NovelToon NovelToon
Pangeran Dari Dunia Lain

Pangeran Dari Dunia Lain

Status: tamat
Genre:Romansa / Fantasi Timur / Cinta Beda Dunia / Roh Supernatural / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:58k
Nilai: 5
Nama Author: Eriza Yuu

Di ulang tahunnya yang ke-20, Eriza Ravella mendapat hadiah berupa tiket pesawat liburan ke New Angeles dari bibinya. Bersama sepupunya, Sienna Aeris, keduanya berangkat. Kedua gadis itu menikmati liburan mereka dengan menyenangkan.

Suatu sore, tanpa sengaja mereka bertemu dengan pemandu wisata yang membawa rombongan mahasiswa dari perkumpulan misteri yang menyebut diri mereka Blue Rose. Kedua gadis tersebut diajak sang pemandu mengunjungi lokasi wisata horor terkenal di kota tersebut.

Perjalanan dimulai. Tidak hanya deretan bangunan kosong yang menjadi daya tarik, ternyata dibalik lokasi tempat wisata tersebut menyimpan sebuah kisah kelam di masa lalu yang masih menyisakan misteri hingga saat ini. Terutama dengan kemunculan sosok pemuda yang tidak hanya mencampur-adukkan perasaan Eriza namun keberadaannya juga penuh teka-teki.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eriza Yuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pendekatan Alex

Kring! Kring!

Alarm berbunyi dengan nyaring. Dengan mata masih berat aku bangun dan mematikannya.

Hoamz .... Masih ngantuk padahal semalam sudah tidur awal. Meskipun masih mengantuk tetap harus bangun juga. Aku baru akan beranjak dari tempat tidur saat aku menyadari sesuatu hal.

"Rasanya semalam seperti ada yang membelai kepalaku. Mungkin mimpi tapi rasanya nyata sekali," gumamku sambil memegang kepala yang terasa dibelai.

"Ah, mungkin mimpi 3D. Kan jaman sudah canggih," Aku berkata sendiri sambil menahan tawa geli.

Tak ingin ambil pusing lagi, aku segera mandi dan bersiap ke kampus.

...******...

Ponselku tiba-tiba berdering saat aku sedang asyik membaca berita dari sebuah majalah di teras belakang rumah. Tanpa melihat nama yang tertera di layar ponsel, aku langsung mengangkatnya.

"Halo!"

📲[Halo, Riza!] sapa suara diseberang.

Aku baru melihat ke layar ponsel, tertera nama Alex. Dan kembali ke pembicaraan.

"Alex? Tumben sekali?" kataku.

📲[Ya. Bukankah aku bilang akan meneleponmu?! Apa aku mengganggu?]

"Tidak. Kebetulan aku sedang santai."

📲[Oh, baguslah kalau aku tidak mengganggu. Jadi, kita bisa ngobrol lebih lama. Kamu tidak keberatan, kan?]

"Tentu saja tidak. Bagaimana kabar Mandy hari ini?"

📲[Dia sudah kembali normal seperti biasa. Hahaha ... Aku masih suka tertawa mengingat tingkahnya kemarin.]

"Bagus, ada sedikit hiburan. Kamu sendiri nampaknya kakimu cukup kuat?"

📲[Tentu saja. Aku kan setiap hari turun naik tangga jadi sudah terbiasa. Ngomong-ngomong minggu ini aku akan ke Losta lagi. Dan mengajakmu jalan-jalan lagi. Bagaimana?]

"Jauh-jauh dari Jackville hanya untuk mengajakku jalan? Apa tidak capek pulang pergi Jackville-Losta?"

📲[Aku sudah terbiasa melakukan perjalanan jauh dengan mobil. Lagipula hanya tiga jam menuju Losta. Itu bukan perjalanan yang jauh bagiku.]

"Oh, begitu. Lalu Mandy ikut juga?"

📲[Kurasa tidak. Minggu ini ia sibuk menyelesaikan skripsi terakhirnya.]

"Jadi, kamu sendiri?"

📲[Aku dan Justin. Ia tak mungkin mau ketinggalan bila tahu aku pergi ke Losta.]

"Apa kamu sudah memberitahu Sienna?"

📲[Justin pasti sudah memberitahunya duluan. Anak itu paling semangat kalau kuajak ke sana.]

"Oh ...."

📲[Jadi, kamu tidak bisa menolak, kan? Aku hanya ingin membuatmu senang. Aku suka kamu tersenyum seperti saat kita pergi ke Green Hill kemarin.]

