Cerita Generik tentang reinkarnasi di dunia lain dengan gimik sistem ala-ala game.
.
Arga mati tertabrak truck (standar awalan kisah isekai) kemudian berienkarnasi di dunia yang serupa dengan game favoritnya, sebagai Argeas Danae, seorang Penjahat Sampingan, yang akhirnya akan mati di tangan tokoh jagoan.
.
Ikuti kisah Arga/Argeas dalam upayanya menghindari kematian menggunakan pengetahuan tentang seluk beluk dari game favoritnya tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon J, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Event
Sore harinya Argeas mengantar Evangeline berkeliling Area Perdagangan Kotaraja.
Meski awalnya hanya mencari tempat untuk menjual Item dan mengetahui estimasi harga, namun pada akhirnya Argeas dan Evangeline malah menjelajah ke tempat-tempat pengerajin lain dan mulai menjalin hubungan.
Termasuk dengan beberapa
Setelahnya mereka berdua beristirahat di sebuah restoran, Sekaligus makan malam.
"Item-item yang kau buat dihargai dengan cukup tinggi, mengingat kau masih murid Akademi tahun kedua." Argeas benar-benar kagum pada calon istrinya itu.
Mereka berdua sengaja memilih meja di pelataran ruang terbuka tepat di sisi jalan agar bisa melihat sibuknya aktifitas jalan menuju malam.
"Tentu saja. Apa kau meremehkan kemampuan tunanganmu ini?" Evangeline sedikit membusungkan dada.
"Berarti setelah ini kau sudah mulai berpenghasilan," lanjut Argeas masih terdengar bangga terhadap tunangannya itu.
"Kita," sahut Evangeline cepat. "Penghasilan itu bukan hanya dari hasil karyaku seorang. Material, peralatan, dan bahkan kemampuan yang ku perlukan semuanya berasal darimu, Ar." lanjut gadis itu.
"Tapi tetap kau yang akan menyimpan dan mengelolanya, kan?"
"Tentu saja. Kau cukup meragukan dalam urusan penggunaan uang."
"Wah, pasangan muda ini sudah bicara tentang rumah tangga saja padahal baru beberapa bulan bertunangan." Tiba-tiba terdengar suara dari arah jalan menimpali obrolan mereka.
"Oh, Kak Sophie?" Argeas mengenali Sophie, meski kini gadis itu mengenakan perlengkapan tempurnya. Termasuk topi kerucut tinggi milik penyihir bewarna hitam dengan motif garis-garis berwarna merah muda.
"Hei, Ar? Bagaimana kabarmu?"
Kemudian menyusul di belakang Sophie beberapa orang yang Argeas kenali.
Ada Jack, Jeda, dan Ashley.
'Kenapa aku harus selalu bertemu dengan si Ashley, sih?' batin Argeas saat mendapati Ashley berjalan diantara Jack dan Jeda.
"Oh, selamat malam, kak Jack, kak Jeda, kak Ashley," sapanya kemudian ke teman-teman kakaknya itu.
Terlihat tidak ada permasalahan diantara Argeas dan Jack, meski Argeas pernah mengalahkan Jack setahun yang lalu.
Itu karena beberapa bulan setelah duel tersebut, Jack dengan berani mengaku kalah dan meminta maaf melalui surat resmi yang ia titipkan kepada Regina untuk Argeas.
Dan setelah itu sesekali mereka bertemu sebelum pesta pertunangan Argeas. Saat pemuda itu harus bolak-balik ke Kotaraja untuk memesan pakaian dan juga cincin pertunangan.
"Kalian sedang berkencan?" tanya Sophie dengan senyum jahilnya.
"Oh perkenalkan, dia Evangeline Lavis." Argeas mengenalkan tunangannya itu kepada yang lain.
"Salam kenal kakak-kakak semua. Saya Evangeline Lavis. Tunangan Argeas," lanjut Evangeline memperkenalkan diri.
"Putri bungsu Marquis memang sesuai dengan rumornya. Cantik," sahut Jeda. "Perkenalkan aku Jeda Hargar," lanjutnya dengan memperkenalkan diri.
