Meidina kini telah resmi menjadi istri seorang Kapolsek, Nyonya Radit Al Farizi. Pria yang mencintai nya tulus tanpa, memandang status masa lalunya.
Derajat Meidina, kini terangkat setelah menikah dengan Radit. Pria yang mampu menutupi masa lalunya sebagai wanita malam, dan memberikan sebuah kebahagiaan yang selama ini dia cari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puspa Herliyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menikah Lagi
"Abang jangan banyak gerak angkat kursi dulu." tegur Meidina pada Radit.
"Abang hanya pindahkan ini saja sayang, kursi tamu ke teras. Abang ingin berjemur, makan nya Abang angkat." ucap Radit.
"Abang kan baru sembuh operasi, biar Mei yang angkat."
"Jangan, kamu jangan angkat. Kalau kamu yang angkat, nanti kandungan kamu kenapa - napa gimana."
"Nggak akan, Mei kuat kok."
"Jangan, Abang bilang jangan."
"Abang."
"Biar Abang saja, aaaawwwww... " Radit langsung memegang dada nya, yang merasa sakit.
"Tuh kan, apa kata saya. Abang sih, nggak bisa di bilangin." tegur Meidina.
"Sudah sayang, jangan ya." ucap Radit.
"Abang istirahat, jangan banyak gerak dulu. Di bilangin, malah ngeyel."
"Iya deh, bawel." Radit mencubit hidung Meidina.
"Biar bawel juga, buat kebaikan Abang."
"Ih.. tambah gemes deh, kalau Abang sedang tidak sakit sudah Abang lahap kamu."
"Oh ya, kalau begini gimana?" Meidina melebarkan kedua kaki nya, dan duduk di pangkuan Radit, dengan tubuh yang menghadap ke arah suami nya.
"Jangan mulai, Abang sedang tidak fit."
"Masa!! bukti nya di bagian bawah keras loh."
"Gimana nggak keras, Ayank goyang - goyang terus, sambil di gesek - gesek jadi nya kan on."
"Terus?"
"Tanggung jawab dong."
"Kalau di gini ini gimana?" ucap Meidina sambil mengusap bagian bawah Radit.
"Yank, Abang sedang tidak kuat."
"Saya mainkan ya." ucap Meidina, langsung pindah duduk di bawah.
****
Meidina, tersenyum sambil mengusap bibir nya, yang terdapat cairan. Radit, hanya bisa menyandarkan tubuh nya, saat setelah melepaskan semua nikmat dunia.
"Kamu itu Yank, sungguh terlalu."
"Terlalu nikmat bukan?"
"Ah.. mantap. "
Meidina tersenyum sambil merapikan pakai nya, lalu mengecup bibir Radit dan mengusap nya. Karena terdapat, lipstik yang menempel di bibir nya.
"Saya mandi besar dulu Bang, mau ikut?"
"Ampun Yank, tapi awas saja nanti kalau sudah sembuh. Abang tidak akan kasih ampun, awas ya. "
"Hihihihi.. takut...!! "
Radit tersenyum, saat menatap punggung Meidina, hingga hilang dari pandangan nya. Radit lalu memejamkan kedua mata nya, sambil memegang dada yang masih terasa sakit.
****
"Bagas, Abi sama Umi langsung terbang kesini. Saat tahu, Anisah keguguran lagi." ucap Umi Aminah.
"Keguguran kedua, membuat Anisah down Umi. Bagas, sudah berusaha menghibur dia."
"Bagas, kamu yang sabar dan kuat ya. Jangan jadikan ini, sebagai patah semangat nya kalian. Jadikan ini sebuah pelajaran, kita ambil hikmah nya. Allah mungkin lebih sayang calon anak kalian, kedua anak kalian sekarang sudah di surga, mereka akan menunggu kalian disana." ucap Abi Nasir.
"Iya Abi, saya dan Anisah, akan kuat. Dan tidak akan menyerah, untuk usaha memiliki seorang anak."
Sedangkan Umi Aminah, kini berdua bersama Anisah, yang kini hanya diam. Tangan Umi Aminah, mengusap punggung tangan nya.
