Pertemuan yang tak terduga antara dokter Williams 30 tahun dengan Alisya gadis 19 tahun yang kabur karena menolak perjodohan.
Williams yang merupakan dokter ahli jantung terkenal cuek diluaran, namun demikian dokter tampan yang setia melajang tersebut sangat ramah dengan para pasiennya. Sikap anti wanita membuatnya sangat menjauhi makhluk yang bernama wanita. Hingga dirinya harus pasrah ketika harus kembali kenegaranya demi sebuah perjodohan yang konyol menurutnya.
Alisya, seorang gadis beliau 19 tahun. Dia menjalani kehidupan keras di luar ketika dirinya berhasil kabur dari keluarganya.
Alisya berontak ketika dirinya mengetahui rencana sangat ayah yang telah berniat menjodohkannya dengan seorang pria yang layak dia panggil om.
Mampu kah Williams keluar dari rasa marahnya ketika harus menelan pil pahit perjodohan nya?
Dan mampu kah Alisya menjalani kehidupan yang jauh dari segala fasilitas yang biasa dia dapatkan?
Serta bagaimana kisah pertemuan keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serra R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Alisya mengatur nafasnya. Rasa sesak itu sangat kentara namun gadis cantik tersebut masih mencoba untuk bersikap tenang. Pagi tadi, tepatnya di waktu sarapannya. Sang ayah mengatakan bahwa mereka nanti malam akan ke rumah orang tua calon tunangannya untuk menghadiri sebuah pesta yang entah pesta apa karena dirinya tak begitu fokus mendengarkan ucapan sang ayah.
Alisya memejamkan matanya erat. Gadis itu sadar, sangat sangat sadar jika hari ini pun akan tiba. Waktu 2 bulan yang dijanjikan telah datang dan kalau boleh jujur, Alisya belum siap untuk hal itu.
"Huuft, harus kuat Alis. Kamu harus bisa menentukan apa yang terbaik untuk masa depanmu sendiri." Alisya bergumam menyemangati dirinya sendiri.
Berangkat ke kampus di jam 11 siang membuat Alisya menghabiskan waktunya mengobrol bersama dengan sang mama. Gadis 19 tahun yang terlihat dewasa tersebut banyak mengumbar tawa.
"Ma, Alis berangkat ngampus dulu ya. Jangan kangen!!" Ucapnya disertai senyum di ujung bibirnya.
"Pasti kangen dong, sayang. Anak mama yang rajin ya, hati hati dijalan."
"Hati Alis disini ma nggak jalan jalan kok." Cengirnya di sambut cubitan di pipi kanannya oleh sang mama.
Setelah cipika copiki pada akhirnya mobil yang membawa Alisya perlahan menjauh meninggalkan halaman rumah keluarga Alisky. Berulang kali Alisya menolehkan wajahnya ke arah sang mama yang masih setia berdiri di depan pintu utama, hingga sampai gerbang tertutup Alisya masih setia menolehkan wajahnya.
"Ada yang ketinggalan, non?" Sang sopir yang berulang kali melirik tingkah Alisya melalui spion depan melambatkan laju mobilnya karena mengira ada sesuatu yang tertinggal.
"Heheh, nggak ada paman. Semua sudah lengkap kok." Alisya memaksakan senyumnya.
Sang sopir hanya mengangguk,namun dirinya tak memungkiri sikap Alisya sedikit aneh hari ini. Tak seperti biasanya, karena Alisya nampak gelisah. Namun sang sopir tak ingin ikut campur lebih dalam.
*
*
*
Waktu berlalu tanpa terasa, hingga denting jam menunjukkan jam 5 sore namun tak ada tanda tanda bahwa Alisya akan pulang membuat Deandra semakin gelisah. Putrinya tersebut mengatakan jika kelasnya akan berakhir di jam 3 sore. Namun sudah lewat 2 jam tak ada kabar darinya. Sang sopir pun sudah berangkat sejak sejam yang lalu tanpa menunggu pesan dari nonanya, karena Dea menyuruhnya untuk segera berangkat menjemput gadis tersebut.
"Hallo, pak. Bagaimana?"
"Saya masih di kampus nona, nyonya. Tapi belum kelihatan nona Alisya keluar. Mungkin masih ada kegiatan, saya tidak tahu pastinya Nyonya."
Deandra menghembuskan nafasnya berat. Hatinya tak tenang sejak kepergian sang putri tadi pagi. Terasa aneh dan sedikit mengganjal dihatinya.
"Baiklah, pak. Mungkin sebentar lagi kali ya. Kabari saya ya pak kalau kalian sudah pulang."
"Baik, nyonya."
Deandra tak bisa tenang, hatinya benar-benar gelisah entah karena sebab apa. Sebuah mobil perlahan masuk ke halaman rumah, dengan semangat Dea berlari keluar berharap itu adalah sang anak.
Sedikit kecewa karena yang datang adalah mobil Akshan. Putra sulungnya tersebut tersenyum dan mencium tangannya ta'zim.
"Mama nunggu papa ya? papa bentar lagi kayaknya ma, tadi masih ada temannya disana pas Akshan balik."
"Mama nunggu adikmu. Alis belum pulang bang, padahal dia mengatakan jika kelasnya hanya sampai jam 3 sore aja." Aduh nya dengan tak mengurangi rasa cemas di wajahnya.
"Mungkin masih ada kegiatan dadakan, ma. Biasanya begitu, nanti biar Akshan yang cek ke teman temannya ya, ma."
Deandra menganggukan kepalanya. Bersama dengan Akshan menoleh ke arah mobil tuan Alisky yang baru masuk ke halaman. Akshan tersenyum dan berjalan meninggalkan kedua orang tuanya.