"Dia tunangan orang, Je. Kau tetap akan menggodanya?" timpal Sophie.
"Kenapa memuji dan beramah tamah kau sebut sebagai menggoda, Soph?" Jeda tampak tidak terima dengan perkataan sahabatnya itu.
"Perkenalkan aku Jack Garland, dan ini Ashley Cross," Jack memotong dengan memperkenalkan diri sekaligus memperkenalkan gadis berbando bunga-bunga yang berdiri di sebelahnya.
"Dan aku Sophie Sabil," ucap Sophie setelahnya. Memperkenalkan diri dengan ceria.
"Salam kenal." Evangeline mengangguk kecil ke empat senior di hadapannya itu.
"Kakak-kakak sekalian hendak kemana?" tanya Argeas kemudian berbasa-basi.
"Kami baru saja selesai mendaftar ke
'Oh, benar.
"Kak Jack juga ikut mendaftar?" tanya Argeas kemudian.
"Ya, kami berempat." Jeda yang menjawab.
"Tapi, bukankah kak Jack..."
"Aku penerus keluarga Garland?" Jack segera memotong ucapan Argeas.
"Itu Benar. Tapi itu bukan masalah. Bila tiba saatnya aku harus menjadi pemimpin keluarga, maka aku hanya perlu pensiun menjadi Petualang. Gampang, kan? Dan lagi banyak pengalaman dan wawasan yang bisa didapat dengan menjadi seorang Petualang," lanjut pemuda itu memberi penjelasan.
'Sebentar, apa dia tidak berpikir kalau dia kenapa-napa saat melakukan penjelajahan, berarti keluarganya terancam tidak akan memiliki seorang penerus?' batin Argeas yang terlihat tidak begitu paham dengan jalan pikir anak bangsawan di hadapannya itu.
"Apa kau juga berminat untuk mendaftar, Ar?
"Mungkin nanti setelah aku sudah terbiasa dengan kehidupan di Akademi dan Kotaraja ini, kak," jawab Argeas dengan jujur.
"Baiklah, akan kami tunggu. Tapi jangan terlalu lama." Jack menimpali.
"Oh, iya. Dari yang kudengar, kau tidak masuk Kelas Elit, Ar?" Tiba-tiba Jeda menanyakan sesuatu yang baru saja ia ingat.
'Oh, kenapa orang-orang suka sekali bergosip sesuatu yang sepele seperti ini,' batin Argeas mengeluh.
"Benarkah?" Jack menyahut tampak terkejut. Tak ubahnya Sophie dan juga Ashley meski tak berkomentar.
"Ya. Rodio yang mengatakannya padaku beberapa minggu lalu," jawab Jeda.
"Bagaimana mungkin Akademi tidak memasukanmu ke Kelas Elit?" Jack bertanya tidak mengerti.
"Itu.." Argeas tidak menyiapkan jawaban untuk pertanyaan ini.
'Bagaimana aku menjawab pertanyaan ini?" batinnya sedikit panik.
"Apa jangan-jangan kau menggunakan cincin pembatas saat melakukan Pengukuran Aura?" Jeda menebak dengan tepat.
"Mungkin... karena aku tidak memenuhi syarat untuk masuk ke Kelas Elit," jawab Argeas sekenanya. Ia sudah tidak bisa mengarang apapun lagi saat ini.
"Bicara apa kau, Ar? Bagaimana kau yang pernah mengalahkan ku kurang dari 3 detik itu tidak pantas memasuki Kelas Elit?" Jack meyelorong keberatan.
"Kak Jack terlalu memuji. Yang waktu itu hanya keberuntunganku saja." Argeas coba membalas.
"Oh, jadi menurutmu aku kalah telak karena sedang sial? Kau ini. Bagaimana kalau kita ulang saja duel kita?" ujar Jack menantang.
'Sepertinya aku salah merespon.' Argeas tersenyum canggung. Tidak dapat menjawab.
"Atau jangan-jangan kau memang sengaja menghindari Kelas Elit, ya?" Tebak Jeda sekali lagi. Yang selalu saja tepat sasaran.
"Oh... benar juga. Melihat sifatmu, kemungkinan besar kau memang sengaja menghindari perhatian." Kali ini Sophie yang juga tepat sasaran menebak. "Benar, kan?"
