NovelToon NovelToon
Senja Yang Ku Perjuangkan

Senja Yang Ku Perjuangkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Orang Disabilitas / Penyesalan Suami / Romantis
Popularitas:50.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Tiga tahun menjalani pernikahan tanpa cinta, Alya bertahan hanya karena menghormati wanita yang telah menyatukan mereka.

Namun, tepat setelah sang nenek meninggal dunia, suaminya menjatuhkan talak dan mengakhiri hubungan yang selama ini hanya dianggap sebagai kewajiban.

Dengan satu kaki palsu dan hati yang hancur, Alya meninggalkan rumah yang tak pernah benar-benar menerimanya. Ia tak menyadari bahwa di dalam rahimnya sedang tumbuh kehidupan baru.

Saat dunia seolah menutup semua pintu untuknya, Alya memilih bertahan demi seorang anak yang bahkan belum lahir. Anak itu ia beri nama Senja.

Ini adalah kisah tentang seorang ibu yang berjuang melawan keterbatasan, kesepian, dan kerasnya kehidupan. Sebab bagi Alya, Senja bukan sekadar anak. Senja adalah alasan mengapa ia terus hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Persiapan Kejutan

Perjalanan pulang terasa jauh lebih hening. Alya sesekali masih menoleh ke belakang, tepat ke arah toko bunga kecil yang kini perlahan menghilang dari pandangannya. Entah mengapa, melihat deretan bunga itu membuat hatinya seolah tertinggal di sana.

Dewa yang berjalan di sampingnya menangkap tatapan itu, akan tetapi ia memilih untuk diam saja, sambil terus mengajak Alya pulang.

Sesampainya di rumah, Bibi Lina langsung menyambut mereka di depan pintu dengan senyum ramahnya. Perempuan paruh baya itu mendekat seolah memberikan perhatian terbaiknya.

"Neng capek?"

Alya tersenyum tipis. "Sedikit, Bi."

"Kalau begitu istirahat dulu ya. Bibi sudah potong buah."

"Iya."

Alya kemudian masuk ke dalam rumah, sementara Dewa tidak ikut masuk. Pria itu justru berdiri beberapa saat di teras sambil memandang halaman depan. Pikirannya masih dipenuhi ucapan Alya.

"Setiap kali melihat bunga rasanya seperti melihat rumah."

Entah kenapa ucapan sederhana dari wanita hamil itu, tidak bisa membuatnya diam begitu saja. Ia tahu, jika terus dibiarkan, Alya akan semakin jenuh tinggal di tempat baru itu.

"Aku harus melakukan sesuatu," gumamnya sendiri.

Tak lama kemudian Dewa mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi seseorang, yang memang sudah lama menetap di sini dan orang itu dapat dipercaya.

"Selamat siang, Tuan."

"Aku butuh bantuan."

"Perintah saja."

"Ada gudang kosong di belakang rumah?"

"Ada, Tuan. Sudah lama tidak dipakai."

"Besok bersihkan."

"Baik."

"Dan satu lagi."

"Tolong carikan meja kerja yang nyaman, rak bunga, gunting florist, pita, kertas pembungkus, vas, serta perlengkapan merangkai bunga."

Orang di seberang telepon sempat terdiam, pasalnya tidak biasanya Dewa melakukan hal kecil seperti ini. "Untuk siapa, Tuan?"

"Untuk seseorang... yang sedang berusaha bangkit."

"Baik, Tuan. Akan segera saya siapkan."

Telepon pun terputus. Dewa kembali menatap langit sore. Entah mengapa, ia ingin sekali melihat senyum Alya kembali seperti saat perempuan itu memandangi bunga-bunga tadi.

"Aku suka melihatmu tersenyum Al," gumamnya tanpa sadar.

Sejenak pria itu mulai mengusap wajahnya sendiri dengan sadar, lalu menatap ke sisi kanan dan kiri, ia sangat malu jika kejadian barusan dilihat oleh orang lain. Bayangkan saja Dewa yang terbiasa memasang wajah tegas dan jarang menunjukkan senyum kini harus merasakan rasa kasmaran yang membuat bibirnya diam-diam tersenyum sendiri.

