NovelToon NovelToon
Sang Warok

Sang Warok

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Action
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Ayah dan ibunya dibunuh didepan mata dan kepalamya. tapi justru sang pembunuhlah yang akan menjadi guru nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Di halaman gubuk yang gersang, Jangkrik telah berdiri tegak sejak fajar menyingsing. Ia bertelanjang dada. Bilur-bilur luka di punggungnya mulai mengering, berubah menjadi garis-garis kehitaman yang tampak lebih keras dibanding kulit di sekitarnya.

Di hadapannya, Sang Warok berdiri kokoh sembari memutar perlahan pecut Samandiman di tangan kanan. Ujung cambuk itu mendesis pelan, layaknya seekor ular hitam yang sedang menjulurkan lidah berbisa.

"Masih ingat aturan hari ini?" tanya Sang Warok, suaranya berat membelah keheningan pagi.

Jangkrik mengangguk pelan. "Aku harus menangkap ujung pecutmu."

"Bukan," Sang Warok menggeleng, senyum tipis tersungging di wajahnya yang keras. "Kau harus menangkap *niatku* sebelum pecut ini bergerak."

Jangkrik mengernyitkan dahi. "Apa bedanya?"

"Hahaha..." Sang Warok tertawa pendek, renyah namun mengintimidasi. "Kalau kau baru bergerak setelah melihat cambukku, kau sudah terlambat!"

Sang Warok mulai melangkah memutari muridnya, seperti serigala yang mengintai mangsa. "Di dunia persilatan, mata adalah indra yang paling mudah dibohongi. Yang harus kau dengarkan adalah napas, pijakan kaki, getaran tanah, dan perubahan hawa."

Pria tua itu mendadak berhenti tepat tiga langkah di depan Jangkrik. "Angkat tangan kirimu."

Jangkrik menurut.

"Tutup matamu."

Jangkrik sempat ragu. Ia menatap gurunya sejenak, namun akhirnya memejamkan mata juga. "Kau gila, Warok. Bagaimana mungkin aku bisa menangkap cambuk kalau aku tidak melihat?"

"Itulah sebabnya kau masih tetap menjadi seorang bocah."

Suasana mendadak sunyi senyap.

Tak ada desir angin. Tak ada suara langkah. Bahkan tak ada aba-aba.

Pletarrr!

Ledakan cambuk meletus secepat kilat.

"Ughh!"

Ujung pecut menghantam bahu kiri Jangkrik dengan telak. Tubuhnya berputar setengah lingkaran akibat hantaman keras tersebut. Garis merah baru yang segar langsung mencuat di kulitnya.

"Buka matamu," perintah Sang Warok datar.

Jangkrik membuka mata sambil meringis, mengusap bahunya yang berdenyut panas. "Aku tidak mendengar apa pun..."

"Itu karena kau hanya pasif menunggu suara." Sang Warok kembali mengangkat cambuknya. "Tutup lagi."

Jangkrik kembali memejamkan mata. Kali ini, ia memaksa dirinya untuk menenangkan diri dan bernapas lebih perlahan.

Tenang... tetap tenang...

Lalu, entah mengapa, ia merasa hawa di depannya mendadak berubah menjadi sedikit lebih berat. Berdasarkan refleks, tangan kirinya langsung menyambar ke depan.

Plak!

Tangannya hanya menangkap angin kosong. Sedetik kemudian—

Pletarrr!

Cambuk kembali menghantam punggungnya. Jangkrik tersungkur ke tanah, debu halaman mengepul di sekitarnya.

"Hahaha! Lebih baik!" seru Sang Warok puas. "Kau mulai bisa merasakan gerakanku, walau arahnya masih salah."

Jangkrik meringis, namun ia segera bangkit kembali. "Lagi."

"Bagus!"

Latihan brutal itu berlangsung tanpa henti. Pagi berganti siang, dan siang merangkak menuju sore. Setiap kegagalan meninggalkan luka baru yang perih. Namun, setiap luka itu pula yang memaksa Jangkrik memahami sesuatu yang tak akan pernah bisa diajarkan oleh kata-kata.

Menjelang matahari tenggelam di ufuk barat, napas Jangkrik sudah terdengar berat dan tersengal-sengal. Lengannya dipenuhi bekas sabetan, dan jemarinya gemetar hebat karena kelelahan.