"Kalau memang seperti itu sih, jadi masuk akal. Karena tidak mungkin Akademi akan menempatkanmu di kelas reguler bila mengetahui kemampuanmu yang sebenarnya." Jack terlihat menerima alasan yang disimpulkan oleh teman-temannya itu.
Sedang Argeas hanya terdiam mati kutu. Tdak dapat menjawab atau bahkan sekedar berkilah.
"Tapi bila memang itu keputusanmu, ya... apa mau dikata. Meski menurutku sangat disayangkan kau mencoba menyembunyikan kemampuan hebatmu itu," ucap Jack lagi yang benar-benar tampak menyangkan.
"Dan kau tak perlu kuatir, kami juga tidak akan dengan sengaja menyebarkan hal ini kepada orang lain. Hanya saja sebagai gantinya, ayo kita menjelajah reruntuhan bersama ketika kau sudah mendaftar nanti." Jack kembali menambahi.
Terlihat Argeas sempat meragu sebelum kemudian mengangguk kecil. "Aku akan menghubungi kakak sekalian bila aku sudah mendaftar nanti."
"Tapi jangan terlalu lama," timpal Jack lagi.
Argeas hanya tertawa kecil tanpa membalas.
"Baiklah kalau begitu. Lanjutkan kencan kalian. Kami permisi dulu," ucap Jeda kemudian.
"Dah, Ar." Sophie melambai kecil sambil berjalan bersama teman-temannya meninggalkan tempat itu.
"Mereka teman-teman kak Regina?" Evangeline bertanya setelahnya.
"Benar. Mereka datang ke pesta ulang tahunku setahun yang lalu," jawab Argeas.
"Mereka terlihat seperti orang baik," ucap Evangeline lagi.
"Ya, kurasa mereka memang orang baik. Sepertinya kak Regina pandai mencari teman," balas Argeas.
"Lalu apa kau akan mendaftar sebagai Petualang juga dalam waktu dekat ini?" Evangeline bertanya dengan tema yang baru kali ini.
"Kurasa nanti saja setelah aku sudah mulai memasuki Reruntuhan Bawah Tanah Akademi. Jadi orang-orang juga tak akan banyak yang curiga."
"Apa yang kau katakan, Ar? Semua orang sudah mulai mencurigaimu, kau tahu? Lalu apa yang kau rencanakan selama setengah tahun ke depan?"
"Untuk saat ini aku hanya akan membantumu mencari dan mengumpulkan material untuk mempercepat proses kenaikan Grade Ability Crafting mu," jawab Argeas sambil tersenyum lebar ke arah Evangeline.
"Benarkah? Itu berarti kita akan sering pergi berdua?" Terlihat senyuman Argeas mulai menular pada Evangeline.
"Benar." Argeas mengangguk.
"Baiklah kalau begitu. Kita mulai dari hari minggu depan," ucap Evangeline cepat. "Kita pergi ke...." terlihat gadis itu sedang mencari-cari. "Danau di belakang bukit Agni," ucapnya kemudian memutuskan.
"Baiklah. Dan kebetulan aku juga ingin mempelajari kemampuan Non-Combat seperti memancing dan menguliti hewan," balas Argeas.
"Bagus. Kalau begitu jemput aku setelah sarapan."
-
-
Argeas dan Evangeline sedang asik berbincang di pinggiran danau setelah sepagian mencari material berupa tumbuhan dan mineral.
Disela itu, mereka juga melakukan pemburuan di hutan di kaki bukitnya, sebelum kemudian memancing sambil beristirahat di tepian danau.
"Kurasa material yang kita dapat hari ini sudah cukup untuk beberapa proyek Item baru kedepannya." Evangeline berucap ketika menatap Status Inventory miliknya.
"Maaf aku tidak bisa membantu banyak dalam mencari material. Memang diluar bertarung dan berburu, keahlianku tidak bisa diandalkan." Argeas berucap. Ia tampak berkecil hati karena memang tidak memiliki skill jenis Gathering atau pengumpulan material.
