NovelToon NovelToon
PANGERAN SUBUH (Ustadzku, Guruku, Suamiku)

PANGERAN SUBUH (Ustadzku, Guruku, Suamiku)

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Obsesi / Beda Usia / Tamat
Popularitas:135.6k
Nilai: 4.9
Nama Author: Kim99

Karena kenakalan remaja yang sudah di ambang batas wajar, sepasang suami istri memutusakan untuk mengirim anak bungsunya ke sebuah pesantren di pedesaan.
Namun, hal ini menjadi awal konflik batin terbesar untuk seorang gadis bernama Azizah. Gadis berusia 18 tahun yang masih duduk di kelas 12 itu menolak untuk dipindahkan apalagi saat kakeknya (pemilik pesantren) menyarankan Azizah untuk dinikahkan dengan seorang ustadz kebanggaan kakek Azizah dengan alasan untuk kebaikan Azizah.
Pemberontakan terjadi, awal pernikahan yang rumit membuat Azizah bersikeras untuk mendapatkan talak dari suaminya. Sejak awal, Azizah menerima perjodohan itu hanya untuk mengamankan posisinya saja. Karena, ia berpikir, pernikahan itu tidak penting, setelah dia menikah, dia bertekad untuk membuat suaminya jengkel dan akhirnya berujung perceraian. Begitulah rencana Azizah.
Satu hal yang Azizah tidak tahu, laki-laki yang menikahinya ternyata adalah ustadz dengan julukan kesabaran seluas samudra?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim99, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19. Mempertahankan

Azizah melangkahkan kakinya dengan cepat ke arah ruang guru, perempuan itu berdiri di samping pintu, pelenga-plongo melihat ke dalam untuk mencari keberadaan suaminya. Helaan napas terdengar sangat berat, dia tidak sempat menanyakan apakah sang suami akan datang atau tidak, dia memilih berangkat lebih dulu karena ingin menyelesaikan sesuatu, akan tetapi semuanya malah berjalan tidak sesuai dengan apa yang dia inginkan.

“Apa di telpon aja ya, tapi … tadi juga lupa bilang kalau aku berangkat sama Afifah. Gimana ya? Ustadz marah enggak?”

“Enggak kayaknya!”

“Iya kah?” tanya Azizah. Kelopak matanya melebar, perempuan itu berbalik, semakin hebohlah dia saat melihat suaminya ada di sana.

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikussalam,” jawab Azizah. Perempuan itu celingukan, melihat kanan kiri sebelum akhirnya meminta ustadz Farhan untuk mengikutinya ke perpustakaan. “Ustadz ngajar?” tanya nya setelah memastikan jika semuanya aman terkendali, perpustakaan itu baru dibuka, sepertinya oleh petugas kebersihan.

“Kenapa saya harus libur, saya punya kewajiban yang harus saya kerjakan, Adek enggak nyaman liat mas di sini?”

Azizah menggelengkan kepalanya, perempuan itu mengembuskan napas lega karena sang suami tidak terpuruk, tapi yang ingin dia bahas sekarang bukan itu. “Reno sama teman-temannya ke mana Ustadz? Kenapa Almera bilang kalau mereka enggak masuk sekolah?”

Tidak ada jawaban, pria itu bungkam, hanya menatap Azizah lekat seolah itu adalah tatapan terakhir yang akan dia berikan untuk istirnya.

“Ustadz!~”

“Ahhh, kenapa?”

Azizah menggelengkan kepalanya, perempuan itu baru akan kembai berbicara akan tetapi tiba-tiba pria di depannya menunduk dan mengecup bibirnya sekilas.

“Mereka aman di suatu tempat, hanya sedang menjalankan hukuman, akan kembali setelah semuanya selesai!” Hanya seperti itu, tersenyum seraya mengusap kepala Azizah lembut. “Ambil ini!” katanya memebrikan sebuah tas kecil yang sepertinya adalah kotak bekal. “Jangan sampai enggak habis, tadi Adek enggak makan kan? Mas harus ke kantor sekolah sekarang! Assalamu’alaikum!”

“Wa’alaikumssalam!” sahut Azizah masih dengan kegugugpan luar biasa, perempuan itu terdiam, bak patung tak bernyawa, tindakan yang dilakukan oleh sang suami membuat jantungnya berdebar tak karuan.

Meraba bibirnya sesaat sebelum akhirnya dia ambruk, terduduk pada kursi di belakangnya. “Bolehkah seberani ini?” gumam Azizah antara senang dan sedih. “Bagaimana caranya orang seperti ini harus dihadapkan dengan keadaan rumit. Apa dia tidak ingat kalau dia sedang menghadapi maslah besar?”

