PERNAHKAH KALIAN MEMAKAN LOLIPOP?
BAGAIMANA RASANYA MANIS?
Eirina karamyka Aldirck seorang gadis manis yang menyukai lolipop.
MAU TAU KENAPA SUKA LOLIPOP?
NONTON LOLIPOP MANIS BY NILA EDRINA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nila edrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16 — MUSUH YANG MUNCUL
BAB 16 — MUSUH YANG MUNCUL
Malam semakin larut.
Langit dipenuhi awan hitam yang menutupi cahaya bulan. Angin berembus cukup kencang, membuat dedaunan di halaman kediaman keluarga Axlarta berguguran.
Di balik pagar besi...
Rivan masih berdiri memperhatikan seorang pria bertubuh tinggi yang baru turun dari mobil hitam.
Pria itu memiliki bekas luka panjang di pipi kirinya.
Rivan mengepalkan tangan.
"...Kau akhirnya muncul juga."
Pria itu tersenyum tipis.
"Sudah lama tidak bertemu, Rivan."
"Kau masih hidup rupanya."
Rivan melangkah mendekat.
"Apa maumu datang ke sini, Darius?"
Pria bernama Darius Vasker hanya tertawa pelan.
"Tentu saja untuk mengambil sesuatu yang seharusnya menjadi milik kami."
"Apa maksudmu?"
"Rahasia keluarga Aldrick."
Mata Rivan langsung berubah tajam.
"Jangan pernah melibatkan anak-anak itu."
Darius mendekat sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku.
"Sayangnya... mereka sudah terlibat sejak orang tua mereka membuat kesalahan."
"Hentikan omong kosongmu!"
Rivan mencengkeram kerah baju Darius.
Namun Darius sama sekali tidak terlihat takut.
"Kau terlambat, Rivan."
"Permainan sudah dimulai."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Darius melepaskan tangan Rivan lalu kembali masuk ke mobilnya.
Mobil hitam itu melaju pergi.
Rivan hanya bisa menatapnya dengan wajah serius.
"Sepertinya aku harus bergerak lebih cepat..."
Keesokan paginya.
Sinar matahari masuk melalui jendela kamar.
Eiri membuka matanya perlahan.
Saat bangun, ia menyadari dirinya tertidur di sofa ruang tamu.
"Eh?"
"Aku tidur di sini?"
Seorang pelayan menghampiri sambil tersenyum.
"Selamat pagi, Nyonya."
"Pagi."
"Semalam Tuan Mahendra menyelimuti Nyonya."
Wajah Eiri langsung memerah.
"Be-benarkah?"
Pelayan mengangguk sambil tersenyum jahil.
"Tuan juga duduk menemani Nyonya cukup lama."
Eiri menundukkan kepala.
"Kenapa dia baik sekali..."
gumamnya pelan.
Di ruang makan.
Mahendra sedang menikmati secangkir kopi.
Melihat Eiri datang, ia meletakkan cangkirnya.
"Sudah bangun?"
"Iya."
"Bagaimana tidurmu?"
"Baik."
Eiri duduk di hadapannya.
Beberapa detik suasana menjadi canggung.
Hingga akhirnya Mahendra mengeluarkan sesuatu dari sakunya.
"Untukmu."
Eiri menerimanya.
Sebuah lolipop rasa stroberi.
Ia tersenyum kecil.
"Terima kasih."
Mahendra ikut tersenyum.
"Mulai hari ini..."
"Setiap pagi aku akan memberimu satu lolipop."
Eiri tertawa pelan.
"Memangnya aku anak kecil?"
"Tidak."
"Lalu kenapa?"
Mahendra terdiam sesaat.
"Karena menurutku..."
"Kamu terlihat lebih bahagia saat memegang lolipop."
Eiri tidak tahu harus menjawab apa.
Namun anehnya...
Hatinya terasa hangat.
Di perusahaan Axlarta Group.
Asisten 01 datang membawa hasil penyelidikan.
"Tuan."
"Ada perkembangan."
Mahendra mengangguk.
"Bicaralah."
"Lima orang yang menyerang Tuan kemarin ternyata bukan perampok biasa."
"Mereka bekerja untuk seseorang."
"Siapa?"
Asisten menyerahkan sebuah berkas.
"Namanya Darius Vasker."
Mahendra membuka berkas itu.
Foto seorang pria dengan bekas luka di pipi langsung terlihat.
"Darius..."
Mahendra merasa nama itu tidak asing.
"Asisten juga menemukan bahwa pria ini pernah berhubungan dengan keluarga Aldrick sekitar delapan belas tahun lalu."
Mahendra langsung menutup berkas.
"Awasi semua gerakannya."
"Baik, Tuan."
Sementara itu...
Di taman belakang rumah.
Melveri sedang membantu Eiri menanam bunga.
"Eiri."
"Iya, Kak?"
"Kalau suatu hari nanti..."
"Kamu menemukan keluargamu yang lain..."
"Apa yang akan kamu lakukan?"
Eiri berhenti menggali tanah.
Ia tersenyum sedih.
"Aku ingin memeluk mereka."
"Kalau mereka masih hidup."
"Tapi..."
"Aku bahkan tidak tahu apakah mereka masih mengingatku."
Melveri ikut terdiam.
Entah kenapa...
Dadanya terasa sesak mendengar jawaban itu.
Tanpa sadar ia mengusap kepala Eiri.
"Kalau mereka masih hidup..."
"Aku yakin mereka juga sedang mencarimu."
Eiri tersenyum.
"Semoga saja."
Sore harinya.
Marchel datang ke rumah membawa beberapa bibit bunga.
"Eiri!"
"Aku membawa hadiah."
"Wah, bunga?"
"Iya."
"Kudengar kau suka berkebun."
Eiri tersenyum lebar.
"Terima kasih."
Melihat Eiri tersenyum begitu ceria membuat Marchel ikut tersenyum.
Namun dari kejauhan...
Mahendra memperhatikan mereka.
Ia tidak cemburu.
Tetapi ia mulai menyadari sesuatu.
"Kenapa..."
"Mereka cepat sekali akrab?"
Mahendra menghela napas.
Tanpa ia sadari, darah yang mengalir dalam tubuh Marchel dan Eiri memang darah yang sama.
Malam kembali tiba.
Di sebuah gedung kosong.
Darius berdiri di depan jendela sambil memegang sebuah map tua.
Ia membuka halaman pertama.
Di sana terdapat foto keluarga Aldrick.
Perlahan ia tersenyum.
"Sebentar lagi..."
"Semua bidak akan berkumpul."
Ia mengambil sebuah korek api.
Lalu membakar salinan salah satu dokumen.
Api mulai melahap kertas itu sedikit demi sedikit.
"Agar rahasia itu tetap menjadi milikku."
Sementara itu, di tempat lain...
Rivan mengepalkan tangannya saat melihat asap dari gedung tersebut.
Ia tahu...
Musuh yang selama ini bersembunyi akhirnya mulai bergerak.
Dan itu berarti...
Kehidupan Eiri, Mahendra, Melveri, dan Marchel tidak akan pernah sama lagi.
Bersambung ke BAB 17 — Undangan Misterius.