"Jangan merasa kecewa seperti itu. Kau tidak harus selalu bisa dalam segala bidang Ar. Mencari tumbuhan dan mineral memang cukup sulit. Bahkan untuk class [Erudite] sendiri." Evangeline mencoba menghibur.
"Ya, aku juga tahu itu. Karena Gathering itu memang keahlian para Fairy," balas Argeas yang sadar akan hal tersebut.
'Ah, benar juga. Kalau Eve memiliki kontrak dengan fairy, mungkin ia bisa lebih mudah untuk mencari material,' batin Argeas mendapatkan ide. 'Dan tak harus fairy dengan tingkatan tinggi. Yang paling rendah tingkatannya pun tetap ahli dalam hal mengumpulkan material, kurasa.'
"Kenapa? Apa kau sedang merencanakan sesuatu yang gila lagi?" tanya Evangeline ketika melihat wajah tunangannya yang tiba-tiba berubah serius.
"Lagi? Kapan aku pernah merencanakan sesuatu yang gila?"
"Jelas saja kau merasa tidak ada. Itu karena persepsimu tentang hal umum itu tidak pernah masuk akal."
"Aku hanya..."
"Kiyaaa!!!!"
Belum selesai Argeas melanjutkan ucapannya, terdengar suara teriakan dari dalam hutan.
"Suara apa itu?" Evangeline terlihat kuatir.
"Arahnya dari hutan. Ayo kita lihat," ajak Argeas kemudian.
Dan mereka pun bergegas berlari menuju bibir hutan.
Sesampainya di tempat suara tadi berasal, Argeas mendapati sesosok mahluk menyerupai manusia dengan sayap kelelawar di punggungnya. Wajahnya terlihat seperti seekor babon dengan taring yang menonjol keluar mengintimidasi, dan kulit yang berwarna pucat seperti batu pualam.
Terlihat mahluk itu berjalan perlahan mendekati dua gadis yang tengah tersungkur tak jauh dari sebuah kereta kuda yang terbalik. Di sekitarnya beberapa orang dengan seragam seorang penjaga tampak tergeletak tak bergerak.
"Bukankah itu Harpy?" Evangeline mengenali monster tersebut meski masih berjarak cukup jauh.
"Ya, lebih tepatnya Holy Harpy," sahut Argeas mengkoreksi. Terlihat pemuda itu sudah mengeluarkan tongkat sihirnya.
'Ah, sial. Itu lambang Keluarga Kerajaan,' batin Argeas kemudian setelah dapat melihat lambang di bagian atap dari kereta kuda yang terbalik itu.
'Bagaimana cara untuk menyelamatkan mereka tanpa perlu berhubungan dengan Keluarga Kerajaan setelahnya?' Pemuda itu mulai merasa sedikit bimbang mencari cara untuk menyelamatkan kedua gadis tersebut.
Tapi belum sempat Argeas melakukan sesuatu, muncul dari dalam hutan dari arah yang berlawanan, lima orang, yang dua diantaranya adalah kesatria yang langsung saja menyerang Holy Harpy tersebut.
Spontan Argeas dan Evangeline menghentikan langkah mereka.
'Oh? Apa ini bagian dari sebuah
Pemuda itu pun mengurungkan niatannya untuk bertindak setelah melihat situasi yang tengah terjadi. Meski masih belum beranjak dari tempatnya. Berjaga-jaga bila saja terjadi hal yang tidak diinginkan.
Karena berdasar dari penilaiannya, orang-orang tersebut masih cukup muda dan tampak kurang terlalu berpengalaman.
"Sepertinya mereka bisa mengurusnya."
Evangeline menunjuk ke tiga orang sisanya yang terlihat segera membantu dua gadis yang terduduk di dekat kereta kuda.
"Iya, kurasa. Tapi kita awasi saja dulu sampai mereka benar-benar berhasil membunuh monster itu."
Argeas masih merasa kuatir karena monster itu jenis yang cukup sulit untuk dibunuh bila tidak dengan cara yang benar.
"Apa kau kuatir mereka tidak dapat membunuhnya? Bukankah Harpy itu monster tingkat sedang?"