Aku terdiam.

📲[Halo? Riza? Kamu masih di sana?]

"Ya. Aku dengar."

📲[Kenapa diam saja? Kamu sibuk? Baiklah lain kali ku telepon lagi. Sampai bertemu hari minggu, ya! Bye ....]

"Oke, Bye ...."

Telepon pun ditutup. Aku meletakkan ponsel kembali ke atas meja. Alex benar-benar tak mau menyerah.

"Hai, Eriza!" sapa Sienna yang entah sejak kapan sudah ada di dapur.

"Eh, Sienna. Sudah pulang?" balasku.

"Sudah daritadi. Siapa yang menelepon?" tanyanya.

"Alex," jawabku.

"Oh. Dia pasti memberitahumu ia akan datang minggu ini, kan?" tanya Sienna.

"Kamu sudah tahu?" Aku pura-pura bertanya.

"Justin sudah memberitahu ku," jawabnya senang.

"Oh .... Ya, dia memberitahu ku tadi. Ia benar-benar masih belum menyerah," kataku.

"Dia sedang berusaha!" Sienna melarat ucapanku.

"Apa sajalah istilahnya," ujarku cuek.

Sienna tersenyum. Ia berjalan menghampiriku dan duduk disampingku.

"Kamu masih memikirkan pemuda misterius itu?" tanyanya hati-hati.

"Mungkin," jawabku kurang jujur.

"Pasti iya," kembali Sienna membenarkan ucapanku.

"Sama sekali tak ada sesuatu yang bisa dilakukan untuk menghubunginya?" tanya Sienna.

Aku menggeleng lemah. Sienna menghela nafas.

"Aku tak mengerti dengan perasaan itu. Bagaimana kita bisa menyukai seseorang yang baru kita kenal kurang dari lima menit? Setelah itu memikirkannya sepanjang hari. Perasaan itu manis sekaligus sakit. Manis ketika memikirkannya dan sakit ketika ...." Sienna menggelangkan kepala, ia tak mau melanjutkan kalimatnya. Ia malah berbicara lain.

"Aku tak mau kamu terus terpuruk dengan perasaanmu. Cinta sejati memang butuh perjuangan dan pengorbanan tapi jika hanya satu pihak yang berkorban, itu bukan cinta sejati. Menurutku tidak ada salahnya memberi kesempatan Alex untuk berjuang, tapi jika kamu rasa ia mengganggu, kamu bisa membicarakan itu dengannya," kata Sienna pada akhirnya sebelum ia pergi dari tempat duduknya. Ia terlihat jadi serba salah sendiri.

Aku tetap diam mencerna semua perkataan Sienna. Aku mengerti mengapa Sienna tak melanjutkan kalimat terakhirnya. Aku juga tahu apa yang akan ia katakan, ia hanya berusaha menjaga perasaanku. Tapi untuk sarannya yang terakhir, aku rasa perlu mempertimbangkannya.

...******...

Beberapa hari terlewati seperti biasa. Dengan kegiatan yang berjalan sama setiap harinya. Tak ada yang perlu dikeluhkan tetap jalani dengan semangat.

Tak terasa hari minggu tiba sudah. Di mana Alex dan Justin akan datang hari ini.

Tepat pukul 09.00 pagi mereka sudah menunggu di depan rumah. Mereka pasti berangkat lebih pagi dari minggu kemarin. Tetap dengan mobil yang sama. Tujuan hari ini ialah pantai. Bukan tempat istimewa mungkin, namun cukup untuk bersenang-senang dan menghilangkan penat.

Sebelum berangkat bibi Jane menawari Alex dan Justin untuk ikut sarapan bersama kami. Usai sarapan barulah kami berangkat.

Perjalanan ke pantai hanya memakan waktu 45 menit. Begitu sampai Justin langsung menarik Sienna memisahkan diri dari kami berdua Mau tak mau aku harus ikut dengan Alex.

Alex tak mengajakku bermain ombak di pantai. Ia malah membawaku duduk di sebuah pondok yang menjorok ke tepi pantai.

"Aku tak tahu mengapa kamu mengajakku ke sini. Kamu tidak mandi, tidak bermain ombak, tidak juga berjalan-jalan di tepian pantai," kataku padanya.

"Karena Justin dan Sienna ingin bersenang-senang," jawab Alex kalem.

"Jadi, kamu tidak senang?" tanyaku.

"Aku sudah senang kalau bisa duduk seperti ini denganmu," jawabnya sambil menyunggingkan senyum coolnya.