Sang Warok kembali mengambil jarak. "Sekali lagi."

Kali ini, Jangkrik tidak lagi membuka matanya. Ia membiarkan seluruh tubuhnya menyatu dengan alam. Ia mendengar derik jangkrik dari balik semak, angin yang menggesek dedaunan, hingga kepakan sayap seekor burung yang melintas di langit malam.

Lalu... ada perubahan kecil. Sangat kecil.

Rasanya seperti udara yang tiba-tiba terbelah di depannya. Tanpa berpikir lagi, tangan kiri Jangkrik langsung menyambar ke arah samping.

Sret!

Jemarinya berhasil menyentuh ujung pecut!

Meski hanya sesaat, sentuhan itu sudah cukup untuk mengubah arah laju cambuk, sehingga senapan kulit itu hanya menggores tipis lengannya.

Pletak! Cambuk itu menghantam tanah kosong.

Sementara itu, Sang Warok terpaku menatap ujung cambuknya yang meleset beberapa jari dari sasaran. Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, pria perkasa itu tidak tertawa. Ia hanya memandangi muridnya dengan sorot mata yang jauh lebih serius dan penuh selidik.

"Hm..."

Sang Warok menarik kembali pecut Samandiman ke dalam genggamannya. "Bagus, Jangkrik."

Ia berbalik, membelakangi muridnya yang masih bersimbah keringat dan darah. "Hari ini, kau berhasil menyentuh Samandiman."

Jangkrik mengusap darah tipis yang mengalir di lengannya, lalu bertanya dengan sisa tenaganya, "Berarti... aku lulus?"

Sang Warok menghentikan langkahnya sejenak, tanpa menoleh.

"Tidak. Hari ini kau baru membuktikan bahwa kau pantas mati lebih lambat."

#####################

Semalaman ia nyaris tak bisa memejamkan mata. Punggungnya masih terasa panas membara bagai disiram arang, tetapi luka-luka bekas sabetan cambuk kemarin mulai mengering, meninggalkan bilur-bilur hitam kemerahan yang tampak mengerikan.

Di halaman, Sang Warok sudah menunggu.

Pecut Samandiman melingkar rapi di pinggangnya. Di samping pria tua itu, berdiri tiga batang bambu yang ditancapkan berjajar ke tanah, masing-masing setinggi dua kali lipat tubuh Jangkrik.

"Mulai hari ini, kita tinggalkan latihan menahan pukul," ucap Sang Warok tenang. "Tubuhmu sudah mulai mengenal rasa sakit. Sekarang, kau harus mengenal kecepatan."

Jangkrik melangkah mendekat, mencoba menegakkan tubuhnya yang kaku. "Apa aku sudah mulai belajar menangkap pecutmu?"

"Bukan." Sang Warok memungut tiga batu kerikil dari tanah. "Coba lihat ini."

Wus!

Satu kerikil dilemparkan kuat-kuat ke arah batang bambu paling kiri. Tak lama kemudian—

Pletarrr!

Cambuk Samandiman meledak di udara. Kerikil itu hancur berkeping-keping menjadi serpihan debu sebelum sempat menyentuh permukaan bambu.

Jangkrik membelalakkan mata. "Itu..."

"Kecepatan mata," potong Sang Warok. Ia mengambil kerikil kedua.

Wus!

Kali ini batu dilempar cepat ke arah kanan.

Pletar! Batu itu kembali hancur berantakan di udara.

"Kalau matamu kalah cepat dari gerakan lawan, tanganmu tidak akan pernah punya waktu untuk bergerak."

Kerikil terakhir tiba-tiba dilempar lurus, tepat ke arah wajah Jangkrik. Secara refleks, bocah itu mengangkat kedua tangannya untuk melindungi muka sembari memejamkan mata.

Pletar!

Cambuk kembali meledak. Kerikil itu pecah menjadi butiran halus hanya sejengkal dari ujung hidung Jangkrik. Angin kencang dari ledakan cambuk seketika membuat rambut bocah itu berantakan.

"Kau bahkan memejamkan mata," ujar Warok dingin, menatap kecewa. "Orang yang memejamkan mata saat bahaya datang hanya pantas menjadi mayat."

Jangkrik menurunkan kedua tangannya perlahan. Tatapannya menajam. "Ajar aku."

Sang Warok tersenyum tipis. "Bagus."