"Benar. Tapi varian [Holy] itu memiliki kemampuan regenerasi yang cukup tinggi. Jadi bila tidak dihabisi dengan benar, dia dapat menyergap balik saat lawan mengira dia sudah mati," jawab Argeas menjelaskan.
"Oh? Mereka sudah berhasil mengalahkannya," potong Evangeline seraya menunjuk.
Dan tampaknya kekuatiran Argeas beralasan. Terlihat dua kesatria tadi mulai menurunkan kuda-kuda mereka setelah berhasil menjatuhkan Holy Harpy tersebut.
"Hei, harusnya mereka menyerangnya dengan atribut api sekali lagi sampai intinya hangus terbakar. Kenapa mereka mengira ini sudah selesai meski mereka belum mendapat pemberitahuan bahwa monster itu sudah mati?" ujar Argeas terlihat sedikit jengkel.
Dan benar saja, saat kedua kesatria tadi berbalik badan hendak menuju ke teman-temannya karena merasa semuanya sudah selesai, monster bersayap kelelawar itu segera melompat menyerang salah satu dari kesatria tersebut.
Namun Argeas sudah bersiap akan hal tersebut. "Thunder Spear," ucapnya kemudian.
Dan sebuah kilatan petir berbentuk tombak keluar dari ujung tongkat sihir Argeas, yang kemudian meluncur cepat ke arah monster tersebut.
Bahkan kedua kesatria tadi belum sempat bereaksi saat kilat tersebut menyambar dan membakar tubuh Holy Harpy itu saat masih dalam posisi di udara.
Semua orang yang berada di sekitaran monster itu tampak terkejut. Sementara Argeas segera mengajak Evangeline untuk pergi dari tempat itu.
.
"Apa mereka sudah tidak apa-apa kau tinggal?" Evangeline terlihat masih menguatirkan orang-orang tadi.
...<
...<<120 XP Obtained>>...
Tiba-tiba muncul pemberitahuan dalam benak Argeas.
"Jangan kuatir. Monster itu sudah benar-benar mati sekarang," balas Argeas.
"Efek [Burning] dari sihir [Thunder Spear] memiliki kemampuan menghambat regenerasi monster itu dan menguras HP nya sampai 0," lanjut pemuda itu memberi penjelasan lebih rinci.
"Ingat-ingat informasi ini," tambahnya lagi yang ia tujukan kepada tunangannya.
Sedang Evangeline hanya menganggu pertanda paham.
"Dan juga lebih baik kita tidak ikut campur dengan orang-orang itu," lanjut Argeas.
"Tipikal dirimu. Terlalu kuatir untuk berhubungan dengan orang-orang dari istana." Evangeline membalas.
"Kau tahu mereka dari iatana?"
"Lambang di kereta kuda tadi adalah lambang dari keluarga kerajaan."
"Aku kira kau tidak melihatnya."
"Hei, jangan remehkan aku. Aku memiliki kemampuan [Sharp Eye] untuk meningkatkan jarak pandang."
"Iya-iya, maaf. Lebih baik kita kembali melanjutkan perbincangan kita yang sempat terpotong tadi saja. Sekaligus makan siang," ajak Argeas yang coba untuk mengalihkan pembicaraan.
-
Tak lama setelah Argeas dan Evangeline selesai dengan makan siang mereka, terlihat sebuah kereta kuda dengan beberapa orang yang berjalan di sekitarnya mendekat.
Argeas sudah merasa tidak nyaman dengan hal ini.
Dan begitu sudah cukup dekat, Argeaa dan Evangeline berdiri memasang posisi siap memberi hormat.
"Oh, kalian berdua?" Seorang pemuda berambut pirang kecoklatan yang panjangnya menutupi separuh wajah itu berucap. Tampak mengenali Argeas dan Evangeline.
Pemuda itu dikenali Argeas sebagai salah satu dari kesatria yang sebelumnya melawan Holy Harpy.
"Kalian mengenal mereka?" Terdengar seorang gadis berbicara dari balik jendela kereta yang terlihat hancur di bagian kacanya.
"Benar tuan putri. Mereka adalah murid Akademi," jawab pemuda berambut panjang tadi kemudian.