Aku membuang muka pura-pura tak melihat.

"Berhentilah menggombal!" kataku.

"Aku tidak menggombal. Aku mengatakan yang sebenarnya!" ujar Alex.

"Kenapa kamu begitu ngotot?" kataku judes.

"Ngotot bagaimana? Aku tidak memaksakan apapun!" kata Alex tetap kalem.

"Kamu tidak perlu memaksakan diri hanya demi menyenangkan orang lain. Sementara kamu tidak menyukainya," balasku.

"Aku tidak bilang aku tidak menyukainya, kan?! Aku juga tidak bilang aku tidak senang! Kan sudah kukatakan aku senang di mana saja asal di sana ada kamu. Kamu mau main air? Ayo, kita bermain!" ujar Alex dengan semangat.

"Tidak mau!" tolakku.

"Lalu, kamu mau bagaimana? Jangan cemberut begitu, aku ke sini kan untuk menemuimu juga. Satu minggu bagiku sangat lama. Untuk bisa ke sini dan melihatmu," ujar Alex dengan lembut.

"Aku kan tidak meminta kamu untuk datang," balasku tak peduli.

"Jangan begitu, Eriza. Aku rindu padamu makanya aku datang. Tersenyumlah sedikit. Kamu lebih manis kalau sedang tersenyum," goda Alex berusaha menyenangkan hatiku.

"Jangan menggodaku!" ujarku.

"Aku tidak menggoda, aku berkata apa adanya. Ayolah! Senyum ...." ujar Alex sembari memamerkan senyumnya.

Aku menatapnya dengan sebal namun ikut tersenyum juga.

"Nah, begitu manis, bukan?! Aku jadi ingin menatapmu terus," puji Alex yang terus menatapku.

"Jangan menatapku seperti itu!" protesku karna aku merasa tak nyaman.

"Kenapa? Habis kamu cantik!" tanya Alex namun tetap menatapku.

"Aku tak suka. Kalau kamu masih terus menggombaliku, aku akan pergi!" Aku mengancam.

"Oke, oke .... Aku tidak akan sering-sering menatapmu. Dan aku tidak akan pernah menggombalimu!" kata Alex segera mengalihkan pandangan dariku.

"Mau jalan-jalan di pantai? Masa hanya duduk di sini saja? Apa tidak bosan?" tanya Alex.

"Baiklah. Ayo!"

Dan kami meninggalkan pondokan berjalan menyusuri tepian pantai. Sesekali berjalan mendekati ombak.

Seharian ini waktu habis bermain di tepi pantai. Hingga sore menjelang, tak ada satupun dari Alex dan Justin yang mengajak pulang. Aku heran karena seharusnya mereka tak pulang terlalu malam mengingat perjalanan yang mereka tempuh cukup jauh.

Aku dan Alex duduk di tepi pantai. Sementara Justin dan Sienna ada di pondokan.

"Ini sudah sore. Bukankah seharusnya waktunya kalian untuk pulang?" tanyaku pada Alex.

"Ya. Setelah matahari terbenam," jawab Alex.

"Bukankah sudah terlalu malam? Apa tidak terlalu malam sampai di Jackville nanti? Lagipula mengapa harus menunggu matahari terbenam?" Aku bertanya lagi.

"Tidak apa-apa. Mumpung sedang di pantai, aku ingin melihat sunset bersama orang yang aku sayangi," jawab Alex kalem. Meski pandangannya lurus ke depan tapi ia tersenyum. Aku terdiam tak membalas kata-katanya.

Terangnya langit perlahan memudar. Matahari perlahan-lahan tenggelam dibalik awan. Menyisakan rona kemerahan dibalik awan. Hingga lenyap dan langit kembali gelap.

Udara pantai semakin dingin. Hanya suara ombak terdengar menderu dan angin yang riuh. Aku merinding karena cuaca yang mulai dingin.

"Ayo, pulang!" ajak Alex yang telah berdiri dan menawarkan tangannya padaku.

Dengan canggung aku meraihnya dan berdiri dibantu Alex. Beberapa saat ia belum melepaskan tanganku. Ia baru melepaskannya begitu kami mulai berjalan meninggalkan pantai.

"Hei .... Ayo, kita pulang!" teriak Alex pada Justin dan Sienna yang masih berada dalam pondokan.

