Semua bermula dari keisengan dan kenakalan remaja SMA, sosok Pandu lelaki badboy terpaksa menikahi teman wanita yang sering ia bully.
Pernikahan yang tidak dilandasi rasa cinta melainkan karena sebuah tanggung jawab karena Pandu telah membuat gadis tersebut buta untuk selamanya.
Akankah kedua musuh ini akan menemukan cinta setelah menikah? Dapatkah Pandu mencintai gadis yang telah di buat buta olehnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malu-malu
Pandu mencium bibir istrinya sangat dalam, sambil merasakan debaran satu sama lain. Ia semakin merapatkan tubuhnya pada Dewi dan terus mencumbunya lagi dan lagi menyesap bibir yang kenyal berwarna ranum.
Dewi menyentuh dada Pandu dan sedikit mendorongnya pelan untuk menghentikan aksinya. Pandu melepaskan ciumannya dengan lembut.
"Kenapa?" tanya Pandu
"Ada Nik Asih," ucap Dewi sedikit berbisik
"I don't Care," Pandu ingin menciumnya lagi
"Pandu ih... kan malu,"
"Bik Asih ada di atas loteng, jemur baju. Kita mesra-mesraan dulu napa sih, udah halal juga kan," sahut Pandu
Sebelum Dewi berkata aneh-aneh Pandu segera membungkamnya dengan kecupan kasar, namun sangat dalam.
Kemesraan di pagi hari itu berlanjut hingga nirwana ke tujuh. Sayangnya mereka sedang tidak berada di nirwana, hanya perumpaan orang yang sedang di landa cinta. Hanya sebuah ciuman yang mereka lakukan tidak lebih.
Pandu melepaskan cumbuannya, membelai pipi Dewi sembari berkata, "Kunti...Maafkan aku ya, kamu buta gara-gara tingkah jahil ku. Andai waktu terulang kembali mungkin kamu saat ini masih bisa melihat ...," Pandu terdiam
"Mungkin ini memang udah jalan takdir, kalau aku gak buta kayak gini mungkin kita gak akan bisa nikah," ucap Dewi
Status sosial pastinya, mana mungkin orang tua Dewi akan menyerahkan anaknya pada Pandu yang miskin dan tidak memiliki apapun.
"Hemm iya kamu bener, tadinya sih aku beneran nolak karena ledekan teman-teman. Tapi rupanya, aku baru sadar kalau kamu itu penyebab semuanya," ucap Pandu
"Hah maksudnya?"
"Kamu berantem sama Thoriq, aku gak tahu masalah kalian. Tiba-tiba aja aku ikutan kesel ma dia, waktu dia noyor kepala kamu ma telunjuknya. Aku tinju aja lah mukanya waktu berpapasan dengan alasan gak masuk diakal, kalau ga salah alasannya cuma karena nyenggol bahu . Nambah deh musuhku. Musuh berikutnya Rahmat karena dia deketin kamu dan masih banyak lagi lah kalau dipikir-pikir penyebabnya itu kamu," ucap Pandu
"Segitunya ya hhehe masak sih...," Dewi masih tidak percaya tapi itu nyata.
"Hehe ya gitu... kamu sendiri sekarang nyesel gak jadi istrinya Pandu?" tanya Pandu
Dewi tersenyum dan dengan cepat berkata, "Kalau sikap kamu manis gini sih ya gak nyesel. Asal kamu gak selingkuh aja,"
"Aku ga bisa manis Kunti... aku bukan orang yang romantis. Aku emosional, tempramen, tapi aku bisa pastiin aku setia," jawab Pandu.
Laki-laki Badung seperti Pandu memang susah untuk di setir dan dibikin kalem, sabar aja kalau ngadepin cowok badung. Kalau dia ketemu sama wanita pujaannya perlahan dia akan bersikap manis.