Ia merogoh kantong kain di pinggangnya, lalu mengeluarkan sebuah buah kemiri kering. "Kau lihat ini?"

Jangkrik mengangguk.

Sang Warok melemparkannya tinggi-tinggi ke udara. "Jangan dipukul."

Buah itu mulai menukik turun.

"Jangan ditangkap."

Jaraknya semakin dekat dengan kepala Jangkrik.

"Tapi..." Sang Warok mengangkat telunjuknya, "...belah dengan sisi telapak tanganmu!"

Mata Jangkrik membelalak. "Apa?!"

"Mulai!"

Kemiri itu jatuh tepat di depan wajahnya. Jangkrik menyabetkan tangan kirinya sekuat tenaga.

Bugh!

Tangannya meleset bebas. Kemiri itu memantul di tanah lalu menggelinding menjauh.

Sang Warok hanya menghela napas panjang. "Buruk." Ia mengambil kemiri lain dari kantongnya. "Lagi."

Sepanjang pagi, kemiri demi kemiri melayang di udara. Namun, tak satu pun yang berhasil dibelah. Sebagian menghantam keras kepala Jangkrik, sebagian mengenai batang hidungnya. Beberapa bahkan memantul tepat di bibirnya hingga pecah dan berdarah. Meski begitu, Sang Warok tak pernah berhenti melempar.

Menjelang siang, napas Jangkrik mulai memburu hebat. Lengannya terasa amat seberat bongkahan batu.

"Capek?" tanya Sang Warok memprovokasi.

"Tidak."

"Bohong." Sang Warok kini mengambil lima buah kemiri sekaligus di telapak tangannya. "Sekarang, semuanya."

Wus!

Kelima kemiri itu melambung bersamaan ke udara. Jangkrik berusaha keras mengikuti pergerakannya dengan pandangan. Matanya bergerak liar ke sana kemari. Terlalu banyak. Ia kehilangan arah.

Tok! Tok! Dua kemiri menghantam dahinya.

Tok! Satu mengenai pelipis.

Tok! Satu lagi menghantam bahunya, sementara yang terakhir jatuh begitu saja ke tanah.

Jangkrik terhuyung ke belakang, memegangi kepalanya yang berdenyut.

Sang Warok tertawa keras, suaranya menggelegar di halaman gubuk. "Hahaha! Matamu seperti ayam yang kehilangan induk!"

Jangkrik menyeka darah tipis yang mengalir di dahinya. "Tertawalah sepuasmu."

"Aku memang sedang menikmati ini."

"Karena sebentar lagi, aku yang akan memukulmu."

Tawa Sang Warok mereda. Ia menyipitkan mata, lalu melangkah mendekat hingga jarak mereka mengikis. "Tidak."

"Kenapa?"

Sang Warok menunjuk tepat ke kedua mata Jangkrik. "Karena aku baru menyadari sesuatu."

Jangkrik terdiam, menanti kelanjutan kalimat gurunya.

"Dulu, matamu hanya penuh dengan kebencian," ucap Sang Warok, menatap lekat-lekat manik mata muridnya. "Sekarang... matamu mulai belajar untuk mengamati." Pria tua itu tersenyum puas, lalu berbalik berjalan menuju gubuk. "Itu pertanda baik. Besok kita naik satu tingkat lagi."

Jangkrik mengernyitkan dahi. "Apa lagi?"

Sang Warok menghentikan langkahnya. Tanpa menoleh sedikit pun, ia berkata pelan, "Besok, bukan kemiri lagi yang akan kau belah."

"Lalu?"

Sang Warok menepuk perlahan gagang pecut Samandiman di pinggangnya. "Besok... kau akan mencoba menangkap ujung cambukku."

Jangkrik tertegun menatap punggung gurunya yang perlahan menghilang di balik pintu gubuk. Ia tahu betul, latihan hari ini hanyalah permainan bocah jika dibandingkan dengan neraka yang menantinya esok hari.

Namun, untuk pertama kalinya sejak malam kelam saat keluarganya dibantai habis, sudut bibir Jangkrik terangkat, membentuk sebuah senyym tipis yang dingin.

"Baik, Warok," bisik Jangkrik pada angin malam. "Besok... aku akan menangkap cambukmu. Dan suatu hari nanti... aku juga akan menangkap nyawamu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!