NovelToon NovelToon
MENGANDUNG BENIH TITIPAN CEO

MENGANDUNG BENIH TITIPAN CEO

Status: tamat
Genre:Poligami / Nikah Kontrak / Diam-Diam Cinta / Menikah Karena Anak / Tamat
Popularitas:80.3k
Nilai: 5
Nama Author: Julia Fajar

Hutang budi membuat Aisyah terpaksa menerima permohonan majikan sang ayah. Dia bersedia meminjamkan rahimnya untuk melahirkan anak Satria dengan Zahra melalui proses bayi tabung.

Satria terpaksa melakukan hal itu karena dia tidak mau menceraikan Zahra, seperti yang Narandra minta.

Akhirnya Narandra pun setuju dengan cara tersebut, tapi dengan syarat jika kesempatan terakhir yang dia berikan ini gagal, maka Satria harus menikahi Gladis dan menceraikan Zahra.

Gladis adalah anak dari Herlina, adik tiri Narandra yang selalu berhasil menghasut dan sejak dulu ingin menguasai harta milik Narandra.

Apakah usaha Satria dan Zahra akan berhasil untuk mendapatkan anak dengan cara melakukan program bayi tabung?

Yuk ikuti terus ceritaku ya dan jangan lupa berkarya tidaklah mudah, jadi kami para penulis mohon dukungannya. Terimakasih 🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19. MEMINTA MAAF

Zahra belum mengatakan jika dirinya akan segera pulang. Dia ingin memberikan surprise kepada Satria.

Sebelum menutup panggilannya, Zahra baru sadar saat melihat latar belakang suaminya sedang berada di mana.

"Mas, nggak lagi di kantor?"

"Nggak. Lagi capek jadi ambil cuti, lagipula...."

Satria baru sadar jika dia telah mengabaikan Aisyah, hingga dia menghentikan ucapannya, lalu celingukan mencari keberadaan Aisyah.

Terselip perasaan tidak enak, perasaan bersalah, kenapa dirinya sampai lupa jika Aisyah juga sedang ada di kamar itu.

Melihat Satria tidak fokus dan celingukan, Zahra pun baru sadar, pasti yang Satria cari adalah Aisyah.

"Maaf Mas, aku nggak tahu jika Mas sedang di kamar bersama Aisyah. Obrolan kita pasti telah menyakiti hatinya."

"Nggak apa-apa Ra, Aisyah pasti paham, lagipula sudah satu bulan lebih kita tidak bersama, wajar jika kita sama-sama rindu."

"Iya sih Mas, tapi harusnya kita bisa menjaga perasaannya. Dia pasti saat ini sedang sedih karena kita abaikan."

"Iya Ra, aku yang salah. Kenapa sampai lupa jika saat ini sedang berada di kamarnya. Aisyah diam-diam pergi, mungkin ke dapur atau ke toilet karena tidak ingin mengganggu percakapan kita."

"Pergilah Mas, cari Aisyah. Aku ingin minta maaf dan ngobrol sebentar dengannya."

"Baiklah Ra, aku tutup dulu ya. Aku juga mau minta maaf ke Aisyah."

Setelah mendapatkan persetujuan dari Zahra, Satria pun mencari Aisyah. Dia mengecek toilet, tapi kosong. Lalu Satria ke dapur juga sama.

Akhirnya Satria pun mencari Aisyah ke seluruh ruangan, tapi dia tidak menemukannya.

Satria mulai cemas, mau bertanya pun tidak ada siapa-siapa di rumah.

Kemudian Satriapun mencari Aisyah di halaman depan, samping serta belakang, tapi dia tidak menemukan Aisyah di sana.

Satria makin cemas, lalu dia kembali berlari ke dalam untuk mengambil ponsel. Dia akan menelepon Aisyah untuk mengetahui keberadaannya.

Namun Satria kecewa karena ponsel dan tas Aisyah ternyata ada di dalam kamarnya.

Satria kembali ke luar dan mengecek pintu pagar. Tapi gerbang pagar masih terkunci dari dalam.

