"Kau hanyalah sebatas istri pengganti!"
Clara Lyman terpaksa mengubur keinginannya karena paksaan dari orang tuanya untuk menggantikan sang kakak yang kabur dari pernikahan.
Calon kakak iparnya, Keenan Gibson, merasa ditipu dengan keluarga Clara!
Namun, karena pesta pernikahan sudah di depan mata dan tidak ingin mempermalukan keluarga, Clara dan Keenan akhirnya memutuskan menikah.
Setelah menikah, perlakuan Keenan dingin pada Clara. Namun, Clara tak gentar untuk membuat sang suami menerima dirinya. Masalah kian rumit ketika kakak Clara datang kembali dan ingin merebut Keenan. Di samping itu, benih-benih cinta sudah muncul di hati Clara pada Keenan.
Lalu, bagaimana dengan nasib pernikahan Clara? Akankah Clara memperjuangkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BlackCat61, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Itu Karena Dirimu
Melihat senyuman misterius itu membuat Clara jadi salah tingkah.
“Eng-Enggak! Aku enggak mau tau. Aku hanya bingung saja kenapa kau memakai kemeja yang bahkan belum dicuci itu. Sudahlah, kau bisa memakan sarapan itu. Aku mau membuatnya yang baru untukku,” jelas Clara yang segera beranjak meninggalkan Keenan.
“Itu karena dirimu!“ Sontak Clara menghentikan langkahnya ketika Keenan tiba-tiba berucap. Dengan cepat ia membalikkan tubuhnya dan menatap ke arah Keenan yang sudah bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah Clara yang masih diam terpaku di tempatnya.
Keenan berdiri tepat di depan Clara yang menatapnya.
“Itu karena dirimu. Apa kau dengar?“ tanya Keenan yang berucap kembali.
“K-Kau ... Apa maksudmu mengatakan itu?!“ tanya Clara balik yang nampak gugup.
Keenan tersenyum manis. “Kenapa? Apakah kurang jelas yang aku katakan? Aku melakukan ini karena dirimu. Karena istriku ini sudah bersusah payah untuk menjahitnya kembali. Tentu saja aku harus mengapresiasi kerja kerasmu bukan,” papar Keenan sambil memegang dagu Clara.
Clara menepis tangan itu. “Kau jangan bercanda. Aku enggak percaya denganmu. Mending kau ganti kemejamu itu. Orang-orang akan memandang aneh saat tau kau mengenakan kemeja yang kemarin,” timpal Clara yang membalikkan tubuhnya untuk meninggalkan Keenan.
Namun, tiba-tiba tangannya dengan cepat ditarik oleh Keenan hingga saat wajahnya dengan wajah Keenan sangat dekat. Membuat Clara tertegun melihat kedekatan itu. Apalagi senyum manis di wajah Keenan benar-benar membuatnya jadi pangling.
Clara menundukkan wajahnya. “H-Hei, lepaskan aku,” cicit Clara dengan nada gugup.
Keenan mendekati wajahnya pada Clara. “Kenapa? Apa kau malu saat ini?“ tanya Keenan dengan nada pelan.
“Si-Siapa yang malu? Aku hanya tak nyaman seperti ini,” sanggah Clara yang saat ini berusaha menetralkan degup jantungnya yang menggila.
“Oh iyakah? Kalau kau tak lupa jika saat malam pertama kita, kita lebih dekat daripada ini bukan? Harusnya kau tak masalah bukan jika aku sedekat ini denganmu. Lagipula kita sudah lama tak melakukannya,” timpal Keenan dengan senyum yang lebar.
Clara melebarkan matanya atas perkataan Keenan. Dengan cepat ia mendorong tubuh Keenan untuk menjauh. Keenan bisa melihat wajah Clara yang memerah semua karena perkataan darinya.
“Ja-Jangan main-main! Aku enggak suka!“ protes Clara yang memundurkan langkahnya.
Keenan jadi semakin gencar mendekati Clara. Terlihat Clara yang terus memundurkan langkahnya ketika Keenan yang terus mendekat.
“Kenapa enggak suka, hm? Bukannya malam itu kau sangat menyukainya?“ tanya Keenan dengan senyuman yang menggoda.
Clara menundukkan wajahnya dan terus memundurkan langkahnya. “K-Kau yang memaksaku. Itu bukan keinginanku,” cicit Clara
Keenan ingin sekali tertawa keras saat ini karena melihat ekspresi Clara yang seperti kucing ketakutan. Atau lebih tepatnya seperti seekor kelinci yang sedang meringkuk ketakutan karena ingin dimangsa oleh seekor serigala.
Hingga saat Clara tak dapat berhenti kala sebuah pilar di belakangnya. Clara tetap menundukkan kepalanya. Hingga ia melihat sepatu pantofel berhenti tepat di depannya. Perlahan sebuah tangan mengangkat wajahnya hingga terlihatlah wajah Keenan yang tersenyum padanya.
“K-Kak Ke-Keenan....“
Ucapan Clara terhenti kala Keenan mencium keningnya dengan lembut. Hal itu membuat Clara melebarkan matanya atas apa yang dilakukan oleh pria di hadapannya itu.
Keenan menjauhkan wajahnya dan menatap dalam ke wajah Clara. “It’s gift for you,” bisik Keenan dengan suara beratnya.
Clara begitu terpaku saat ini karena perlakuan Keenan yang benar-benar tiba-tiba. Pria itu benar-benar seperti memiliki kepribadian ganda.
Karena ia terlalu terpaku dengan perlakuan Keenan, ia sampai tak menyadari jika pria itu sudah pergi dari hadapannya. Hingga suara Bibi Nani mengejutkannya.
“Clara?“ panggil Bibi Nani seraya menyentuh pundak Clara.