"Anisah, kamu yang sabar nak. Jangan sampai kamu itu terlarut dalam kesedihan."
"Saya mungkin, kalau hamil lagi akan seperti ini lagi Umi."
"Jangan bilang begitu, pasti suatu saat, kamu akan hamil lagi."
"Tidak Umi, saya tidak akan pernah hamil lagi."
"Kamu jangan begitu, kamu itu harus Ikhlas, semangat, lihat suami kamu. Dia sedih, melihat kamu sedih begini."
"Umi, saya punya ide. Kalau Mas Bagas, menikah lagi gimana? mungkin dia akan dapat anak dari istri muda nya."
"Kamu ini ngomong apa Anisah? ingat ucapan kamu itu, jangan salah bicara." ucap Umi Aminah dengan suara lantang.
"Tapi Umi, ini jalan satu - satu nya, agar kami memiliki anak."
"Anisah, ingin memiliki anak itu banyak. Kamu bisa angkat anak yatim piatu, di panti asuhan. Dan tidak harus, Bagas menikah lagi. Kalau Bagas menikah lagi, tidak menjamin dia akan adil."
"Saya hanya ingin memiliki anak, dari suami saya bukan orang lain."
"Iya, ingin anak dari perkawinan anak saya dengan wanita lain kan? itu maksud kamu. Umi ini seorang perempuan, bagaimana rasanya di madu, walau Umi tidak di madu, tapi cerita dari Umi kamu bagaimana rasanya di madu."
"Tapi ini cara yang baik Umi."
****
"Apa Umi!! Anisah minta saya nikah lagi?" ucap Bagas.
"Iya, istri kamu itu otak nya taruh dimana sih?" ucap Umi Aminah.
"Anisah, apa sudah buntu otak nya." ucap Abi Nasir.
"Saya akan bicara sama Anisah."
"Bagas, kamu jangan kasar sama dia, harus di halusin, istri seperti Anisah." ucap Abi Nasir.
"Iya Abi."
Bagas pun masuk kedalam kamar nya, Anisah sedang bersandar di kepala ranjang. Bagas langsung duduk di depan nya, Anisah tersenyum ke arah suami nya.
"Umi sudah bicara kan?" tanya Anisah.
"Apa kamu yakin? suami kamu di minta nikah lagi?" tanya kembali Bagas.
"Yakin, demi mendapatkan seorang anak."
"Sangat yakin."
"Kamu pikir kan lagi, kalau sudah matang, baru kamu bilang lagi sama saya." ucap Bagas langsung pergi meninggalkan Anisah.
****
"Luka nya gimana?" tanya Radit pada Meidina sambil mengantikan perban nya.
"Bagus, sudah kering. Tapi masih nyeri ya?" tanya kembali Anisah.
"Iya, masih nyeri. Makan nya Abang minta, kamu jangan goda Abang seperti kemarin."
Apa sih Bang? mau lagi ya?"
"Abang gigit tuh bibir."
"Mau dong."
"Ah.. nyerah Abang."
Pintu rumah di ketuk nya, Meidina langsung berjalan ke arah pintu depan. Ucapan salam, yang sangat Meidina kenal, langsung di buka nya.
"Assalamu'alaikum." ucap Bagas.
"Walaikumsalam Mas." balas Meidina.
"Abang sendirian?"
"Iya, gimana keadaan Radit?"
"Alhamdulillah baik, kamu dari Polsek?"ucap Bagas sambil bertanya.
" Iya, saya dari Polsek, langsung kemari." ucap Bagas.
"Abang ada masalah?"tanya Meidina.
" Iya, jujur saya malas pulang ke rumah." jawab Bagas.
"Kamu bertengkar sama Anisah?" tanya Radit.
"Bagaimana tidak kesal, masa saya di suruh nikah lagi. Menurut kalian waras nggak? orang yang berkata seperti itu."
"Maaf Bang, itu kenapa ya? tiba - tiba bilang begitu?" tanya Meidina.