** **

Ketika jam pelajaran sekolah, Azizah benar-benar tidak fokus, perempuan itu masih memikirkan keberadaan Reno dan teman-temannya tapi di sisi lain dia juga masih memikirkan masalah yang sedang dia dan suaminya hadapi.

“Ai!” panggil Asri seraya menepuk pundak Azizah perempuan itu menaik turunkan alisnya membuat Azizah kebingungan.

“Kenapa?” tanya Azizah tanpa suara karena di depan masih ada guru. “Tunggu deh, ada yang mau aku tanyain, pulang sekolah bisa ketemuan enggak? Ikut sama aku mau?”

“Bolehkah?”

Azizah mengangguk yakin, dia memang membutuhkan pernyataan dari Asri agar dia bisa menyelesaikan maslahnya sedikit demi sedikit. Teh Bilqis dan beberapa orang terdekatnya sedang mempersiapkan pernikahan, Azizah tidak bisa hanya leha-leha. Dia tidak rela jika suaminya menikah dengan perempuan seperti itu.

** **

Sore hari, setelah Azizah pulang dari sekolah, dia benar-benar meminta semua orang untuk berkumpul di ruamhnya Kiyai Juhairu, mereka yang telah saling melihat satu sama lain terlihat agak kikuk tapi Azizah dengan cepat mencairkan suasana.

“Kiyai Juhairu itu kakek aku,” ujar Jiva kepada Asri. Aperempuan itu pun hanya mengangguk. “Ini Bule Qaila sama ini Afifah temen aku.”

“Jadi kenapa?” tanya Asri memang tidak mengerti permasalahan yang sedang terjadi saat ini.

“Sebenarnya, ada masalah sama Pak Farhan,” kata Azizah mulai menjelaskan, perempuan itu masih berusaha untuk menutupi pernikahannya dan Asri pun menganggukki hal itu, dia terlihat sangat terkejut, apalagi saat mengingat jika hari ini ia melihat ustadz Farhan dan pria itu datang ke sekolah seperti tidak terjadi apa-apa. “Kemaren Hanifah sekolah enggak?”

Asri terlihat berpikir cukup lama, perempuan itu berusaha untuk mengingat, seharusnya kelas Hanifah itu bertugas untuk menjadi panitia upacara bendera kan? Tapi, Hanifah yang biasanya bertugas untuk mengibarkan bendera tidak ada, terlebih … “Enggak! Aku yakin enggak sekolah, kalau enggak salah ada salah satu temennya yang bilang ke panitia upacara kalau Hanifah sakit.”

“Kamu tahu temennya siapa? Boleh minta kontaknya enggak?”

“Aku enggak punya kontaknya, tapi aku bisa cari tahu,” sahut Asri. Azizah pun mengangguk.

“Terus Kiyai, yang ngasih tahu Kiyai kalau Ustadz Farhan ada di rumah Teh Bilqis siapa?”

“Shakia!”

“Shakia?” tanya Azizah bingung.

“Tunggu!” Asri ikut menimpali. Shakia itu temen deketnya Hanifah.”

Azizah kembali mngangguk-anggukkan kepalanya, perempuan itu mencatat semua hal yang menurutnya sangat penting, tidak, semua informasi ini memang terlalu penting untuk tidak dia masukan ke dalam catatan.

“Bule gimana? Ada yang Bule tahu?”

Perempuan yang umurnya sudah hampir menginjak kepala tiga itu menggelengkan kepalanya. Namun, beberapa saat kemudian, dia mengingat sesuatu.

“Kalau enggak salah, Shakia itu masuk kelas Bule deh sebelum Ashar.”

“Dia masih berjamaah juga sama aku,” lanjut Afifah menambahkan. Azizah kembali mengangguk-anggukan kepalanya, perempuan itu merasa memang ada yang janggal dari semua kejadian ini, akan tetapi, yang membuatnya tidak bisa berpikir banyak adalah Meca yang sedang izin untuk pulang karena sakit, dia juga tidak mengerti bagaimana caranya untuk bisa berkomunikasi dengan mantri yang menangani Teh Bilqis saat itu.

“Pak RT memutuskan untuk mempercepat pernikahan, Ai.”

“Kapan?” tanya Azizah.

“Tiga hari lagi.”

“Astagfirullah … para manusia ini.” Azizah mengembuskan napas panjang. Ia melirik ke arah Kiyai, dan kakeknya itu juga terlihat sedang berpikir keras.

“Bagaimana kalau kita gagal apa yang akan terjadi pada Pak Han kita?” lirih Asri membuat Azizah ikut resah.

** ** **

Udara tengah malam biasanya memang lebih dingin dari siang hari, apalagi kalau menjelang subuh, semakin pagi maka suhu udara semakin menurun. Azizah menggeliat dalam tidurnya, perempuan itu membuka matanya saat melihat siluet seseorang tepat di depannya, memang jarak itu tidak terlalu dekat, tapi ia bisa melihat dengan jelas kalau sang suami tengah bersujud sangat lama.