"Argh...kemana Aisyah. Dia tidak mungkin keluar rumah karena pagar masih terkunci dari dalam," monolog Satria.

Satria berkeliling lagi sambil teriak-teriak memanggil Aisyah. Aisyah yang sedang berteduh di balik rumpun bunga bambu segera menghapus air matanya. Dia tidak ingin sampai Satria melihat jika dirinya menangis.

Tapi Aisyah lupa jika tangannya kotor dan tak ayal lagi noda air mata bercampur tanah ada di sekitar wajahnya.

Aisyah pun menjawab panggilan Satria yang berjalan ke arahnya. Lalu dia memasang wajah senyum untuk menutupi perasaan sedihnya.

Satria melihat wajah Aisyah merah padam dan belepotan tanah yang basah, padahal di sekitar mereka tidak ada air.

Dia sadar jika telah menyakiti hati Aisyah, lalu dengan refleks Satria menarik Aisyah ke dalam pelukannya.

Aisyah tidak menduga hal itu, dia juga tak mampu berkata-kata selain air matanya yang kembali meleleh dan membasahi baju Satria.

Hanya tubuh yang gemetar dan suara sesenggukan yang Satria rasakan dan itu makin membuatnya merasa bersalah.

"Maaf."

Satu kata yang terucap dari bibir Satria dan dia kembali mengeratkan pelukannya.

Setelah di rasa tangis Aisyah reda, Satria pun melepaskan pelukannya, lalu dia menghapus wajah kotor Aisyah dengan sapu tangan dari dalam kantongnya.

Satria juga menghapus cairan lendir yang keluar dari hidung Aisyah.

Aisyah merasa malu, dia meminta sapu tangan itu untuk membersihkan wajahnya sendiri. Tapi Satria menolak dan terus membersihkan hingga kotoran dan airmata pun hilang dari wajah Aisyah.

Satria mencium kelopak mata Aisyah yang sembab, lalu diapun meminta maaf.

"Maafkan aku Syah, aku dan Zahra nggak bermaksud mengabaikan ataupun melupakan keberadaanmu tadi."

"Kami masih terbawa kebiasaan dan Zahra tidak tahu jika aku ada bersamamu. Dia pikir aku sedang di kantor."

"Zahra juga minta maaf, nanti dia akan menelepon mu langsung."

"Ya sudah, ayo kita masuk, di sini panas sekali. Lihatlah wajah kamu sampai memerah terkena sengatan matahari."

"Dan coba lihat, tanganmu kotor, nanti kuman pada masuk ke kuku kamu."

Aisyah hanya diam dan mengangguk, dia tidak menyalahkan Satria maupun Zahra. Dirinya saja yang sensitif dan merasa cemburu, seakan Satria hanya miliknya saja.

Satria menggandeng tangan Aisyah, membawanya masuk, lalu mencuci tangan Aisyah di wastafel. Setelah mengelapnya dengan tissue, Satria pun mengajaknya ke dalam kamar.

"Sebaiknya kita mandi, lihatlah pakaianmu kotor dan juga pakaianku."

Kemudian Satriapun tiba-tiba menggendong Aisyah ala bridal style.

Aisyah meronta, dia malu dan ingin turun dari gendongan Satria.

Satria menggeleng lalu mendaratkan ciuman dan berkata, "Jangan menolak Sayang. Aku benar-benar minta maaf, aku tahu kamu sedih."

Sambil menggendong, Satria pun menyambar handuk, lalu membawa sang istri ke kamar mandi.

Satria menebus kesalahannya dengan memandikan Aisyah. Padahal Aisyah sudah menolak karena dia merasa malu.

Tapi mulutnya malah dibungkam oleh ciuman lembut suaminya.

Sejenak mereka menikmati momen mesra hingga membuat kebahagiaan Aisyah kembali.

Namun saat hasrat keduanya hampir memuncak, suara dering ponsel berulang-ulang terdengar dan mengganggu aktivitas mesra mereka.

