"Pernikahan ini adalah benteng, dan rahasia adalah senjataku."
Bagi dunia luar, Mike Raharja adalah lambang kesempurnaan sekaligus kutukan. Sang tirani korporat yang dingin, tak tersentuh, dan dirumorkan tidak bisa memberikan keturunan bagi dinasti bisnis raksasa Raharja Group. Demi menjaga takhtanya dan melindungi sebuah rahasia besar dari musuh-musuh dalam selimut, Mike merancang sebuah skenario gila: pernikahan kontrak selama empat tahun dengan pengacara ambisius, Anita.
Namun, ketika masa kontrak berakhir dan topeng-topeng mulai berjatuhan, sebuah kejutan besar yang sesungguhnya baru saja dimulai. Di balik dinding sangkar emas yang penuh manipulasi, ada satu jiwa yang selama ini disembunyikan Mike dari radar dunia—sebuah pelabuhan hati rahasia yang menjadi alasan di balik semua kelicikan dan pengorbanannya.
Saat badai korporasi mengancam dan masa lalu menuntut balas, akankah skenario yang disusun Mike berakhir sebagai kemenangan mutlak, atau justru menjadi bumerang untuknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shee Lyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 (Sisi lain sang Tirani)
Satu bulan pertama kehidupan pernikahan di vila Sentul berjalan seperti perang dingin yang sunyi. Alisha memilih untuk membatasi interaksinya dengan Mike seminimal mungkin. Di dalam rumah yang megah itu, mereka berbagi atap yang sama, namun Alisha membangun benteng pertahanan yang tinggi di dalam hatinya. Ia menolak berbicara jika tidak penting, menolak menyentuh hidangan mewah yang disiapkan koki jika Mike ada di meja makan, dan memilih untuk menghabiskan sebagian besar waktunya di perpustakaan pribadi vila, menenggelamkan diri dalam tumpukan buku skripsinya yang mulai memasuki tahap akhir.
Namun, Mike Raharja bukanlah pria yang mudah menyerah. Alih-alih memaksakan kehendak atau membalas sikap dingin Alisha dengan kemarahan, pria itu justru menunjukkan tingkat kesabaran yang tidak pernah diduga oleh Alisha.
Setiap pagi, sebelum berangkat ke kantor pusat Raharja Group, Mike selalu menyempatkan diri untuk masuk ke perpustakaan tempat Alisha tertidur di atas meja kerja. Dengan gerakan yang sangat lembut—seolah takut membangunkan mangsa yang rapuh—Mike akan menyelimuti tubuh Alisha dengan jasnya, menaruh secangkir susu cokelat hangat di samping tumpukan kertas, lalu pergi tanpa membuat suara.
Sore itu, hujan kembali mengguyur kawasan Sentul, membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Alisha mengembuskan napas panjang, merenggangkan otot-otot lehernya yang kaku setelah lima jam menatap layar laptop. Di atas meja kerja jati tersebut, secangkir susu cokelat yang diantarkan pelayan satu jam lalu sudah mendingin.
Pintu perpustakaan yang berat perlahan terbuka. Alisha tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang datang. Aroma parfum maskulin bercampur wangi hujan yang khas itu langsung memenuhi ruangan.
Mike melangkah masuk. Ia tidak lagi mengenakan kemeja kantor yang kaku; pria itu hanya memakai sweter rajut berwarna abu-abu gelap dengan celana kain santai. Rambutnya sedikit acak-acakan, memberikan kesan kasual yang membuatnya tampak beberapa tahun lebih muda.
"Bagaimana progres skripsimu?" tanya Mike, suaranya bariton dan terdengar rileks. Ia berjalan mendekati meja, lalu meletakkan sebuah map kulit berwarna cokelat di samping laptop Alisha.
Alisha tidak menjawab. Ia menutup laptopnya dengan sentakan pelan, lalu bersiap untuk bangkit dan pergi dari ruangan. Sikap abai yang selalu ia gunakan selama sebulan terakhir sebagai senjatanya.