Melihat hal itu Azizah semakin tidak tega, dia tidak tahu apa yang suaminya pikirkan sampai dia bisa sesabar ini, terlebih mempercayakan semua hal padanya. Ia pun beranjak, Azizah keluar dari kamar, memembasuh wajahnya di wastafel lantas membuat teh hangat untuknya dan untuk sang suami, jika tidak salah, satu sendok teh gula pasir sudah cukup kan?

Ia melirik jam di dinding yang sudah menunjukan pukul empat pagi, entah sejak kapan suaminya itu bangun, akan tetapi Azizah tahu kalau hari ini suaminya pasti terjaga lebih awal dari biasanya.

Menunggu, ia menunggu sang suami selesai, akan tetapi, setelah melihat suaminya yang sedang berdzikir, Azizah mengambilkan selimut dan menyelimuti suaminya dari belakang.

Pria itu menoleh, ia tersenyum ketika saling bertemu tatap dengan istri kecilnya.

“Mas bangunin kamu ya? Maaf, lain kali mas akan lebih berhati-hati.”

Azizah menggelengkan kepalanya, perempuan itu tersenyum dengan mata yang mulai memanas menahan tangis. Sungguh, dia tidak pernah menerima kasih sayang setulus rasa kasih yang suaminya berikan.

“Ai bikin teh buat Ustadz! Minum dulu, nanti lanjut dzikirnya!” Azizah mengambil teh yang tadi ia buat, duduk di hadapan sang suami, lantas memberikan teh itu pada suaminya.

“Terima kasih!” kata Ustadz Farhan, meminum teh itu dan menyodorkannya kembali kepada Azizah agar istrinya ikut meminum teh hangat itu.

“Azizah udah minum, Ustadz.”

“Yang ini lebih enak, cobalah!”

Azizah agak sedikit ragu, tapi ia menerima teguk teh itu dengan sangat pelan, takut jika suaminya berbohong karena teh sebelumya terlalu manis.

“Wuahh … yang ini lebih enak, Ustadz. Ai berhasil, Ai sudah bisa bikin teh.”

Ustadz Farhan mengangguk, pria itu meletakan cangkirnya kemudian berbaring di atas pangkuan sang istri. “Mas boleh tidur sebentar kan Dek?”

Azizah mengangguk samar, perempuan itu awalnya kebingungan, tapi perlahan, ia mulai menggerakkan tangannya, mengusap lembut rambut sang suami.

“Mas sayang sama kamu, Dek!”

Azizah hanya tersenyum perempuan itu tidak tahu harus mempercayai ini atau tidak, tapi yang jelas, dia akan berusaha untuk membatalkan pernikahan sang suami dengan perempuan lain. Sekalipun nanti pernikahannya harus berakhir, ia tidak rela kalau suaminya menikah dengan Teh Bilqis.

1
🌟 Dauzz🇲🇨
akhirnya happy ending 😍
🌟 Dauzz🇲🇨
rasani ngeselin emang
🌟 Dauzz🇲🇨
astagfirullah Azizah geram dengan sifat nya
🌟 Dauzz🇲🇨
bagus ceritanya
🌟 Dauzz🇲🇨
duh makin penasaran
🌟 Dauzz🇲🇨
waduh rupanya ada pelakor 🤭
Danny Muliawati
nah km pinter boy
Danny Muliawati
waduh gawat ktm boy
Danny Muliawati
knp hrs teriak2 kan ada hp
Danny Muliawati
smga yg terbaik yah Thor aq mah sk deg deg an
Danny Muliawati
ada aza yah masalah semangat thor
Danny Muliawati
penasaran banget info dr salma apakah itu
Danny Muliawati
manusia menjelma d'zal bilqis nama nya sgl cara di lakukan klo sdh cinta ga tau diri sdh di tampung di sekolahkan
Danny Muliawati
astagfirullahalazim bilqis bilqis smga Thor ada jln terbaik kasian azizah
Danny Muliawati
ga jaminan yah usia lebih dewasa dr azizah sgl cara ga baik di lakukan demi cinta sm ustad jadian deh lo bilqis cinta tak sampai 😂😂
Danny Muliawati
ternyata ustad itu banyak fans nya yah
Danny Muliawati
fikiran anak remaja yg frustasi bkn nya bersukur di angkat derajat menuju baik
Bagus Rahmad
terimakasih banyak atas hiburannya
Bagus Rahmad
ini baru menerima kenyataan paling bentar,kecewanya dan patah hati laki2 gak selama wanita
Bagus Rahmad
gilaa..anakbjaman now
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!