Clara tersadar dari keterpakuannya. Ia melihat ke arah Bibi Nani yang masih menatapnya.
“Bibi Nani? Emm, di mana Kak Keenan?“ tanya Clara mengedarkan pandangannya.
“Hm? Tuan Muda? Tuan Muda sudah berangkat ke kantor baru saja. Apa kamu tak melihatnya?“ tanya Bibi Nani
Clara sedikit terkejut karena hal itu. Padahal ia baru saja berhadapan dengan pria itu. Tapi, tiba-tiba saja pria itu sudah tak ada di hadapannya.
“Ha? Sudah pergi? Aku tak melihat dia pergi,” jawab Clara dengan tatapan bingung.
Bibi Nani sepertinya tahu apa yang telah terjadi. “Udahlah, kamu jangan memikirkannya lagi. Ayok, Bibi udah buatkan sarapan yang baru untukmu. Bukankah sarapanmu sudah dimakan oleh suamimu itu?“ ajak Bibi Nani
Clara jadi kembali mengingat ketika Keenan yang tiba-tiba mengambil sarapan darinya. Entah kenapa hal itu cukup membuatnya merasa senang. Apalagi saat mengingat kecupan di keningnya itu. Ia menyentuh kening sehabis dikecup oleh Keenan itu.
Rasanya sangat hangat. Hangatnya sampai menjalar ke hatiku ~ batin Clara
Sedangkan di lain tempat, terlihat Keenan yang baru saja sampai di area Gibson Group. Saat ia masuk ke dalam perusahaannya itu, semua orang langsung memberikan hormat padanya juga memberikan salam padanya. Tapi, Keenan bisa melihat tatapan heran di mata para karyawannya itu. Keenan tentunya tahu apa arti dari tatapan itu.
“Hei, lihat! Apa kau tak menyadarinya? Tuan Muda Gibson mengenakan kemeja yang sama dari kemarin”
“Ha? Iyakah? Aku tak memperhatikannya”
“Iyah, itu memang kemeja yang kemarin dipakai”
“Apa Tuan Muda Gibson tak pulang ke rumah hingga memakai kemeja yang sama?“
“Hei, walaupun tak pulang pun, pastinya Tuan Muda Gibson bisa membeli kemeja yang baru bukan? Tuan Muda Gibson bukan orang yang pelit tau”
“Terus kenapa Tuan Muda Gibson memakai kemeja yang sama yah?“
Semua orang banyak berspekulasi tentang kenapa Presdir mereka itu memakai kemeja yang sama. Kecil memang, tapi semua karyawannya itu memang memperhatikan setiap detil dari pemilik Gibson Group itu.
Keenan berjalan masuk ke ruangannya dan langsung duduk di kursi kerjanya itu. Baru saja ia akan memulai pekerjaannya itu, tiba-tiba saja suara dari asistennya itu terdengar. Ia meraih remot kecil dan membuka pintu ruangannya itu.
Saat pintu itu terbuka, terlihatlah sosok Darel yang masuk dengan jalannya yang tergesa-gesa. Ia berdiri di hadapan Keenan dan menatap terkejut pada pria itu.
Keenan mengeryitkan dahinya melihat tatapan Darel. “Kenapa kau menatapku seperti itu?“ tanya Keenan yang mengenakan kaca mata bacanya dan mulai membuka dokumen di depannya.
“Aku pikir gosip di perusahaan itu hanya gosip bohongan saja. Ternyata gosip itu benar. Kenapa. Kau memakai kemeja yang sama dengan yang kau pakai kemarin?“ tanya Darel dengan tatapan heran.
“Hanya ingin saja,” jawab Keenan
Darel menggelengkan kepalanya kuat. “Enggak! Kau itu Keenan Clovis Gibson, pria yang sangat memperhatikan kebersihan. Mana mungkin kau akan menggunakan kemeja yang sama. Sedangkan kau saja setiap harinya akan berganti tiga sampai empat kali kemeja. Ini benar-benar bukan dirimu Keenan. Aku seperti bukan berhadapan denganmu,” papar Darel yang menyanggah ucapan Keenan.
Keenan terkekeh pelan. “Kau pikir aku ini bukan Keenan, hah? Aku ini Keenan tau. Kemeja ini spesial, makanya aku ingin mengenakannya lagi. Lagian ini tak bau tau. Ciumlah ini. Wangi tau,” timpal Keenan dengan senyuman lebar.
Melihat senyuman lebar itu membuat Darel semakin yakin jika sahabatnya itu benar-benar aneh saat ini. Ia mengarahkan telapak tangannya dan memeriksa suhu tubuh Keenan di keningnya.
“Enggak panas juga. Kenapa kau jadi aneh gini nih?“ tanya Darel yang sungguh bingung karena Keenan yang tiba-tiba berubah.
Keenan tersenyum lebar. “Aku enggak aneh kok. Udahlah, jangan mengganggu pekerjaanku. Mending sekarang kau kasih tau jadwalku apa saja. Aku harus menyelesaikannya dengan cepat,” timpal Keenan
“Tumben kau ingin pulang cepat. Kenapa?“ tanya Darel kembali.
“Karena aku ingin bermain dengan kucingku,” jawab Keenan dengan senyum misterius.
Darel memasang wajah heran. “Kucing? Sejak kapan kau punya kucing?“ tanya Darel. Karena seingatnya, Keenan itu tak terlalu suka dengan yang namanya hewan. Apalagi kucing. Bagaimana bisa Keenan tiba-tiba menyukai kucing? Ia jadi merasa aneh pada sahabatnya itu karena tiba-tiba berubah.
“Sejak lama” Keenan mengulum senyum mengingat kucing manisnya itu. Sedangkan Darel masih penasaran dengan kucingnya Keenan.