"Masalah anak, karena dia keguguran terus. Dia ingin seorang anak, asal dari darah daging saya, dan bukan anak adopsi. Jadi saya di suruh menikah lagi." jawab Bagas.
"Kok Anisah begitu, apa dia sudah pikirkan matang - matang? Abang setuju? "ucap Meidina.
" Kamu pikir, saya bicara begini setuju?"
"Bagas, sebaiknya istri kamu, dihibur. Dia bisa seperti itu, mungkin karena dia stress. Ajaklah berlibur, banyak kan waktu dengan dia." ucap Radit.
"Saya sudah menghiburnya, tapi dia tetap seperti itu. "
"Saya akan bicara dengan Anisah."ucap Meidina.
****
" Anisah, kamu bicara seperti itu, apa sudah di pikirkan seribu kali?" tanya Meidina saat menemui Anisah.
"Iya, hanya itu cara nya biar memiliki seorang anak." jawab Anisah.
"Apa kamu siap, untuk di madu?"
"Setelah melahirkan anak, Mas Bagas bisa ceraikan dia."
"Istighfar Anisah, kamu sadar tidak ucapan yang kamu bilang. Mana Anisah dulu, yang saya kenal. Sekarang kamu berbeda, tidak seperti Anisah yang dulu."
"Kalau begitu, anak yang kamu kandung, biar saya yang mengurus nya."
"Kamu pikir, anak saya ini apa. Saya masih punya suami, masih kuat kasih makan. Kalau kamu berniat, adopsi bukan menyuruh Bang Bagas menikah lagi. Kamu itu sadar tidak sih? bicara seperti itu. Ingat, ucapan adalah doa. Kamu sekarang bilang Ikhlas, tapi apa nanti saat kamu menjalani hidup satu atap dengan madu kamu, akan kamu rasakan perbedaan nya. Ingat itu Anisah, cara kamu itu salah."
"Mei, saya ini kalau usaha lagi, pasti keguguran lagi. Dokter bilang, saya kena virus, parah semangat saya, untuk memiliki anak lagi."
"Insya Allah kamu pasti bisa. Kamu dan Bang Bagas, akan memiliki seorang anak lagi. Percaya sama saya, kamu akan hamil lagi."ucap Meidina.
" Kalau tidak gimana?"
"Namanya juga orang usaha." ucap Meidina.
*****
"Abi, tolong kasih tahu Anisah , nasehati dia. Untuk pikiran dia, meminta Bang Bagas menikah lagi, apa dia tidak merasakan bagaimana Umi nya di madu, Abi mungkin akan lebih mengerti. Dan apa dia siap seperti Umi, dan kalau Bang Bagas, lebih sayang pada istri muda nya gimana? itu Abi yang semua wanita takuti, tapi malah dia menyuruh." ucap Anisah.
"Nanti Abi nasehati dia."
"Satu lagi, dia hanya ingin seorang anak dari Bang Bagas, bukan anak. Adopsi. Dan parah nya, setelah melahirkan harus di ceraikan."
"Astagfirullah, Anisah kenapa begitu, Abi tidak menyangka. Kejadian seperti ini, malah membuat dia memiliki pikiran yang seperti ini."
"Dan kalau tidak, anak yang saya kandung, dia minta."
"Abi akan segera menemuinya."
*****
"Abi." ucap Anisah, saat Abi nya menjenguk nya.
"Suami kamu mana?" tanya Abi Mulia.
"Mas Bagas, sedang ada kegiatan di Kabupaten. Pulang nya, seperti nya malam." jawab Anisah.
"Abi, hanya ingin tanya sama kamu. Apa kamu benar, ingin Bagas menikah lagi?"
.
.
.
.
.
7 bln & 8bln sudh dlam kandungan ku bawa kmna2 tp dia lbh senang memilih Allah,.
tunggu mamah disana ya 2bidadari kecilku
perempuan itu tipe nya setia jika di tinggal meninggal suaminya. Jika di sakiti lelaki jangan memikirkan cari pasangan baru. karena anak lebih penting dari cari suami baru.