Segera mereka bergabung dengan kami begitu dipanggil Alex. Dalam perjalanan pulang ini aku lebih banyak diam. Ia mengantar kami sampai di depan rumah. Sekali lagi kedua pemuda itu berpamitan dengan bibi Jane untuk kembali ke Jackville. Bibi Jane juga nampak senang dengan kedua pemuda itu.

"Mereka pemuda yang baik!" puji bibi Jane begitu mobil Alex melaju pergi.

Dan Aku langsung masuk ke kamar. Ku lemparkan tubuhku di atas kasur yang empuk. Rasa capek baru terasa sekarang. Aku menatap keluar jendela yang sejak beberapa hari ini tidak pernah ku tutup lagi tirainya. Langit malam ini nampak lebih banyak bintang. Aku kembali terhanyut dalam kerinduanku. Disaat malam menjelang, kegundahan hati kembali datang.

Aku tersenyum getir. Aku bangkit dari tempat tidur berjalan ke depan jendela. Menatap lagi bintang-bintang yang berkilau indah. Dengan harapan bintang akan menyampaikan rasa rinduku.

Doa kecil yang ku panjatkan dalam hati,

'Bintang, sampaikan rinduku padanya. Aku ingin menemuinya lagi.'

Malam ini saat sedang tertidur tiba-tiba aku dibuat terbangun. Dengan debar jantung berdegup kencang, aku merasakan kembali ada tangan dingin yang menyentuh kepalaku. Tapi tidak ada siapa-siapa di kamarku. Tidak ada juga sesuatu benda atau barang yang berubah posisi. Aku tidak mau berpikir macam-macam dan memutuskan kembali tidur.

...---PoV2---...

Namun sebenarnya Eriza tidak menyadari kehadiran Wallace di sana. Ia menyembunyikan keberadaan dirinya dari penglihatan Eriza.

...-----...

 

bersambung ....

1
nurul hidayati
fiksi yg bagus... detail... like it
ℛᵉˣʚɞ⃝🍀𝑬𝒓𝒊𝒛𝒂𝒀𝒖𝒖: terima kasih dukungannya kakak 🙏🏻
total 1 replies
Riris Marpaung
Lumayan
Riris Marpaung
Kecewa
Risa Virgo Always Beau
Wallace sepertinya mencintai Eriza tapi mereka berdua beda alam
Risa Virgo Always Beau
Bibi dari Eriza menanyakan tentang liburan Eriza dan Sienna kepada mereka berdua
Risa Virgo Always Beau
Eriza langsung pamit pergi kepada kakek tua setelah melihat Wallace datang
❀𝑪𝒂𝒔𝒔𝒊𝒆❀💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
ceritanya sgt menarik bertemakan fantasi ringan tpi buat penasaran utk membaca lagi dan lagi
keren thor
❀𝑪𝒂𝒔𝒔𝒊𝒆❀💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
pelan pelan sembari menikmati panorama
❀𝑪𝒂𝒔𝒔𝒊𝒆❀💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
bakalan menarik bgt klo ada seseorg yg akan memecahkan misteri dari istana itu
❀𝑪𝒂𝒔𝒔𝒊𝒆❀💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
terpaksa? tpi sampe menghilangkan nyawa org 🙄
Aku dan kamu selamanya😍💏💑👪
Eriza dan Sienna berlibur dan akan mengunjungi tempat tempat di New Angeles
Aku dan kamu selamanya😍💏💑👪
Ternyata liburan itu perjalanan pertama Eriza di kota New Angeles
Aku dan kamu selamanya😍💏💑👪
Dennis datang ke kota Angeles karena penasaran ingin melihat kerajaan Dixie
Aku dan kamu selamanya😍💏💑👪
Pangeran Edmund baru mengetahui kalau Maera mengkhianati dirinya saat pangeran Edmund baru pulang dari medan perang
@ Yayang Risa Selamanya
Eriza dan Sienna sangat menikmati liburan yang sangat menyenangkan New Angeles
@ Yayang Risa Selamanya
Ternyata Eriza bisa naik ke puncak menara menggunakan lift yang di sediakan
@ Yayang Risa Selamanya
Sienna menanyakan kepada Eriza habis dari mana saja Eriza karena hampir satu jam Sienna menunggu Eriza
@ Yayang Risa Selamanya
Beberapa gedung di sekitar situ terkesan angker karena minim pencahayaan
Yayang Lop3♡ Risa
Eriza dapat tiket liburan gratis dari sang bibi pasti dia bahagia apalagi ke tempat wisata di kota terkenal
Yayang Lop3♡ Risa
Eriza dan sepupunya langsung istirahat begitu sampai hotel
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!