluar ruangan, membuat Rania dan Nayla tak sanggup menahan tawa.

**

Malam harinya, sekitar pukul sembilan malam.

Nayla baru saja selesai mandi di penthouse Narendra setelah menyelesaikan shift jaganya. Malam ini ia menginap di sana—tentu saja di kamar tamu, karena Naren sangat memegang teguh batasan etika sebelum hari pernikahan mereka resmi digelar.

Saat Nayla berjalan ke dapur bersih untuk menyeduh teh chamomile, ia melihat Naren sedang berdiri di depan laptopnya di meja bar. Kacamata berbingkai tipis bertengger di hidung mancungnya, dan piyama tidur hitamnya tergulung hingga siku.

"Belum tidur?" tanya Nayla lembut, menggeser kursi bar di samping Naren.

Naren menoleh, tatapan matanya seketika melunak begitu melihat Nayla. Ia melepaskan kacamatanya, lalu mengulurkan tangan untuk mengusap rambut basah Nayla. "Nanti pusing kalau tidur dengan rambut basah, Sayang. Sini, aku keringin."

Sebelum Nayla sempat memprotes, Naren sudah bangkit dan mengambil hair dryer dari lemari penyimpanan kecil. Dengan gerakan jemari panjangnya yang sangat lembut, Naren mengeringkan rambut Nayla. Angin hangat dan usapan jemari Naren di kulit kepalanya membuat Nayla memejamkan mata, merasa sangat dimanja dan disayangi.

"Naren..." gumam Nayla dengan suara agak mengantuk.

"Ya?"

"Mbak Maya WO tadi nge-chat aku. Dia bilang ada pengirim anonim yang pesen lima puluh karangan bunga mawar hitam untuk ditaruh di pintu masuk utama ballroom di hari pernikahan kita nanti."

Gerakan tangan Naren yang memegang hair dryer mendadak terhenti seketika.

Suara deru angin dari alat pengering rambut itu seketika dimatikan oleh Naren. Keheningan yang cukup tegang mendadak merayap di dapur bersih tersebut.

Nayla membuka matanya, menoleh menatap Naren yang wajahnya kini kembali mengeras kaku. "Naren? Kenapa?"

Naren dengan cepat menguasai ekspresi wajahnya, mengumbar senyum tipis yang tampak sedikit dipaksakan. "Mawar hitam? Mungkin cuma ulah orang iseng atau salah kirim dari pihak florist."

"Tapi kata Mbak Maya, pesanan itu udah dibayar lunas atas nama... 'Sahabat Lama'," lanjut Nayla dengan kening berkerut penasaran. "Kamu punya teman lama yang sukanya bercanda aneh kayak gitu?"

Naren tidak langsung menjawab. Ia mematikan hair dryer, meletakkannya di meja, lalu merengkuh bahu Nayla dan mengecup pucuk kepalanya lama.

"Gak usah dipikirkan, ya? Biar aku yang minta tim keamanan cek," bisik Naren rendah di rambut Nayla. "Kamu masuk kamar, istirahat."

Nayla menatap Naren curiga. Ada yang disembunyikan Naren, batinnya. Tapi karena matanya sudah sangat berat, Nayla akhirnya mengangguk dan berjalan menuju kamar tamu.

Begitu pintu kamar Nayla tertutup rapat, senyuman manis di wajah Narendra sirna tanpa sisa.

Pria itu merogoh ponsel di saku celananya, lalu mendial sebuah nomor terenkripsi. Tatapan mata elangnya berkilat berbahaya di bawah kegelapan ruang tengah penthouse.

"Halo, Tyo," ucap Naren begitu panggilan terhubung, suaranya sedingin es di kutub. "Lacak transaksi pembayaran lima puluh mawar hitam atas nama 'Sahabat Lama' ke WO pernikahan gue sekarang juga."

Suara di balik telepon terdengar tegang. "Baik, Dokter Narendra. Tapi... ada satu hal lagi. Dari hasil analisis CCTV bandara Soekarno-Hatta tadi sore... penerbangan privat dari Zurich baru saja mendarat."

Narendra mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Siapa yang turun?"

"Dr. Julian Alistair... mantan kepala tim riset spesialis bedah saraf yang dulu dikeluarkan dari Adiwijaya Group secara tidak hormat oleh ayah Anda."

Narendra memejamkan matanya rapat-rapat, menghembuskan napas berat. Bukan Devan, bukan Dharma Wijaya... tapi ancaman masa lalu keluarga Adiwijaya yang jauh lebih berbahaya baru saja menginjakkan kaki di Jakarta, tepat satu bulan sebelum hari pernikahannya.

1
tata
thor up nya jangan lama²+ banyakin ya 🤭
Macyooo: Wkwkwk, terima kasih sudah mampir friends😚
total 1 replies
Macyooo
Jangan lupa tinggalkan jejak friends
Macyooo
jangan lupa tinggalkan jejak yaaa
Macyooo
Jangan lupa tinggalkan jejak yaaa
Macyooo
Jangan lupa tinggalkan jejak ya friends
Macyooo
Haloooo Friendsss!! welcome di cerita pertama akuu, semoga suka yaaa, happy reading 😍😍
Macyooo
Halooo friendsss!!! welcome di cerita pertama akuu, semoga suka yaaa, yang punya kritik dan saran boleh nihh disampaikan🤩🤩
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!