Setelah perbincangan kecil dari hati ke hati ada satu yang paling ingin Dewi tanyakan, "Kenapa sih kamu suka banget panggil aku Kunti,"
"Ya emang cocoknya namanya itu Kunti, Kalo Dewi itu udah pasaran, terlalu kalem juga. Dan nama Kunti itu bisa diplesetin jadi.... kuntilanak hahhaha," Pandu tertawa terbahak-bahak
"Ihhh jahat banget ya...kamu ya, hemmm," Dewi meraba wajah Pandu ia ingin menarik mulutnya tapi tidak dapat akhirnya yang bisa di dapat adalah menarik telinganya
"Hahaa aaaa aduuh sakit yank... kan emang bener itu bisa diplesetin jadi kuntilanak," Pandu masih saja bercanda
"Huh sebel," Dewi melepaskan tangannya dari telinga Pandu
"Hehe peace yank, jangan cemberut...nanti cantiknya ilang loh,"
"Bodoamat,"
"Yaudah kalau bodoamat, kalau jadi jelek aku kabur ma cewek yang lebih cantik," sahut Pandu menggoda Dewi dia senang sekali membuat Istrinya cemberut
"Tuh kan baru aja janji, emang cowok ya gak bisa setia,"
"Haha makannya jangan bilang bodoamat," Pandu masih terkekeh, kemudian ia berhenti tertawa dan berkata, "Bercanda tadi yank, soalnya kamu lucu kalo cemberut. Udah yuk makan, lapar nih. Kayanya masakannya udah matang,"
"Iya, yaudah yuk,"
"Kamu duduk aja di ruang makan biar Bang Pandu ambilin," ucap Pandu membuat Dewi tersenyum kembali
Saat sarapan, Pandu dengan sayangnya melayani Dewi, mengambilkan nasi, soto serta lauknya ke dalam mangkok. Dan sesekali dia menyuapi Dewi. Cinta Pandu tak memandang fisik istrinya.
Seperti permintaan Orang tua Dewi, Pandu diminta untuk menjadi mata Dewi, menemaninya hingga tua dan ajal menjemput.
Setelah sarapan, Pandu dan Dewi bersiap untuk pergi ke kantor pengacara. Cuaca juga telah mendukung, pagi hari itu kembali cerah.
Dewi bingung pakaian seperti apa yang harus dikenakan lalu Pandu memilihkannya, "Pakai ini aja bagus, gak terlalu mewah, gak terlalu santai. Trus pakai celana panjang soalnya kan naik motor," ucap Pandu seraya menyerahkan pakaiannya kepada Dewi
"Yaudah aku coba deh, makasih ya," Dewi mengambil pakaiannya dan berjalan menuju kamar mandi
"Mau kemana? Ganti disini aja, atau mau ku pakein," ucap Pandu
"Hih, disini kan ada kamu,"
"Astaga kita dah sah loh, liat dikit napa sih gak usah malu," sahut Pandu yang terus menerus menggoda Dewi
"Haha iya tahu tapi tetep aja rasanya agak gimana gitu,"
"Kayak gimana hemm sini bang Pandu pakein," Pandu menarik lengan Dewi merayunya agar mau
"No ahh no, ntar malem aja," jawab Dewi malu-malu belum siap cinnn.
Beneran kali ini sikap Dewi bikin Pandu gemas. Pria itu malah memeluk Dewi dari belakang.
"Ngapain malu...anggap aja gak liat, lagi mati lampu, ku pakein ya. Pengen lihat cantiknya istriku," ucap Pandu berbisik di telinga Dewi membuat kegelian hingga sekujur tubuhnya
"Merinding bulu Rhoma ku," sahut Dewi
Pandu mulai jahil, ia menaikkan daster pakaian kebangsaan ibu-ibu Indonesia.
"Pandu.... jangan nakal," ucap Dewi yang tidak bisa kemana-mana karena tubuhnya di dekap Pandu dari belakang
"Nakalnya kan sama kamu," ucap Pandu berbisik di telinga Dewi, mengecup telinganya, kemudian beralih ke pipinya, lehernya sementara tangan Pandu semakin menarik daster ke atas.
Dewi Canggung sangat canggung. Apalagi saat dia membiarkan Pandu menarik dasternya hingga terlepas dari tubuhnya.
Mata Pandu berkilat, menatap indahnya Dewi yang memperlihatkan lekuk tubuhnya, meski masih ada kain segitiga dan beha yang menutupi tetap saja malu itu ada.
Pandu sampai menelan salivanya seraya membatin, Seindah inikah bidadariku? Astaga aku tak kuasa melihat nikmat mu ini Ya Robb.
Jantung Pandu berdetak lebih cepat dari biasanya, ia terus menahan setidaknya sampai malam nanti.
Tak ingin berlama-lama, Pandu menepati janjinya dan langsung memakaikan pakaian pergi yang tadi ia pilihkan untuk Dewi.
"Udah selesai, sekarang kamu makin cantik," ucap Pandu
"Makasih ya sayang," sahut Dewi
"Tapi lebih cantik tadi pas gak pake baju," ucap Pandu terkekeh kemudian pergi sebelum diserang Dewi
"Ih Pandu.... " teriak Dewi tak bisa menangkap Pandu karena pria itu telah pergi dari kamarnya
Setelah itu Dewi merias diri ala kadarnya, dengan perlahan dan hati-hati agar tidak seperti badut. Lalu memakai tipis lipsticknya yang berwarna seperti bibir.
/Facepalm/
/Facepalm/
/Facepalm/
/Facepalm/
terima kasih banyak buat novelnya /Kiss/