"Duduklah dulu, Nyonya Raharja. Aku datang bukan untuk mengganggumu, tapi untuk memberikan ini," kata Mike, menahan pundak Alisha dengan sentuhan yang lembut namun tidak bisa dibantah, memaksanya kembali duduk di kursi.
Alisha menatap map kulit itu dengan kening berkerut. "Apa ini? Skenario baru untuk menipuku lagi?"
Mike terkekeh rendah, sebuah tawa kecil yang terdengar seksi di keheningan ruangan yang temaram. Pria itu menarik sebuah kursi lipat kayu, lalu duduk di samping Alisha, mengikis jarak di antara mereka hingga Alisha bisa merasakan kehangatan tubuhnya.
"Buka saja," ujar Mike pendek.
Dengan ragu, Alisha membuka simpul tali map tersebut. Ketika ia menarik lembaran kertas di dalamnya, matanya yang jernih seketika terbelalak. Itu adalah sertifikat kepemilikan sebuah ruko tiga lantai di kawasan strategis Jakarta Selatan, lengkap dengan dokumen legalitas sebuah yayasan pendidikan anak usia dini atas nama... Sarah, ibunya.
Di lembar berikutnya, ada surat kerja sama resmi antara Raharja Group dengan firma hukum terkemuka untuk membersihkan nama baik almarhum Aryo—kakak Alisha—dari segala sengketa administrasi kecelakaan sepuluh tahun lalu yang sempat sengaja digantung oleh dewan direksi lama perusahaan demi menekan uang santunan.
"Mike... ini..." Alisha menatap kertas-kertas itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Air mata mendadak menggenang di pelupuk matanya. Selama bertahun-tahun, ibunya selalu bermimpi ingin membuka sekolah PAUD gratis untuk anak-anak kurang mampu, namun terkendala modal. Dan masalah nama baik kakaknya... itu adalah duri terbesar di dalam hati ibunya yang selalu membuat Sarah menangis di setiap malam hari raya.
"Ibumu sudah menerima kuncinya siang tadi. Orang-orangku yang mengurus semuanya secara legal," ucap Mike, matanya menatap lekat-lekat pada wajah Alisha, meneliti setiap perubahan ekspresi gadis itu. "Dan soal kakakmu, Aryo... namanya sudah resmi dibersihkan di papan pengumuman kehormatan perusahaan sebagai pahlawan yang gugur dalam tugas. Hak pensiun penuhnya sudah ditransfer ke rekening ibumu."
Alisha menoleh, menatap Mike dengan pandangan yang campur aduk. Rasa marah, rasa terkhianati, dan rasa haru yang luar biasa berbenturan di dalam dadanya, menciptakan badai emosi yang menyesakkan.
"Kenapa kamu melakukan ini?" bisik Alisha, suaranya parau karena menahan tangis. "Kamu pikir dengan membelikan semua ini untuk Ibuku, aku akan melupakan caramu menjebakku ke dalam pernikahan ini? Kamu sedang mencoba membeli maafku, Mike?"
Mike memajukan tubuhnya, meraih kedua tangan Alisha yang dingin ke dalam genggamannya. Kali ini, tidak ada kilat dingin atau senyuman licik di wajah tampannya. Yang ada hanyalah tatapan mata yang teramat dalam, sarat akan ketulusan yang murni dan rasa lelah yang lama disembunyikannya dari dunia luar.
"Aku tidak sedang membeli maafmu, Alisha," ucap Mike, suaranya merendah, bergetar oleh emosi yang jujur. "Semua ini adalah hal yang seharusnya aku lakukan sejak sepuluh tahun lalu. Tapi dulu aku terlalu lemah. Aku harus bertarung dengan paman-pamanku untuk merebut posisi CEO, aku harus menghadapi Kakek Surya yang mengawasi setiap gerak-gerikku. Jika dulu aku memberikan ini semua pada keluargamu, paman-pamanku akan mengendus keberadaanmu dan menggunakanmu sebagai alat untuk menjatuhkanku."