Aisyah mendorong tubuh Satria, "Pergilah Mas, angkat dulu. Siapa tahu ada berita penting, soalnya deringnya nggak berhenti. Kita jadi nggak fokus," ucap Aisyah sembari tersenyum.

"Mengganggu saja! Nggak tahu dia, kepala ku sudah pusing! Eh...gara-gara ulahnya jadi hambar dan terpaksa kita harus mengulang momentnya lagi," ucap Satria sambil mengerlingkan mata, menampakkan wajah lucu sambil tersenyum, lalu meninggalkan kamar mandi.

Aisyah tertawa, dia geli saat tadi melihat senjata milik suaminya yang sudah siap tempur akhirnya loyo gara-gara deringan hape yang volumenya lupa Satria kecilkan.

Satria melihat jika yang memanggil adalah Zahra, dia bingung dan tidak mungkin mengangkat panggilan video dengan kondisinya yang hanya memakai balutan handuk mandi.

Akhirnya Satria mengabaikannya dulu, lalu buru-buru memakai baju.

Karena ponsel masih berdering, Satria pun mengangkatnya dan terlihat wajah Zahra sambil menampilkan senyum manisnya.

"Maaf Mas, aku nggak tenang sebelum mengetahui jika Aisyah baik-baik saja dan memaafkan kita."

"Aku bel dia tapi tidak diangkat. Mas juga lama sekali mengangkat panggilan ku, makanya aku tambah cemas. Jangan-jangan Mas dan Aisyah sedang bertengkar."

"Nggak kok Yang, Aisyah sedang mandi, tadi dia keluar membersihkan rumput di sela tanaman."

"Dia mengerti kok posisi kita dan aku juga sudah minta maaf. Sikap Aisyah hampir mirip kamu Yang, dia tidak bisa marah ke aku dan masih banyak kesamaan lainnya. Aku beruntung memiliki kalian."

"Oh syukurlah Mas, aku jadi lega. Nanti malam, aku telepon lagi ya, tolong sampaikan ke Aisyah jika aku ingin bicara dengannya nanti malam. Sekarang aku pergi dulu, mau mengantar makanan dan kopi untuk ayah."

"Baiklah Yang, nanti aku sampaikan," ucap Satria.

Zahra pun menutup panggilan, dia tidak mau berlama-lama saat tahu jika Aisyah sedang berada di kamar mandi. Zahra merasa jika dia telah mengganggu aktivitas suami serta madunya itu, saat terlihat titik air jatuh dari rambut Satria.

Zahra paham, jika suami istri sedang tidak enakan pasti ujung-ujungnya akan berakhir dengan aktivitas ranjang atau aktivitas romantis di kamar mandi, seperti yang biasa dia dan Satria lakukan.

Bersambung....

1
Dwi ratna
kesian ais
Dwi ratna
upik abu jd Cinderella ya syah
Dwi ratna
kebanyakan ma gladis tuh jd antagonis ya
Dwi ratna
berarti ssatria mw dnikahin sm sepupuny apa?
Dwi ratna
komen ah msa cm bca doang, kesian othorny...
Alya Yuni
Mati aja kau Zahra jdi prmpuan ko trllu bodoh
Alya Yuni
In yg buat ak mls bca npa penulis membuat sya mlas bca
Cinta Suci
alloh irham
neny
wa'alaikum salam warohmatullahi wabarokatuh,,mohon maaf lahir dan batin ya kak othor 🙏😘
neny: aamiin yra 🤲🤲
total 2 replies
Uchi Hafiz
lanjut
Puput pujiati
mantab
Uchi Hafiz
lanjut
neny
kerasa banget euy sakit nya di hati aq ,,,bentengi hati mu aisyah,,km harus kuat,,
Uchi Hafiz
lanjut
Avatar
Semangat..kak..
mama oca
mampir thor.. cerita yang bagus..semangat kakak
neny
cerita nya sangat menarik,,sy senang membaca nya,,semangat kak othor untuk menghasilkan karya terbaik,,tetap sabar dlm mencapai kesuksesan,,krn semua itu tdk instan,,,pokok nya semangat 💪💪💪😘😘😘
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!