"Beri salam kepada putri ketiga, Putri Anastasia," lanjutnya kepada Argeas dan Evangeline dengan nada memerintah.
"Salam Tuan Putri Anastasia. Perkenalkan nama saya Argeas Danae."
"Dan saya Evangeline Lavis," sambung Evangeline.
"Oh, putri bungsu dan calon menantu Marquis Lavis rupanya. Sedang apa kalian berada di tempat ini?" tanya gadis yang dipanggil Anastasia itu sambil melongokan kepalanya keluar jendela. Terlihat penasaran dengan Argeas dan Evangeline.
"Kami sedang memancing sekaligus bersantai menikmati alam, tuan putri," jawab Argeas.
"Oh, jadi kalian sedang berkencan. Apa kalian sudah lama berada di tempat ini?" Gadis yang usianya tak lebih tua dari kakak perempuan Argeas itu kembali bertanya.
"Sejak sebelum makan siang, tuan putri."
"Dan apa kalian melihat sesuatu yang aneh?" Anastasia bertanya lagi.
"Sesuatu yang aneh?" Argeas berpura-pura tidak paham.
"Apa kau melihat ada yang lewat tempat ini sebelum kami?" Kali ini pemuda berkacamata yang mencoba menjelaskan pertanyaan dari sang Putri.
"Tidak. Kami tidak melihat ada yang lewat kecuali rombongan tuan putri sekarang ini." Argeas menjawab jujur.
"Baiklah kalau memang begitu. Lanjutkan saja acara kalian. Kami permisi dulu," balas Anastasia sambil kembali memasukan kepalanya ke dalam kereta.
"Ayo kita jalan," perintahnya kemudian.
"Selamat jalan tuan putri." Argeas dan Evangeline membungkuk memberi hormat saat kereta kuda tersebut melewati mereka.
.
"Siapa sebenarnya orang-orang tadi? Bagimana mereka bisa mengenal kita?" Argeas bertanya setelah arak-arakan kereta kuda itu sudah cukup jauh.
"Sepertinya mereka murid dari Kelas Elit. Aku mengenali gadis berwajah lesu tadi. Kalau tidak salah namanya Illaria En'ger," balas Evangeline.
'Illaria En'ger? Bukankah dia
'Tapi kalau memang benar event itu, berarti ada hubungannya dengan si Rynka, [Champion] dari
"Kurasa kita harus segera pergi dari sini sebelum keadaan jadi semakin rumit," ucapnya kemudian mengajak Evangeline
"Ya, aku juga setuju," balas gadis itu yang juga berpikiran serupa.
\=
Sehari kemudian di salah satu villa milik Keluarga Istana di sekitaran komplek Akademi.
"Apa kau yakin itu Magic Spell [Thunder Spear]?"
Terlihat seorang pemuda berwajah tampan dengan postur tubuh gagah dan berwibawa bertanya kepada pemuda berambut panjang yang sempat menyelamatkan Anastasia.
"Saya yakin sekali pangeran." Pemuda berambut panjang itu menjawab.
Pemuda yang dipanggil pangeran itu adalah kakak Anastasia. Pangeran ketiga, Ferdinan.
"Meski itu Magic Spell tingkat menengah, tapi tetap saja Attribute [Lightning] baru bisa dipelajari saat grade dari Attribute sihir yang diperlukan diatas Grade A." Ferdinan berucap memberi penjelasan. "Dan biasanya hanya Petualang tingkat C ke atas yang mungkin menguasainya."
"Kalau begitu carikan informasi tentang Petualang tingkat C ke atas yang menguasai sihir tersebut." Anastasia yang juga ada dalam ruangan itu berucap memerintah.
"Baik, tuan putri." Salah seorang kesatria menjawab sebelum kemudian bergegas keluar ruangan.
"Apa yang sebenarnya tengah terjadi akhir-akhir ini? Sebelumnya [Magus] dan sekarang seseorang dengan sihir [Thunder Spear]. Apa ini pertanda bahwa kedatangan sang Pahlawan sudah dekat?" Ferdinan mencoba menebak-nebak.
\=
apakah tubuh tidak akan meledak jika tidak mampu menampung beban level ?