Sudut bibir Dewa tanpa sadar terangkat.

Ia menggeleng pelan pada dirinya sendiri.

"Ternyata..." gumamnya lirih. "Kamu benar-benar berhasil membuatku peduli."

☘️☘️☘️☘️☘️

Menjelang malam, suasana rumah mulai tenang. Pak Harun sudah selesai menutup pagar. Bibi Lina membereskan dapur.

Sedangkan Dewa masih berkutat dengan beberapa pekerjaan di ruang kerjanya, pria itu masih belum berani meninggalkan rumah meskipun pekerjaannya di luar begitu banyak.

Ia berusaha semaksimal mungkin untuk menangani semuanya di dalam rumah sebelum melihat Alya benar-benar aman.

Sementara di lantai atas Alya belum juga bisa memejamkan mata. Ia duduk bersandar di kepala ranjang sambil mengusap perutnya perlahan. Tatapannya kosong mengarah ke luar jendela.

"Senja..." Suaranya terdengar begitu lirih.

"Mama tadi senang sekali melihat bunga."

"Aneh ya..."

"Padahal cuma lihat sebentar."

"Tapi rasanya seperti pulang."

Perempuan itu tersenyum kecil. Tak lama kemudian senyum itu memudar, entah kenapa ia merasakan sedikit ketakutan. Ia takut tidak mampu membahagiakan anaknya.

Takut terus bergantung pada orang lain. termasuk Dewa.

Air matanya mulai menggenang, Alya tidak mau menjadi wanita yang seperti itu. Ia ingin berjuang demi masa depan anaknya nanti.

"Maaf ya, Nak," ucapnya sendiri.

"Sampai hari ini Mama belum bisa membelikan apa pun untuk kamu."

"Belum bisa menabung."

"Belum bisa bekerja."

"Yang Mama lakukan cuma merepotkan orang lain."

Perlahan ia memejamkan mata, rasanya ia harus keluar dari lingkaran ini setidaknya untuk sang anak.

"Apa... Mama sudah jadi ibu yang baik?" tanyanya pada diri sendiri.

Tak ada jawaban. Hanya kesunyian malam yang menemaninya. Tanpa sadar beberapa tetes air mata jatuh membasahi kedua pipinya.

Di luar kamar, Dewa yang baru saja menaiki anak tangga sempat menghentikan langkahnya. Awalnya ia hanya berniat mengantarkan segelas susu hangat, tetapi dari balik pintu terdengar suara lirih Alya yang sedang berbicara sendiri. Meski tidak mendengar seluruh ucapannya, Dewa tahu perempuan itu kembali menangis. Ia mengembuskan napas pelan sebelum akhirnya mengetuk pintu.

Tok... tok... tok... Suara ketukan pintu membuat Alya buru-buru mengusap air matanya.

"Masuk."

Pintu perlahan terbuka. Dewa berdiri di ambang pintu sambil membawa segelas susu hangat.

"Bibi Lina bilang kamu belum minum."

Alya langsung menerima gelas itu. "Terima kasih."

Namun Dewa tidak langsung pergi. Ia justru berdiri memandangi wajah Alya.

"Kamu habis menangis?"

Alya buru-buru menggeleng. "Enggak."

"Kamu gak bisa bohong."

Perempuan itu akhirnya menundukkan kepala. Beberapa detik kemudian ia menghela napas panjang.

"Mas..."

"Iya."

"Aku gak enak."

"Kenapa?"

"Aku terus merepotkan Mas."

"Kamu gak merepotkan."

"Tapi aku merasa seperti itu."

Alya menggenggam gelas di tangannya erat.

"Aku ingin bekerja lagi."

Dewa tidak terkejut. Seolah ia sudah menebak pembicaraan itu akan datang.

"Kamu ingin merangkai bunga lagi?"