Mike mencengkeram jemari Alisha sedikit lebih erat, membawa tangan gadis itu ke dadanya, membuat Alisha bisa merasakan detak jantung Mike yang berdegup kencang dan ritmis di balik sweternya.
"Empat tahun aku menikah kontrak dengan Anita, menahan diri untuk tidak menemuimu, membiarkan seluruh dunia berpikir aku pria mandul yang cacat... aku melakukan semua kegilaan itu hanya untuk mengumpulkan kekuatan, Alisha," lanjut Mike, matanya berkilat oleh obsesi yang kini melunak menjadi permohonan yang tulus. "Aku butuh kekuasaan mutlak agar hari ini, ketika aku memberikan ruko ini pada ibumu, tidak ada satu pun orang di Raharja Group yang berani mengusik hidupnya. Aku memenjarakanmu di sini bukan karena aku ingin menyakitimu. Tapi karena di luar sana, duniaku terlalu kejam untuk membiarkan gadis sejernih kamu berjalan sendirian tanpa perlindunganku."
Alisha terpaku. Penjelasan Mike menghantam benteng pertahanan yang sudah ia bangun sebulan ini hingga retak di beberapa bagian. Pria di depannya ini memanipulasinya, ya, itu fakta. Tapi di balik semua manipulasi kejam itu, ada sebuah perhitungan raksasa yang didasari oleh keinginan ekstrem untuk melindunginya dan keluarganya dari bahaya yang tidak pernah Alisha ketahui.
"Tapi caramu salah, Mike..." air mata Alisha akhirnya luruh, membasahi pipinya. "Kamu bisa mengatakannya padaku dengan jujur. Kamu tidak perlu membuatku hidup dalam rasa bersalah yang palsu."
Mike mengulurkan tangannya, dengan lembut mengusap air mata Alisha dengan ibu jarinya. Kali ini, Alisha tidak menepisnya. Ia terlalu lelah, terlalu rapuh di hadapan intensitas perasaan pria di depannya.
"Jika aku mengatakannya jujur dari awal, apakah kamu yang polos dan menjunjung tinggi kehormatan kakakmu akan mau melangkah masuk ke dalam duniaku yang kotor ini, hm?" Mike menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan kepasrahan. "Kamu pasti akan melarikan diri menjauh dariku karena takut membebani hidupku. Rasa bersalahmu adalah satu-satunya tali yang bisa menarikmu ke pelukanku tanpa kamu berpikir dua kali."
Mike merunduk, menempelkan dahinya pada dahi Alisha yang hangat, membiarkan napas mereka saling bertukar di keheningan perpustakaan yang mulai gelap karena malam telah jatuh.
"Bencilah aku sesukamu, Alisha. Hukum aku dengan sikap dinginmu setiap hari," bisik Mike tepat di depan bibir Alisha, suaranya sarat akan kepasrahan seorang tirani yang telah menyerahkan seluruh kelemahannya pada sang tawanan. "Tapi jangan pernah meminta untuk pergi. Karena kerajaan bisnis ini, ruko ibumu, nama baik kakakmu, dan seluruh napas yang berembus di tubuhku saat ini... semuanya aku bangun hanya untuk memastikan kamu tetap berada di sini. Menjadi milikku seutuhnya."
Alisha memejamkan matanya, membiarkan air matanya mengalir di antara sela-sela sentuhan dahi mereka. Di tengah gemuruh hujan di luar vila Sentul, Alisha baru saja menyadari sebuah kebenaran yang mengerikan bagi hatinya sendiri: sangkar emas yang dibangun oleh Mike Raharja tidak hanya mengunci tubuhnya... melainkan perlahan-lahan mulai menjebak perasaannya sendiri ke dalam pusaran cinta sang CEO yang terlampau gila.