Alya mengangguk. "Aku ingin punya penghasilan sendiri."

"Aku ingin membeli kebutuhan Senja dengan hasil tanganku."

"Kalau nanti dia lahir..."

"...aku ingin dia tahu kalau mamanya pernah berjuang."

Bibir Alya bergetar. "Aku gak mau jadi ibu yang gagal."

Ruangan itu mendadak sunyi. Dewa memandang perempuan di hadapannya cukup lama. Lalu perlahan ia tersenyum.

"Alya."

"Iya?"

"Menjadi ibu yang baik bukan diukur dari seberapa cepat kamu mencari uang."

"Tapi dari seberapa besar kamu menjaga anakmu."

"Kamu sudah melakukan itu."

Air mata Alya kembali jatuh. "Benarkah?"

"Iya."

"Tapi..."

Dewa melangkah mendekat, seketika pria itu menghapus pelan air mata yang membasahi pipi Alya dengan ibu jarinya. "Kalau itu yang bisa membuatmu kembali tersenyum..."

"...beri aku sedikit waktu."

Alya mengangkat wajahnya. "Maksud Mas?"

Pria itu hanya tersenyum tipis. "Nanti kamu juga tahu."

Setelah mengucapkan kalimat itu, Dewa berbalik meninggalkan kamar. Sedangkan Alya masih memandangi pintu yang perlahan tertutup.

Ia sama sekali tidak mengetahui... bahwa di balik senyum kecil Dewa malam itu, sebuah kejutan sedang dipersiapkan. Kejutan yang akan mengubah awal kehidupan barunya di negeri asing.

Bersambung .....

Selamat sore Kakak sayang. Jangan lupa ya untuk memberiku amunisi. Hehe 😀😀😀😀 Dan jangan lupa untuk selalu bahagia

1
Lisa
ya nih gmn y reaksinya Arlan ketika bertemu dgn Alya
Nar Sih
padahal sdh penasaran lihat reaksi arlan saat ketemu alya,tpi...sabarr lgi blm waktu nya kata kak ayu😂
Lisa
Selamat malam Kak Ayu..terimakasih y utk updatenya..wah berarti waktu acara gala dinner itu Alya pasti bertemu dengan Arlan.
Yati Susilawati
tak sabar nunggu al dan ar.. bertemu
Nar Sih
sore kak ayuu,dan aku slalu suka dgn senja🥰🥰
Lisa
Semangat y Alya & team..kalian pasti bisa 🙏💪
Nar Sih
semagat alya ,kmu pasti bisa dan semoga kmu berhasil💪
falea sezi
kenapa belom hamil lagi 😒
Ayumarhumah: sabar kak ...
total 1 replies
Nar Sih
sore kak ayu ,makasih ya udah updet 2kali sehari senja nya🙏🥰
Lisa
👍 Sukses y Alya
Nar Sih
waah...alya kmu bnr,,👍🥰🥰
Lisa
Jadi deg²an nih..pertanyaan terakhirnya apa nih 🤔
Suanti
semoga, aja viral dan masuk acara tv biar menyesal sekeluarga mantan alya membuang berlian demi kerikir 🤭🤣
Nar Sih
mlm kak ayu,selamat alya ahir nya presentasi berjln lsncar👍🥰
Adinda
semoga alya Dan dewa punya anak kembar
Nar Sih
pagi kak ayu,semagatt alya dan senja florist siap melangkah menuju sukses dan bahagia
Nar Sih
kasihan kmu arlan ,karma mu yg telah menyia,,kan alya kmu gk bisa punya keturunan dri amara
Lee Mba Young
Syukurin arlan gk akn punya anak lagi 🤣. karma tak semanis kurma.
Asphia fia
mampir
Kayla Rane: KA bila berkenan mampir di novel on going ku terimakasih banyak
total 2 replies
Lisa
Pagi Kak Ayu..makasih y utk updatenya..wah seneng banget baca part ini Senja florist makin sukses dan terkenal..semangat y utk Alya & team 😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!